Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang yang Salah Menyentuh Milikku
Setelah mencuci wajah, Haerim keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan rambut yang sudah sedikit rapi.
"Ayo pergi!" ajaknya sambil menarik tangan Alexey dengan semangat. "Tapi kita jalan kaki aja ya? Aku mau jalan-jalan santai sama kamu. Boleh kan?"
Ia menatap Alexey dengan mata berbinar penuh harap, tangannya masih menggenggam tangan Alexey erat.
"Hmm," dehem Alexey singkat sambil mengangguk.
Mereka keluar dari apartemen dan mulai menyusuri pinggiran kota Icheon dengan langkah santai. Udara malam yang sejuk menerpa wajah mereka.
"Kamu ingin pergi kemana lebih dulu?" tanya Alexey sambil melirik Haerim yang berjalan di sampingnya. "Ada tempat makan favorit yang kamu mau coba?"
"Aku bingung juga sih," jawab Haerim sambil garuk-garuk kepala. "Aku jarang jalan-jalan di pinggiran kota. Biasanya aku ke restoran di pusat kota aja yang fancy-fancy gitu..."
Ia menatap Alexey dengan senyum malu.
"Kita cari aja dulu yuk," usulnya sambil menggenggam tangan Alexey. "Siapa tahu nemu tempat makan yang unik. Lagian yang penting bareng kamu, makan dimana aja enak kok!"
"Ternyata gadis sepertimu bisa juga merayu laki-laki," goda Alexey sambil tersenyum tipis dan melirik ke arah Haerim.
"Alexey, diam!" perintah Haerim dengan wajah memerah padam sambil memukul lengan Alexey pelan.
"Kalau kamu masih ngegodain aku terus, aku bakal ngediemin kamu lho!" ancamnya dengan nada kesal tapi terdengar lucu. "Serius! Jangan coba-coba deh..."
"hmmmm," ujar Alexey sambil mengangkat bahunya acuh.
Mereka terus berjalan menyusuri jalanan sepi hingga tiba-tiba dua mobil hitam besar melaju cepat dan menghadang jalan mereka.
"Alexey... itu siapa?" tanya Haerim dengan nada khawatir sambil mencengkeram lengan Alexey erat. "Kenapa tiba-tiba ngahalangin kita?"
Pintu mobil terbuka dan Junhwan keluar bersama Taejun serta beberapa orang preman bertubuh besar yang terlihat mengintimidasi.
"Junhwan, ayo pergi saja," ucap Taejun sambil menarik lengan sahabatnya. "Jangan ganggu mereka. Ini nggak baik..."
"Diam, Taejun!" bentak Junhwan sambil menepis tangan Taejun kasar. "Aku mau kasih perhitungan sama Alexey. Sudah dari dulu aku pendam ini. Sekarang waktunya dia bayar!"
Junhwan melangkah maju dengan tatapan penuh kebencian ke arah Alexey.
"Apa-apaan kamu ini, Junhwan?!" tanya Haerim dengan nada emosi sambil melangkah maju menghalangi Alexey. "Kamu selalu saja cari masalah sama Alexey! Nggak punya kerjaan lain apa?!"
"Ini bukan urusanmu, Haerim!" bentak Junhwan dengan keras sambil menatap tajam ke arah Haerim. "Minggir! Ini masalah antara aku dan dia!"
Junhwan lalu menoleh ke arah preman-preman di belakangnya dengan seringai jahat.
"Kalian!" perintahnya sambil menunjuk Alexey. "Hajar dia sampai babak belur! Aku mau lihat dia merangkak minta ampun!"
Saat preman-preman itu maju mendekat dengan langkah mengancam, Alexey dengan cepat menarik Haerim ke belakangnya untuk melindungi.
Dalam sekejap, kakinya melayang tinggi dan menendang salah satu preman dengan keras—pria bertubuh besar itu langsung tersungkur ke tanah dengan keras.
"Kalian pilih pergi atau mati di sini," gumam Alexey dengan nada dingin yang mengintimidasi, tatapannya berubah sangat berbahaya. "Aku kasih waktu lima detik untuk memutuskan."
"Apa yang kalian lihat?!" bentak Junhwan dengan marah sambil menendang kaki preman yang tersungkur. "Berdiri! Serang dia lagi! Kalian dibayar mahal buat apa?!"
Ia menunjuk Alexey dengan wajah merah padam penuh amarah.
"Hajar dia sekarang! Semua maju bareng! Jangan sampai dia lolos!" perintahnya dengan suara keras penuh emosi.
Alexey menghadapi ketiga preman itu sendirian dengan gerakan cepat dan presisi—menendang, memukul, menghindar tanpa terlihat kesusahan sedikitpun. Satu per satu preman itu jatuh tersungkur.
Sementara itu, Junhwan memanfaatkan kesempatan dan menarik tangan Haerim dengan kasar.
