Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.
Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.
Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Lembah Asing & Hari Pertama Latihan
Keesokan harinya, ia dibawa keluar dari kompleks arena.
Bukan lewat gerbang utama, melainkan melalui terowongan sempit yang hanya diketahui oleh segelintir orang saja.
Lorong itu berliku, menurun tajam, dan dipenuhi bekas goresan di dinding batu, sebuah tanda bahwa tempat ini terlihat jauh lebih tua daripada arena itu kemarin.
Yuda terlihat berjalan di tengah, diapit dua pengawal dari Ragha.
Tangannya tidak diikat, tapi ada sebuah jarak tombak tepat di belakang punggungnya, yang cukup jelas itu sebagai peringatan bila mana Yuda seketika berubah pikiran dan berniat untuk melarikan diri.
Sedangkan Tara, ia berjalan santai di samping kakinya, seolah ini hanya perjalanan biasa.
“Jika saja mereka berniat membunuhmu, maka kau sudah mati sejak kita berada di lorong kedua tadi, dasar bodoh” gumam Tara berkata tiba-tiba kepada Yuda.
“Pengetahuanmu itu memang menenangkan, hehehe, aku hanya mencoba untuk tetap waspada saja, dasar kucing jelek," jawab Yuda singkat.
“Hmm, iya-iya, tapi hidupmu ke depan akan mulai penuh dengan tekanan semacam ini, bodoh,” jawab Tara kesal.
Yuda pun tidak menjawab lagi dan hanya diam berjalan mengikuti arah terowongan.
Hingga akhirnya, terowongan kini berakhir di sebuah luar tembok kota.
Angin sisa malam pun menyambut dengan bau tanah dan dedaunan yang basah.
Di kejauhan, cahaya-cahaya obor kota terlihat redup.
Di depan mereka saat ini, terlihat sebuah kereta kayu sederhana ternyata sudah menunggu kedatangan mereka.
Kereta itu tidak ada lambang kerajaan dan juga tidak ada bendera klan, yang berarti bukan berasal dari salah satu organisasi lain.
Kereta itu hanya terdapat sebuah roda kayu yang tebal dan kain penutup berwarna gelap.
Saat ini seorang pria dewasa berjubah biru yaitu Ragha Biruna sudah duduk berada di dalam kereta sederhana.
“Perjalanan ini akan memakan waktu yang cukup lama, mungkin kau bisa saja tidak nyaman” katanya setelah melihat kedatangan Yuda.
“Aku juga tidak berharap nyaman,” jawab Yuda singkat dengan tatapan datar.
Melihat itu, Ragha pun hanya tersenyum singkat.
Beberapa saat kemudian, setelah semuanua naik, kereta itu akhirnya mulai bergerak.
Jalan yang mereka lalui bukanlah sebuah jalan umum.
Tapi sebuah jalur lama yang nyaris ditelan oleh hutan.
Mereka melintasi beberapa perbukitan juga, sebuah rawa dangkal, dan lembah yang sempit.
Beberapa kali mereka terlihat berhenti, namun bukan untuk beristirahat, melainkan untuk memastikan tidak ada yang mengikuti.
Akhirnya Yuda pun mulai menyadari satu hal.
Ia sadar, Ragha tidak sedang membawanya ke satu tempat, Ia seperti sedang menghapus jejak.
“Berapa banyak orang yang tahu ke mana kita pergi?” tanya Yuda akhirnya karena penasaran.
“Hanya sedikit, dan akan tetap begitu.” jawab Ragha jujur tanpa menutupinya.
Tara yang terduduk di samping Yuda, kini terlihat hanya menguap.
“Tempat rahasia memang selalu punya dua ciri, sulit ditemukan dan juga sulit untuk keluar.” lanjut gumamnya lirih setelah menguap.
“Benar, karena memang itulah tujuannya.” jawab Ragha dengan senyuman tipis di wajahnya.
Tak berasa, hari berlalu begitu saja.
Pada hari ketiga, kereta akhirnya berhenti lagi di sebuah kaki pegunungan.
Di tempat itu, tampak sangat sepi, bahkan tidak ada bangunan, dan tidak ada jalan sedikit pun.
Hanya terlihat sebuah dinding batu tinggi yang tampak mustahil untuk dilewati.
Saat ini terlihat Ragha turun dan berjalan mendekat ke tebing itu.
Sesampainya di sana, ia lalu menempelkan telapak tangannya ke sebuah batu.
Tak berselang lama, sebuah suara rendah terdengar dari batu itu, sepertinya batu itu mulai bergeser dari dalam.
Dan beberapa saat kemudian, sebuah retakan memanjang muncul, sehingga membuka jalan sempit yang cukup dilewati satu orang.
Yuda yang melihat kejadian itu hanya mampu menatapnya tanpa berkata-kata, tatapannya terlihat ada sedikit rasa kagum.
Mengingat kembali bahwa ini adalah perjalanan pertamanya di dunia luar, dan dia masih sangatlah kurang dalam ilmu pengetahuan di dunia luar, apalagi ia hanyalah berasal dari keluarga yang biasa.
“Jangan terkejut seperti itu bocah, ini bukan sebuah sihir, ini hanyalah mekanisme lama.” ungkap Ragha menyadarkan Yuda.
“Bagi manusia biasa, tetap saja ini terlihat seperti sihir,” balas Yuda mendengus pelan.
Sedangkan Tara juga mendengus kecil.
Di balik celah jalan yang terbuka itu, kini terlihat sebuah lembah tersembunyi.
