Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 MALAM PERTAMA.
Malam turun perlahan, membawa udara sejuk yang menyusup ke sela-sela jendela rumah Khay. Lampu-lampu rumah menyala hangat, menerangi ruang makan yang malam itu dipenuhi suara tawa. Para sanak saudara masih setia berkumpul ada yang duduk di kursi, ada yang berdiri sambil menyuap camilan, ada pula yang sibuk saling menggoda pengantin baru.
Meja makan panjang itu penuh hidangan. Masakan Mama Hera kembali jadi primadona. Aroma sup hangat, ayam goreng, sambal, dan aneka kue tradisional bercampur jadi satu, membuat suasana terasa akrab dan meriah.
Khay duduk di sisi Revan. Gaun putihnya sudah berganti dengan pakaian rumahan yang nyaman, namun senyum cerahnya tetap sama. Wajahnya memantulkan kebahagiaan yang sederhana bukan yang meledak-ledak, melainkan hangat dan tenang.
“Eh, eh,” celetuk Bibi Sari sambil menunjuk ke arah Khay. “Sekarang sudah sah, nih. Gimana rasanya jadi istri orang?”
Beberapa sepupu langsung tertawa. Khay mengangkat alis, menaruh sendoknya, lalu menjawab dengan santai, “Rasanya? Hmm… sama saja, Bi. Cuma mungkin sekarang kalau aku bangun kesiangan, yang negur bukan cuma Mama.”
Tawa pun pecah.
Revan melirik Khay sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. “Aku tidak akan menegur,” katanya datar.
Khay menoleh cepat. “Oh? Jadi Mas Revan tipe suami yang membiarkan istrinya kesiangan?”
“Selama kamu bahagia,” jawab Revan singkat.
“Eaaaak!” seru sepupu-sepupu Khay bersamaan.
Khay tertawa, menutup wajahnya sebentar. “Mas, itu namanya jebakan.”
Revan mengangkat bahu. “Aku hanya menjawab jujur.”
“Sudah, sudah,” potong Om Rudi sambil tersenyum lebar. “Pengantin baru memang begini. Tapi, Van,” ia menatap Revan, “istrimu ini terkenal cerewet dan berani. Kamu siap?”
Khay mendahului menjawab. “Om, jangan salah. Cerewet itu tanda perhatian.”
“Dan berani?” tanya Om Rudi menggoda.
Khay mengangguk mantap. “Itu tanda aku tidak mudah dibohongi.”
Revan mengangguk setuju. “Aku setuju.”
Khay menoleh, sedikit terkejut. “Serius?”
“Iya,” jawab Revan. “Itu kelebihan.”
Sepupu Khay yang paling jahil, Rena, menyenggol bahu Khay. “Wah, Kak Revan sudah jatuh nih.”
Khay menepuk tangan Rena pelan. “Jangan sembarangan. Mas Revan ini orangnya hemat kata. Kalau sudah bilang kelebihan, itu setara pujian setahun.”
Tawa kembali memenuhi ruangan.
Mama Hera yang duduk di ujung meja hanya tersenyum melihat interaksi itu. Ia menoleh ke Ayah dan berbisik, “Alhamdulillah.”
Ayah mengangguk pelan. “Aku tenang melihatnya.”
Di sisi lain meja, Kakek Darius memperhatikan dengan mata berbinar. “Khayla,” panggilnya.
“Iya, Kek?” Khay langsung menoleh sopan.
“Kamu membuat suasana jadi hidup,” ucap Kakek
Darius tulus. “Rumah terasa hangat.”
Khay tersenyum cerah. “Terima kasih, Kek. Berarti aku lulus jadi cucu.”
“Lulus dengan nilai baik,” sahut Kakek Darius sambil tertawa kecil.
Revan menatap kakeknya, lalu Khay. “Dia memang begitu.”
“Mas Revan membela?” Khay menyeringai.
“Aku menyatakan fakta,” jawab Revan tenang.
Rena mengangkat tangan. “Fakta atau mulai kebiasaan membela istri?”
Revan terdiam sejenak. “Keduanya.”
Sorak-sorai kecil kembali terdengar. Khay memalingkan wajah, pipinya sedikit memanas. “Mas, ini keroyokan.”
Revan meliriknya. “Kamu bisa membalas.”
Khay menegakkan bahu. “Baik. Aku siap.” Ia menoleh ke para sepupunya. “Dengar ya. Mas Revan ini kelihatannya pendiam. Tapi kalau sudah bicara, langsung bikin semua orang diam. Jadi hati-hati.”
“Wah, ancaman,” kata Rena sambil tertawa.
“Bukan ancaman,” balas Khay santai. “Peringatan.”
Revan menghela napas kecil, nyaris seperti tawa. “Kamu terlalu berani.”
