NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Jiwa di Balik Abu

Prolog: Abu di Langit Asteria

Bau daging yang terpanggang hebat adalah sensasi terakhir yang menghancurkan fungsi saraf penciuman Aurelia sebelum kesadarannya padam sepenuhnya. Api merah kekuningan itu berdenyut liar, melahap habis serat gaun permaisuri yang dulu ia kenakan dengan punggung tegak, kini hanya menyisakan residu hitam yang beterbangan dipermainkan angin. Rasa panas yang melampaui ambang toleransi merobek jaringan kulitnya, namun itu belum sebanding dengan kehampaan yang menghantam rongga dadanya saat ia menatap pria di atas panggung itu.

Di atas panggung eksekusi, Valerius berdiri tegak. Kaisar itu—pria yang pernah menjanjikan perlindungan dan membisikkan sumpah di balik tirai sutra—hanya memperhatikan tanpa perubahan raut wajah sedikit pun. Tatapannya statis, seolah sedang menyaksikan pembersihan tumpukan limbah yang tidak lagi berguna bagi kekaisaran. Di sampingnya, Elena berdiri dengan gurat senyum tipis yang penuh kemenangan, jemarinya yang lentik mengelus lengan jubah Valerius dengan gerakan posesif yang menjijikkan.

"Pastikan tidak ada yang tersisa," instruksi Valerius. Suaranya kering, frekuensinya datar tanpa sisa kasih sayang sedikit pun, seolah-olah Aurelia tidak pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Jeritan Aurelia terhenti di pangkal tenggorokan saat lidah api mulai menjilat jaringan saraf di wajahnya, menghanguskan kecantikan yang pernah dipuja seluruh negeri. Ia menatap Valerius untuk terakhir kalinya, menangkap pendar ungu kehitaman di pupil pria itu—sisa polusi sihir hitam yang telah mengakar dan merusak kewarasannya. Dalam sisa napasnya yang terbakar, ia menanam satu janji: Ia akan kembali. Bukan sebagai Aurelia yang memaafkan dan penuh kasih, melainkan sebagai algoritma pembalasan yang dingin dan absolut. Api itu akhirnya menutup jalur pernapasannya, menyisakan kesunyian yang vakum dan gelap.

Dingin dan Kegelapan

Tik. Tik.

Tetesan air dari retakan langit-langit batu jatuh menghantam lantai dengan ritme yang lambat dan menyiksa, menggema di ruang bawah tanah yang pengap. Aurelia—jiwa yang kini terperangkap dalam raga Elara—merasakan suhu dingin yang merambat melalui pori-pori hingga menusuk sumsum tulang. Punggungnya bersandar pada dinding penjara yang lembap dan kasar, tekstur batu berlumut yang sangat kontras dengan ingatan tentang kelembutan sutra istana Asteria. Namun, hipotermia ini kalah oleh radiasi dendam yang berdenyut di kepalanya. Ia mengepalkan tangan yang kurus, merasakan butiran garam dapur yang kasar di saku pakaian tawanannya yang kotor. Garam itu adalah jangkarnya; rasa asinnya adalah bukti empiris bahwa ia masih ada, bahwa ia bukan sekadar hantu yang bergentayangan.

Gema langkah kaki terdengar mendekat dari ujung lorong yang gelap. Ini bukan langkah ringan Rina yang penuh keraguan dan kecemasan. Ini adalah langkah berat dengan ritme konstan yang memantul di sepanjang dinding penjara yang lembap. Suara gesekan pintu besi yang teroksidasi memecah hening dengan derit panjang yang menyakitkan telinga. Aurelia secara otomatis menurunkan bahunya, membiarkan otot-ototnya lunglai dan matanya meredup—sebuah manuver spontan untuk memvalidasi status raga Elara yang ringkih dan tidak berdaya di mata dunia.

"Tikus Asteria ini ternyata masih bernapas," suara itu berat, parau, dan sarat akan penghinaan yang murni.

Aurelia mengangkat kepalanya perlahan, sangat lambat, membiarkan rambutnya yang kotor dan kusut menutupi sebagian pandangannya. Di ambang pintu, seorang sipir berdiri memegang obor yang cahayanya bergetar tidak stabil, menciptakan bayangan menakutkan di dinding sel.

