NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 24 - Tuduhan

Alexa turun dari mobil Steven tepat di depan gang masuk menuju kontrakannya karena mobil tak bisa masuk ke sana.

Pada akhirnya, Alexa telah menjelaskan semuanya tentang Abi dan Daffa yang datang menemuinya. Dia berbicara sejujur - jujurnya dan apa adanya—bahkan sampai larut karena harus mengklarifikasi banyak hal.

Dia hanya tidak menceritakan tentang orang - orang Fire Corp yang menuntut tanggung jawab padanya mengenai harapan kembalinya Steven pada grup.

Tidak akan mudah membujuk Steven kembali ke NOVA jika bukan karena keinginan Steven sendiri.

"Terima kasih," ucap Alexa sedikit berteriak.

"Masuklah. Aku akan pergi setelah memastikan kamu masuk ke dalam rumah." Steven berbicara sedikit menundukkan kepalanya agar bisa melihat Alexa dari kaca mobil yang terbuka.

"Baiklah." Alexa melangkah pergi.

Tapi tiba - tiba dia berbalik dan memasukkan kepalanya dari kaca mobil yang terbuka.

"Satu hal lagi sebagai pengingat, aku bekerja di perusahaan itu bukan untuk membujukmu kembali ke NOVA. Itu hidup kamu, jadi terserah kamu. Mungkin Abi yang salah paham dan berpikir keberadaanku hanya untuk menarikmu kembali ke sana. Itu saja."

Ocehan Alexa berlangsung cepat—berlalu. Entah Steven sudah menangkap maksud ucapannya atau tidak, Alexa tidak peduli. Kalimat itu sudah dia ulang tiga kali.

Walaupun sedikit, Alexa yakin Steven mengingat beberapa bagian kalimatnya dan mencoba mengerti.

Langkah Alexa melambat ketika mendapati banyak tetangga kontrakan yang duduk di depan unit kontrakannya. Semua memasang mata sinis saat mslijag Alexa.

"Selamat malam," sapa Alexa kikuk—jarang berinteraksi dengan mereka.

"Diantar mobil siapa, Mbak?" tanya salah satu mahasiswa S2 yang unitnya tepat di sebelah Alexa. Usianya jauh lebih tua dari Alexa.

Tapi karena mereka tidak akrab, mereka sama - sama saling memanggil dengan sebutan 'Mbak' agar mudah.

"Oh, itu. Teman," jawab Alexa.

"Masa iya jaman sekarang ada yang temenan nggak pilih - pilih. Jujur aja, Mbak. Mbak Alexa bekerja sebagai LC, kan?" timpalnya asal.

Bukannya merasa marah, Alexa justru tersenyum kecil melangkah mendekat pada tetangganya itu, berdiri di hadapannya dengan berani.

"Ternyata punya pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang memiliki sikap yang baik ya, Mbak. Sayang sekali..." katanya.

Jujur dalam hati, Alexa mengumpat. Dia sudah terbiasa dengan ejekan karena dirinya adalah anak dari ayah yang bermasalah. Tapi, kali ini Alexa benar - benar diinjak bukan karena ayahnya.

Ucapan Alexa jelas membuat semua tetangganya itu saling memandang dalam diam—setuju dengan ucapan Alexa meski tidak mengakuinya langsung.

"Saya masuk dulu. Permisi..." Alexa masih tersenyum walaupun terpaksa.

"Paling tidak, aku bukan anak seorang pembunuh."

Ah, kalimat itu lagi. Tidak asing bagi Alexa yang sudah terbiasa menghadapinya.

Siapa pun yang tahu soal dari keluarga mana Alexa berasal, akan selalu menjadikan itu sebagai bahan ejekan. Tidak terlepas satu pun orang—pasti akan selalu dibahas.

Alih - alih semakin sedih, Alexa justru terbiasa.

"Kamu beruntung, Mbak. Jangan disia - siakan keberuntungan kamu untuk mengejek yang tidak beruntung terlahir dari keluarga yang tidak diinginkan." Alexa masih mau menanggapi.

"Cih! Nggak usah sok bijak. Tapi nggak aneh sih, biasanya rata - rata LC memang menutupi diri dengan hal semacam itu."

Semua terkikik melirik Alexa dengan jijik.

"Dari pada mikirin itu, mending hati - hati saja sama suami kalian para ibu - ibu. Kalian hidup berdampingan dengan LC," cetus Alexa sambil tertawa.

Cekikikan mereka terhenti dan mimik wajah berubah menjadi serius. Mata mereka melotot ke arah Alexa seolah mengancam.

Tapi Alexa tidak takut. Ada beberapa hal yang paling fia takuti, tapi jika hanya untuk melawan ibu - ibu kompleks, jelas tidak masalah. Selama bukan dirinya yang memulai lebih dulu, Alexa siap meladeni.

"Apa aku salah bicara? Bukannya benar kalau yang paling hati - hati pada LC seharusnya ibu - ibu yang punya suami? Gini - gini saya doyan uang receh, Bu. Nggak perlu yang punya uang miliaran."

