Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Keluarga Kecil
Setelah Bryan Santoso memutus sambungan Bluetooth yang menghubungkan ponsel Note-nya ke proyektor ruang rapat, suasana seketika menjadi sunyi—penuh rasa ingin tahu yang menebal.
Arion Santoso, yang duduk tidak jauh dari kakaknya, kini tidak lagi bisa mendengar suara manis Kirana dari pengeras suara. Ia hanya bisa terdiam, menebak-nebak apa yang sedang terjadi.
Dia yakin Kirana sedang berusaha menghentikan kegilaan rapat maraton yang telah menyiksa seluruh jajaran direksi SantoPrime selama dua belas jam terakhir.
Arion merasa lega luar biasa. Baginya, Kirana datang tepat waktu seperti malaikat penolong yang turun dari langit untuk membebaskan mereka dari amukan sang Raja Iblis Agung.
Belenggu rapat yang menyengsarakan itu tampak akan segera berakhir. Tapi kesenangan Arion hanya bertahan singkat, tidak sampai dua menit.
Harapannya layu begitu mendengar jawaban dingin dari Bryan. Suara rendah dan berbekas aura beku itu menegaskan bahwa sang Raja Iblis sedang sibuk dan tidak bisa diganggu.
'Argh! Tidak! Bahkan Kirana pun gagal?! Apakah takdir kami memang berakhir di sini? Benarkah kami akan mati kelelahan di ruang rapat ini?' batin Arion penuh drama.
Di lokasi syuting, Kirana memegang ponselnya dengan erat. Suara dingin Bryan dari seberang telepon benar-benar menguji nyalinya.
Namun, mengingat Kael dan permohonan putus asa Arion, ia mengumpulkan keberanian. Menenangkan napas, ia menurunkan nada suaranya, membuatnya terdengar lebih lembut, hangat, dan penuh perhatian.
"Tapi aku khawatir kalau harus membawa Kael keluar sendirian malam-malam begini, Bryan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu di jalan? Kael pasti lebih senang kalau ayahnya ikut juga. Kembalilah pulang sekarang, ya? Oke?" ujar Kirana, nada memohon yang halus, tipe suara sulit ditolak pria mana pun.
Bryan terdiam di kursinya. Keheningan selama tiga detik terasa seperti satu jam bagi semua orang di ruang rapat.
Akhirnya, sang Raja Iblis membuka mulut.
"Baiklah, aku akan segera kembali."
Arion tertegun. Rasanya seperti cahaya matahari menyinari dirinya. Langit gelap, badai topan, dan hujan lebat yang tadi seolah menerpa ruangan akhirnya reda. Mereka selamat dari bencana Bryan.
'Aku selamat! Kakak ipar, kau benar-benar bidadari surga yang turun menyelamatkan kami dari amukan Raja Iblis! Aku tahu sejak awal hanya dia yang bisa melakukannya!' batin Arion penuh kemenangan.
Ia tersadar sesuatu yang lucu. Tadi ia kira kakaknya benar-benar tak terpengaruh saat mengucapkan kata "sibuk". Ternyata Bryan cuma sandiwara kecil. Berpura-pura kesal untuk menjaga gengsi, tapi luluh begitu Kirana menekan sedikit saja.
Setelah menutup telepon, Bryan berdiri dari kursi utama. Ia menatap para bawahannya sejenak, lalu mengucapkan dua kata yang membuat seluruh staf bersorak dalam hati, seperti malam tahun baru:
"Rapat ditunda."
Semua saling berpandangan dengan mata berbinar. Mereka hampir tak percaya bisa dibebaskan begitu saja dari "hukuman" itu.
Begitu Bryan melangkah keluar, Arion bangga luar biasa.
"Semuanya, berterima kasihlah padaku! Akulah yang memanggil penyelamat kita. Kalian semua selamat hari ini karena ide jeniusku!" gumamnya pelan, agar Bryan tak mendengar.
Tak lama setelah rapat resmi berakhir, Arion langsung dikerumuni para manajer dan staf senior yang penasaran.
"Tuan Muda Kedua Arion, apa kami tidak salah dengar? Seorang wanita benar-benar memanggil Pak Bryan dengan namanya secara langsung? Suaranya manis dan manja lagi!" tanya seorang manajer keuangan.
"Siapa wanita itu? Hanya satu panggilan singkat, tapi bisa membuat Pak Bryan membatalkan rapat penting di tengah pembahasan krusial!" tambah yang lain, mata berbinar.
"Benar! Apakah Pak Bryan punya seseorang spesial? Nona muda dari keluarga konglomerat mana dia? Tuan Muda Kedua, ceritakan!" seru mereka penuh antusias.
