SUDAH TERBIT CETAK
Cinta bertepuk sebelah tangan Anja mempertemukannya dengan Cakra, siswa paling berandal di sekolah.
Hati yang terluka bertemu dengan apatis masa depan akhirnya berujung pada satu kesalahan besar.
Namun masalah sesungguhnya bukanlah hamil di usia 18 tahun. Tetapi kenyataan bahwa Cakra adalah anak panglima gerakan separatis bersenjata yang hampir membuat papa Anja terbunuh dalam operasi penumpasan gabungan ABRI/Polri belasan tahun silam.
Beautifully Painful.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sephinasera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Run All Night
Anja
"Lumayan," Cakra tertawa melihat ke arahnya.
Sebab, kini ia telah mengganti dress yang basah, dengan kaos oblong dan celana panjang pemberian Cakra.
Kebesaran? Pastinya. Tapi daripada kedinginan. Ia tentu tak punya pilihan lain bukan?
Dan tanpa seorang pun tahu, ia tak mengenakan apapun di dalamnya.
Hei, dengar dulu.
Ini lebih karena, baju dalam an nya basah kuyup hingga bisa diperas. Percuma saja ganti baju. Kalau masih memakai dalaman, yang seperti cucian baru diambil dari ember. Belum diperas langsung dipakai. Alias basah sebasah-basahnya.
Karena, Cakra sebenarnya tak sesolutif yang ia pikirkan. Terbukti, Cakra hanya menyediakan baju pengganti luar, tanpa dalaman. Well the hell done.
"Pakai jaket."
Ia masih sibuk mengencangkan sabuk di pinggang, agar celana yang kebesaran tak terlalu melorot. Ketika Cakra menyampirkan jaket warna navy ke atas bahunya.
Oke, jadi begini. Sebagai cewek mandiri, ia tentu bisa menolak permintaan Cakra untuk bla bla bla. Toh ia bisa langsung pergi dari Cafe, tanpa menghiraukan Cakra. Memesan Taxi Online untuk pulang ke rumah. Dan the end.
Tapi oh tapi, terkhusus malam ini. Ia sedang tak ingin menjadi cewek mandiri.
Ia sedang marah pada diri sendiri, juga seisi dunia.
Jadi, satu hal yang jelas sangat diinginkannya saat ini adalah : pergi kemanapun yang jauh sekalian. Asal bukan pulang ke rumah. Run all night.
Dan semua pemikiran ajaib teranehnya ini, menuntun dirinya untuk memakai jaket navy pemberian Cakra dengan benar, lalu mengancingnya.
Well, this is a very bad idea, but i like bad idea now.
"Masih gerimis," gumam Cakra sambil menengadahkan tangan ke atas. Membuat rintik hujan membasahi tangan lebar dan besar itu.
Hell, persetan dengan ukuran tangan berandal itu. Kenapa ia jadi sebodoh ini sih?
"Hujan-hujanan nggak apa-apa? Gua nggak bawa jas hujan soalnya."
Dengan gelisah ia menelan ludah. Sembari mencengkeram erat kantong kresek, yang berisi dress basah dan baju dalamnya. Lalu dengan leher tercekik berkata, "Gue nggak pulang."
"Hah?"
Ya ya ya, ia sudah tahu pasti. Cakra bukanlah golongan cowok cerdas yang auranya dipenuhi oleh energi positif seperti Dipa.
Oh, no Dipa again.
Tapi ia tak menyangka, kalau selain bo doh, Cakra juga kurang pendengaran.
"Gue nggak pulang! Antar ke mana pun. Asal bukan ke rumah!" ulangnya setengah membentak.
Namun Cakra justru tertawa. "Udah hampir jam sebelas malam lho ini."
"Tahu!"
"Ck!" Cakra mendecak. "Lo kalau patah hati, jangan kayak anak kecil begini dong."
"Siapa patah hati?!?" semburnya marah.
"Elo lah! Siapa lagi?!" Cakra tertawa sumbang.
Saat itu juga, ia ingin memaki sambil memukuli Cakra. Yang mulutnya tak memiliki filter apalagi empati. Namun pada kenyataannya, ia hanya bisa melotot marah.
"Ya udah, kalau lo nggak mau ngantar! Gue bisa pergi sendiri!" ujarnya sengit. Lalu melangkah lebar-lebar. Menembus rintik sisa hujan.
Tuh kan, benar perkiraannya. Kalau Cakra itu sejenis makhluk yang less emphaty.
Masa, sampai ia berjalan sejauh ini, Cakra tak menghiraukannya sama sekali.
Tak perlu muluk-muluk Cakra akan menyejajari langkah. Lalu membujuknya agar berubah pikiran. Seperti adegan yang wajib ada di film-film roman.
Minimal memanggil namanya untuk sekedar mencegah. Tapi ini tidak. Sama sekali. Dasar!
