Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuntut Jawaban
Jefferson Estate—Gazebo halaman belakang.
Cindy adalah single mom yang tinggal di komplek yang tidak jauh dengan Rafael. Dia punya anak laki-laki bernama Alex, lebih tua lima tahun dari Rafael.
Cindy selalu peduli dengan Rafael sejak kecil. Sering membawakan makanan.
Sering mengajak Rafael makan bersama.
Mengobati Rafael saat sakit karena Nenek tidak punya uang untuk pergi ke dokter.
Alex, abangnya, yang mengajarkan Rafael tentang banyak hal.
Tentang ilmu bela diri. Dari mulai Taekwondo, silat, Kungfu, Taichi, Dojo dan masih banyak lagi.
Tentang trading. Tentang bagaimana chart bergerak, tentang bagaimana membaca pattern, tentang bagaimana mengubah uang kecil menjadi besar.
Tidak hanya itu. Alex juga mengajari Rafael tentang bertahan hidup, tentang bagaimana dunia ini bekerja dan tentang bagaimana pentingnya barang kertas yang bernama uang itu sangat penting untuk jaman sekarang ini.
Mereka adalah keluarga kedua Rafael, keluarga yang tidak sedarah tapi sepenuh hati.
Hari itu, Rafael datang ke rumah mereka dengan tas backpack berisi semua barang yang dia punya.
"Tante, bang Alex" katanya.
"Aku mau pamit. Aku akan pergi ke Amerika."
Cindy menatapnya dengan mata yang penuh dengan kesedihan.
"Kapan berangkatnya?"
"Besok pagi."
Cindy mengangguk pelan. Lalu dia memeluk Rafael, pelukan yang erat, yang motherly. "Jaga diri baik-baik di sana, Rafael. Jangan lupain Tante ya."
Rafael mengangguk di dalam pelukan.
Lalu Cindy melepaskan pelukan. Dia menatap Rafael dengan pandangan yang serious.
"Rafael," katanya dengan hati-hati.
"Ada sesuatu yang harus kamu tahu. Sesuatu yang Nenek Sulastri titipkan untuk aku sampaikan kalau kamu sudah cukup dewasa."
Rafael mengerutkan kening. "Apa, Tante?"
Cindy menarik nafas dalam—preparing herself.
"Sebenarnya... kamu bukan cucu kandung Nenek Sulastri."
Dunia Rafael berhenti berputar.
"Kamu bukan anak kandung dari Budi dan Nur Aini."
Rafael merasakan lantai menghilang dari bawah kakinya.
"Kamu adalah bayi yang sengaja dibuang di depan rumah mereka. Mereka yang menemukan kamu, yang memutuskan untuk membesarkan kamu sebagai anak mereka sendiri."
Keheningan yang sangat panjang.
Rafael tidak bergerak.
Tidak bernafas.
Hanya menatap Cindy dengan mata yang kosong.
"Nenek Sulastri sebenarnya ingin memberitahukan hal ini secara langsung." Cindy melanjutkan dengan suara yang bergetar.
"Tapi ini amanah. Kamu harus tahu kebenarannya. Kamu berhak tahu siapa kamu sebenarnya."
***
"Tante Cindy mengatakan sesuatu yang tidak pernah mau aku dengarkan,"
Rafael bercerita dengan suara yang hampir tidak terdengar,
"dia berkata bahwa aku bukan keluarga kandung dari Nenek. Aku hanya anak yang dibuang di depan rumah mereka. Lalu diasuh oleh keluarga itu."
Aurora menutup mulutnya dengan kedua tangan, mata terbuka lebar dengan shock. Thomas membeku total, wajahnya pucat.
Rafael melanjutkan dengan mechanical voice—seperti robot yang membaca.
"Tante Cindy bilang—di bawah ranjang tempat tidur Nenek ada sebuah kotak. Kotak yang disimpan rapi. Di sana ada sebuah surat dari orang tua kandungku. Dan ada sebuah liontin."
Tangannya bergerak ke leher, menarik rantai yang tersembunyi di balik kaos. Mengeluarkan sebuah liontin emas berbentuk bundar.
"Kalung emas dengan liontin yang hanya bisa dibuka oleh darah Alkava," katanya.
"Di dalamnya ada sebuah foto."
Jari-jarinya menekan liontin—dengan cara yang specific. Darah dari jarinya yang sempat tergores sedikit menyentuh mechanism di liontin.
Klik.
Liontin terbuka.
Di dalamnya, foto kecil yang sudah blur dari waktu. Seorang bayi di pelukan wanita yang terlihat lemah setelah melahirkan. Di sebelahnya seorang pria berdiri di samping ranjang.
Tapi wajah mereka tidak jelas, blur, seperti foto yang sudah terlalu lama, atau sengaja dibuat tidak jelas.
"Foto ini diambil saat aku baru lahir," kata Rafael.
"Masih di rumah sakit. Tapi wajah orang tua kandungku... tidak bisa terlihat dengan jelas."
Thomas berdiri tiba-tiba, gerakan yang begitu tiba-tiba sampai kursi hampir terbalik.
Dia berjalan dengan langkah yang tidak steady, mendekati Rafael dengan mata yang penuh dengan emotion yang complex.
Lalu dia memeluk Rafael.
Memeluk dengan sangat erat—tangan gemetar, tubuh shaking, tangisan yang keluar tanpa bisa ditahan.
"Kamu sudah melalui banyak penderitaan di usiamu yang sangat muda. Kamu harus kuat," bisiknya di telinga Rafael.
Suaranya pecah total. "Kamu harus teguh. Kamu harus semangat. Kamu harus... kamu harus bisa menyaingi ayah kandungmu."
Rafael membeku.
Perlahan, sangat perlahan, dia mendorong Thomas untuk melepaskan pelukan. Menatap wajah Thomas dengan mata yang lebar, yang terkejut.
"Uncle..." suaranya keluar sebagai bisikan yang goyah.
"Siapa dia? Siapa ayah kandungku?"
Thomas menatap Rafael dengan mata yang merah dari tangisan.
"Dan kenapa..." Rafael melanjutkan.
Suaranya naik sekarang—desperate, menuntut jawaban.
"Kenapa aku harus dibuang? Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa mereka membuangku seperti sampah?!"
Thomas membuka mulut, mencoba untuk menjawab.
Tapi kata-kata tidak keluar.
Hanya tangisan yang pecah lagi.
Aurora berdiri juga, memeluk suaminya dari belakang, mencoba untuk memberikan dukungan.
Rafael menatap mereka berdua, dengan pandangan yang menuntut jawaban, dengan emotion yang overwhelming, dengan pertanyaan yang sudah menghantuinya sejak Cindy mengungkapkan kebenaran itu.
*Siapa orang tua kandungku?*
*Kenapa aku dibuang?*
*Apa salahku?*
Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara dengan berat, menyesakkan, menuntut.
Dan Thomas, dengan air mata yang masih mengalir, dengan suara yang bergetar, akhirnya berbisik satu nama.
Nama yang akan mengubah segalanya.
Nama yang akan membuka pintu ke masa lalu yang gelap.
Nama yang akan menjawab semua pertanyaan, tapi juga membawa pertanyaan baru yang jauh lebih berat.
Tapi sebelum nama itu keluar dari bibirnya.
***
BERSAMBUNG...