Khay mencondongkan badan sedikit. “Katanya itu kelebihan.”
Revan mengangguk. “Iya.”
Obrolan terus mengalir. Ada yang bertanya rencana ke depan, ada yang sekadar bernostalgia dengan masa kecil Khay. Di tengah keramaian itu, Revan lebih banyak diam, mendengarkan. Sesekali ia menimpali singkat, tepat, dan selalu membuat suasana jadi lebih hangat.
“Van,” panggil Tante Mira. “Kamu betah di kampung?”
Revan menjawab tanpa ragu. “Betah.”
Khay mengangkat alis. “Cepat sekali?”
Revan meliriknya. “Ada alasannya.”
Semua serentak, “Eaaa—!”
Khay menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kalian ini ya…”
Mama Hera tertawa kecil. “Biarkan saja, Khay. Sekali-sekali.”
Malam makin larut, tapi tawa belum reda. Hingga akhirnya, satu per satu saudara mulai pamit. Meja makan dibereskan bersama-sama. Khay membantu Mama, sementara Revan membantu Ayah mengangkat kursi.
Saat ruang makan mulai sepi, Khay dan Revan duduk berdampingan lagi. Suasana lebih tenang. “Kamu capek?” tanya Revan pelan.
“Sedikit,” jawab Khay jujur. “Tapi senang.”
Revan mengangguk. “Aku juga.”
Khay menoleh, menatap wajah Revan yang terlihat lebih rileks dari biasanya. “Mas Revan.”
“Ya?”
“Terima kasih sudah sabar menghadapi keluargaku.”
Revan menjawab singkat namun tulus. “Terima kasih
juga… sudah menjadi dirimu sendiri.”
Khay tersenyum. Di malam yang hangat itu, di tengah rumah yang penuh tawa dan kasih, mereka belum menyebut kata cinta namun keduanya tahu, langkah kecil sudah diambil. Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.
DI DALAM KAMAR.
Kamar Khay diterangi lampu temaram berwarna kuning hangat. Tirai jendela tertutup rapat, hanya suara jangkrik dari luar yang sesekali menyelinap masuk, menemani keheningan yang terasa… asing.
Khay sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Selimut tebal menutupi hampir seluruh tubuhnya hingga ke dada. Kedua tangannya meremas ujung selimut itu erat, seolah benda lembut tersebut adalah satu-satunya pelindung dari rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya. Ini pertama kalinya.
Pertama kali ia tidur di kamar yang sama dengan seorang laki-laki. Suaminya.
Di sampingnya, Revan berdiri sejenak sebelum akhirnya ikut membaringkan tubuhnya. Gerakannya tenang, tidak tergesa, tidak pula canggung setidaknya dari luar. Ia menjaga jarak secukupnya, tidak terlalu dekat, namun juga tidak dingin.
“Tenang saja,” ucap Revan pelan, memecah keheningan. “Aku tidak akan meminta hakku sekarang.”
Khay menahan napas. “Aku tidak ingin memaksamu untuk melayaniku,” lanjut Revan sambil merapikan selimut Khay, membenarkannya agar tidak terlalu menekan dada Khay. Gerakannya hati-hati, sopan, dan penuh pertimbangan.
Khay terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bersuara, nyaris berbisik. “A-aku… tidak takut seperti itu.”
Revan menoleh sedikit. “Lalu?”
Khay menelan ludah. “Aku… hanya belum terbiasa.”
Jawaban itu jujur. Sangat jujur.
Hening kembali menyelimuti mereka.
Khay menatap langit-langit kamar, matanya terbuka lebar. Ia bisa merasakan keberadaan Revan di sampingnya napasnya yang teratur, hangat tubuhnya yang terasa meski tak bersentuhan.
“Mas Revan,” panggil Khay pelan.
“Iya,” jawab Revan tanpa menoleh.
“Kalau aku terlihat aneh… tolong maklumi.”
Revan sedikit tersenyum senyum yang tidak terlihat, tapi terasa dari nadanya. “Kamu tidak aneh.”
“Menurutku ini aneh,” gumam Khay. “Pagi tadi aku masih gadis kampung yang bangun kesiangan. Sekarang aku tidur di sebelah suamiku.”
Revan terkekeh pelan. “Kalau begitu, kita sama.”
Khay menoleh cepat. “Sama?”
“Iya,” jawab Revan. “Pagi tadi aku datang sebagai tamu. Sekarang aku suamimu. Itu juga… tidak biasa.”
Khay tersenyum kecil, sedikit lega. “Kupikir hanya aku yang gugup.”
“Aku tidak pandai menunjukkannya,” ujar Revan jujur.
Khay mengangguk. “Kelihatan.”
Revan meliriknya. “Hei.”