Arion menatap mereka waspada, seolah menjaga harta karun paling berharga.
"Apa?! Kalian ingin tahu siapa dia? Maksud kalian… ingin menjilat kakinya sekarang untuk aman? Tidak! Hanya aku yang boleh menjilat kaki calon iparku! Jangan coba-coba mendekat!" ujarnya sombong.
Para staf hanya bisa terdiam, tak berdaya. 'Pelit sekali, setidaknya beri info satu jari kakinya saja,' batin mereka serentak.
...
Di sudut belakang studio yang sepi, Kirana mengakhiri panggilannya dengan napas panjang, tubuhnya bersandar di dinding.
"Akhirnya, masalahnya terselesaikan juga..." gumamnya. "Seharusnya tak akan ada masalah lagi setelah ini. Bryan sudah berjanji akan pulang."
Tepat saat ia hendak melangkah pergi, teleponnya berdering lagi. Kali ini, panggilan dari Arion Santoso.
"Arion, ada apa lagi? Bukankah masalahnya sudah selesai?" tanya Kirana begitu menjawab.
"Tidak, tidak, tidak, Kakak Ipar! Aku cuma ingin bilang kalau taktik jebakan madumu—benar-benar sempurna! Itu menyelesaikan masalah kami dengan cepat!" seru Arion dari seberang telepon, suaranya ceria seperti biasa.
Wajah Kirana langsung memerah. "Kakak ipar? Dan jebakan madu? Itu tadi cuma strategi untuk memancing harimau keluar dari guanya! Pakai akal sehat sedikit, Arion!" ujar Kirana, nada kesal dibuat-buat menutupi rasa malunya.
"Ups, baiklah, aku mengerti! 'Memancing harimau', ya? Baiklah, aku tutup telepon sekarang. Sebagai ucapan terima kasih karena menyelamatkanku, aku akan mentraktirmu makan besar nanti kalau kau sempat! Sampai jumpa, Kakak Ipar!" Arion langsung mematikan telepon sebelum Kirana sempat protes lagi.
Kirana menatap layar yang kini hitam. 'Apa yang dipahami orang gila itu sebenarnya?' gumamnya heran.
Tiba-tiba, suara menyela dari belakangnya.
"Kirana, kenapa kau bersembunyi di sini sendirian? Ayo, kita pergi makan bersama!"
Kirana tersentak, menoleh, dan melihat Yono Barsa sudah berdiri tak jauh darinya, senyum santai tapi tatapannya tajam.
Ia menengok sekeliling memastikan tak ada orang lain. Yono memiliki banyak penggemar; jika terlihat berdua seperti ini, rumor besar pasti muncul besok pagi.
"Aku ada acara lain malam ini, Yono. Pergilah tanpa aku. Aku benar-benar tak bisa ikut makan malam itu," jawab Kirana sambil bersandar pada pilar merah di belakangnya.
"Apa?" Wajah Yono mendung. "Acara ini untuk menyambutku, Kirana! Aku rekan main utamamu! Kau tega tidak datang dan membiarkanku merayakannya sendiri dengan orang asing?"
Kirana mengerutkan alis, sedikit tidak enak hati. "Aku tahu, salahku karena tak bisa ikut. Tapi aku ada urusan penting malam ini. Janji, aku traktir makan lain kali, oke?"
"Tidak oke!" Yono tak percaya. "Urusan apa yang sepenting itu sampai kau menolak acara resmi kru? Dengan siapa kau akan bertemu malam ini?"
Nada Kirana berubah tegas. "Siapa pun, itu bukan urusanmu, Yono Barsa!"
Mendengar itu, wajah Yono masam. Cemburu mulai muncul.
"Kau akan menemui pamanku, Bryan Santoso, kan?"
Kirana mengerutkan alis lebih dalam. "Lalu kenapa kalau begitu? Apa hakmu menanyakannya?"
Yono mondar-mandir marah, lalu berhenti menatapnya tajam. "Kirana, kau benar-benar mencari masalah. Bermain-main dengan pria seperti Bryan Santoso… kau sadar tidak sedang bermain api besar?"
"Aku memang senang bermain api. Apa urusanmu?" Jawaban Kirana mulai sinis, sikapnya berubah tegas.
Yono meninju pilar di belakangnya—tidak keras, tapi cukup menunjukkan amarahnya.
"Kirana, aku bukan menakut-nakutimu. Aku hanya mengingatkan sebagai teman lama dan mantanmu. Kalau tak hati-hati, kau tak akan tahu bagaimana caramu mati saat waktunya tiba di tangan keluarga sebesar itu!"
"Apa kau tak tahu siapa Bryan Santoso sebenarnya? Kau kira dia sama dengan semua pria brengsek yang pernah kau kencani?" sindir Yono.
