Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam sebelum pernikahan Rania
Indira masih memiliki orang tua, namun dirinya tinggal sendirian. Indira masih memiliki saudara namun apa apa ia harus melakukannya sendiri. Siapa yang bisa ia andalkan selama ini? Ia hanya memiliki kedua tangan dan kedua kakinya saja, karena jika meminta bantuan dari saudaranya mereka selalu meminta imbalan.
Terkadang Indira tidak punya apa apa sehingga ia harus berusaha sendiri untuk bisa menyelesaikan masalahnya, karena sudah terbiasa meyelesaikan apa apa sendirian, dirinya menjadi tidak enakan apabila dibantu orang lain dalam menyelesaikan masalahnya. Sehingga ia terkadang merasa takut merepotkan orang lain, ditambah lagi takut apabila mereka meminta imbalan baliknya.
******
Malam sebelum Rania menikah, Indira disuruh olehnya untuk datang kerumahnya sambil membantunya untuk menebar undangan kepada teman temannya. Sehingga sekarang Indira masih berada didalam rumah Rania bersama dengan anggota keluarga Rania yang lainnya.
Indira curhat kepada Rania soal dirinya dengan kehidupannya dan meminta saran kepada Rania untuk bisa melewatinya, begitu banyak orang yang tengah dijodohkan dengannya namun sama sekali tidak ada yang cocok dihatinya. Begitu banyak orang yang berdatangan hanya untuk meminta Indira sebagai suaminya, namun Indira tidak mampu membuka hatinya.
Entah mengapa Indira masih berharap bahwa Wisma akan kembali kepadanya, sehingga ia mampu menolak setiap perjodohan yang ada dengannya. Ponselnya sendiri juga kerap ramai orang yang mengirimkan pesan kepadanya, jika tidak dibalas maka Budenya akan marah kepadanya.
"Saranmu gimana?" Tanya Indira.
"Tanya Ayahku aja, Dira. Dia bisa nerawang orang lain loh, kali aja dia mau bantu kamu," Ucap Rania.
"Tidak enaklah jika minta bantuan orang tuamu sekarang, apalagi mereka tengah bersiap siap buat acaramu,"
"Halah nggak papa, lagian mereka juga duduk santai sekarang,"
Rania menunjuk kearah kedua orang tuanya yang tengah duduk di teras rumah mereka, sementara Rania dan Indira kini tengah berada dihalaman depan teras dengan duduk disebuah kursi berdua. Indira sendiri juga lihat bahwa kedua orang tua Rania tengah bersantai saat ini, sehingga tidak ada salahnya jika Indira meminta pendapat mereka.
"Ayo gabung kesana," Ajak Rania.
"Malu lah, banyak orang tuh, kamu lihat sendiri."
"Orang apa sih? Kan saudara sendiri, ngapain harus malu?"
"Tapi kan?"
"Udah ayo gabung kesana,"
Rania lalu mengajak Indira untuk bergabung dengan yang lainnya dihalaman teras itu, Indira nampak terlihat begitu malu malu ketika duduk disana bersama dengan mereka. Ia juga menyadari bahwa dirinya hanyalah orang lain didalam keluarga itu, dan hatinya merasa iri apabila melihat Rania yang tengah bahagia dengan keluarga lengkapnya.
"Pacarmu orang mana?" Tanya Ayah dari Rania.
Indira memang sudah sejak dahulu dekat dengan keluarga itu, sehingga mereka begitu akrab dengan kehadiran Indira, dan mereka sudah menganggap Indira sebagai saudara mereka sendiri. Bahkan kalau ada acara apa apa, kedua orang tua Rania selalu menyuruh Indira datang, jika tidak datang mereka akan terus mencarinya.
Beberapa kali mereka mencoba untuk menjodohkan Indira dengan saudaranya, karena mereka ingin Indira bisa jadi saudara mereka sepenuhnya, namun Indira selalu menolaknya entah dengan alasan apa. Indira mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki pacar baru, sehingga tidak ada kesempatan bagi mereka untuk menjodohkannya dengan saudaranya itu.
"Pulorejo," Jawab Indira menyebutkan alamat Wisma, karena ia merasa bahwa ia hanya sangat dekat dengan Wisma.
"Pulorejo itu mana?" Tanya Rania.
"Sana jauh naik odong odong," Jawab Ayah Rania.
Rania menang jarang keluar rumah sehingga tidak mengenal daerah daerah sekitarnya, sama halnya seperti Indira. Indira mengenal daerah daerah itu hanya karena dirinya pernah berada disana lama, namun ia pasti melupakan daerah yang dia lewati bukan hanya sekedar singgah saja.
