Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
BAB 29: Yatim di Balik Beton
Langkah kaki Alek terasa seperti terseret oleh beban ribuan ton. Koridor panjang menuju perpustakaan yang biasanya terasa tenang, kini tampak seperti lorong menuju kehampaan. Suara denting kunci petugas dan teriakan narapidana di kejauhan terdengar seperti dengung yang jauh. Di dalam kepalanya, kalimat terakhir Pendeta Daniel berputar-putar seperti pisau yang terus menyayat: "Kau bukan lagi anakku... kau dianggap mati."
Saat ia mendorong pintu kayu perpustakaan yang berderit, pemandangan di dalamnya masih sama. Syekh Mansyur sedang duduk di meja panjang, memegang sebuah kitab tua, dengan cahaya matahari sore yang mulai memerah menyinari punggungnya. Namun, bagi Alek, dunia telah berubah total dalam satu jam terakhir.
Alek tidak sanggup berkata-kata. Ia melangkah maju, lalu tiba-tiba lututnya lemas. Ia jatuh terduduk, lalu bersimpuh di lantai semen yang kasar, tepat di depan kaki Syekh Mansyur. Ia meletakkan dahinya di pinggiran meja, bahunya berguncang hebat. Isakan yang sejak tadi tertahan di tenggorokan akhirnya pecah menjadi tangisan yang menyayat hati.
Syekh Mansyur meletakkan kitabnya perlahan. Ia tidak bertanya. Ia tidak menyuruh Alek berhenti menangis. Ia hanya membiarkan ruangan itu dipenuhi oleh suara duka seorang anak yang baru saja kehilangan akarnya.
"Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Syekh," bisik Alek di sela isakannya, suaranya teredam oleh kayu meja. "Ayah sudah membuang saya. Nama saya dihapus dari keluarga. Dia bilang saya sudah mati. Saya yatim sekarang... saya benar-benar sendirian di dunia ini."
Syekh Mansyur mengulurkan tangannya yang keriput, meletakkannya di atas kepala Alek yang tertunduk. Sentuhan itu tidak kuat, namun terasa sangat hangat, merambat seperti aliran air yang menenangkan ke seluruh saraf Alek yang menegang.
"Menangislah, Alexander," suara Syekh Mansyur begitu dalam dan tenang. "Tangisan adalah cara jiwa membasuh dirinya sendiri dari harapan-harapan palsu pada manusia. Kau sedang berduka karena kehilangan sesuatu yang kau anggap sebagai pelindungmu."
Alek mendongak, matanya merah dan sembab. "Dia Ayah saya, Syekh. Satu-satunya orang yang seharusnya mencintai saya apa pun yang terjadi. Tapi sekarang dia melihat saya seperti melihat kotoran. Semua ini karena saya mencari ketenangan di sini... apa saya salah? Apa Tuhan sebenci itu pada saya sampai saya harus kehilangan Ayah demi mencari-Nya?"
Syekh Mansyur menatap Alek dengan tatapan yang sangat jernih. "Ketahuilah, Anak Muda, terkadang Tuhan sengaja memutus semua tali yang mengikatmu dengan manusia—meski itu tali antara ayah dan anak—bukan untuk menyiksamu. Dia melakukan itu agar kau menyadari bahwa selama ini kau terlalu kuat bersandar pada pundak manusia yang sama lemahnya denganmu."
"Tapi saya butuh dia, Syekh," rintih Alek.
"Kau merasa butuh karena kau merasa memiliki. Tapi di dunia ini, tidak ada yang benar-benar kita miliki. Ayahmu milik Tuhan, namamu milik Tuhan, bahkan napasmu adalah pinjaman," Syekh Mansyur menarik napas panjang. "Sekarang, setelah kau tidak lagi menjadi anak seorang Pendeta, tidak lagi menjadi anggota geng, dan tidak lagi memiliki nama besar di belakangmu... kau tahu kau menjadi siapa?"
Alek menggeleng pelan, menghapus air mata dengan punggung tangannya yang kasar.
"Kau menjadi manusia yang merdeka," ujar Syekh Mansyur dengan senyum tipis. "Selembar kertas putih yang benar-benar bersih. Tidak ada lagi ekspektasi ayahmu yang membebanimu. Tidak ada lagi reputasi geng yang mengikatmu. Kau sekarang adalah hamba yang benar-benar bebas untuk memilih siapa tuanmu yang sebenarnya."
"Tapi saya takut, Syekh. Sendirian itu menakutkan."
"Sendirian itu hanya menakutkan bagi mereka yang tidak tahu bahwa Tuhan selalu ada di tempat yang paling dekat dengan orang yang patah hati," Syekh Mansyur menunjuk ke arah dada Alek. "Ayahmu di dunia mungkin menutup pintu rumahnya untukmu. Tapi tuhan dari segala ruh tidak pernah mengunci pintu-Nya. Dia justru sedang menunggumu di depan pintu yang terbuka lebar, saat kau merasa tidak punya tempat pulang lagi."