Tadi, ia sebenarnya sedikit penasaran akan reaksi Cakra. Begitu mengetahui dirinya nekat pergi.
Namun, ia tentu tak mau terjebak. Dalam permainan cowok, tentang hitung 1, 2, 3 then si cewek nengok. Karena berharap si cowok peka, lalu menyusul. Seperti yang dibicarakan oleh Koh Limbong dan Rangga, dalam salah satu adegan film AADC. Saat Rangga dan Cinta berada di Kwitang.
Tapi, kesombongannya justru berbuah sial. Karena kini, ia tak tahu sedang berjalan ke arah mana.
Apakah semakin mendekat ke rumahnya, atau justru menjauh. Hih! Mana jalanan lumayan gelap dan sepi lagi. Melewati deretan toko, warung, dan ruko yang sebagian besar telah tutup.
Haduh, kesialan macam apa lagi ini!
Ia pun terpaksa mengambil ponsel. Untuk mengecek location demi mengetahui posisi di mana ia berada.
Saat itulah, tanpa sadar, saking seriusnya mata melihat ke arah layar ponsel. Karena sinyal yang timbul tenggelam. Membuat proses pencarian location membutuhkan waktu yang lebih lama. Kakinya mulai melewati jalanan yang lebih terang dengan keramaian.
Rupanya, ia tengah melewati warung kopi yang cukup ramai. Oh, salah, sangat ramai malah. Karena motor para pengunjung sampai parkir memenuhi sisi bahu jalan.
Menghabiskan area untuk para pejalan kaki. Membuatnya terpaksa harus berjalan agak ke tengah agar bisa lewat. Untuk kemudian memilih menyeberangi jalan karena tak ingin menarik perhatian.
Namun pergerakannya sedikit terlambat. Karena kini, semua orang yang tengah duduk di bagian depan warung kopi, telah menyadari kehadirannya.
"Eh, Neng cantik mau ke mana?"
"Sendirian aja, Neng?"
"Suit! Suit!"
"Cetak! Cetak!"
"Abang antar ya, Neng?"
"Kok hujan-hujanan, Neng? Sini biar Abang antar."
Ia berusaha memasang wajah sedatar dan setakpeduli mungkin. Saat berjalan melewati puluhan cowok usia tanggung, yang sedang duduk bergerombol di bagian depan warung kopi sambil merokok.
Sembari salah satu tangannya memegang erat-erat kantong kresek, berisi baju basah miliknya. Sementara tangan yang lain, mencengkeram jaket navy dengan sedikit gemetar. Demi menyadari ia tak mengenakan apapun di dalamnya.
Saat ia sedang berusaha memacu langkah secepat mungkin, dua orang cowok berpenampilan paling menarik di antara mereka, tiba-tiba berdiri dan menghalangi jalannya.
"Eit! Eit! Mau kemana? Mampir sini dulu lah!"
"Kuantar ya, cantik? Rumahnya di mana?"
Dengan menahan kesal, ia masih tetap menutup mulut. Sambil berusaha meloloskan diri dari hadangan dua cowok tersebut.
Namun tanpa diduga, salah satu dari mereka mencekal tangannya. Membuat mulutnya hampir meneriakkan kalimat penuh kekesalan. Namun urung. Sebab, telinganya lebih dulu mendengar suara yang sepertinya tak asing.
"Ya ampun, kamu udah sampai sini, sayang?"
Dengan dada penuh amarah, ia menengok ke arah suara. Tepat di mana Cakra tiba-tiba telah berada di sana. Sedang duduk menaiki motor, yang menurutnya sangat butut.
"Eh, Cak, cewek lu?" tanya salah seorang dari puluhan cowok yang ada di sana.
Sementara, begitu melihat kemunculan Cakra. Cowok yang mencekal tangannya buru-buru melepaskan dengan gerakan tergesa. Untuk kemudian berjalan menjauh. Memasang tampang seolah tak pernah terjadi apapun.
"Iyalah. Baru tahu?" ujar Cakra sambil menyeringai.
Enak aja cewek lu pala lu peang! makinya dalam hati.
"Lu bukannya lagi jalan sama si Michelle?"
"Bukan. Udah ganti, sekarang sama Tania kan?"
"Kok Tania sih? Tania bukan ceweknya si Emon!"
"Yah, elu sih Cak, main cewek udah kayak ganti baju aja!"
Diikuti tawa serempak dari semua orang yang berada di sana. Kecuali dirinya tentu saja. Tawa paling menjijikkan yang baru kali ini didengarnya.
"Pulang yuk, Yang," ujar Cakra sambil memasang senyum manis ke arahnya. Cuih!
"Ngapa Cak, cewek mulus begini lu biarin keluyuran sendiri malem-malem?!"
