"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Aman
Kalian sedang apa? " tanya Clara yang sudah berdiri di belakang Anggun membawa thumblernya.
"Ah tidak apa-apa Bu, cuma bahas kerjaan, " sahut Aya cepat.
"Iya Bu, cuma memastikan kerjaan Aya sudah selesai semua sebelum dia pergi besok, " jawab Anggun menambahkan.
"List daftar yang di minta sudah ada, Ya? " tanya Anggun sambil memberi kode pada Aya.
"Setelah ini kak, saya selesaikan sedikit lagi. Pengarsipan sudah selesai. "
Clara berlalu meninggalkan mereka sambil melirik sebentar pada Anggun, seolah kesal seperti dia saja kepala seksinya.
"Hhh, untung saja. Maaf kak, sebaiknya pak Rama yang menjelaskannya. Aku kembali kerja ya, biar tidak ada tanggungan di kantor baru."
Aya berlalu pergi begitu saja.
Anggun semakin kesal karena Aya tak mau memberikan penjelasan, malah menunggu Rama yang menjelaskan.
"Apa ini akal-akalan Aya saja untuk menghindar? " gumamnya.
***
TOKTOK TOK
CEKLEK
"Pa, Ma.. bagaimana kabarnya? " tanya Rama sambil masuk ke dalam.
Harum sedang makan siang kondisinya makin membaik. Pernikahan Rama dan Aya benar-benar menjadi semangat untuk Harum.
"Papa sudah lebih baik, tapi masih harus pakai kursi roda dulu sementara waktu. Mama juga sudah bisa duduk dan makan seperti biasa."
"Aya, mana? kok nggak ikut? " tanya Harum melihat Rama masuk sendiri ke ruang inap.
"Aya masih harus selesaikan kerjaannya, Ma. Besok kan sudah di kantor Bayu."
"Oh ya, syukurlah. Soal resepsi bagaimana? dia setuju dimajukan? " tanya Jaka.
"Sudah setuju, Pa. Setelah beralasan kondisi Papa dan Mama , akhirnya dia mau. Jadi, pastikan Papa dan Mama kondisi fit saat resepsi nanti ya. Mama terutama. Harus banyak istirahat dan jangan pusingin yang lain"
Harum tersenyum dan mengangguk, dia juga senang Rama mau memenuhi semua keinginannya.
"Oh ya, Raka telpon tadi. Besok dia sudah kembali ke sini. Kamu bisa jemput dia? "
"Ah, Papa. Raka sudah sebesar itu untuk apa Rama jemput. Biar sama pak Heru saja ya, Rama mau pastikan Aya besok lancar di kantor barunya."
"Ya, sudah biar di jemput pak Heru saja. Tapi Rama, Papa nggak mau dengar kegaduhan antara kamu dan Raka lagi. Apalagi di depan Aya nanti. Jangan bikin Aya takut dan melihat buruknya hubungan kalian, mengerti!! "
"Ya, Pa. Rama mengerti."
Suara notifikasi pesan masuk ke ponsel Rama.
[Bang, Anggun mulai curiga soal kita. Kasir resto menitipkan barang kita yang tertinggal waktu terakhir kita makan di sana. ]
[Baiklah, aku segera kembali. Biar aku yang bicara dengannya.]
"Pa.. Ma.. Rama harus kembali ke kantor. Ada yang harus segera diurus."
" Ya, sudah hati-hati di jalan."
Rama berpamitan dan segera berlalu menuju parkiran mobilnya.
"Bagaimana soal perempuan itu, Pa? " tanya Harum setelah beberapa saat Rama pergi.
"Rama bilang, dia lagi keluar kota. Makanya, Rama buru-buru membujuk Aya untuk resepsi. Tapi, nggak bisa juga situasinya begini. Papa nggak mau Aya harus menjalani pernikahan seperti ini. Papa akan cari cara supaya perempuan itu benar-benar lepas dari Rama."
"Kita benar-benar berhutang nyawa dengan keluarga Aya, Pa. Kita harus pastikan Aya hidup bahagia dengan Rama."
"Mama tenang saja, biar Papa yang urus. Mama jangan banyak pikiran. Papa pastikan semua akan berjalan baik. Yang penting resepsi pernikahan mereka segera terlaksana baru Papa mulai bergerak."