Alek terdiam. Kata-kata itu perlahan meresap ke dalam lukanya, memberikan rasa perih sekaligus penyembuhan. Ia teringat kembali pada surat Khansa, pada air wudhu, dan pada sujud yang ia perhatikan setiap malam. Ia mulai menyadari bahwa setiap "kehilangan" yang ia alami sejak masuk penjara seolah-olah sedang menanggalkan lapisan-lapisan palsu dari dirinya.
"Jangan anggap dirimu yatim, Alexander," sambung Syekh Mansyur. "Selama kau masih memiliki sujud, kau memiliki sandaran yang lebih kuat dari gunung mana pun. Sekarang, hapus air matamu. Berdirilah. Dunia boleh membuangmu, tapi kau tidak boleh membuang dirimu sendiri."
Alek bangkit berdiri dengan susah payah. Kakinya masih terasa goyah, namun dadanya tidak lagi sesesak tadi. Ia mengambil kain lapnya kembali, mencoba melakukan rutinitasnya untuk menenangkan pikiran.
"Syekh..." Alek menoleh saat ia sampai di pintu perpustakaan. "Terima kasih sudah tidak membuang saya."
Syekh Mansyur hanya mengangguk kecil, matanya kembali tertuju pada kitabnya. Namun, di balik ketenangan itu, Syekh tahu bahwa ujian Alek baru saja dimulai. Di luar sana, angin membawa aroma bahaya yang lebih nyata. Penolakan Pendeta Daniel barulah pembuka, karena dendam dari luar penjara tidak akan membiarkan Alek menemukan kedamaiannya semudah itu.
Malam itu, Alek duduk di pojok selnya, membuka buku biru Khansa. Dengan tangan yang lebih stabil, ia menuliskan satu baris kalimat yang sangat pendek namun bermakna besar:
"Hari ke-....: Hari ini aku kehilangan nama keluargaku. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa namaku sedang ditulis ulang oleh tangan yang lain."
Alek menutup bukunya, tidak menyadari bahwa di lorong gelap Blok B, tiga pasang mata sedang mengawasinya dengan niat yang mematikan, menunggu saat yang tepat untuk merampas napas yang baru saja ia temukan maknanya.
Malam itu, suasana di Blok B terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah beton-beton penjara telah menyerap seluruh sisa kehangatan dari hati Alek yang hancur. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebagian besar narapidana sudah berada di balik sel masing-masing, namun Alek baru saja kembali dari klinik untuk mengambil jatah obat tidurnya yang sudah menipis.
Lorong yang menghubungkan area klinik dengan barak Blok B adalah zona buta. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, menciptakan ritme yang tidak menyenangkan. Langkah kaki Alek bergema di atas ubin semen yang retak, sebuah bunyi yang tiba-tiba diikuti oleh langkah kaki lain yang lebih berat dari arah belakang.
Alek berhenti. Refleks jalanannya berteriak waspada. Sebelum ia sempat berbalik, sebuah tangan besar mencengkeram bahunya dan mendorongnya dengan kekuatan luar biasa ke arah dinding.
BUGH!
Punggung Alek menghantam tembok beton. Rasa sakit menjalar dari tulang belikatnya hingga ke kepala. Di depannya berdiri tiga sosok pria. Yang paling depan adalah Bara—seorang narapidana residivis bertubuh raksasa dengan tato melingkar di lehernya. Di tangan kiri Bara, terdapat selembar foto yang sudah robek menjadi dua.
"Alexander Panjaitan," suara Bara terdengar seperti gesekan amplas pada kayu. "Gue denger lo sudah nggak punya bapak sekarang. Kasihan sekali. Anak Pendeta yang dibuang Tuhan."
Alek mencoba mengatur napasnya. Ia tidak melawan, tangannya tetap berada di samping tubuhnya. "Apa maumu, Bara?"
Bara menunjukkan robekkan foto keluarga Alek. Itu adalah foto lama, saat Alek masih remaja bersama ayah dan ibunya di depan gereja. Foto itu kini dinistakan, dikotori oleh noda minyak. "Bapak Rahardjo kirim salam. Dia bilang, kematian Bagas itu nggak bisa dibayar pakai doa-doa sampah yang lo pelajari dari si tua Mansyur. Dia mau lo ngerasain apa yang dirasain anaknya: hancur."
Tanpa peringatan, Bara melayangkan sebuah pukulan keras ke arah ulu hati Alek.
BUGH!
Alek tersungkur ke lantai, terbatuk-batuk hebat sementara paru-parunya berteriak meminta oksigen. Ia merasakan cairan hangat—darah—mulai mengalir dari sudut bibirnya yang pecah. Dua anak buah Bara maju, menendang rusuk Alek berulang kali.