"A-ampun, Tuan," suara Aurelia keluar dengan getaran yang terjaga, meniru frekuensi ketakutan Elara yang asli. Kerongkongannya terasa seperti teriris ampelas karena dehidrasi yang parah. "Hamba tidak berniat... menimbulkan kegaduhan di tempat ini."

Sipir itu mengeluarkan tawa pendek yang kering, sebuah bunyi yang menyerupai gesekan batu. "Hamba? Statusmu bahkan lebih rendah dari itu, sampah. Kau hanyalah residu Asteria yang tertinggal. Harusnya kau sudah menjadi abu bersama permaisuri terkutuk yang mati terpanggang itu."

Aurelia mengunci rahangnya, menahan kontraksi otot yang ingin meledak dan mencabik tenggorokan pria itu. Nama "permaisuri" memicu lonjakan adrenalin yang menyakitkan di dadanya, namun ia tidak boleh menunjukkan anomali perilaku yang bisa membongkar penyamarannya. Ia harus tetap menjadi Elara yang malang dan patah. Ia memejamkan mata saat memori visual tentang api mulai merambat di otaknya, membuat paru-parunya mendadak terasa sempit dan udara seolah berubah menjadi asap belerang.

Bayangan Api

Trauma itu bangkit secara fisik dengan kekuatan yang melumpuhkan. Ia seolah melihat kembali radiasi cahaya yang melahap eksistensinya di panggung eksekusi. Jantungnya berdenyut melampaui batas normal, menciptakan debaran yang terasa hingga ke ujung jari. Jemarinya gemetar hebat hingga ia harus menekannya ke lantai batu yang dingin untuk mencari stabilitas. Ia ingin menyerang, ia ingin menghancurkan obor itu, namun raga ini belum memiliki daya. Sihir Void masih tertidur pulas di dalam sel-sel tubuhnya yang malnutrisi.

"Panas... panas, Tuan..." bisik Aurelia dengan suara yang sengaja dilemahkan, matanya berputar ke atas seolah saraf kognitifnya akan segera kehilangan kesadaran akibat trauma.

Sipir itu mencemooh, wajahnya menunjukkan rasa jijik yang amat sangat, namun ia memundurkan posisinya selangkah. Ketakutan Elara yang tampak histeris membuatnya tidak nyaman. "Lemah. Benar-benar sampah Asteria yang tidak berguna."

Obor yang dipegangnya terjatuh saat ia berbalik, apinya merambat sedikit di atas lantai lembap sebelum padam perlahan dalam genangan air limbah. Aurelia merasakan dadanya semakin sesak, oksigen seolah menipis di sekitar kepalanya saat bayangan api itu masih menghantui. Telinganya mulai berdenging hebat, meredam suara langkah kaki sipir yang menjauh meninggalkan bau keringat dan minyak tanah. Ia harus memutuskan koneksi dengan trauma ini sekarang juga. Ia memejamkan mata dan membiarkan tubuhnya jatuh ke samping, merasakan gravitasi menariknya ke lantai batu yang keras dan dingin.

Jangkar di Ujung Trauma

Lantai batu yang dingin menekan tulang pipinya yang menonjol, suhu rendah itu membantu menetralkan bayangan panas yang membakar pikirannya. Ia mengatur frekuensi pernapasannya secara manual, menghitung setiap tarikan napas pendek, meski batinnya mengumpat pada kelemahan raga baru ini. Ia memfokuskan pikirannya pada rasa asin yang menyengat dan tekstur tajam kristal garam yang ia remas di sakunya. Fokus adalah kunci stabilitas; ia tidak boleh tereliminasi secara konyol di dalam sel gelap ini sebelum rencananya dimulai.

Suara kunci besi yang diputar di ujung lorong terdengar seperti pemutus sirkuit yang melegakan. Ia kembali dalam kesunyian yang absolut. Bau belerang dan kegelapan total adalah dunianya sekarang. Ia membuka mata, menatap langit-langit sel yang ditumbuhi koloni jamur hitam yang menjalar.

"Raga ini tidak sinkron dengan jiwaku," batinnya pahit, merasakan setiap sendinya yang kaku. Tubuh Elara terlalu rapuh, koordinasi motoriknya buruk, dan kulitnya penuh dengan hematoma ungu akibat penyiksaan sebelumnya. Ia harus menempa raga ini menjadi instrumen perang yang presisi.

