novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Pikiran itu menghantam Lyra dengan sangat telak saat ia melihat dari kejauhan Pharma sedang tertawa kecil menanggapi bisikan Veronica di depan lobi rumah sakit. Rasa sesak yang tadinya membakar dadanya perlahan berubah menjadi rasa dingin yang mati rasa.
Kalau dia bisa dengan mudahnya mengabaikan perasaan istrinya sendiri demi ego dan gengsi, buat apa aku bertahan? batin Lyra.
Detik itu juga, mentalitas Lyra berubah. Ia menghapus air mata yang sempat menggenang, memperbaiki posisi stetoskop-nya, dan menegakkan bahunya. Ia teringat kontrak asistennya di London ini tinggal beberapa bulan lagi. Setelah itu, dia akan kembali ke Indonesia, kembali ke kehidupannya yang nyata, dan mungkin... kembali tanpa Pharma.
Perubahan Total Lyra
Di ruang operasi siang itu, suasana sangat mencekam. Pharma masuk dengan aura dominannya, mengharapkan Lyra akan menatapnya dengan mata penuh amarah atau cemburu seperti kemarin. Tapi yang dia temukan justru sesuatu yang lebih menakutkan: Profesionalitas yang Sempurna.
"Pisau nomor 10," ucap Pharma datar.
Lyra menyerahkannya dengan gerakan presisi, tanpa sepatah kata pun. Tidak ada sentuhan jari yang sengaja, tidak ada tatapan mata yang tertahan.
"Dokter Lyra, klem bagian ini. Jangan sampai ada pendarahan," perintah Pharma lagi.
"Baik, Sir. Sudah dilakukan," jawab Lyra. Suaranya sangat formal, sangat dingin, persis seperti cara Pharma memperlakukannya semalam.
Selesai operasi, saat mereka sedang mencuci tangan, Pharma mencoba memancing reaksi Lyra. "Kamu bekerja sangat efisien hari ini. Sepertinya kamu sudah mulai paham cara kerja di London."
Lyra membilas tangannya dengan tenang. "Tentu, Sir. Saya ingin memberikan kesan yang baik di sisa waktu saya di sini sebelum kembali ke Indonesia. Saya tidak mau reputasi saya buruk hanya karena masalah pribadi yang tidak penting."
Pharma menghentikan gerakannya. "Kembali ke Indonesia? Kontrakmu masih beberapa bulan lagi."
"Tepat sekali, Sir. Dan saya sudah mulai mengemas barang-barang saya di apartemen sedikit demi sedikit. Supaya nanti pas hari H, saya tinggal angkat koper," ucap Lyra sambil menoleh ke arah Pharma dan memberikan senyum yang sangat sopan namun sangat jauh. "Terima kasih atas bimbingannya hari ini, Dokter Pharma."
Pharma Mulai Terusik
Sepanjang sore, Pharma dibuat makin panas. Ia melihat Lyra sedang duduk di taman rumah sakit bersama Iva dan Leon. Mereka bertiga tampak sangat serius membahas sesuatu.
"Jadi, kamu beneran bakal balik ke Jakarta setelah ini, Lyra?" tanya Leon yang suaranya sengaja dikeraskan karena dia tahu Pharma sedang berdiri tidak jauh dari sana pura-pura baca dokumen.
"Iya, Leon. Kayaknya London bukan tempat yang cocok buat aku. Terlalu dingin... orang-orangnya juga terlalu sibuk sama urusan masing-masing sampai lupa cara menghargai orang lain," sindir Lyra telak.
"Wah, sayang banget! Padahal kita baru aja mau ajak kamu jalan-jalan ke Brighton minggu depan," timpal Iva.
"Aku ikut! Kabari aja ya," jawab Lyra ceria.
Pharma yang mendengar itu hampir meremas kertas di tangannya sampai hancur. Ia biasanya tidak peduli, tapi melihat Lyra yang benar-benar menganggapnya "hanya atasan" dan sudah berencana pergi meninggalkannya, membuat egonya mulai retak.
Malamnya, saat Pharma baru saja hendak masuk ke ruangan pribadinya, Veronica datang lagi dan mencoba memegang lengannya. "Pharma, nanti jadi kan kita..."
"Lepaskan, Veronica," potong Pharma dingin, matanya tertuju pada Lyra yang sedang berjalan pulang bersama Raydil di seberang lorong.
"Eh? Tapi Pharma..."
"Saya bilang lepas," Pharma menarik lengannya dengan kasar, membuat Veronica terkejut.
Pharma ingin mengejar Lyra, ingin membentaknya dan bilang kalau dia dilarang pulang ke Indonesia. Tapi ia sadar, dialah yang memulai permainan ini. Dialah yang mendiamkan Lyra lebih dulu. Dan sekarang, istrinya benar-benar sudah menjadi orang asing baginya.Pagi itu, Delphi Medical Centre tidak terasa seperti rumah sakit, melainkan seperti sarang lebah yang sedang meledak. Sebuah pengumuman besar tertempel di papan digital lobi, dan surat fisik dengan amplop tebal berwarna krem serta stempel lilin emas kerajaan tergeletak di setiap meja konsultan utama.
"Royal Gala Dinner: A Tribute to Medical Excellence."
