Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROTOKOL LOCKDOWN
Setelah evakuasi dramatis di bawah naungan payung pelangi Mbak Widya yang sakti, van agensi melesat membelah kemacetan Jakarta menuju sebuah kompleks mewah di kawasan Jakarta Selatan.
Ini bukan apartemen biasa, ini adalah Basecamp Luminous, benteng pertahanan terakhir bagi idola internasional yang sedang dilanda badai skandal ganda.
Di dalam mobil, suasana terasa seperti di dalam kapal selam yang sedang dikejar torpedo. Manajer Han duduk di kursi depan, memegang empat ponsel sekaligus. Wajahnya merah padam, rambutnya yang biasanya klimis kini berantakan karena ia tarik-tarik sendiri.
"Dua gosip dalam satu hari! PAGI, Skandal Mesra dengan Yuna! SORE, Jadi Kuli Maket Lesehan!" teriak Manajer Han ke arah langit-langit van.
"Javier! Kamu itu idola kelas dunia, bukan mandor proyek pembangunan maket!"
Javier, yang masih duduk sangat rapat dengan Aruna di kursi belakang, tetap tenang. Ia masih membiarkan kacamata renang biru itu bertengger di kepala Aruna, seolah-olah itu adalah mahkota pelindung yang paling sah.
Infiltrasi ke Benteng Luminous
Van berhenti di sebuah basement yang sangat tertutup. Javier menarik tangan Aruna, membimbingnya masuk ke lift pribadi yang langsung menuju penthouse.
"Javi, aku beneran harus ikut ke sini?" bisik Aruna panik.
Ia melihat ke arah rompinya yang masih ada bekas lem krep merah.
"Aku nggak bawa baju ganti, aku cuma bawa tas kuliah yang isinya penggaris sama tiner!"
"Sistem saya membutuhkan kehadiran Majikan untuk menjaga kestabilan emosional selama masa krisis," sahut Javier tanpa melepaskan pegangannya.
Pintu lift terbuka, dan mereka disambut oleh ruang tamu luas yang didominasi warna monokrom. Rian dan Satya, member Luminous lainnya, sedang duduk di sofa panjang dengan wajah prihatin tapi ekspresi mereka langsung berubah saat melihat Aruna masuk sambil memakai kacamata renang biru di atas kepalanya.
"Wah, wah... asisten kesayangan datang membawa jimat keselamatan!" seru Rian sambil tertawa kecil.
"Aruna, kamu hebat ya. Cuma kamu yang bisa bikin Javier Luminous duduk lesehan di lantai semen. Agensi aja nggak sanggup memerintah dia seperti itu."
Manajer Han membanting tabletnya di meja marmer dengan dentuman yang cukup keras hingga membuat vas bunga di dekatnya bergetar. Layarnya yang retak sedikit di pojok menampilkan dua foto kontras yang sedang membakar internet, Javier yang sedang menopang Yuna di backstage dengan pencahayaan dramatis, dan Javier yang sedang menempel genteng maket di lantai semen bersama Aruna.
"Javier, jelaskan! Apa kamu tidak punya sensor bahaya sedikit pun?!" bentak Manajer Han sambil menjambak rambutnya sendiri yang mulai berantakan.
"Agensi Yuna sudah mulai melakukan gerakan Mediasi Palsu. Mereka mengirim draf pernyataan ke email saya, meminta kita mengonfirmasi bahwa kalian memang sedang dalam tahap pengenalan lebih dekat agar saham mereka naik sepuluh persen besok pagi!"
Manajer Han mondar-mandir di depan meja marmer, sesekali menunjuk ke arah foto Aruna dengan tangan gemetar.
"Dan foto kedua ini! Ini bencana citra! Kamu idola yang menjual kemewahan, Javi! Kenapa kamu malah terlihat seperti kuli bangunan magang yang sedang dirayu dukun kacamata renang?! Fansmu sedang perang saudara di Twitter!"
Javier berdiri tegak, auranya berubah menjadi sangat dingin dan otoriter, menatap Manajer Han dengan tatapan yang sanggup membekukan server agensi.
"Prosedur konfirmasi dengan Unit Yuna itu adalah sebuah error besar dan saya tidak memberikan otorisasi," ujar Javier dengan nada yang sangat stabil.
"Data visual di backstage adalah hasil manipulasi gravitasi sepihak. Saya hanya melakukan prosedur penyelamatan fisik agar tidak terjadi kecelakaan kerja di area konser yang bisa merusak reputasi Luminous sebagai grup profesional."
Manajer Han mendengus, hendak menyela, namun Javier mengangkat satu tangannya, memerintahkan keheningan. Ia kemudian melirik ke arah maket rumah minimalis yang diletakkan Aruna di atas meja. Tatapan matanya seketika melembut, seolah baru saja mendapatkan update perangkat lunak yang paling damai.
