Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Yang tidak di hampiri
Setelah turun dari panggung, Gina hanya berdiri mematung di tengah keramaian.
Matanya menyapu ruangan, mencoba menangkap sesuatu—siapa pun—yang mungkin datang menghampiri.
Tapi tidak ada.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakannya dengan jelas—ia tidak lagi berada di dalam lingkaran itu.
Bukan di tengah Tawa.
Bukan di antara orang-orang yang saling menyapa.
Ia hanya berdiri di tepi ruangan, sedikit menjauh dari keramaian.
Sendiri.
Bukan karena tak ada tempat untuknya…
tapi karena tak ada satu pun yang benar-benar menoleh dan menyadari ia ada di sana.
Yang terdengar hanya tawa, musik, dan obrolan orang-orang yang saling bersahut. Suasana pesta terasa hidup bagi semua orang… tapi tidak baginya.
Bagi Gina, semuanya terasa jauh.
Seolah ia hanya penonton di tempat yang seharusnya ia ikuti.
Ia menunduk pelan.
Tatapannya kosong, pikirannya berantakan, tapi wajahnya tetap tenang—terlatih menutupi apa pun yang sedang terjadi di dalam.
Lalu seseorang datang dari samping.
Dio.
Langkahnya santai seperti biasa, ekspresinya ringan seolah tidak ada yang salah.
“Gin! Penampilan kamu keren banget hari ini,” ucapnya.
“Suara kamu juga bagus.”
Gina menoleh.
Senyum langsung muncul di wajahnya—refleks, seperti yang selalu ia lakukan.
“Iya? Makasih,” jawabnya pelan.
Namun di dalam hati, ada kalimat lain yang tertahan—tak pernah benar-benar sempat keluar.
Kenapa… baru sekarang kamu datang?
Untuk pertama kalinya, Gina menyadari sesuatu tentang dirinya sendiri.
Ia ingin diakui.
Bukan sekadar sahabat.
Bukan sekadar pelengkap di antara yang lain.
Tapi sebagai dirinya sendiri.
Dio tidak menyadari apa pun.
Baginya, semuanya terlihat biasa saja—Gina masih tersenyum, masih berdiri seperti biasanya.
Ia tidak melihat sorot mata yang mulai meredup itu.
Tidak menangkap retakan kecil yang perlahan muncul di balik senyum yang masih berusaha dipertahankan.
Tanpa pikir panjang, ia menepuk bahu Gina singkat, lalu melangkah lagi.
Menuju Rahmalia.
Dan Gina… kembali ditinggalkan.
Berdiri di tempat yang sama.
Sendiri lagi.
Perlahan, Gina menjauh dari kerumunan.
Langkahnya pelan. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak benar-benar ingin berhenti. Di tengah pesta yang masih ramai, ia justru memilih keluar dari lingkaran itu.
Ia berjalan menuju kedua orang tuanya.
Ada harapan kecil di dadanya—mungkin mereka akan menatapnya, memanggilnya, atau sekadar berkata kalau ia tampil baik tadi.
Mungkin… mereka akan jadi tempat pulang malam ini.
Namun saat matanya menemukan mereka, harapan itu pelan-pelan runtuh.
Ayah dan ibunya masih duduk di kursi belakang.
Diam.
Ekspresi mereka datar. Dingin. Tidak terlihat seperti orang tua yang baru saja melihat anaknya tampil di atas panggung.
“Ayah… Ibu,” sapa Gina pelan.
Ayahnya hanya mengangguk singkat—sekadar tanda mendengar, tanpa benar-benar membuka percakapan.
Ibunya bahkan tidak langsung menoleh.
Pandangannya tetap lurus ke depan, seolah ada hal lain yang lebih memenuhi pikirannya daripada kehadiran Gina di situ.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada pertanyaan ringan seperti biasanya.
Tidak ada senyum yang menyambut.
Hanya jeda hening yang terasa panjang… dan aneh.
“Sudah selesai?” tanya ayahnya datar.
Gina mengangguk.
Jemarinya refleks kembali menggaruk pelan sela-sela lengannya—kebiasaan lama yang muncul setiap kali ia menahan sesuatu.
“Iya…”
Tak ada respons.
Hanya jeda hening yang terasa terlalu panjang.
Ibunya akhirnya berdiri lebih dulu, merapikan tas di bahunya.
“Ayo pulang,” ucapnya singkat.
“Ibu sudah lelah berlama-lama di sini.”
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung melangkah pergi meninggalkan area pesta.
Ayahnya menyusul.
Dan Gina… hanya berdiri sebentar di tempatnya, sebelum akhirnya ikut berjalan di belakang.