Aurelia mencoba duduk kembali, namun rasa nyeri di punggungnya memicu respon saraf yang membuatnya meringis tertahan. Ia menatap sisa cahaya yang memudar di kejauhan lorong. Tangannya masih sedikit gemetar, sisa-sisa trauma api yang belum sepenuhnya terkendali, namun konsumsi garam secara mental membantu pikirannya tetap jernih dari kabut PTSD.

"Aku akan kembali, Valerius," bisiknya pada kegelapan yang sunyi. "Aku akan mengambil kembali mahkotaku yang kau curi, dan kau akan merasakan panas yang sama dengan yang kau berikan padaku."

Ia duduk dengan posisi tegak sempurna, mencoba mengatur aliran oksigen ke otaknya dan mencari jejak energi sihir yang mungkin tersisa di dalam raga ini. Ia butuh kekuatan untuk berdiri di hadapan Elena. Ia butuh Void yang bisa menyerap segala kehancuran.

"Void," panggilnya dalam hati, mencoba menyentuh dasar kesadarannya. "Bangunlah."

Kehampaan di batinnya tidak memberikan jawaban kinetik apa pun. Kegelapan di dalam sirkuit energinya tetap statis dan membisu. Ia menyadari satu fakta pahit: Sihir Void tidak akan aktif hanya melalui perintah lisan atau keinginan semata; raga ini harus menemukan frekuensinya sendiri melalui tekanan ekstrim yang tepat.

Kerentanan Tubuh Baru

Aurelia memejamkan mata, memindai kondisi raga yang ia tempati dengan ketelitian seorang ahli strategi. Kulit Elara pucat, kering, dan menderita dehidrasi kronis. Massa ototnya kaku dan menyusut akibat kurang makan selama berbulan-bulan di penjara. Detak jantungnya masih menunjukkan ritme yang terlalu cepat—sisa-isa trauma yang menolak pergi dari sistem saraf otonomnya. Ia menggerakkan jemarinya satu per satu, mencoba menguasai kembali koordinasi motorik yang terasa asing dan berat.

"Ini hanyalah alat fisik," batinnya menguatkan diri, menekan rasa putus asa yang sempat muncul. "Dan alat selalu bisa diperbaiki atau ditempa ulang menjadi lebih tajam."

Ia meraba sakunya dengan jari gemetar, mengambil sedikit butiran garam kasar dan menelannya tanpa air. Rasa asin yang menyengat seketika merangsang saraf lidahnya, mengirimkan kejutan listrik kecil ke otaknya dan membantu fokusnya kembali stabil dari guncangan emosi.

Langkah kaki lain terdengar mendekat. Kali ini frekuensinya jauh lebih ringan, hampir tidak ada suaranya jika tidak didengarkan dengan saksama. Suara kunci diputar pelan, menunjukkan keragu-raguan sang pemegang kunci.

"Nona Elara? Anda masih sadar di dalam sana?" Rina berbisik dengan nada panik yang kental di balik jeruji besi yang dingin.

Aurelia membuka mata, menata ekspresi wajahnya agar terlihat menyedihkan namun tetap sadar. "Rina? Apakah itu kau?"

Pelayan itu masuk dengan wajah yang pucat pasi di bawah remang cahaya. "Nona, ampun! Penjaga tadi keluar dan bilang Anda pingsan lagi dengan cara yang aneh. Saya... saya berhasil membawa sedikit air bersih dari dapur istana."

Aurelia menatap cairan di dalam cangkir besi yang sudah teroksidasi itu. Ia tidak langsung meminumnya. Ia memperhatikan permukaannya dengan teliti; mencari anomali warna atau partikel yang mencurigakan. Tidak ada, hanya aroma besi yang kuat dari wadahnya.

"Terima kasih, Rina," bisiknya pelan. Ia mencoba bicara dengan nada lembut, namun otoritas alami dari jiwa permaisurinya tetap membuat suaranya terdengar lebih dingin dan tegas dibanding Elara yang asli yang biasanya merengek.

Rina tampak sedikit tersentak, bahunya menegang seolah menangkap kesan yang sangat berbeda dari cara bicara majikannya malam ini. "Nona... Anda benar-benar merasa baik-baik saja? Tatapan mata Anda... terlihat berbeda."