"Diembat wewe gombel tahu rasa lu!"
"Wewe gombel yang pakai motor Ninja!"
"HAHAHAHAHAHA!!!!"
"Biasa lah, cewek kalau lagi ngambek kan begini," jawab Cakra tenang. Seolah mereka berdua benar-benar pasangan yang sedang bertengkar.
"Yuk pulang yuk," kali ini Cakra turun dari motor hanya untuk meraih tangannya.
"Lepas!" bentaknya sengit. Begitu Cakra menyentuh tangannya. "Gue bisa jalan sendiri!"
"Adoooohhh! Ngambek beneran bini lu Cak!"
"HAHAHAHA!!!"
"Mam pus lu Cak!"
APA? BINI?!?! Go to the hell!
Cakra hanya tersenyum miring. Seraya kembali berusaha meraih tangannya. Dan mengisyaratkan dengan kedua mata agar ia tak berulah lagi.
"Pulang," begitu isyarat dari bibir Cakra yang tak mengeluarkan suara.
Karena ia tak mau lebih lama berada di antara cowok-cowok paling gaje di depan warung kopi ini. Ia akhirnya -dengan terpaksa- bersedia menuruti perintah Cakra. Dengan mendudukkan diri di boncengan motor.
"Pakai helm dulu," ujar Cakra sembari mengangsurkan sebuah helm ke arahnya. Yang ia terima dengan gerakan kasar.
"Duluan bro!" begitu kata Cakra. Setelah memastikan ia memakai helm dengan benar. Untuk kemudian menstater motor.
"Yo ati-ati!"
"Pulang kemana nih?!"
"Malam masih panjang meeeen ...."
"Enjoy enjoy dulu laaaah ...."
"Mampir dulu Cak, puas-puasin!"
"HAHAHAHAHAHA!!"
Kalimat paling menjijikkan yang baru kali ini ia dengar, membuatnya memukul punggung Cakra sambil membentak, "Buruan jalan!"
Sekitar beberapa menit kemudian, ia baru sadar. Jika Cakra mengendarai motor hanya berputar-putar di daerah Mall Taman Anggrek dan sekitarnya. Tanpa tujuan berarti.
"Lo dari tadi kok muter-muter sih?!" sungutnya kesal.
"Tadi lo bilang mau pergi ke mana aja asal bukan pulang ke rumah."
"Ya tapi nggak muter-muter kayak gini. Pusing tahu!"
"Gua milih muter di sini karena jalannya enak, ramai, lampunya banyak. Kalau ke daerah sono noh," sambil tangan Cakra menunjuk ke sebelah barat dan utara.
"Gelap, sepi."
"Banyak yang lagi balap liar."
"Belum lagi yang pada nongkrong."
"Ntar salah-salah, kita kena ciduk polisi dikira anggota geng motor."
Ia hanya mendecih berlagak tak peduli. "Ya udah terserah elo!"
"Tapi ngomong-ngomong, gua cape nih. Belum tidur seharian," lanjut Cakra setengah berteriak di antara deru suara mesin motor.
"Besok ada kerjaan pagi lagi."
"Dih!" ia mendesis sebal. "Trus mau lo apa?!?!" nada suaranya masih saja menghentak-hentak. Bicara dengan cowok paling berandal di sekolah, memang harus begini. Tegas. Nggak boleh menye-menye.
"Gua antar pulang ya."
"Ogah!"
"Jangan keras kepala! Pasti orangtua lo lagi kelimpungan nyariin elo."
"Bukan urusan lo!" rutuknya kesal walau keseluruhan dirinya membenarkan ucapan Cakra. Papa dan Mama mungkin sekarang sedang menelepon Hanum, Bening, atau bahkan bertanya langsung pada Dipa.
Ah, Dipa. Mengingat nama itu lagi membuat hatinya kembali mengharu biru.
"Kalau lo nggak mau pulang ke rumah, biar gua antar ke rumah teman, gimana? Siapa aja teman lo?"
"Mikir dong!" ia kembali membentak. "Ini udah jam berapa. Masa mau bertamu ke rumah orang! Yang ada langsung diusir!"
"Terus ke mana?"
Namun ia tak langsung menjawab. Selain karena tak memiliki ide dan bingung hendak pergi ke mana. Ia juga kesal setengah mati. Karena ternyata mereka, ia dan Cakra, bisa bercakap-cakap dengan normal seperti layaknya orang pada umumnya.
Padahal selama hampir tiga tahun bersekolah di tempat yang sama, mereka tak pernah saling menyapa. Cukup sekedar tahu sama satu. Ya, ia tahu siapa Cakra. Dan Cakra juga pasti tahu siapa dirinya. Namun cukup sebatas itu, titik.
"Kok berhenti?!" salaknya ketika Cakra menghentikan motor di pinggir trotoar yang terdapat lampu jalan.