...----------------...
Di sisi lain, Azmi masih mengobrol bersama Rahmalia. Sesekali ia tertawa kecil, lalu beralih memuji penampilan Siva yang barusan turun dari panggung.
Suasana di sekelilingnya masih ramai.
Namun saat ia hendak mencari Gina—
ia baru sadar… Gina tidak ada di sana.
Azmi menoleh ke sekitar.
“Emm… kalian lihat Gina?” tanyanya.
Siva, Rahmalia, Diana, dan Dio saling berpandangan, baru ikut sadar.
“Loh, tadi dia di sini,” ucap Dio, keningnya berkerut.
“Ke toilet mungkin?” timpal Siva.
Rahmalia mengangguk kecil.
“Iya… kita tunggu aja.”
Tapi Azmi tidak merasa tenang.
Ada sesuatu yang mengganjal.
Tanpa banyak bicara, ia melangkah menjauh, menyusuri kerumunan tamu.
Dari kejauhan, ia melihat ayahnya berdiri di dekat barisan kursi belakang. Pria itu memberi isyarat kecil—menunjuk ke arah pintu keluar.
Azmi mengikuti arah itu.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Gina.
Berjalan menuju pintu bersama kedua orang tuanya.
Langkahnya pelan. Bahunya lurus. Wajahnya tenang… terlalu tenang.
Azmi mengangguk kecil, seolah mengerti maksud ayahnya.
Ia segera mendekat.
Tanpa basa-basi, ia menunduk sopan.
“Sudah mau pulang, Om… Tante… Gina?” ucapnya.
Ibu Gina menjawab lebih dulu.
“Iya. Maaf ya, kami tidak bisa berlama-lama di acara ulang tahunmu.”
Azmi menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa, Tante. Saya mengerti… Om dan Tante pasti sibuk.”
Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke Gina.
“Terima kasih sudah datang,” lanjutnya lembut.
“Dan… terima kasih juga sudah tampil tadi. Suaramu bagus sekali malam ini.”
Gina tetap tersenyum, sopan seperti biasanya.
Tipis, sekadar ada.
Tapi matanya tidak ikut tersenyum. Hening. Datar. Seolah sedang melihat sesuatu yang jauh, bukan orang di depannya.
Biasanya dia cepat menimpali, bercanda, atau sekadar mengangguk ringan.
Sekarang tidak.
Ia hanya diam. Tanpa komentar. Tanpa reaksi.
Seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang tiba-tiba ikut meredup.
Ia hanya mengangguk kecil—lalu langsung membuka pintu mobil dan masuk tanpa mengatakan apa pun.
Sesaat, Azmi hanya berdiri di tempat.
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
“Kalau begitu kami pamit dulu,” ucap ayah Gina singkat.
Azmi menunduk.
“Baik, Om. Hati-hati di jalan.”
Pintu mobil tertutup.
Mesin menyala.
Mobil perlahan menjauh meninggalkan halaman rumah.
Azmi masih berdiri di sana.
Menatap lampu belakang mobil yang semakin jauh… lalu menghilang.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa—
ia melewatkan sesuatu.
...----------------...
Di dalam mobil, Gina duduk diam di kursi belakang.
Kepalanya sedikit menunduk. Tangannya bertaut di pangkuan, nyaris tak bergerak. Sesekali, matanya melirik ke depan—ke arah punggung ayah dan ibunya yang duduk di kursi depan.
Mereka hanya diam.
Tidak ada obrolan sedikitpun. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada komentar tentang penampilannya malam ini.
Ayahnya hanya fokus menatap jalan. Ibunya menatap lurus ke depan, seolah kelelahan.
Keheningan di dalam mobil terasa tebal.
Gina akhirnya memalingkan wajah ke arah jendela.
Lampu-lampu jalan berlalu satu per satu, memantul di kaca seperti garis cahaya yang cepat menghilang. Bangunan, pohon, dan kendaraan lewat tanpa benar-benar ia perhatikan.
Di tengah sunyi itu, dadanya terasa sesak.
Pikirannya berputar, mencari jawaban yang tak kunjung ada.
Di dalam hati, ia berbisik—
Apa yang salah denganku?
Pertanyaan itu menggantung.
Tanpa jawaban.
Dan malam pun terus berjalan… meninggalkannya sendirian bersama pikirannya sendiri.
Dukung penuh lah kalo Gina mau mindahin hati nya ke Dio,mungkin bisa lah ampe pasutri🤭
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
maaf yaa nangis sedikittt
keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
di sini alur belum maju lagi 🤔
jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn
perhatikan dinamis Pace
baby shark doo dooo doo