Dan seketika saja, udara di dalam sana berubah dengan cepat dan terasa berbeda.
Terasa lebih berat dan lebih padat, seperti sebuah tekanan yang membuat orang biasa akan sulit untuk bergerak.
Tenaga alam terasa mengalir tanpa arah yang jelas, seperti arus sungai yang belum menemukan muaranya.
Dan di tengah lembah kini terlihat beberapa bangunan batu sederhana.
Bangunan itu tidaklah mewah dan tidak indah, hanya seperti karya dari alam saja yang berdiri dengan sederhana.
Namun di balik itu, bangunan batu itu jelas dibuat untuk bertahan sangat lama.
“Selamat datang, tempat ini tidak punya nama yang resmi.” ucap Ragha tiba-tiba.
“Bagus juga, sebuah nama memang biasanya memudahkan orang datang tanpa diundang.” jawab Tara setelah mendengar perkataan Ragha.
Sesampainya di tempat itu, Ragha menunjukan sebuah bangunan batu yang terletak di ujung belakang kepada Yuda untuk beristirahat.
Yuda dan Tara mengikutinya dan memasuki bangunan batu tersebut, mereka berdua langsung terbaring lemas dan tak berselang lama akhirnya tertidur pulas.
Tak terasa hari esok pun tiba dengan cepat.
Dan sebuah pelatihan khusus untuk Yuda akan dimulai pada pagi hari ini.
Latihan itu dimulai begitu saja, tanpa sebuah upacara penyambutan, bahkan tanpa sebuah penjelasan yang panjang.
Yuda yang masih tertidur akhirnya dibangunkan oleh salah satu pria lain yang tinggal di lembah itu sebelum matahari terbit.
Setelah bangun dari tidurnya, tanpa persiapan lain, Ia langsung diminta untuk berdiri di tengah lapangan batu, tanpa sebuah senjata, dan tanpa sebuah pelindung.
Di lapangan itu terlihat sosok lain, yaitu seorang pria tua berdiri di tengah lapangan sedang menatap kearah Yuda yang berdiri di hadapannya.
Tubuhnya terlihat kurus, bahkan punggungnya pun terlihat sedikit membungkuk.
Namun saat pria tua itu membuka matanya, tekanan di sekitar terasa sangat berat, membuat Yuda spontan menahan napas.
“Aku adalah Guruh, dan aku yang akan mematahkanmu setiap tulangmu," ucapnya dengan bibir yang tersungging.
Mendengar itu Yuda terlihat sedikit mengernyitkan alisnya.
“Maksudmu, melatih?" koreksi Yuda.
Guruh pun hanya tersenyum miring.
“Mematahkan saja, itu sepertinya lebih terlihat jujur, Hahaha..." jawabnya dengan ikuti sebuah tawa singkat.
"Hah.. Pria tua yang aneh" gumam Yuda dalam hati sembari menghela napas singkat.
Akhirnya latihan pertama dimulai, namun itu bukanlah latihan sebuah jurus.
Bukan juga tenaga dalam, namun itu adalah latihan untuk bertahan.
Yuda dipaksa berdiri diam saat Guruh melepaskan tekanan aura secara bertahap.
Seketika itu juga, lututnya terlihat bergetar dengan napasnya yang berat.
Dalam waktu singkat, keringat telah membasahi punggungnya.
“Hmmm... Tubuhmu memang aneh, tidak menolak ini, tapi malah menelannya.” gumam Guruh dengan tatapan yang tajam.
Di sisi lain, terlihat sosok Ragha sedang mengamati dari kejauhan.
Sedangkan Tara, kini ia terlihat duduk di batu samping dengan ekornya yang terlihat bergerak seperti gelisah.
“Ini pelatihan yang gila, Meow-..” gumamnya lirih.
Dan di saat itu juga, di tengah lapangan itu terlihat tubuh Yuda akhirnya jatuh berlutut.
Dan batu di bawah kakinya pun terlihat juga telah retak.
Melihat itu, Guruh pun langsung menghentikan tekanannya.
“Bangunlah bocah, ini baru hari pertama, ini masihlah permulaan” ucapnya dengan tegas.
Yuda pun mengikutinya dengan patuh, hingga tak terasa satu hari berlalu begitu saja.
Di malam harinya, Yuda terbaring di lantai batu.
Seluruh tubuhnya terasa seperti bukan miliknya lagi karena terasa sangat pegal dan lemas.
Tara pun tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan melompat ke dadanya.
“Apa kau menyesal bocah bebal? Hihihi.. Mewo-..” tanya Tara menggoda.
Yuda hanya menatap langit lembah yang dipenuhi bintang.
“Tidak juga, tapi aku akhirnya sadar akan satu hal.” jawab Yuda dengan tatapan mata yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Apa?” tanya Tara langsung.
“Seperti aku sudah masuk terlalu dalam. Huuhhh-.." jawab Yuda lirih dengan helaan napas.
Mendengar itu, Tara pun hanya tersenyum kecil.
“Dasar manusia bebal, tapi bagus, karena jalan keluar sudah tidak ada untukmu, Hihihi Meow-..” jawab Tara ingin menenangkan.
"Haiihh.. perkataanmu itu selalu membuatku tenang tapi juga membuatku kesal, dasar kucing jelek." ucap Yuda kesal.
Mereka berdua pun akhirnya tertidur dengan cepat setelah melakukan pembicaraan singkat itu.
Dan mulai di hari kedua nanti hingga seterusnya, itu adalah sebuah rintangan yang akan sulit untuk Yuda lewati.
......................