"Hanya kelelahan yang luar biasa, Rina," bohong Aurelia sambil menundukkan kepala kembali ke kegelapan agar bayangan menutupi kilatan tajam di matanya. "Rasa sakit ini membuatku berpikir lebih jernih dari biasanya."

"Anda harus beristirahat, Nona. Selir Elena memberikan perintah yang sangat kejam pada penjaga... Anda tidak boleh mati sebelum Kaisar Valerius puas menyiksa Anda secara pribadi," Rina berbisik dengan getaran ketakutan yang nyata, tangannya memegang erat pinggiran cangkir.

Aurelia menarik napas pendek yang tajam. Elena. Wanita itu adalah variabel polusi pertama yang harus ia bersihkan dari sistem kekaisaran ini. Rasa panas kembali berdenyut di dadanya, kali ini bukan karena takut, tapi karena keinginan murni untuk membalas dendam.

Rencana di Balik Jeruji

Aurelia menatap Rina dengan mata yang ia buat terlihat sayu, membiarkan kelemahan fisik Elara menjadi perisai bagi rencana yang mulai berdenyut di kepalanya. Ia bisa merasakan denyut nadi Rina yang tidak teratur, sebuah indikator kecemasan yang bisa ia manfaatkan. Dalam hierarki sosial penjara ini, Rina adalah satu-satunya jembatan antara sel isolasi yang bau belerang ini dengan dunia luar yang penuh intrik.

"Rina, aku tidak berniat untuk menyerah begitu saja pada kegelapan ini," ujar Aurelia. Ia sengaja memberikan jeda pada kalimatnya, membiarkan gema suaranya memantul di dinding batu yang lembap. "Aku... aku hanya merindukan Asteria. Merindukan aroma tanahnya setelah hujan, bukan bau kematian yang ada di sini."

"Nona, Asteria sudah hancur total. Kekaisaran telah meratakan segalanya. Kita sudah tidak memiliki pijakan atau tempat untuk pulang lagi," Rina mulai menangis kecil, suaranya tercekik oleh rasa putus asa yang dalam. Ia menutup wajahnya dengan tangan yang kasar akibat kerja berat di dapur.

"Rina," Aurelia memegang pergelangan tangan pelayan itu dengan gerakan yang mendadak presisi, mengabaikan rasa nyeri yang menjalar di sendinya. "Bantu aku. Jika kita tidak memiliki tempat untuk pulang, maka kita harus membangun tempat baru di sini. Tapi aku butuh mengetahui beberapa hal untuk memulainya."

"Mengetahui apa? Nona, saya hanyalah pelayan dapur rendahan yang tidak punya akses ke mana pun," Rina gemetar, bahunya menyusut seolah ingin menghilang ke dalam bayang-bayang sel.

"Pelayan justru merupakan telinga yang paling tajam karena kalian dianggap tidak ada, Rina. Kalian adalah saksi dari rahasia yang terucap di balik pintu dapur dan koridor pelayan," Aurelia menekan suaranya hingga ke tingkat bisikan yang paling rendah namun sangat tajam. "Siapa saja yang memiliki otoritas untuk masuk ke lorong penjara bawah tanah ini selain sipir tadi? Apakah... kaisar pernah datang memantau kondisiku secara langsung?"

"Kaisar? Tidak pernah, Nona. Beliau benar-benar menghindari tempat ini karena baunya yang menyesakkan dan hawanya yang konon dikutuk. Beliau tidak ingin mengotori kakinya," jawab Rina cepat, matanya melirik ke arah pintu besi dengan gelisah. "Hanya Selir Elena yang rutin kemari. Beliau sering datang hanya untuk memastikan Anda masih menderita. Beliau suka melihat Anda gemetar ketakutan."

Aurelia melepaskan pegangannya, merasakan sebuah pola yang mulai terbentuk dalam benaknya. Strategi awalnya mulai terkunci. "Rina, dengarkan aku baik-baik. Aku butuh kau membawakan pasokan garam dapur lebih banyak padaku. Sembunyikan di dalam kantung pakaianmu atau di balik jatah makananku. Dan jika Elena mengirimkan jatah makanan khusus untukku, pastikan kau yang membawanya kemari terlebih dahulu sebelum orang lain menyentuhnya. Pastikan penjaga tidak menangkap gerak-gerikmu."

