NovelToon NovelToon
Satu Wajah Dua Kehidupan

Satu Wajah Dua Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Kelemahan

Langkah Lin Dongxue menuruni tangga dipenuhi dengusan kesal. Begitu keluar dari gedung apartemen, ia menendang sebongkah kerikil kecil hingga terpental ke sisi taman. “Menyebalkan! Menjengkelkan! Aku bisa mati dibuatnya!” gerutunya, masih terbakar amarah.

Dari belakang, suara yang amat dikenalnya menyusul dengan nada santai. “Miss Lin, kenapa emosi besar begitu?”

Chen Shi melangkah mendekat sambil menaruh kedua tangannya di saku. Senyumnya seolah menikmati drama gratis.

“Aku kesal! Kakakku itu… selalu mengatur hidupku seolah aku anak kecil!” ujar Lin Dongxue sambil mendekati sebatang ranting kering yang mencuat dari bedeng bunga, kemudian menekannya sampai patah. “Setiap hal harus ikut campurnya. Aku mau marah pun terasa tidak cukup!”

Chen Shi mengangkat alis, menatapnya dengan rasa ingin tahu. “Kalau hubungan kalian begitu buruk, kenapa lebih dulu kau memilih bekerja di cabang tempat dia memimpin?”

“Aku tidak memilih! Waktu mendaftar kepolisian, aku bahkan sengaja menghindari cabang tempat dia bertugas. Tidak kusangka, tepat setahun setelah aku masuk, dia malah dipindahkan jadi kapten di cabangku. Katanya biar bisa ‘menjagaku’. Ugh! Menjengkelkan sekali.”

Chen Shi mengangguk pelan, memandangi wajah Lin Dongxue yang benar-benar terlihat stres. “Sebenarnya, menurutku ia sangat menyayangimu.”

“Jangan membelanya! Aku muak mendengar alasan klasik itu. Dia selalu bilang semua yang dilakukannya ‘demi aku’. Maaf saja, tapi aku sudah kenyang dengan kalimat itu sejak kecil. Cobalah punya kakak super mengontrol seperti dia—lihat apakah kau masih bisa sesabar ini!”

Chen Shi terkekeh. “Baik, baik. Anggap saja aku tidak bicara.”

Lin Dongxue menarik napas panjang, kemudian bertanya, “Kau mau ke mana sekarang?”

“Aku mau ke rumah sakit. Mau lihat apakah anak kecil tadi sudah siuman. Dan… aku belum bayar biaya ambulance. Aku tak enak meninggalkan utang.”

“Bagaimana dengan para saksi di sini? Bukankah harus kau periksa juga?” tanya Lin Dongxue, menatap ke arah kerumunan warga yang masih membicarakan tragedi tadi.

Chen Shi geleng kepala. “Itu pekerjaan kakakmu. Polisi lebih ahli menangani warga dan lebih lengkap prosedurnya. Dia sudah janji membagikan hasil penyelidikan. Aku percaya, meski dia agak keras kepala, tapi kalau soal tugas dia tidak akan ingkar janji.”

Lin Dongxue memandangnya sejenak. “Kupikir kau akan sok pintar atau menyangkal soal kekuranganmu. Ternyata kau cukup jujur juga.”

Chen Shi tersenyum kecil. “Aku tak pernah bilang aku sempurna. Bertindak sendirian itu penuh kekurangan. Untuk menyelesaikan kasus besar, kita butuh banyak tenaga. Dan kasus ini… jelas besar. Polisi pasti turun penuh.”

Ia menambahkan sambil memiringkan kepala, “Tentu saja, aku tak yakin kakakmu bisa menyelesaikan lebih cepat daripada kita.”

Lin Dongxue melotot. “Nah, itu baru terdengar seperti dirimu yang sebenarnya.”

Mereka berdua berjalan menuju mobil. Setelah masuk, Chen Shi menstarter mesin dan membawa mobil ke arah rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Chen Shi segera menuju loket administrasi. Ia tersenyum sopan. “Tolong buatkan tagihan atas nama Brigade Kriminal Kota Long’An.”

Lin Dongxue menepuk dahinya. “Kau benar-benar tidak tahu malu, ya?”

Chen Shi menjawab santai, “Kenapa harus malu? Aku bukan orang kaya.”

Setelah urusan administrasi selesai, seorang perawat mengantar mereka ke ruang rawat kecil di lantai dua. Sesampainya di sana, mereka melihat bocah laki-laki itu duduk di ranjang, mengenakan baju rumah sakit bertuliskan angka besar di dadanya. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan ketakutan yang menusuk siapa pun yang melihat.

Lin Dongxue spontan teringat pada dirinya sendiri ketika kecil, saat menerima kabar kematian orang tuanya akibat kecelakaan. Ia masih bisa merasakan dinginnya ruang IGD pada hari itu, bau obat-obatan yang menusuk, dan perasaan runtuhnya dunia yang tiba-tiba. Melihat anak kecil ini, emosinya terseret kembali ke masa silam.

Chen Shi berjongkok di depan ranjang. “Nak, kamu baik-baik saja?”

Anak itu menoleh pelan. Air mata mengalir membentuk garis panjang di pipinya. Ia tidak menjawab.

“Apa masih sakit? Bagian mana yang sakit?” Chen Shi mencoba lagi.

Anak itu tetap diam, memeluk lututnya.

Chen Shi menatap Lin Dongxue, menyerah. “Kau coba.”

Lin Dongxue duduk di tepi ranjang dengan lembut. Ia tersenyum dan mengusap kepala bocah itu. “Namamu siapa? Aku polisi. Tidak apa-apa, ya? Kami di sini untuk melindungimu.”