Kirana memutar matanya dengan malas. "Apakah daftar pria brengsek itu termasuk dirimu juga? Akhirnya kau mengakui sendiri kalau kau adalah pria brengsek?" ujar Kirana dengan nada bercanda yang tajam.
"Kirana! Aku sedang tidak bercanda sekarang!" ujar Yono dengan suara yang mulai meninggi.
"Hahaha, kenapa kau harus seserius itu, Yono? Kau pikir aku ini gadis bodoh yang mudah ditipu? Tentu saja aku tahu siapa pamanmu itu! Aku tahu persis siapa Bryan Santoso!" ujar Kirana sambil menyilangkan tangan di dada.
"Lalu mengapa kamu masih tetap bersamanya?" ucapan Yono terpotong oleh jawaban cepat Kirana.
"Tetap saja kenapa? Memangnya apa urusannya denganmu kalaupun aku benar-benar tidur dengan pamanmu, Bryan Santoso?"
Mendengar kalimat itu, Yono terdiam seribu bahasa. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri yang hampir meledak.
Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, Yono tahu bahwa Kirana bukanlah wanita yang sebodoh itu untuk melakukan hal-hal ceroboh tanpa alasan. Ia mencoba menahan amarahnya dan kembali bertanya dengan nada yang lebih tenang.
"Lalu katakan padaku yang sejujurnya, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?" tanya Yono.
Kirana pun menyadari bahwa ia telah bersikap sedikit kekanak-kanakan dengan terus berdebat tanpa henti dengan Yono.
Sejujurnya, suasana hatinya hari ini memang sangat kacau setelah bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya, dan hal itu membuatnya mudah terpancing emosi bahkan karena masalah sepele.
Kirana mengembuskan napas panjang untuk menenangkan diri, lalu mulai menjelaskan. "Aku pernah menyelamatkan Kael Santoso sebelumnya."
Yono sedikit terkejut mendengar nama itu. "Kau menyelamatkan Kael? Memangnya apa yang terjadi pada anak itu?"
Kirana menceritakan awal mula pertemuannya dengan Kael dan peristiwa yang terjadi saat itu.
"Sekitar setengah bulan yang lalu, paman mudamu yang tidak becus itu, Arion, mengajak Kael ke sebuah bar KTV. Karena merasa terganggu dengan keramaian yang berisik, Kael tanpa sengaja bersembunyi di dalam gudang. Malangnya, para staf mengunci pintu gudang dari luar tanpa menyadari kalau ada anak kecil di dalamnya…"
Yono ternganga tidak percaya. "Paman Arion mengajak Kael ke bar KTV? Ya Tuhan… itu memang terdengar persis seperti sesuatu yang akan dilakukan paman keduaku yang tidak bisa diandalkan. Lalu? Apa hubungannya kejadian itu denganmu?"
"Saat itu, aku juga sedang di sana untuk bersiap mengikuti audisi film The World. Tapi manajer sialanku, Merry, dengan sengaja mendorongku ke dalam gudang yang sama dan mengunciku agar aku tidak bisa pergi ke lokasi audisi…" Kirana menuturkan singkat rentetan peristiwa mengerikan yang mereka alami di gudang gelap itu.
Yono mendengarkan setiap detail dengan sabar. Ekspresi wajahnya perlahan melunak.
"Oke, aku mengerti sekarang. Jadi kau mengenal Bryan Santoso karena kau menyelamatkan nyawa anaknya. Baiklah, itu masuk akal. Tapi seharusnya keluarga Santoso memberimu kompensasi materi besar sebagai ucapan terima kasih, lalu selesai! Kalian berdua seharusnya berpisah jalan!" ujar Yono, kembali merasa heran.
"Kenapa sampai sekarang kau masih sangat dekat dengan Bryan? Bahkan sampai pindah dan tinggal di rumah pribadinya!" tanya Yono, nada suaranya menyelidiki.
Kirana menjelaskan situasinya, tapi sengaja menghilangkan bagian saat Bryan menawarkan 'balas budi dengan tubuhnya sendiri' atau lamaran pernikahan aneh itu waktu ia baru sadar di rumah sakit.
'Itu tidak perlu kujelaskan pada Yono. Lagipula, terdengar sangat aneh dan tidak masuk akal jika seorang pimpinan SantoPrime yang sedingin Bryan menawarkan dirinya sendiri sebagai balas budi, kan?' batin Kirana meyakinkan diri.
"Kael mengalami guncangan psikologis cukup berat akibat kejadian itu, dan hanya aku yang bisa menenangkannya saat trauma. Kael jadi sangat bergantung padaku. Itulah sebabnya Bryan memintaku tinggal sementara di kediamannya sampai kondisi mental Kael benar-benar stabil," ungkap Kirana.