Rina tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah lorong dengan mata yang dipenuhi keraguan dan ketakutan akan hukuman mati jika tertangkap basah membantu tawanan perang. Namun, saat ia melihat ke arah Elara—melihat hematoma ungu di lehernya dan martabat yang entah bagaimana terpancar dari sorot mata yang biasanya redup itu—rasa iba dan loyalitas lama sebagai rakyat Asteria tampaknya menang. Akhirnya, ia memberikan anggukan kecil yang kaku.

"B-baik, Nona. Saya akan usahakan sesegera mungkin," jawab Rina, suaranya nyaris hilang ditelan kelembapan udara.

Rina pergi dengan langkah terburu-buru yang berusaha ia sembunyikan, meninggalkan Aurelia kembali dalam isolasi yang dingin. Aurelia menatap cangkir besi di tangannya yang sudah kosong. Air bersih memang kemewahan, namun informasi dan sekutu jauh lebih berharga di tempat beraroma belerang ini.

"Satu per satu, Valerius," batinnya sambil menatap kegelapan lorong dengan mata yang tidak lagi menunjukkan ketakutan. "Pemenang sejati bukan dia yang menyerang paling awal dengan api yang membara, tapi dia yang mampu bertahan paling lama dalam penderitaan dingin dan kembali untuk menghancurkan segalanya dari dalam."

Ia menutup mata, meremas butiran garam terakhir yang tersisa di telapak tangannya hingga kristalnya menusuk kulitnya. Ia harus menjadi Elara secara total di hadapan publik, namun tetap menjadi Aurelia di dalam jiwanya. Ia harus menjadi senjata yang mematikan, tersembunyi dengan rapi di balik bayang-bayang kelemahan tubuh ini.

Kesunyian yang Mengancam

Malam di penjara bawah tanah terasa abadi. Tanpa adanya jam atau cahaya matahari, Aurelia hanya bisa mengandalkan ritme tetesan air untuk menjaga kesadarannya. Ia mulai mencoba melakukan meditasi ringan, mencoba menghubungkan kesadaran jiwanya dengan sirkuit energi di tubuh Elara yang masih tersumbat. Rasa sakit akibat trauma api masih ada di sana, berdenyut seperti luka terbuka di dalam batinnya, namun ia mulai memandangnya bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai pengingat.

"Api itu membunuh Aurelia yang lemah," bisiknya pada keheningan. "Dan api itu pula yang akan melahirkan Elara yang baru."

Ia meraba luka bakar di punggungnya melalui celah pakaian tawanan yang sobek. Tekstur kulit yang rusak itu terasa kasar dan kaku. Di sanalah, ia merasa ada sesuatu yang bergetar. Sebuah frekuensi yang berbeda dari elemen dasar lainnya. Itu adalah benih dari Void. Sebuah kekuatan yang tidak meminta izin pada alam, melainkan menghisap energi darinya.

Aurelia tahu bahwa perjalanan ini akan sangat panjang dan menyakitkan. Ia harus menghadapi Valerius yang kini memiliki kekuatan sihir hitam Elena di sisinya. Namun, dengan garam di sakunya, Rina sebagai informannya, dan dendam yang telah mengkristal di jiwanya, ia memiliki lebih dari sekadar harapan. Ia memiliki rencana.

Ia kembali menyandarkan kepalanya pada dinding batu yang dingin, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak. Besok, permainan politik yang sesungguhnya akan dimulai. Ia akan menunggu kedatangan Elena. Ia akan memberikan pertunjukan yang diinginkan wanita itu: seorang putri Asteria yang hancur dan memohon ampun. Tapi di balik air mata palsu itu, Aurelia akan mulai memetakan struktur jiwa Elena untuk menemukan retakan pertama yang akan ia hancurkan.

Kegelapan sel itu kini tidak lagi terasa menyesakkan. Bagi Aurelia, kegelapan ini adalah rahim tempat ia akan merangkak keluar sebagai predator. Ia memejamkan matanya, membiarkan kesunyian menjadi lagu pengantar tidurnya, sementara di dalam dirinya, sihir Void mulai berdenyut sangat halus, seirama dengan detak jantungnya yang kini mulai stabil dan penuh tekad.

"Selamat malam, Valerius," gumamnya sebelum benar-benar terlelap dalam kesadaran yang tajam. "Nikmatilah mimpi indahmu di atas takhtamu, karena takhta itu sedang mulai retak dari bawah kakimu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!