Anak itu tiba-tiba pecah dalam tangis, lalu memeluk Lin Dongxue erat-erat, tubuh mungilnya bergetar hebat. Lin Dongxue memeluknya balik sambil menepuk punggungnya pelan. “Tidak apa-apa. Tenang… kami ada di sini.”

Chen Shi mengangguk pelan, terkesan melihat cara Lin Dongxue menenangkan anak itu.

Namun sebagai penyelidik, ia tetap harus bertanya. “Nak… apa kamu ingat apa yang terjadi tadi malam?”

Seketika, bocah itu menegang, kemudian menjerit, memegangi kepala seolah ingin menutup ingatan buruk yang muncul.

Lin Dongxue menoleh tajam. “Jangan tanya lagi! Jelas-jelas dia trauma. Kau pikir hati nurani itu apa?”

Chen Shi mengangkat tangan. “Baik, baik. Maaf. Hanya ingin mencoba.”

Ia bergumam, “Tapi kenapa reaksinya begitu ekstrem…”

Lin Dongxue memotong, “Sudahlah. Besok saja. Kita pergi dulu.”

Chen Shi hanya mengangguk dan mengikuti langkah Lin Dongxue keluar ruangan. Namun belum jauh mereka berjalan, Chen Shi tiba-tiba berhenti, berbalik, dan berlari kembali ke dalam gedung.

“Hey! Chen Shi!” teriak Lin Dongxue, tapi ia tidak menoleh.

Beberapa detik kemudian, Lin Dongxue melihatnya berdiri di depan meja jaga. Chen Shi mendekati seorang perawat bertubuh gemuk. “Perawat mana yang bertanggung jawab atas anak di kamar 203?”

Perawat itu mendongak. “Saya. Ada apa?”

Chen Shi mengeluarkan ponselnya. “Tolong tambahkan kontak saya di WeChat.”

Perawat itu membelalak. “Lho… buat apa, ya?”

Lin Dongxue menunjukkan lencana polisi dengan formal. “Kami dari kepolisian. Mohon bantuannya.”

Perawat langsung berubah dari bingung menjadi kepo. “Ada apa dengan keluarganya? Masalah kriminal, ya?”

Chen Shi mengulurkan ponsel. “Tolong tambahkan saja dulu.”

Setelah terhubung, Chen Shi langsung mentransfer uang—seratus… dua ratus… hingga seribu yuan.

Perawat itu terlonjak. “Astaga—apa ini? Saya tidak boleh menerima uang, Pak! Aturannya ketat!”

“Tidak usah khawatir,” ujar Chen Shi tenang. “Saya hanya minta satu hal. Selama bocah itu dirawat, kalau ada orang yang datang menjenguk, siapa pun—ingat wajahnya. Kalau bisa, rekam diam-diam, lalu segera hubungi saya. Itu saja.”

Perawat itu melongo. “Maksudnya saya diminta jadi informan?”

“Anggap saja membantu penyelidikan,” jawab Chen Shi.

Perawat itu akhirnya mengangguk, memandangi uang di ponselnya seolah masih tidak percaya. “Baiklah… saya usahakan.”

Setelah keluar dari rumah sakit, Lin Dongxue menatap Chen Shi penuh pertanyaan. “Kau itu biasanya perhitungan sekali. Kenapa tiba-tiba jadi murah hati?”

Chen Shi tersenyum. “Pertama, aku tidak sepelit itu. Kau saja yang tidak kenal aku. Kedua, ini kasus besar. Dan aku yakin…” Ia menghela napas pendek. “Pembunuhnya akan mencoba mendekati anak itu.”

Lin Dongxue terpaku. “Serius? Menurutmu pembunuh akan balik lagi?”

“Pertanyaan paling besar dalam kasus ini adalah: kenapa dia menghabisi tiga orang tapi tidak menyentuh si bocah? Pembunuh tidak pernah tiba-tiba berhati lembut hanya pada anak kecil. Dia membunuh nenek tua yang jauh lebih tidak berdaya dibandingkan anak ini. Itu artinya ada alasan lain. Dan alasan itu… akan menentukan arah penyelidikan.”

“Apakah… pembunuhnya keluarga?” tebak Lin Dongxue.

Sebelum Chen Shi menjawab, ponsel Lin Dongxue berdering. Ia menghela napas saat melihat nama di layar. “Kakakku.”

Ia mengangkat. “Halo?”

“Dongxue, rapat dimulai. Kembali ke markas sekarang,” perintah Lin Qiupu.

“Baik. Aku segera ke sana.”

Setelah menutup telepon, ia menoleh pada Chen Shi. “Kakakku memanggil. Kau mau ikut?”

Chen Shi mengangkat tangan. “Tidak perlu. Kau ceritakan nanti saja. Oh, dan…” Ia menatap Lin Dongxue dari bawah ke atas. “Kau mau hadir rapat pakai baju santai begini?”

Lin Dongxue melihat pakaiannya: kaus santai, jaket tipis, sepatu kasual. Ia langsung menepuk dahinya. “Aduh… benar juga. Hari ini hari libur!”

Chen Shi tertawa kecil. “Tenang. Kita pulang ke rumahmu dulu. Masih ada waktu.”

Lin Dongxue menghela napas panjang. “Baiklah. Tapi jangan ngebut!”

Chen Shi mengedip. “Bersama sopir profesional? Santai saja.”

Mobil melaju keluar dari area rumah sakit, menembus jalan-jalan kota Long’An yang mulai dipenuhi lampu senja. Lin Dongxue menatap ke luar jendela, pikirannya masih dipenuhi kasus, amarah pada kakaknya, dan… sedikit, hanya sedikit saja, rasa penasaran pada pria misterius bernama Chen Shi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!