Harum mengangguk pelan, dan melanjutkan kembali makan siangnya.
***
"Umi, nasi campurnya satu bungkus ya. Lauk ikan layang, sayurnya.. gori aja Umi, sambalnya satu sendok cukup, " ujar Rusmi anak perantau yang tinggal di kos-kosan tak jauh dari rumah Haura.
" Siap, mas. Sebentar ya, " sahut Haura.
Tangan Haura bergerak cepat melipat kertas bungkus nasi, mengisi dengan masakan dengan telaten.
"Aya kayaknya jarang kelihatan, Umi. Lembur terus ya? " tanya Rusmi.
"Oh, Aya itu sebenarnya sudah menikah mba Rusmi. Cuma belum resepsi sedang di persiapkan."
"Oh gitu, wah mendadak sekali Umi. Perasaan Aya nggak keliatan boncengan sama cowok kok tiba-tiba nikah Umi? "
"Ada yang lamar Mbak, teman almarhum abanya kerja dulu. Kebetulan mereka sama-sama mau ya sudah di nikahkan aja sekalian."
"Oh, tapi kok nggak kelihatan ada acara dirumah Umi. Nikahnya dimana memangnya?"
"Di rumah sakit, Mbak. Mendadak orang tua calon prianya sakit jadi minta diadakan di rumah sakit. Aya sekarang tinggal di sana, dirumah mertuanya."
"Pantas nggak pernah kelihatan. Jadi Umi tinggal sendiri? "
"Sementara, Mbak. Tapi adik saya mau ke sini nemenin jualan juga. Ini mba, lima belas ribu."
Haura menyerahkan plastik bungkusan berisi pesanan nasi campur pada Rusmi ditukar dengan uang.
"Terima kasih, Umi. Resepsinya jangan lupa undangannya ya Umi. Lumayan makan gratis."
"Insyaa Allah, Mbak."
Rusmi berlalu meninggalkan warung sederhana itu.
Akhirnya, Haura tak menahan diri lagi setiap ada yang bertanya soal Aya. Bagaimana pun juga, ia ingin anaknya terhindar dari berita miring.
Handphone Haura berdering.
"Assalamu'alaikum, Aya. Ada apa Nak? "
"Wa'alaikumsalamwrwb. Ibu, besok Aya sudah kerja di kantor baru. Motor Aya kira-kira ada yang bisa antarkan nggak ya Bu? "
"Oh gitu, memangnya Rama nggak bisa antar ke kantor barunya Nak? Nanti kalau ada Ida rencana biar dipakai ke pasar sama dia. Kan Umi nggak bisa bawa motor, lumayan Nak biar nggak naik ojek lagi Umi."
"Oh gitu, ya sudah nanti aya bicarakan sama bang Rama. Soalnya nggak searah Mi. Tapi nggak apa deh, biar di tinggal aja kalau gitu. Umi sehat kan? "
"Alhamdulillah kalau gitu, Umi sehat nak. Kamu juga lancar kan urusannya? "
"Iya, mi. Oh iya, acaranya di majukan tanggal 14 ya Mi karena bentrok dengan jadwal Bang Rama ke Jakarta. "
"Oh ya, alhamdulillah kalau gitu, semakin cepat makin baik, Nak. Umi capek ditanya terus kamu ke mana. Kalau sudah resepsi Umi jadi tenang."
" Hhhh.. do'akan aja ya Mi."
"Kamu sebenarnya kenapa sih? coba cerita aja ke Umi, apa yang bikin kamu memaksa merahasiakan pernikahan ini Aya?"
"Maaf Umi, Aya nggak bisa cerita. Umi doakan aja Aya baik-baik, bisa jalani semuanya. Ya sudah, Aya lanjut kerja dulu ya Mi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalamwrwb. Sebenarnya ada apa dengan mereka? "
"Umi, pesan nasi pecelnya ya, " ujar pelanggan yang baru datang.
"Oh iya, tunggu sebentar ya."
***
Aya buru-buru menutup telponnya tak ingin uminya bertanya lagi dan makin penasaran.