"Sedangkan foto di kampus itu," lanjut Javier, suaranya merendah namun mantap,
"adalah sinkronisasi nyata. Menempel genteng kertas krep bersama Majikan itu jauh lebih bernilai bagi sistem saya daripada berdiri di samping ribuan idol yang penuh dengan algoritma kepalsuan. Maket itu adalah representasi dari dunia yang ingin saya bangun, Manajer Han. Dunia yang nyata, bukan dunia yang diatur oleh kamera paparazzi atau kepentingan bursa saham."
Manajer Han melongo, mulutnya terbuka lebar hingga ia hampir menelan udara kosong.
"Dunia yang ingin kamu bangun? Maksudmu kamu mau pensiun jadi idol dan jadi tukang maket krep bersama Aruna?! Javi, sadar! Kamu itu aset negara, bukan aset jurusan Arsitektur!"
Manajer Han kemudian beralih menatap Aruna yang duduk kaku di kursi.
"Dan kamu, Aruna! Tolong bantu saya! Katakan pada robot rusak ini kalau menempel genteng di lantai semen itu bukan bagian dari kontrak kerja idola internasional!"
Aruna tertegun mendengar pembelaan Javier yang begitu berani, sekaligus merasa tertekan oleh tatapan maut Manajer Han. Di tengah kemewahan basecamp ini, ia merasa Javier sedang benar-benar mendeklarasikan perang terbuka terhadap sistem agensinya sendiri demi melindunginya.
"Tapi Pak Han..." Aruna mencicit pelan,
"Gentengnya sebenarnya sudah hampir selesai kok. Dan Javi... dia benar-benar jago menempel tanpa gelembung udara."
Manajer Han memegang dadanya, hampir ambruk ke sofa.
"Luar biasa. Saya dikelilingi oleh orang-orang yang kehilangan logika operasional. Satunya robot bucin, satunya lagi arsitek kacamata renang. Saya butuh obat sakit kepala... sekarang juga!"
Malam semakin larut. Manajer Han akhirnya menyerah dan masuk ke ruang kerjanya untuk berkoordinasi dengan pengacara. Rian dan Satya sudah masuk ke kamar masing-masing setelah memberikan semangat pada Aruna.
Aruna berdiri di balkon penthouse, menatap lampu-lampu Jakarta dari ketinggian lantai 40. Angin malam meniup rambutnya, dan ia masih mengenakan jaket hoodie milik Javier yang terasa hangat dan beraroma mawar-cendana yang menenangkan.
"Majikan," suara rendah Javier terdengar dari belakang.
Aruna tidak menoleh, namun ia bisa merasakan kehadiran Javier yang kini berdiri tepat di belakangnya.
"Javi... gara-gara aku, reputasi kamu jadi taruhan. Foto sama Yuna itu kelihatan 'indah' di mata fans, sedangkan foto sama aku... aku cuma bikin kamu kelihatan aneh."
Javier melingkarkan lengannya di pinggang Aruna, menarik punggung gadis itu untuk bersandar di dadanya. Ia meletakkan dagunya di bahu Aruna, mengunci gadis itu dalam dekapan yang sangat intim.
"Data sensorik saya melaporkan bahwa indah menurut netizen adalah sebuah distorsi," bisik Javier tepat di telinga Aruna, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Bagi saya, keindahan sejati adalah saat tangan Anda yang penuh bekas lem itu menggenggam tangan saya. Di panggung tadi, saya hanya sebuah mesin pencari popularitas. Tapi di samping maket Anda... saya merasa menjadi manusia yang utuh."
Javier membalikkan tubuh Aruna agar mereka saling berhadapan. Di bawah cahaya bulan yang masuk ke balkon, wajah Javier terlihat sangat tampan sekaligus sangat rapuh.
"Jangan pernah berpikir bahwa dunia saya dengan Yuna adalah dunia yang saya inginkan," ujar Javier sambil mengusap pipi Aruna lembut.
"Dunia itu penuh dengan paparazzi dan skenario. Tapi dunia kita, meski penuh dengan kejaran Mbak Widya dan debu maket, adalah satu-satunya tempat di mana saya tidak perlu memakai kacamata renang untuk bersembunyi."
Javier perlahan merunduk. Tangannya berpindah ke tengkuk Aruna, menariknya lembut agar jarak di antara mereka benar-benar hilang. Ia mencium bibir Aruna dengan perlahan, sebuah ciuman yang penuh dengan janji dan perlindungan. Di tengah gempuran skandal di luar sana, di balkon lantai 40 ini, Javier sedang melakukan sinkronisasi paling intim yang pernah ada.
"Tetaplah di sini," bisik Javier setelah melepaskan tautan bibir mereka, dahinya masih menempel pada dahi Aruna.
"Biarkan badai di internet itu berlalu. Karena selama Anda ada di samping saya, sistem saya tidak akan pernah mengalami kegagalan fungsi. Anda adalah satu-satunya kode sumber kebahagiaan saya."
Aruna hanya bisa mengangguk pelan, menyembunyikan wajahnya di dada Javier, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang, sebuah irama yang tidak akan pernah bisa dimanipulasi oleh agensi mana pun di dunia.