"Beberapa waktu lalu, Kael bahkan sempat mengamuk karena ingin bertemu denganku, tapi pamanmu tidak memberikan izin. Kau tahu sendiri kan bagaimana kerasnya sikap pamanmu? Saat aku akhirnya datang untuk membantu, Bryan bertindak sangat tegas dan kaku pada anaknya sendiri," lanjut Kirana.
"Jadi, intinya aku harus selalu siap sedia setiap saat untuk menjadi semacam 'obat penenang' bagi Kael jika dia membutuhkanku. Kau mengerti sekarang?" ujar Kirana, mengakhiri penjelasannya dengan nada lebih santai.
Yono akhirnya sedikit lega, tapi tetap gelisah. "Kau yakin hanya itu alasannya? Kau tahu banyak wanita luar sana rela lakukan apa saja demi masuk keluarga Santoso. Kau berada di posisi emas untuk itu sekarang," ucap Yono, mata menyelidik.
"Benar-benar tak punya niat apa pun pada Bryan?" Yono menekan lagi.
Kirana menaikkan alis, setengah bercanda. "Kalau soal niat… aku lebih tertarik pada Kael. Terlalu imut! Rasanya ingin menculiknya jadi kekasih kecilku sendiri!"
Yono menatapnya diam sejenak, memegang dahinya sambil menghela napas. "Nasihatku tetap sama. Jangan pikirkan hal-hal tak seharusnya. Keluarga konglomerat seperti Santoso itu bukan dongeng Cinderella. Dunia mereka penuh intrik, perebutan kekuasaan, dan rahasia gelap!"
Kirana tertawa dingin. "Seolah kau tahu pendapatku tentang kalangan atas," gumamnya. Ia membenci gaya hidup kelas atas, topeng kepalsuan, dan semua pura-pura sopan.
Terlebih lagi setelah ia dibuang begitu saja oleh pria yang dulu ia panggil ayah karena sebuah kesalahan yang dianggap memalukan bagi nama besar keluarga.
Tidak ada seorang pun yang membantunya saat itu, bahkan adiknya sendiri, Aruna, yang merupakan penyebab utama dari segala penderitaannya, masih terus bertindak seolah ia adalah putri kesayangan yang suci dan terpuji di keluarga besar Yudhoyono.
'Keluar dari keluarga Yudhoyono sudah perjuangan berat. Untuk apa aku menjerumuskan diri ke jurang lain?' batin Kirana.
Yono sedikit lega melihat kilatan jijik di mata Kirana saat membahas kalangan atas. Dia tahu gadis ini paling benci diatur orang lain. Masuk keluarga besar Santoso baginya seperti menghadapi bencana alam.
"Oke, kau sudah selesai mengajukan pertanyaan menyebalkanmu. Sekarang giliranku," ujar Kirana, tangan bersilang.
"Silakan. Apa ingin kau tanyakan?" Yono mengangkat bahu santai.
"Setahuku, Bryan hanya punya satu adik laki-laki, Arion. Lalu bagaimana ceritanya kau jadi keponakannya?" tanya Kirana.
Yono mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya, menyalakannya dengan pemantik, lalu perlahan memberikan jawaban.
"Secara teknis, aku memang tidak memiliki hubungan darah langsung dengan keluarga Santoso. Hal itu bisa terjadi karena kakek dan nenekku dulu teman dekat keluarga mereka sejak lama," ungkap Yono, suaranya tenang namun tegas.
"Kakek dan nenekku meninggal dalam kecelakaan mobil tragis saat ibuku masih sangat muda. Karena tidak ada kerabat lain, keluarga Santoso memutuskan mengadopsi ibuku sebagai bagian dari mereka. Jadi, berdasarkan urutan senioritas dalam keluarga besar mereka, aku diwajibkan memanggil Bryan Santoso dengan sebutan Paman Tua, dan Arion Santoso dengan sebutan Paman Muda."
"Begitu ya…" Kirana menatap rokok Yono. "Hei! Aku sedang berhenti merokok. Jangan pancing aku dengan merokok di depanku!"
Yono mengerutkan alisnya, menatap Kirana heran. "Kau biasanya baik-baik saja dengan kebiasaan itu. Kenapa tiba-tiba sekarang kau memutuskan berhenti?"
"Memangnya aku butuh alasan khusus untuk berhenti dari kebiasaan buruk bagi kesehatan?" balas Kirana cepat.
"Hah! Siapa dulu yang bilang padaku: 'Merokoklah saat kau masih boleh merokok, dan minumlah saat kau masih boleh minum! Siapa pun yang mencoba berhenti merokok dan minum itu adalah orang bodoh...'?"
Yono mengulangi kalimat Kirana di masa lalu, lalu mematikan rokoknya ke tempat asbak terdekat untuk menghormati keinginan gadis itu. "Sudah kukatakan semua yang ingin kau tahu. Ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Tentu!" Kirana menggertakkan gigi. "Kenapa tiba-tiba mau peran Rama Pranata? Itu peran pendukung pria kedua, karakter lembut, bukan tipe yang biasanya kau suka!"
Bagi Kirana, ini sinyal kuat bahwa Yono sengaja datang ke lokasi syuting hanya untuk membuat masalah baginya.
Yono memasang wajah polos. "Apa salahnya mencoba? Bukankah aku boleh menantang diri dengan peran berbeda? Bukankah membosankan kalau selalu tipe yang sama?"
"Aku merasa perlu terus mengembangkan kemampuan aktingku dan menantang diriku sendiri dengan peran yang berbeda dari biasanya. Bukankah itu diperbolehkan dalam dunia seni? Lagipula, bukankah sangat membosankan jika aku selalu memainkan tipe karakter yang itu-itu saja?" jawab Yono.
"Dan lihat sendiri hasilnya tadi, bukankah aku sudah berakting sangat baik hari ini? Kita saling menggoda di depan kamera, itu sangat menyenangkan bagi penonton!" ungkap Yono, percaya diri.
"Senang kepalamu!" potong Kirana dengan ketus.
Kirana sudah merencanakan sesuatu dalam hatinya. Ia yakin, paling lambat besok, Yono akan menyesali keputusannya.
'Aku sudah merencanakan sesuatu. Besok kau akan menyesal menghadapi adegan penyiksaan Laura Pitaloka terhadap Rama Pranata. Aku akan lakukan sungguhan!' pikir Kirana.
"Sudahlah. Aku harus pergi sekarang. Janjiku pada Kael, kami makan hot pot bersama hari ini," ujar Kirana sambil menatap jam di pergelangan tangannya.
Yono cemberut. "Kau pergi dengan Paman Bryan juga?"
"Tentu. Aku tak berani membiarkan Kael keluar sendirian. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya saat aku bersamanya? Aku tak sanggup menanggung risikonya," jawab Kirana tegas.
Yono mengerutkan keningnya.
"Jadi kau sudah sadar sendiri kan? Kael itu adalah nyawa bagi seluruh keluarga Santoso. Terutama bagi dua tetua Santoso. Bagi mereka, anak itu adalah kesayangan paling berharga!" ujar Yono memperingatkan.
"Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada anak itu saat dia bersamamu, mereka mungkin tidak akan segan menguburmu hidup-hidup, Kirana! Mengapa kau masih nekat memegang bara api panas seperti ini?" tanya Yono, nada seriusnya menusuk.
Kirana kesal.
"Omong kosong apa lagi yang kau ucapkan? Masalah apa yang kau maksud? Kael-ku adalah anak paling menggemaskan dan baik di dunia ini! Aku tidak akan membiarkan dia mengalami hal menyedihkan atau menakutkan lagi selama dia bersamaku!"
Yono tertawa dingin, sinis. "Sepertinya kau terpesona pada seseorang. Hanya karena pria itu minta sedikit, kau langsung melupakan segalanya, termasuk keselamatanmu!"
Kirana tak sabar.
"Sudahlah… bisakah kau berhenti mengomel seperti orang tua? Bagaimana mungkin aku menolak permintaan pamanmu, Raja Iblis SantoPrime itu? Kau sendiri takut padanya kemarin… atau apa kau takut aku jadi bibimu?"
"Bibi… bibi…" Yono merasakan rasa sakit aneh dan tak tertahankan di hatinya saat mendengar kata itu keluar dari mulut Kirana.
Ia seketika terdiam, tak mampu membalas lagi.
"Anak pintar!" Kirana menepuk kepala Yono, seperti sedang mengelus kucing nakal.
Setelah berhasil menguasai keadaan, Kirana berbalik dan pergi cepat.
Kirana mengambil tasnya di ruang ganti, lalu menjelaskan singkat kepada Sutradara Galang dan staf lainnya bahwa ia memiliki rencana penting malam ini, sehingga tidak bisa ikut pesta penyambutan. Ia berpamitan dengan sopan.
Melihat punggung Kirana yang pergi tergesa-gesa, lapisan es tebal seolah kembali terbentuk di wajah Yono Barsa. Hatinya diliputi kegelapan.
Sementara itu, Qiana Putri, yang dari tadi memperhatikan dari kejauhan, melihat Kirana pergi tanpa ikut acara makan malam. Ia merasa akhirnya menemukan kesempatan untuk mendekati idolanya.
