Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.
Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.
Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Hari Terakhir Tenggat
Pagi di RS Linhai No.2 terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bukan karena rumah sakit sepi, melainkan karena setiap suara terdengar terlalu jelas. Bunyi roda ranjang yang didorong, langkah sepatu perawat di lorong, detak jam dinding yang berdetak tanpa henti.
Gu Yanqing duduk di sisi ranjang.
Li Shumin terbaring dengan mata setengah terbuka. Selang infus terpasang di punggung tangannya. Wajahnya pucat, namun rautnya tenang. Ia tampak jauh lebih kurus dibandingkan beberapa bulan lalu.
“Yanqing,” suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.
Gu Yanqing mencondongkan tubuh sedikit. “Ibu.”
Li Shumin tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan, tapi tetap hangat. “Kamu sudah makan?”
“Sudah,” jawabnya singkat.
Li Shumin menatapnya beberapa detik, seolah mencoba membaca sesuatu di wajah anaknya. Ia tidak bertanya lebih jauh. Tidak menyinggung uang. Tidak menyebut operasi.
Justru itu yang membuat dada Gu Yanqing terasa sedikit lebih berat.
“Kalau ibu masuk ruang operasi nanti,” ucap Li Shumin pelan, “kamu jangan tegang. Dokter di sini bagus.”
Gu Yanqing mengangguk. “Ibu juga jangan banyak bicara. Simpan tenaga.”
“Baik,” jawabnya patuh.
Jam dinding di atas pintu menunjukkan pukul delapan lewat dua belas menit.
Hari ini.
Kata itu berulang di kepalanya.
Hari ini operasi harus dilakukan.
Hari ini pembayaran harus diselesaikan.
Hari ini tidak ada penundaan lagi.
Pintu terbuka perlahan.
Seorang pria paruh baya dengan jas dokter putih masuk. Rambutnya rapi, ekspresinya profesional tanpa basa-basi. Di dadanya tertera nama: Zhou Wen.
“Gu Yanqing,” katanya sambil membuka map. “Kita perlu bicara sebentar.”
Gu Yanqing berdiri. “Silakan, Dokter Zhou.”
Dokter Zhou menoleh ke arah Li Shumin. “Bu Li, saya hanya akan menjelaskan sedikit kondisi hari ini. Tidak lama.”
Li Shumin mengangguk. “Saya mengerti.”
Nada bicara dokter itu tenang, tapi langsung ke inti.
“Kondisi jantung ibu Anda sudah mencapai batas aman untuk ditunda,” ujar Zhou Wen. “Jika operasi tidak dilakukan hari ini, risiko komplikasi meningkat signifikan.”
“Seberapa signifikan?” tanya Gu Yanqing.
“Secara medis?” Dokter Zhou berhenti sejenak. “Kami tidak menyarankan penundaan sama sekali.”
Tidak ada angka persentase. Tidak ada istilah dramatis. Namun kalimat itu cukup jelas.
Hari ini.
“Jadwal operasi sudah kami siapkan untuk siang,” lanjut Zhou Wen. “Namun ada satu hal administratif yang harus diselesaikan sebelum pukul sebelas.”
Gu Yanqing sudah tahu jawabannya.
“Biaya operasi,” kata Zhou Wen tanpa berputar-putar. “Seratus delapan puluh ribu yuan. Bagian administrasi akan meminta konfirmasi pembayaran penuh.”
Li Shumin memalingkan wajah sedikit, seolah tidak ingin mendengar lebih jauh. Tangannya mencengkeram seprai.
Gu Yanqing menjawab dengan nada datar. “Jika belum diselesaikan?”
Dokter Zhou menutup mapnya perlahan. “Kami tidak bisa memulai tindakan medis besar tanpa konfirmasi pembayaran. Ini aturan rumah sakit.”
“Aturan hari ini,” tambahnya, menekankan waktu.
Hari ini.
Gu Yanqing mengangguk. “Saya mengerti.”