"Lo putusin sekarang, mau ke mana? Gua udah nggak sanggup keliling lagi. Cape."
Ia mendecak campur mengkerut. Untuk kemudian mengatakan hal paling mengerikan yang pernah ada yaitu, "Rumah lo aja deh."
"Hah?" Cakra terbelalak. Namun sedetik kemudian langsung terbahak.
"Lo ngetawain gue?!" salaknya semakin sebal. Yaiyalah Anja, lagian elo be go atau gila sih mau pulang ke rumah cowok berandal macam Cakra. Mikirrrr!!!
"Bisa digorok Mamak gua kalau bawa lo ke rumah tengah malam begini," desis Cakra sambil terus tergelak.
Membuat pipinya menghangat karena mengira itu adalah pujian.
"Penampilan lo sekarang udah mirip kayak cabe-cabean abis kecebur got. Ancur parah. Ntar Mak gua bisa jantungan lihat selera cewek gua menurun dras....ADOW!! Lo kok mukul kepala gua sih?!?!" Cakra melotot marah.
"Harusnya lebih dari dipukul!" geramnya tak kalah marah. "Nih!" ia kembali memukul kepala Cakra yang masih terlindung helm. "Masih mo lagi?!?"
"Haish!" dengan gerakan cepat Cakra menahan tangannya agar tak lagi memukuli kepala.
"Pusing woy! Gua masih pakai helm!"
"Lepas dulu kalau gitu!"
Cakra hanya mendengus kesal. Sementara ia langsung melepaskan diri dari cengkeraman tangan Cakra yang terasa cukup menyakitkan.
"Kasar banget sih jadi orang!" ia menggeram marah. Sembari memegangi pergelangan tangannya, yang kini terdapat bekas lingkaran berwarna merah. Akibat dari cengkeraman erat Cakra barusan.
"Woy! Nggak kebalik tuh!" Cakra mendesis sebal sambil melepas helm. Untuk kemudian mengibas-ngibaskan rambut yang setengah gondrong itu.
"Gua bisa aja sih ninggalin lo di sini," gumam Cakra sambil menyisir rambut menggunakan jari.
"Trus kenapa sekarang lo masih di sini?!" semburnya galak. "Lo pergi aja sono! Gue nggak peduli!"
Cakra mengembuskan napas dengan kasar dan cepat. Lalu berkata, "Atau lo pulang ke rumah saudara gimana? Om, tante, kakek, nenek? Ntar bilang aja kemalaman di jalan. Terus diantar sama Ojol. Beres."
"Emang lo mau nganter ke rumah Om gue?" cibirnya tak percaya.
"Gas lah. Di mana?" dengan cepat Cakra memakai helm kembali dan bersiap menstater motor.
"Rumahnya di Dago," jawabnya sambil mencibir penuh kemenangan.
"Bandung?!?" Cakra melotot.
"Atau mau yang lebih dekat juga ada," lanjutnya lagi sambil terus mencibir.
"Di mana?"
"Sentul."
"Eh, Maemunah!" maki Cakra sambil melepas helm yang baru saja dipakai dengan kesal. "Lo main-mainin gua?!?"
"Tadi bukannya lo nanya rumah Om sama Tante gue?" salaknya balas bertanya.
"Ya tapi bukan di Bandung sama Sentul Oneng!" Cakra memandangnya sebal. "Yang di Jakarta. Ja kar ta!"
Ia tertawa sumbang. Tawa pertamanya malam ini. Meski bukan tawa sungguhan. Lebih ke tawa kesedihan malah.
Aneh ya, sedih tapi masih bisa tertawa. Pasti sekarang emosinya sedang tidak stabil, hatinya terguncang, dan perasaannya terluka hingga bisa semaniak ini.
Beberapa menit kemudian, mereka sama-sama saling berdiam diri. Cakra menekuri layar ponsel dengan wajah mengantuk. Sementara ia lebih memilih untuk memperhatikan sekeliling.
Saat ini mereka tengah berdiri di kawasan yang lumayan padat. Terdiri dari deretan toko, warung, yang kesemuanya sudah tutup. Juga ada satu dua rumah tinggal. Dan ... hotel.
Hotel? Mendadak kepalanya dihiasi lampu pijar buatan Thomas Alva Edison karena mendapat ide cemerlang.
"Sekarang jam berapa?!" tanyanya ketus. Ia sedang tak memakai jam tangan dan malas untuk mengambil ponsel. Yang telah berulangkali dimatidayakan lalu dinyalakan lagi sejak berada di cafe sampai ia berjalan kaki tadi. Dan kini tersimpan rapi di dalam sling bag yang juga basah.
"Setengah satu," jawab Cakra dengan nada malas.
"Antar gue ke hotel."
udah aku wakilin tuh Ja 🤭🤭