Istana Buckingham mengundang seluruh jajaran dokter spesialis dan asisten bedah senior Delphi sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan operasi Lord Sterling tempo hari. Kabar ini langsung membuat suasana kerja menjadi kacau balau. Para perawat berbisik soal gaun apa yang harus dipakai, sementara para dokter pria sibuk memikirkan tuxedo terbaik mereka.
Di tengah hiruk-piruk itu, Lyra berjalan tenang menuju ruangannya. Ia melihat surat undangan yang sama di mejanya. Nama "Dr. Lyra Raven" tertulis dengan tinta kaligrafi yang indah. Jika itu terjadi seminggu yang lalu, Lyra pasti akan langsung berlari ke ruangan Pharma dengan wajah berseri-seri, memeluk suaminya, dan bertanya, "Kita mau pakai baju warna apa yang senada?"
Tapi sekarang? Lyra hanya menatap undangan itu datar, lalu menyelipkannya di antara tumpukan laporan medis. Baginya, ini hanya sekadar tugas dinas sebelum ia angkat kaki dari London.
Caper di Depan Ruang Rapat
Di koridor utama, kerumunan dokter sedang berkumpul. Di tengah-tengah mereka, tentu saja ada Pharma dan Veronica. Veronica terlihat sangat bersemangat, ia sengaja berdiri sangat dekat dengan Pharma, bahkan tangannya sesekali merapikan kerah jas Pharma seolah itu adalah hak miliknya.
"Pharma, aku dengar protokol kerajaan mengharuskan kita datang berpasangan. Karena kita yang menangani tim Lord Sterling, bukankah sebaiknya kita berangkat bersama dalam satu mobil?" suara Veronica yang manja terdengar jelas ke seluruh penjuru lorong.
Beberapa dokter lain mulai bersiul dan menggoda. "Wah, pasangan emas Delphi mau tampil di istana nih!"
Pharma tidak menolak. Ia hanya berdiri diam, membiarkan Veronica menggandeng lengannya, sementara matanya terus bergerak gelisah ke arah lift menunggu sosok yang biasanya akan menatapnya dengan api cemburu.
Tepat saat itu, lift terbuka. Lyra keluar bersama Iva dan Leon. Mereka bertiga tampak asyik tertawa membahas sesuatu di ponsel Leon. Begitu melihat kerumunan itu, Lyra hanya memberikan anggukan sopan yang sangat singkat tipe anggukan yang diberikan bawahan kepada atasan yang tidak terlalu ia sukai.
"Pagi, Sir. Pagi, Dokter Veronica," sapa Lyra singkat tanpa menghentikan langkahnya.
Pharma yang tadinya ingin pamer "kedekatannya" dengan Veronica agar Lyra bereaksi, malah terpaku. Lyra bahkan tidak melirik lengannya yang sedang dipegang Veronica. Lyra justru menoleh ke Leon dan berkata, "Leon, nanti malam bantu aku pilih sepatu yang cocok untuk acara istana ya? Aku nggak tahu selera orang London."
"Tentu, Lyra! Kita cari yang paling cantik buat kamu," jawab Leon dengan nada sengaja memanas-manasi.
Gengsi yang Mulai Goyah
Melihat Lyra yang benar-benar mengabaikannya, Pharma merasa harga dirinya runtuh. Ia melepaskan tangan Veronica dengan agak kasar dan melangkah memotong jalan Lyra.
"Dokter Lyra," panggil Pharma berat.
Lyra berhenti, menatap Pharma dengan tatapan bertanya yang sangat profesional. "Ya, Sir? Ada instruksi medis untuk pasien pagi ini?"
"Soal acara istana besok malam," Pharma berdehem, mencoba mengatur suaranya agar tetap terdengar berwibawa. "Sebagai asisten pertama saya dalam operasi Lord Sterling, kamu diharapkan hadir dengan... standar tertentu. Jangan mempermalukan departemen saya."
Lyra tersenyum tipis senyum yang tidak sampai ke mata. "Anda tidak perlu khawatir, Sir. Saya tahu cara membawa diri. Lagipula, saya akan datang bersama Dokter Iva dan Dokter Leon. Mereka akan memastikan saya tidak melakukan kesalahan protokol."
"Kamu tidak berangkat dengan mobil rumah sakit?" tanya Pharma, nadanya mulai terdengar menuntut.
"Tidak perlu, Sir. Saya tidak mau merepotkan Anda yang pasti akan sangat sibuk mendampingi Dokter Veronica," jawab Lyra telak. "Permisi, Sir. Saya harus visit pasien."
Lyra pergi begitu saja, meninggalkan Pharma yang sekarang menjadi pusat perhatian dokter-dokter lain. Suasana yang tadinya ceria berubah menjadi canggung. Leon yang berdiri di dekat Pharma hanya bisa memberikan senyum simpul yang seolah berkata, "Rasakan itu, Boss."
Pharma berdiri mematung. Ia menyadari satu hal: Lyra tidak lagi menganggapnya sebagai pusat dunianya. Dan bagi seorang Pharma Andriend, diabaikan oleh istrinya sendiri ternyata jauh lebih menyakitkan daripada gagal dalam operasi paling sulit sekalipun.