CEKLEK
Rama masuk ke ruangan dengan langkah cepat dan tegas, tak menoleh sedikit pun ke dalam. Sepertinya, kabar dari Aya cukup membuatnya panik.
Tak lama, telpon di atas meja Anggun berbunyi. Aya melirik Anggun yang buru-buru berjalan menuju ruang kerja Rama.
'Sepertinya bang Rama sudah bergerak, ' batin Aya.
Aya hanya tersenyum kecil. 'Seru juga punya suami bos. Ada yang ganggu diselesaikan dengan elegan, ' batin Aya.
"Kenapa senyam-senyum? " tanya Mira yang ternyata sudah menggeser kursinya lebih dekat.
"Astaghfirullah, Mira!! kamu ngapain sih bikin kaget aja? "
"Habisnya kamu tiba-tiba senyum sendiri, aku jadi penasaran, " bisiknya lagi.
"Udah kerja sana, " usir Aya.
Anggun terlihat berwajah tegang keluar dari ruangan Rama dan duduk dengan kasar di kursinya. Ia tak menoleh sama sekali pada Aya.
Suara notif pesan masuk terdengar di ponsel Aya.
[ Aku sudah jelaskan pada Anggun. Kamu usahakan jangan bahas lagi. Oke!! ]
^^^[Oke. Terima kasih]^^^
^^^[Oh ya, bang. Karin ajak nongki lagi sore ini. Aku pulang naik taksi aja ya.]^^^
[ Ya sudah, aku mau ketemu bayu juga sudah janji ke kantornya sore ini. Kalau aku bisa jemput, nanti ku Kabari. ]
^^^[ Oke]^^^
Waktu tak terasa berlalu cepat. Jam dinding ruang kerja departemen umum dan keuangan sudah menunjuk angka lima.
Aya masih berbenah barangnya, memasukkan perkakas ATK, sendal santai, stock obat pribadi dan lainnya ke dalam Kardus.
"Semoga ada kesempatan ketemu kamu lagi, Ya. Aku bakal kangen cueknya kamu, " ujar Septi.
"Aku juga bakal kangen gangguin kamu, Aya."
Mira memeluk Aya erat sampai Aya kesakitan.
"Aya, kerja yang baik disana, ya. Bawa nama baik kantor pusat. Kamu harus menjaga integritas mu selama disini."
"Baik, Bu Clara. Saya pastikan itu Bu. Terima kasih dukungan Bu Clara selama ini, saya belajar banyak dari Ibu."
Clara mengangguk ramah dan tersenyum lalu memeluk Aya lama setelah berjabat tangan.
Dalam hati, sebenarnya ia merasa kehilangan pegawai berkualitas seperti Aya. Sayang ia tak banyak bisa berbuat karena sudah di putuskan oleh atasan.
Satu persatu pegawai berpamitan dan meninggalkan ruangan. Hanya tersisa Anggun yang baru selesai merapikan mejanya.
"Oke Aya, selamat bertugas di tempat yang baru. Sukses selalu dan jaga kesehatan."
Anggun mengulur tangannya, mereka berjabat tangan sebentar, Anggun tersenyum tipis, seperti penuh tekanan dan akhirnya melambai pergi.Entah apa yang Rama katakan sampai raut wajahnya tegang seperti itu.
"Sudah beres semua? " tanya Rama yang sudah berdiri di depan mejanya.
Aya mengangguk. Rama lalu membawa kardus barang-barang Aya dan mereka berjalan bersama menuju parkiran karena Karin sudah menunggu di sana.
"Abang bilang apa sama Anggun? Mukanya tegang gitu."
"Cuma kasih tahu dia kamu istriku dan... sedikit mengancamnya, " jawab Rama tenang.
"Sedikit?? sedikit yang seperti apa sampai begitu? "
"Sudah tak perlu dipikirkan lagi, yang penting dia tidak akan berbuat macam-macam padamu lagi. Nikmati saja kencan terakhirmu dengan Karin, oke!!"
Bibir Aya mengerucut lalu tersenyum puas. Tanpa sadar, hatinya merasa lega dan senang mendapat perlindungan seperti itu. Perlindungan dari seorang laki-laki yang lama tak ia rasakan sejak Abanya wafat.