Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Rina yang mendengar suara Umi Fatimah perlahan memberanikan diri untuk sedikit mendongak. Meski matanya masih sembab, ia berusaha menunjukkan rasa hormatnya. Umi Fatimah menatap mata Rina dalam-dalam, lalu membelai dahi menantunya yang tertutup kain kerudung itu.
"Masya Allah... cantik sekali kamu, Nduk. Walaupun wajahmu tertutup kain cadar, aura kebaikanmu terpancar sampai ke sini," puji Umi Fatimah dengan tulus. Pujian itu seketika membuat dada Rina sesak oleh rasa haru. Ternyata, ketakutannya akan ditolak oleh keluarga ningrat ini sama sekali tidak terbukti.
Gus Azkar tersenyum menatap ibunya. "Terima kasih, Umi. Kalau begitu, Azkar bawa Rina ke atas dulu."
Tanpa menunggu lama, Gus Azkar kembali menyelipkan lengannya dan mengangkat tubuh Rina dengan sangat mudah. Rina refleks membenamkan wajahnya di leher Gus Azkar karena merasa beribu mata paman-pamannya dari Arab Saudi kembali tertuju padanya dengan senyum penuh arti.
Gus Azkar menapaki satu demi satu anak tangga kayu menuju lantai dua, tempat kamar pribadinya berada. Kamar yang selama ini tertutup rapat untuk siapa pun, kini akan menjadi saksi bisu perjalanan hidup mereka.
Sesampainya di depan pintu kamar kayu berwarna gelap, Gus Azkar membukanya dengan satu tangan dan masuk ke dalam. Kamar itu terasa dingin karena pendingin ruangan yang sudah menyala, namun aromanya sangat khas—aroma kayu gaharu bercampur parfum maskulin milik Gus Azkar.
Gus Azkar membaringkan Rina di atas tempat tidur besarnya yang beralaskan sprei berwarna abu-abu gelap. Ia mendudukkan diri di tepi kasur, menatap Rina yang tampak begitu asing namun indah berada di atas tempat tidurnya.
"Selamat datang di kamar Mas, Sayang. Maaf ya, tempatnya agak membosankan karena Mas jarang di sini," ujar Gus Azkar sambil mulai melepas sepatu Rina dengan sangat hati-hati agar tidak menambah rasa sakit di kakinya yang keseleo.
Rina menatap sekeliling kamar yang penuh dengan rak buku tinggi berisi kitab-kitab kuning. "Ini kamar Mas?" tanya Rina polos.
"Iya. Dan mulai sekarang, ini juga kamar kamu. Tempat kamu pulang, tempat kamu mengadu, dan tempat kamu menjadi dirimu sendiri tanpa perlu takut dinilai orang lain," jawab Gus Azkar serius. Ia mengecup punggung kaki Rina yang membengkak ringan, membuat Rina tersentak kaget sekaligus merasa sangat dicintai.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu. Ustadz Fadly datang membawa nampan berisi minyak urut dan air hangat sesuai perintah Umi Fatimah.
Ustadz Fadly meletakkan nampan berisi minyak urut dan air hangat di atas meja kecil samping tempat tidur. Ia melirik Gus Azkar yang sedang sibuk membenarkan bantal untuk sandaran kaki Rina, lalu beralih menatap Rina yang masih tampak malu-malu.
"Ehem! Ini minyaknya, Gus. Ingat ya, tujuannya buat ngurut kaki yang keseleo, bukan buat lanjut adegan yang tertunda di mobil tadi," goda Fadly sambil menahan tawa.
Gus Azkar mendongak, menatap tajam sahabatnya itu. "Fadly, pintu keluarnya masih di tempat yang sama. Mau saya bantu dorong?"
"Galak amat pengantin baru! Ya sudah, selamat ber-manja-manja ria. Saya mau lanjut menemani tamu-tamu dari Arab, siapa tahu ada yang mau kasih modal nikah buat saya," seloroh Fadly sambil melambaikan tangan dan menutup pintu kamar dengan rapat.
Suasana kamar seketika menjadi sunyi. Hanya ada suara deru AC dan detak jantung mereka yang kembali beradu. Gus Azkar mulai membasuh kaki Rina dengan air hangat menggunakan handuk kecil. Gerakannya sangat telaten, seolah-olah ia sedang memegang benda yang paling rapuh di dunia.
Rina menatap punggung suaminya, lalu teringat sesuatu yang sempat mereka bicarakan sebelum menikah. Ia menarik sedikit ujung gamisnya, lalu memberanikan diri untuk bersuara.
"Mas..."
"Iya, Sayang? Sakit ya?" tanya Gus Azkar tanpa mengalihkan pandangannya dari pergelangan kaki Rina.
"Mas... Mas kan udah janji kalau kita nggak akan tinggal di sini selamanya," ucap Rina pelan, suaranya terdengar sedikit menuntut namun penuh harap. "Katanya Mas mau se-rumah berdua sama aku aja. Katanya mau tinggal di rumah kakek Mas yang dekat sawah itu, di belakang rumah ke pojok rumah nenek aku... walaupun sedikit jauh."
Rina menatap Gus Azkar dengan mata yang bulat dan jernih. Tinggal di ndalem yang megah ini memang impian banyak santriwati, tapi bagi Rina yang memiliki luka batin dan rasa minder yang besar, lingkungan pesantren yang penuh mata memandang ini terasa menyesakkan. Ia ingin tempat di mana ia bisa menjadi "Rina yang biasa" tanpa embel-embel "Ning" atau "Istri Gus".
Gus Azkar menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan handuk itu, lalu duduk di samping Rina dan menggenggam kedua tangannya. Ia menatap Rina dengan tatapan yang sangat dalam.
"Mas tidak lupa janji Mas, Rina. Mas tahu kamu merasa tertekan di sini, apalagi setelah kejadian-kejadian yang membuatmu sedih kemarin," ujar Gus Azkar lembut.
Ia mengusap pipi Rina yang tertutup cadar. "Rumah di pojok sawah itu sudah Mas bersihkan. Mas sengaja mengajakmu ke sini dulu karena ada tamu dari Arab Saudi yang harus kita temui. Setelah urusan di sini selesai, Mas akan membawamu ke sana. Kita akan tinggal berdua, Mas akan menanam padi, dan kamu bisa bebas tanpa harus merasa diawasi oleh ribuan pasang mata santri."
Rina tersenyum di balik cadarnya. Rasa lega luar biasa menyusup ke dadanya. "Beneran ya, Mas? Aku pengen kita cuma berdua. Aku mau belajar masak buat Mas, mau urus rumah buat Mas tanpa ada yang ganggu."