Dokter Zhou menatapnya sejenak. Tatapannya bukan menghakimi, melainkan menilai. Seolah mencoba memastikan apakah pria muda di depannya memahami bobot keputusan yang akan diambil.
“Kami akan menunggu sampai pukul sebelas,” ucapnya. “Setelah itu, jadwal bisa berubah.”
Ia keluar tanpa banyak kata tambahan.
Pintu tertutup kembali.
Ruangan kembali hening.
Li Shumin membuka mata lebih lebar. “Yanqing,” katanya pelan, “kalau memang sulit…”
“Tidak,” potong Gu Yanqing cepat, namun tetap lembut. “Ibu fokus saja pada operasi.”
Ia tidak membiarkan kalimat itu berlanjut.
Ia tahu apa yang ingin dikatakan ibunya. Menunda. Pulang. Menghemat biaya. Mengalah.
Pilihan-pilihan itu sudah ia coret satu per satu sejak malam sebelumnya.
Ia duduk kembali.
Jam dinding berdetak.
Pukul delapan lewat dua puluh lima.
Hari ini.
Ia mengingat semua opsi yang telah ia timbang.
Meminjam uang? Tidak ada jaminan, tidak ada waktu.
Menjual aset? Tidak cukup cepat, nilainya pun tidak mencukupi.
Memohon keringanan? Rumah sakit sudah jelas.
Setiap jalan buntu berujung pada satu titik yang sama.
Waktu.
Li Shumin memejamkan mata, napasnya teratur. Ia berusaha terlihat tenang demi anaknya.
Gu Yanqing berdiri perlahan.
“Ibu istirahat,” katanya. “Aku keluar sebentar.”
Li Shumin mengangguk tanpa membuka mata.
Gu Yanqing melangkah keluar kamar.
Lorong rumah sakit sudah mulai ramai. Keluarga pasien lain berdiri di depan ruang administrasi. Beberapa berbicara dengan suara tertahan. Beberapa menatap layar ponsel dengan wajah tegang.
Jam besar di ujung lorong menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh satu.
Hari ini.
Ia berhenti sejenak, berdiri di tengah lorong, lalu menghembuskan napas perlahan.
Tidak ada ruang untuk ragu.
Bukan karena ia tidak takut, melainkan karena takut tidak lagi relevan.
Waktu terus berjalan.
Dan keputusan harus diambil sebelum hari ini berakhir.
...
Lorong administrasi RS Linhai No.2 dipenuhi bau antiseptik dan suara mesin pencetak dokumen.
Gu Yanqing berdiri di dekat jendela kaca buram, sedikit menjauh dari antrean. Tangannya masuk ke saku jaket. Ponselnya dingin di telapak tangan.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat dua menit.
Hari ini.
Bagian administrasi belum memanggil namanya. Namun ia tahu, begitu dipanggil, pertanyaannya hanya satu.
Pembayaran.
Ia menutup mata sejenak, lalu membuka panel sistem.
Tidak ada suara. Tidak ada cahaya mencolok. Panel itu muncul seperti biasa—tenang, datar, tanpa emosi.
Status Sistem: Aktif
Lingkungan: Tekanan Tinggi
Kondisi Waktu: Kritis
Satu baris baru muncul.
Opsi Sistem Terbuka: Bantuan Hukum Pendahuluan
Gu Yanqing menatapnya tanpa perubahan ekspresi.
Ia menekan opsi itu.
Panel berganti tampilan.
Deskripsi Opsi:
Bantuan dana berbasis potensi gugatan hukum aktif.
Dana dicairkan sebelum putusan pengadilan.
Syarat Utama:
Gugatan harus terdaftar secara resmi.
Penerima bertanggung jawab penuh atas konsekuensi hukum.
Jika gugatan gagal atau dibatalkan, kewajiban pengembalian berlaku.
Kegagalan memenuhi kewajiban berdampak pada status hukum dan sistem.
Tidak ada kata “gratis”.
Tidak ada kata “jaminan”.
Hanya sebab dan akibat.
Gu Yanqing menggulir panel perlahan.
Risiko:
– Tekanan hukum meningkat
– Status finansial terikat pada hasil gugatan
– Tidak dapat mundur sepihak
Ia berhenti membaca.
Bukan karena tidak paham, melainkan karena sudah cukup.
Gugatannya terhadap Dongkou Port Group sudah terdaftar. Jalur hukum sudah ia pilih. Sejak itu, tidak ada lagi opsi aman.
Mundur sekarang berarti dua hal:
Ibunya tidak dioperasi.
Dan seluruh langkah sebelumnya menjadi pengakuan takut.
Ia tidak membutuhkan keberanian.
Ia hanya membutuhkan keputusan.
Jarinya menekan konfirmasi.
Permintaan Bantuan Hukum Pendahuluan: Diproses
Panel diam selama dua detik.
Di dunia nyata, seorang petugas administrasi memanggil nama pasien lain. Kertas diserahkan. Tanda tangan dibubuhkan. Waktu terus berjalan.
Hari ini.
Panel sistem kembali menyala.
Verifikasi Gugatan: Valid
Analisis Potensi: Memenuhi Syarat Minimum
Gu Yanqing berdiri tegak. Bahunya rileks. Tidak ada ketegangan di wajahnya.
Ia tidak berharap sistem menyelamatkannya. Ia hanya menggunakan alat yang tersedia.
Baris terakhir muncul.
Status Permintaan: Disetujui
Dana Bantuan: Dicairkan
Tidak ada efek dramatis.
Hanya satu notifikasi tambahan di ponselnya dari bagian administrasi rumah sakit.
“Pembayaran atas nama Li Shumin telah terkonfirmasi. Silakan menuju loket untuk tanda tangan persetujuan operasi.”
Gu Yanqing menatap layar itu selama satu detik penuh.
Lalu ia memasukkan ponsel kembali ke saku.
Ia melangkah ke loket dengan langkah stabil.
Petugas administrasi menatap layar komputernya, lalu mendongak. “Pembayaran sudah masuk. Tolong tanda tangan di sini.”
Gu Yanqing mengambil pena.
Tangannya tidak bergetar.
Setiap goresan tanda tangan terasa ringan, namun ia tahu bobotnya berat.
Bukan hanya operasi.
Melainkan utang hukum yang baru saja ia ambil.
Selesai.
Ia berjalan kembali menuju ruang rawat.
Di depan pintu, seorang perawat sudah menunggu dengan ranjang dorong. “Pasien Li Shumin akan dipindahkan ke ruang operasi.”
Gu Yanqing mengangguk.
Ia masuk ke kamar.
Li Shumin membuka mata ketika melihatnya. “Sudah?”
“Sudah,” jawab Gu Yanqing singkat.
Ia tidak menjelaskan bagaimana caranya.
Ia tidak perlu.
Perawat mendorong ranjang keluar. Gu Yanqing berjalan di sampingnya sampai batas lorong steril.
Pintu ruang operasi tertutup perlahan.
Lampu merah menyala.
Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh satu.
Hari ini.
Panel sistem muncul sekali lagi, hanya satu baris.
Status Lingkungan: Stabil Sementara
Catatan: Tekanan hukum meningkat
Gu Yanqing menatap pintu tertutup itu.
Ia tidak menunggu keajaiban.
Ia tahu, begitu operasi dimulai, satu tekanan mereda—dan tekanan lain akan segera datang.
Namun ia sudah memilih.
Dan pilihan itu tidak bisa ditarik kembali.
Panel sistem menampilkan konfirmasi akhir.
Bantuan Hukum: Aktif
Di balik pintu operasi, tindakan medis dimulai.
Dan di luar sana, jalur hukum yang lebih berbahaya telah resmi mengikat namanya.