"Mana lihat fotonya?" Ucap Ayah Rania.
"Foto siapa, Om?" Tanya Indira.
"Foto siapa saja, foto pacarmu kah atau foto orang yang dijodohkan denganmu,"
Indira pun sangat terkejut ketika Ayahnya Rania mengatakan hal itu, padahal dirinya hanya cerita kepada Rania saja kalau dia dijodohkan sebelumnya. Namun Ayahnya dapat mengetahui hal itu padahal Rania belum cerita sama sekali kepada Ayahnya itu, kenapa dia bisa tau kalau Indira tengah dijodohkan? Itulah yang ada didalam pikiran Indira saat ini.
"Nggak punya foto pacarku, Om. Dia tidak pernah foto," Jawab Indira.
"Pacaran udah lama kok nggak punya fotonya, jangan jangan nggak dianggap ya?"
Deg...
Kenapa perkataan itu langsung menancap dihari Indira, dan pas benar dengan jalan pikirannya saat ini. Tiap kali dirinya ditanyai mengenai foto dari pacarnya, emang dirinya tidak pernah punya foto Wisma selama ini, dan Wisma sendiri tidak pernah mengirimkan fotonya kepada Indira.
Apakah yang dikatakan oleh Ayahnya Rania memang benar adanya? Soalnya selama ini Indira pacaran dengan Wisma tidak pernah mengirimkan foto ataupun foto berdua ketika bertemu sebelum Wisma berangkat ke Jakarta. Bahkan selama pacaran juga tidak pernah kirim foto ataupun yang lainnya, sehingga sampai detik ini juga dirinya tidak memiliki foto Wisma.
"Mungkin emang nggak di anggep," Ucap Rania yang menambah rasa malu Indira.
Entah mengapa mereka paling suka membuat Indira merasa malu disana, namun dibalik itu semua mereka sangat menyayangi Indira dan takut jika Indira salah langkah nantinya. Sehingga dibalik bully an itu, mereka berharap bahwa Indira bisa berpikir dengan jernih, dan memikirkan ulang untuk bersama dengan lelaki tersebut.
"Udah jangan diterusin Dira, nanti getun mburi (menyesal dibelakang) beneran, dia loh cuma main main sama dirimu," Ucap Ayah dari Rania.
"Iya kah?" Tanya Indira heran.
"Beneran, sulit buat cari lelaki yang bener bener serius itu, lah dilihat lihat dia sama sekali nggak serius denganmu. Dirimu loh hanya dibuat mainan olehnya saja, nanti kalo sudah bosan pasti ditinggalkan,"
"Padahal aku punya perasaan sama dia, dia juga baik sama aku. Selalu perhatian dengan diriku,"
"Kalo mau mancing ikan harus bagaimana? Harus nyiapin umpan yang bagus, kail yang kuat, dan banyak hal lagi yang harus dipersiapkan agar ikannya mau makan. Nah sama halnya kayak wanita, harus nyiapin banyak hal untuk bisa menarik perhatiannya, tapi bukan berarti lelaki itu suka bisa jadi hanya sekedar buat mainan,"
Indira mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Ayah dari Rania itu, memang benar apa halnya selama ini, Wisma hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa mau memikirkan perasaan Indira. Apapun yang membuatnya senang pasti akan dilakukan, dan apa yang membuat Indira senang selalu dilarang.
Selama ini Indira selalu hidup dengan seperti kemauannya untuk mencapai sebuah kebahagiaan, namun semenjak hadirnya Wisma serasa dirinya seperti dikekang dan tidak bisa sebebas dahulu. Setiap kali Indira membantahnya, Wisma selalu memarahinya dan mengatakan bahwa Indira harus nurut kepadanya karena dia adalah calon suaminya nanti.
"Mending sama keponakanku aja, Dira. Udah serius, pekerja keras lagi, terus nanti kamu punya mertua yang baik loh. Besok kalo acara aku kenalin," Tambah Ayahnya Rania.
"Siapa Yah?" Tanya Rania heran.
"Ya yang waktu itu loh, dia kan cocok untuk Dira, siapa tau nanti kita bisa jadi saudara. Dia dari luar pulau jadi baru pulang sekarang,"
"Loh sudah dirumah ta Yah? Kok nggak ada kabaran kalo dia sudah pulang,"
"Udah. Lah mangkanya itu Ayah mau kenalin Dira sama dia, siapa tau mereka cocok terus bisa jadi keluarga nantinya, Bude mu kan juga baik orang e, nggak aneh aneh kayak mertua pada umumnya."
"Cocok sudah mereka."