Qiana mendekati Yono dengan ekspresi manis yang dibuat-buat.
"Bang Yono, kita semua sudah siap. Mau makan di mana malam ini? Bagaimana kalau ke Rivers Hotel saja? Kita bisa pakai ruang VIP yang eksklusif. Ayahku anggota tetap di sana," katanya dengan suara lembut.
Yono meregangkan tubuh, matanya tak menatap Qiana. "Lupakan. Aku tak akan pergi ke mana-mana malam ini. Terlalu lelah setelah seharian syuting."
Penolakan dingin itu membuat Qiana panik. Rencana yang sudah ia susun di kepala seketika terancam gagal.
"Tapi, Bang Yono… ini hari pertamamu di lokasi syuting! Kita harus merayakannya, makan bersama sebagai tanda persahabatan!" ujarnya tergopoh, mencoba membujuk.
Wajah Yono memerah sedikit, bukan karena tersipu, tapi karena kesal. Ia merasa dikhianati: Kirana lebih memilih pergi dengan paman tuanya daripada merayakan kesuksesan syuting bersamanya.
"Siapa yang bikin aturan konyol ini harus makan hidangan selamat datang di hari pertama? Kalau memang ingin, silakan pergi sendiri!" bentak Yono.
Semua staf tahu, Yono Barsa bukan pria sabar. Saat mood bagus, dia ramah dan menyenangkan. Saat mood buruk, mudah meledak.
'Bocah nakal ini jelas sedang sangat buruk mood,' batin Galang yang mendengar ucapan kasar itu.
Qiana terkejut, matanya memerah dan berkaca-kaca, seolah baru saja diperlakukan tidak adil.
"Aku… aku cuma ingin sopan. Bang Yono, bagaimana bisa kau setega itu padaku…" suaranya gemetar, mencoba mencari simpati.
'Siapa kau panggil "Abang"? Aku kakakmu?' batin Yono, muak.
Yono benar-benar ingin meledak lagi, tapi ia segera pergi sebelum suasana makin buruk. Sutradara Galang yang berdiri tak jauh melihat itu, lalu turun tangan dengan diplomasi.
"Mungkin sebaiknya kita tunda pesta makan malam. Yono terlihat lelah. Biarkan dia beristirahat dan menyesuaikan diri dengan studio hari pertama," ujar Galang.
"Siapa sangka jadwal syuting begitu padat, banyak adegan emosional," lanjutnya, menengahi suasana.
"Semuanya, silakan pulang lebih awal hari ini. Istirahatlah. Tak perlu buru-buru pesta makan malam sekarang," perintah Galang kepada kru.
"Baiklah…" Qiana mengangguk, merasa lega atas jalan keluar itu. Namun, dalam hatinya, rasa benci terhadap Kirana semakin menjadi.
'Ini semua pasti salah Kirana! Karena dia menyibukkan Bang Yono sepanjang hari, Bang Yono sampai tak punya selera makan!' batin Qiana, penuh prasangka.
Qiana menundukkan kepala, menyembunyikan ekspresi sinis, sambil diam-diam membuka beberapa foto rahasia di galeri ponselnya. Sebuah senyum jahat tersungging di bibirnya.
"Tunggu saja pembalasanku, Kirana! Aku akan membuatmu membayar mahal untuk semua ini!" bisiknya, penuh kebencian.
...
Di kediaman mewah Bryan Santoso, Kirana akhirnya sampai dengan perasaan jauh lebih tenang. Ia sama sekali tidak tahu tentang drama kebencian yang terjadi di lokasi syuting setelah kepergiannya.
"Aku sudah kembali, Sayang!" ucap Kirana saat melangkah masuk. Semua rasa lelah seolah menguap begitu ia melihat rumah hangat itu.
Mendengar suara Kirana, Kael yang sedang bermain di ruang keluarga langsung berdiri. Anak kecil itu berlari ke dapur, mengambil gelas dari kulkas, dan kembali dengan jus buah dingin di tangan.
"Sayang, kamu manis sekali! Tante benar-benar sayang padamu!" Kirana mengambil gelas itu dengan mata berbinar, menghabiskannya sekali teguk. Segarnya jus seolah menyegarkan seluruh tubuhnya.
"Eh, kemari, Sayang! Tante akan gantiin bajumu dengan yang lebih lucu. Nanti kita akan pergi makan hot pot!" Kirana berkata dengan semangat meluap-luap.
Kael, yang biasanya lari ketakutan saat mendengar kata “pergi keluar”, kali ini patuh mengikuti Kirana ke lantai atas.