Senyum puas Alexa terus terukir sampai dia masuk ke dalam kontrakannya mengingat seperti apa orang - orang yang mencibirnya itu bereaksi atas apa yang dikatakannya.

Namun pertahanannya rapuh. Tubuhnya merosot duduk di lantai menyandarkan punggungnya pada pintu, memeluk lututnya—menyembunyikan wajahnya di sana.

Tidak ada tempat untuk mengadu membuat pundaknya terasa berat. Jika bisa memilih, Alexa juga ingin lahir dari keluarga yang utuh dan bahagia walaupun tidak kaya.

Alexa memang melawan. Tapi setelah itu, kepalanya berisik.

Semua kata - kata jahat yang keluar dari mulut orang lain sudah terekam dan selalu terngiang - ngiang ketika Alexa sendirian. Semakin dia menyimpan semua itu sendirian, semakin berisik kepalanya, semakin buruk hari - harinya.

Tok... tok... tok...

Alexa tersentak keget dengan ketukan pintu itu. Tapi dia kemudian bangkit dan membukakan pintu.

"Makan malam," kata Steven dengan nafas terengah - engah—menyodorkan kantong kresek berisi makanan.

"Aku bisa masak di rumah. Nggak perlu dibeliin," tolak Alexa.

"Tadi aku liat ada warung angkringan rame banget. Karena penasaran, aku coba beli. Terus kepikiran kamu jadi aku beli buat kamu. Sayangnya cuman dapat tiga porsi." Steven masih mengatur nafasnya.

"Terus lari ke sininya?"

"Iya. Biar makanannya datang sebelum kamu tidur."

Alexa menerima kantong kresek itu dan membukanya. Mengambil satu kotak dan mengembalikan lainnya pada Steven.

"Buat kamu semua," ucap Steven.

"Nggak usah. Kan, sebenarnya kamu yang pengen."

"Keluargaku banyak. Kalau aku bawa pulang, kasihan yang nggak kebagian."

Alexa berpikir sejenak. Kalau dia mengambil semua makanannya, dia tidak akan menghabiskan itu dan pada akhirnya hanya terbuang. Bahkan untuk satu kotak saja, Alexa tidak yakin sanggup menelannya.

"Kalau 'gitu, ayo makan bareng." Alexa membuka lebar pintu kontrakannya dan menangsel pintu itu dengan kursi kecil agar tidak menutup.

Karena sudah malam, jelas Alexa tidak mau ada yang berpikir aneh - aneh atas kedatangan Steven. Niat Steven baik, jadi Alexa juga tidak ingin membuat Steven kecewa.

Mata Steven sempat menyisir ke sekeliling memastikan ada yang melihatnya masuk ke rumah Alexa. Dia juga tidak mau ada yang salah paham.

"Kamu yakin nggak apa - apa?" tanya Steven.

"Pintunya aku buka lebar."

Steven mengangguk dan akhirnya masuk. Dia duduk di kursi dekat dengan pintu sementara Alexa mengambil jarak yang cukup jauh dari Steven—mencari posisi paling aman.

Alexa menyiapkan minum untuk Steven.

"Berapa biaya bulanan kontrakan?" tanya Steven sambil membuka kotak makannya.

"Tujuh ratus ribu," jawab Alexa yang sudah mulai menyuap sesuap demi sesuap makanan itu. "Kamu mau makan pakai masker?" komentar Alexa.

"Lupa!" Steven cengengesan dan langsung melepas maskernya.

Mereka pun menikmati makanan masing - masing sesekali saling melontarkan pertanyaan entah itu penting atau tidak penting. Seperti biasa, ketika kurang cocok, mereka akan berdebat kecil.

Steven sesekali melihat makanan Alexa yang masih banyak. Daripada memakannya, Alexa lebih sering memainkan makanan itu dengan sendoknya.

"Mau aku suapin?" tawar Steven dengan mulut penuh.

"Hah? aku masih punya dua tangan."

"Tapi kamu lebih sering mainin makanannya."

"Aku sudah kenyang."

"Tapi dari tadi sama aku kamu nggak makan apa pun."

CRANG!

"AW!" Pekik Steven

Steven langsung bangkit dari duduknya ketika tiba - tiba kaca jendela tepat di belakangnya pecah dan mengenai tengkuknya.

Alexa ikut bangkit dan langsung melihat ke luar. Dia sudah mendapati beberapa orang berdiri di luar sembari memegang batu bersiap melempar itu ke kontrakan Alexa.

"Ada apa, Al?" tanya Steven hendak ikut melihat tapi Alexa mengangkat tangannya meminta Steven untuk tetap di sana.

"LIHAT! ADA LAKI - LAKI DI KONTRAKAN ALEXA! DASAR P3LACUR!"

"P3LACUR!"

Semua menyoraki Alexa dan mulai melempar kerikil - kerikil hingga baru yang cukup besar ke arah Alexa—membuat kerusakan. [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!