"Kamu nggak pernah bersyukur, Haerim!" ucapnya dengan nada frustasi sambil mencengkeram tangan Haerim erat. "Aku rela melakukan apapun demi kamu! Tapi kamu nggak pernah melihatku! Kenapa?! Kenapa selalu dia?!"
"Lepaskan aku sekarang, Junhwan!" ancam Haerim dengan mata menyala penuh amarah sambil berusaha melepaskan tangannya. "Atau kamu akan menyesal seumur hidup! Aku serius!"
Taejun langsung menghampiri dan menarik bahu Junhwan.
"Junhwan, lepaskan dia!" pinta Taejun dengan nada memohon. "Ini sudah keterlaluan! Stop sekarang sebelum terlambat!"
Junhwan melepaskan tangan Haerim dengan kasar, lalu tiba-tiba mengepalkan tangannya dan menonjok wajah Taejun dengan keras—sahabatnya sendiri tersungkur ke tanah dengan hidung berdarah.
"TAEJUN!" teriak Haerim khawatir sambil berlutut di samping Taejun yang terjatuh.
Ia menatap Junhwan dengan mata penuh kemarahan dan ketakutan.
"Kamu gila, Junhwan!" umpatnya dengan suara bergetar. "Kamu benar-benar sudah gila! Dia sahabatmu sendiri!"
Saat Junhwan berbalik, satu tendangan keras Alexey langsung menghantam dadanya dengan presisi Junhwan terpental ke belakang dan jatuh tersungkur. Di sekitar mereka, semua preman sudah tergeletak tidak berdaya.
Alexey langsung menghampiri Haerim.
"Taejun tidak apa-apa?" tanyanya sambil berlutut di samping Haerim, tangannya memeriksa kondisi Taejun yang masih berdarah.
"Aman, bro," ucap Taejun sambil mengusap hidungnya yang berdarah dan mencoba tersenyum. "Aku nggak apa-apa kok. Ini cuma luka ringan. Nggak perlu khawatir..."
Sementara itu, para preman yang sudah babak belur langsung menarik Junhwan yang masih tersungkur untuk berdiri. Mereka semua segera bergegas masuk ke mobil dan pergi meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa.
"Maaf ya, Alexey... Haerim..." ucap Taejun dengan nada bersalah sambil mencoba berdiri. "Kalian kembali diganggu gara-gara Junhwan. Aku harusnya bisa mencegahnya..."
"Nggak usah minta maaf, Taejun," ujar Haerim sambil membantu Taejun berdiri. "Ini bukan salahmu kok. Ini salah si bodoh yang nggak tahu diri itu! Kamu malah udah berusaha ngebantuin kita..."
Setelah membersihkan darah di hidungnya dengan tisu, Taejun menatap mereka berdua dengan senyum canggung.
"Kalian mau pergi kemana?" tanyanya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. "Kalau... kalau aku ikut, apa nggak ganggu kalian pacaran?"
"S-siapa yang pacaran?" jawab Haerim dengan malu-malu sambil wajahnya memerah padam. "Kami... kami tuh... aku maksudnya..."
Haerim bingung sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa, tangannya sibuk memainkan ujung bajunya dengan gugup.
"Sebenarnya cukup mengganggu," sahut Alexey cepat dengan nada datar sambil melirik Haerim sekilas. "Tapi karena kamu sudah bantu kami... ya sudah, ikut saja. Anggap ini ucapan terima kasih."
Alexey menarik tangan Haerim dan mereka bertiga masuk ke sebuah restoran kecil yang nyaman. Taejun berjalan di belakang mereka seperti pengawal yang setia.
Setelah duduk di meja pojok, seorang pelayan menghampiri dengan senyum ramah.
"Selamat malam. Mau pesan apa untuk malam ini?" tanya pelayan sambil menyiapkan buku pesanan.
"Aku mau hidangan khas Korea," ucap Haerim sambil membuka menu dengan semangat.
Ia melirik ke Alexey dengan tatapan penasaran.
"Kamu suka hidangan khas Korea nggak?" tanyanya sambil tersenyum.
"Boleh," jawab Alexey singkat sambil mengangguk. "Aku akan mencoba. Pesan saja yang kamu suka."
"Kok aku nggak ditanya sih?" goda Taejun sambil nyengir lebar.
"Ya udah, pesan sendiri aja sana," jawab Haerim dengan nada acuh sambil tetap fokus pada menu. "Kamu kan udah gede, masa nggak bisa milih makanan sendiri?"
"Hahaha, oke oke," tawa Taejun sambil menggelengkan kepala.
"Ternyata orang-orang di luar lingkungan Junhwan sangat asik dan menyenangkan," batinnya sambil tersenyum. Jauh lebih nyaman daripada harus terus-terusan ngurusin drama Junhwan..."