Sudah lama memang mereka merencanakan untuk menjodohkan Indira dengan saudara mereka agar bisa jadi satu keluarga nantinya, namun Indira selalu menolaknya dengan alasan tidak suka dipaksa paksa dalam perjodohan. Oleh karenanya selama ini ada nomor asing yang mengirim pesan, namun tidak pernah dibalas oleh Indira.
Indira hanya bisa diam mendengarkan mereka yang terus mengunggulkan saudara mereka yang dimaksudkan itu, mendengar ceritanya saja sudah tidak membuat Indira tertarik meskipun lelaki itu baik. Namun jika terus bersama dengan Wisma juga tidak bakal membuat mentalnya baik baik saja, apalagi dengan sikap Wisma yang seperti itu kepada Indira.
"Oh iya, tadi katanya kamu mau dijodohkan juga sama Bude mu, mana lihat orangnya?" Ucap Rania setelah puas membicarakan buruk mengenai Wisma.
"Bentar," Ucap Indira sambil mengeluarkan ponsel miliknya.
Indira lalu menekan sesuatu pada ponselnya, dan setelahnya dirinya langsung memberikan ponsel itu kepada Rania untuk dilihat oleh Rania. Rania langsung dengan cepat meraih ponsel milik Indira, dan melihat bagaimana wajah seseorang yang tengah dijodohkan oleh Budenya kepada Indira.
"Mana lihat?" Ucap Kakak lelaki dari Rania.
"Nih," Ucap Rania sambil menyerahkan ponsel Indira kepadanya.
"Yehh... Kok kayak Kakek Kakek gini, ini mah cocoknya jadi Bapakmu bukan Suamimu anjay," Terlihat Kakak Lelaki Rania teriak heboh melihat wajah dari lelaki itu.
"Heh Mas, nggak boleh bilang gitulah," Ucap Rania yang menahan tawa.
"Lihat saja nih, wajahnya aja udah keriput kayak pakaian yang belom di setrika. Masmu ini aja yang kelahiran 1989 aja nggak setua ini. Apalagi Ayahmu yang kelahiran 1964 aja nggak setua ini loh,"
"Iya juga sih,"
Mendengar cerita dari Budenya, lelaki itu pernah hampir menikah dengan seorang wanita namun ia dikhianati oleh wanita itu, sehingga hingga sekarang dirinya belum juga menikah. Ia kelahiran tahun 1985, dan usianya sangat berbeda jauh dengan Indira yang kelahiran tahun 2002.
Kisahnya waktu ia lulus dari SMA, dirinya kenal dengan seorang gadis yang masih kelas 1 SMP, keduanya memiliki perasaan yang sama dan lelaki itu sangat menyayangi sang gadis. Hingga lelaki itu rela bekerja banting tulang hanya demi bisa menyekolahkan sang gadis hingga lulus, namun ketika lulus dirinya justru ditinggalkan dengan alasan tidak cocok.
Indira sendiri juga tidak tertarik dengan cerita dari lelaki tersebut, karena itu juga kesalahannya sendiri karena belum tentu jodohnya namun sudah rela membiayai sekolah gadis itu sendiri. Indira sendiri juga harus berpikir dengan keras agar bisa menolak perjodohan itu, ia harus mencari cara agar dirinya tidak lagi dijodoh jodohkan dengan orang lain.
Indira tidak mau dijadikan pelarian atas apa yang dialami oleh lelaki itu, sehingga dirinya yang harus bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Apalagi lelaki itu terlihat sangat semangat jika dijodohkan dengan Indira, dan tanpa ada malu langsung mengajukan lamaran kepada gadis itu.
"Kamu ajak kemari aja, biar bisa dilihat langsung sama Ayah," Ucap Rania.
"Siapa yang diajak?"
"Ya siapa lagi kalo bukan orang yang ada difoto ini,"
"Emm.. nanti aku coba ajak dia, tapi kalo dianya mau. Kalo nggak ya aku berangkat sendiri,"
"Okelah."
Mereka pun mengobrol santai saat itu sambil melakukan sebuah aktivitas, entah mengisi berkat ataupun menata makanan yang akan digunakan untuk acara pernikahan. Mereka juga saling sharing satu sama lain mengenai hal hal random yang mereka alami, dan tidak lupa mereka juga tertawa bersama sama.
Tanpa terasa bahwa waktu sudah sangat malam, Indira melihat kearah ponselnya dan mendapati bahwa sudah menunjukkan pukul 12 malam. Dirinya pun memberitahu Rania bahwa sudah jam segitu dan dirinya harus pulang saat itu juga, Rania sendiri khawatir karena Indira seperti perempuan masak pulang sendirian.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.