Di kamar tidur Kael yang luas, Kirana mulai mendandani anak itu. Ia meneliti satu per satu pakaian di lemari besar.
"Yang ini warnanya terlalu polos, yang ini modelnya membosankan… astaga! Siapa yang membelikannya untukmu, Sayang? Selera macam apa ini?!" keluh Kirana.
"Tak perlu tanya lagi, pasti selera ayahmu! Apa dia lupa kau ini lima tahun, bukan pria kantoran tiga puluh lima tahun?" lanjutnya sambil menghela napas kesal.
Sambil menelusuri lemari, akhirnya Kirana menemukan sesuatu yang membuatnya puas.
"Wow! Lihat ini, Sayang! Lucu banget!" serunya.
Pakaian itu kemeja putih lengan pendek dengan hoodie bertelinga kelinci, dipadukan celana kodok denim dengan kantong besar di depan ala Doraemon.
"Melihat ini, pasti Arion yang membelikannya! Setidaknya paman mudamu itu masih bisa diandalkan soal gaya berpakaian. Anak kecil memang harus pakai baju lucu dan cerah!" kata Kirana.
Ia menatap Kael lembut. "Gimana, Sayang? Suka baju kelinci ini? Kalau nggak, Tante bisa cari yang lain."
Kael mengangguk antusias tanpa ragu. Kirana pun membantunya berganti pakaian. Setelah selesai, Kael benar-benar terlihat menggemaskan. Tanpa menunggu lama, Kirana kembali memeluknya dan mengelus pipi mungil itu.
"Ukhhh, bagaimana bisa ada ciptaan Tuhan yang seimut kamu, Kael, my little Bun Tante," ujar Kirana.
Kael tidak merasa risih. Sebaliknya, ia senang dimanja oleh Kirana.
Kirana tersenyum puas, lalu menjauhkan pipinya.
"Baiklah, Tante sekarang siap-siap dulu. Tunggu Tante di ruang keluarga ya," ucapnya.
Kael mengangguk patuh. Mereka pun berpisah; Kirana menuju kamarnya, sementara Kael turun ke lantai bawah menunggu di ruang keluarga.
Sesampainya di kamarnya, Kirana segera mandi. Setelah seharian mengenakan kostum tradisional yang berat di lokasi syuting, tubuhnya terasa lengket dan bau keringat masih menempel meskipun sudah memakai parfum dan deodorant.
Setelah mandi, Kirana menuju lemari pakaiannya. Secara kebetulan, ia menemukan setelan yang modelnya senada dengan pakaian Kael. Tanpa ragu, ia mengambilnya dan mengenakannya—kemeja putih dipadu dengan celana kodok denim yang senada.
Saat Kirana keluar kamar dan turun ke lantai satu, mata Kael langsung berbinar-binar penuh kegembiraan.
Ia menatap Kirana, lalu melihat dirinya sendiri di cermin besar. Wajahnya dipenuhi ekspresi puas. Dengan tangannya yang mungil, ia bahkan menyentuh telinga kelinci di tudung kepala pakaian Kirana.
Kael tampak sangat bahagia karena bisa mengenakan pakaian yang seragam dengan Tante Kirana-nya.
Ketika mereka siap, terdengar suara mesin mobil masuk ke halaman. Bryan Santoso telah kembali.
Meskipun suhu di luar 30°C, langkah Bryan yang panjang dan aura dinginnya membuat suasana seketika berubah.
Namun begitu matanya menangkap Kirana dan Kael dengan pakaian kelinci serasi, aura dinginnya perlahan mencair. Tatapan tajam itu kini terasa hangat.
Kirana dan Kael terlihat seperti mengenakan pakaian ibu dan anak yang serasi.
Pakaian Kael membuatnya terlihat ribuan kali lebih imut dari biasanya, sementara Kirana, dengan telinga kelinci di tudung kepala dan baju terusan yang manis, tampak jauh lebih muda.
Saat mereka duduk berdampingan, Kirana dan Kael lebih terlihat seperti kakak dan adik yang akrab daripada ibu dan anak.
Melihat Bryan telah kembali tepat waktu, Kirana segera bangkit dari sofa dan menuntun Kael. "Kami berdua sudah siap dari tadi. Bolehkah kita pergi sekarang?" tanya Kirana dengan semangat.
Bryan mengangguk pelan, tatapannya sempat terpaku pada Kirana beberapa detik sebelum ia memalingkan wajah.
"Berikan aku lima menit," ujar Bryan singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah ke lantai dua.
Kirana mengangguk, lalu kembali bermain dan bercanda dengan Kael di sofa.
Lima menit berlalu. Bryan turun, kali ini mengenakan kaos hitam berkualitas pas di tubuh atletisnya, blazer tipis gelap, dan celana chino rapi. Penampilannya santai tapi tetap memikat dan berwibawa.
'Bagaimana mungkin seorang pria tetap mempesona tanpa jas formal? Aura dingin dan wibawa sebagai Raja Iblis Agung masih kuat,' batin Kirana.
"Ayo, kita pergi sekarang," ujar Bryan tegas, memecah lamunan Kirana.
Kirana tersadar, mengangguk cepat, dan bersama Kael mengikuti langkah Bryan menuju garasi.
Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota, Kirana duduk di kursi belakang bersama Kael.
Dengan nada antusias, ia bertanya, "Hei, Bryan, menurutmu pakaian Kael hari ini lucu, kan? Aku harus menggeledah lemari cukup lama sebelum akhirnya menemukan setelan ini."
"Sangat lucu," jawab Bryan dari kursi pengemudi. Sesekali ia melirik Kirana melalui kaca spion tengah, matanya tetap fokus pada jalan.
Kirana tersenyum puas. "Sudah kubilang, kan! Mulai sekarang, kau harus lebih sering membelikan pakaian lucu dan berwarna cerah untuk Kael kesayanganku ini!"
"Hm." Bryan hanya menjawab pendek, lalu merogoh saku blazernya dan menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam pekat ke Kirana di belakang.
"Apa… apa ini?" Kirana berkedip bingung saat menerima kartu tersebut.
Itu adalah kartu kredit Infinite Black yang legendaris—tanpa batas limit—yang selama ini hanya pernah ia lihat beritanya di internet.
"Gunakan untuk beli apa pun yang Kael butuhkan," ujar Bryan dengan nada datar, seolah baru saja memberikan kartu diskon biasa.
'Bukan itu maksudku, Bryan! Aku tidak minta uang. Kenapa kau langsung memberiku kartu sakti ini begitu saja?' batin Kirana.
'Tapi… baiklah. Kalau sudah ada di tanganku, ini berarti perburuan belanja pakaian lucu untuk Kael akan jadi semakin seru!' pikirnya.
Perjalanan singkat membawa mereka ke Shí Huǒ Hot Pot di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Restoran ini terkenal dengan menu hot pot mewahnya, sering menjadi pilihan eksekutif papan atas.
Mobil Bryan berhenti di area parkir VIP. Dengan sikap gentleman, ia membuka pintu mobil untuk Kirana dan Kael, menatap Kirana dengan tatapan bertanya.
"Apakah kau benar-benar tidak keberatan makan di tempat seperti ini?"
Kirana sudah terbiasa dengan gaya bicara singkat Bryan. Ia tahu maksud pertanyaan itu: apakah ia khawatir jika penampilannya di depan umum menarik perhatian media atau publik.
Ia menggaruk kepala dan tersenyum tipis. 'Seharusnya tidak masalah. Saat ini belum banyak orang mengenalku, dan aku juga berpakaian santai,' batin Kirana.
Sambil berkata demikian, ia mengeluarkan kacamata bulat tanpa lensa dari tas dan memakainya. "Nah, dengan ini, seharusnya aman!"
"Bagus," Bryan mengangguk singkat.
Mereka bertiga masuk ke restoran. Dugaan Kirana benar—tidak ada pengunjung yang mengenalinya sebagai aktris.
Namun satu hal terlupa: kehadiran Kael dan Bryan. Ayah dan anak itu menarik perhatian siapa pun. Ketampanan Bryan yang dingin, ditambah keimutan Kael, membuat mereka mencolok di tengah keramaian.
Pakaian kelinci serasi Kirana dan Kael menambah daya tarik mereka, terlihat unik dan harmonis sebagai keluarga kecil.
"Ah! Lihat ayah dan anak itu! Benar-benar tampan! Ayahnya gagah, anaknya super imut!" bisik seorang wanita di meja sebelah.
"Wanita di samping mereka juga cantik! Sepertinya seluruh keluarga ini rupawan. Apakah ayah itu mengajak kakak-adik jalan-jalan? Tapi di mana ibunya?" tanya yang lain penasaran.
Mendengar “kakak-adik”, wajah Bryan muram seketika.
Untungnya, seorang pria di sebelah memberikan komentar berbeda.
"Ayah dan anak-anaknya? Salah lihat! Itu keluarga kecil lengkap. Wanita muda itu jelas istri pria itu, ibu kandung anak kecil lucu itu!"
"Masa sih? Tapi wanita itu terlihat sangat muda!"
"Lihat saja interaksi mereka. Sang suami lebih tua, istrinya lebih muda. Cara pria itu menatap istrinya penuh kasih sayang—lihat sendiri ekspresinya!" lanjut pria itu yakin.
Bersambung…