Dalam kegelapan lorong itu, Alek merasakan kemarahan lamanya bangkit. Kepalannya mengeras. Ia tahu, jika ia menggunakan teknik Venom Crew-nya, ia bisa dengan mudah mematahkan lutut anak buah Bara dalam hitungan detik. Ia bisa menjadi monster itu lagi. Ia bisa menunjukkan bahwa Alexander yang ditakuti itu belum benar-benar mati.
Namun, di tengah rasa sakit yang menghujam, ia mengingat air wudhu yang membasuh wajahnya. Ia mengingat wajah Syekh Mansyur yang berkata, "Kemenangan terbesar adalah saat kau menaklukkan egomu sendiri."
Alek tidak membalas. Ia justru meringkuk, melindungi kepalanya, membiarkan tendangan-tendangan itu menghujam tubuhnya. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah, menahan setiap erangan yang ingin keluar.
"Kenapa diam, anjing?!" bentak Bara, menarik kerah baju Alek dan mengangkat tubuhnya hingga kakinya menggantung. "Mana si Mesin Tempur? Pukul gue! Lawan gue!"
Alek menatap mata Bara dengan pandangan yang tenang, hampir seperti rasa kasihan. "Pukul saja sepuasmu, Bara. Kau bisa menghancurkan badanku, tapi kau tidak bisa lagi membangunkan setan yang dulu tinggal di sini."
Bara yang merasa terhina oleh ketenangan Alek, melayangkan satu pukulan terakhir tepat ke arah pelipis Alek. Pandangan Alek seketika menjadi gelap. Ia jatuh terjerembap ke lantai, setengah sadar.
Bara meludahi tubuh Alek yang tidak berdaya. "Sampah. Besok gue bakal balik lagi. Tiap hari sampai lo mutusin buat mati atau balik jadi anjing jalanan lagi."
Suara langkah kaki mereka menjauh, meninggalkan Alek sendirian dalam sunyi yang mencekam. Alek terengah-engah, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk duduk. Tulang rusuknya terasa seperti akan patah setiap kali ia menarik napas.
Dengan tangan yang gemetar dan berlumuran darah, ia meraba saku belakang celananya. Hatinya baru terasa lega saat jemarinya menyentuh permukaan halus buku catatan biru pemberian Khansa. Buku itu selamat. Meskipun tubuhnya babak belur, hartanya yang paling berharga masih utuh.
Alek menyeret tubuhnya di sepanjang dinding, menuju selnya dengan sisa kekuatan yang ada. Setiap inci pergerakan terasa seperti siksaan fisik, namun batinnya merasakan sebuah kemenangan yang sangat jernih. Untuk pertama kalinya, ia disakiti tanpa merasa perlu menyakiti balik. Untuk pertama kalinya, ia menderita tanpa rasa dendam.
Saat ia sampai di sel dan duduk bersandar pada dipan semen, ia membuka halaman buku biru itu yang masih bersih. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menuliskan kata-kata yang hampir tak terbaca karena bercak darah dari tangannya menetes ke atas kertas:
"Hari ini... tubuhku hancur, Khansa. Tapi jiwaku merasa lebih utuh dari sebelumnya. Ayah membuangku, orang lain memukuliku. Tapi di tengah gelapnya lorong ini, aku baru sadar bahwa cahaya tidak butuh mata untuk dilihat, ia hanya butuh hati untuk dirasakan. Aku tidak membalas mereka, Khansa. Aku tidak membalas..."
Alek menutup matanya, membiarkan rasa sakit menguasai tubuhnya. Di pojok sel, Salim yang terbangun melihat kondisi Alek, langsung mendekat dengan wajah panik dan mengambil kain basah untuk membasuh luka Alek.
"Kenapa nggak dilawan, Lex? Kamu kan jagoan," bisik Salim sedih.
Alek tersenyum tipis, meski senyum itu membuatnya meringis kesakitan. "Jagoan yang lama sudah mati, Lim. Alexander yang sekarang... sedang belajar cara menjadi pemenang tanpa tangan yang berdarah."
Malam itu, meski dengan tubuh yang penuh lebam, Alek tertidur dengan sebuah kedamaian yang tidak pernah ia rasakan selama hidupnya di jalanan. Ia tahu, esok hari badai akan kembali datang, namun ia juga tahu bahwa ia tidak lagi sendirian.
Bab 29 Selesai.
Selanjutnya (Bab 30):
Alek harus dirawat di klinik lapas karena cedera rusuknya. Di sana, Syekh Mansyur datang menjenguk dan memberikan sebuah rahasia besar tentang "keikhlasan" yang akan memantapkan Alek untuk bersyahadat
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg