NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Bayangan di Tepi Sungai

Langit di atas kota mulai berubah warna. Semburat jingga kemerahan yang tadi mendominasi cakrawala kini perlahan memudar, digantikan oleh warna ungu pekat yang menandakan malam akan segera mengambil alih tahta.

Lampu-lampu jalan mulai berkedip hidup satu per satu, menciptakan lorong cahaya temaram di sepanjang trotoar beton yang retak.

Lunaris berjalan dalam diam, langkahnya terseret-seret karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa. Di sampingnya, Sirius berjalan dengan gaya yang sangat kontras—tegak, santai, dan penuh percaya diri, seolah-olah trotoar berdebu ini adalah karpet merah kerajaan.

Mereka berbelok ke sebuah gang di pinggiran kota, area yang jauh dari kemewahan pusat kota. Di sini, rumah-rumah berhimpitan, cat tembok mengelupas, dan selokan terbuka mengalirkan air keruh.

Langkah Lunaris akhirnya berhenti di depan sebuah pagar besi tua yang sudah berkarat parah. Di balik pagar itu, berdiri sebuah rumah mungil dengan dinding batako yang belum diplester sepenuhnya dan atap seng yang sudah berlumut di beberapa bagian.

"Kita sampai," Gumam Lunaris pelan, tangannya merogoh ke dalam tas ranselnya untuk mencari kunci pagar.

Namun, tidak ada pergerakan dari sebelahnya.

Lunaris menoleh. Ia mendapati Sirius berdiri mematung berjarak beberapa langkah dibelakang Lunaris. Mata perak pemuda itu membelalak lebar, menatap bangunan rumah Lunaris dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan —campuran antara jijik, kaget, dan ketidakpercayaan yang mendalam.

Sirius memindai bangunan itu dari bawah ke atas. Ia melihat jendela kayu yang catnya sudah habis dimakan rayap, teras kecil yang ubinnya pecah-pecah, dan satu pot tanaman mati yang tergeletak menyedihkan di sudut.

"Ini..." Sirius akhirnya membuka suara, nadanya terdengar seperti seseorang yang baru saja diminta memakan tanah. "Kau bercanda, kan?"

Lunaris mengernyit, tangannya berhenti memutar kunci gembok. "Apanya yang bercanda?"

Sirius menunjuk rumah itu dengan telunjuknya yang lentik, seolah menunjuk kotoran menjijikkan. "Benda ini... tumpukan bata yang hampir roboh ini... kau sebut rumah? Kau benar-benar tinggal di sini?"

"Iya, emang kenapa?" Tantang Lunaris, mulai tersinggung.

Sirius tertawa pendek, tawa yang penuh hinaan. "Demi Langit dan Bumi, bahkan kandang kuda di istanaku dulu jauh lebih layak huni daripada tempat ini. Budak paling rendah di zamanku pun tidak akan sudi tidur di tempat yang atapnya terlihat bisa terbang jika ditiup angin sedikit saja. Ini bukan rumah, ini lubang tikus."

Darah Lunaris mendidih seketika.

Rasa lelah yang tadi mendominasi tubuhnya mendadak hilang, digantikan oleh gelombang amarah yang panas. Rumah ini memang kecil. Rumah ini memang jelek. Rumah ini memang reyot. Tapi rumah ini adalah satu-satunya peninggalan ibunya. Di sinilah ibunya merawat dan membesarkan Lunaris. Di sinilah mereka berbagi tawa dan tangis di meja makan kecil yang kakinya sudah goyang. Setiap retakan di dinding rumah ini menyimpan memori tentang ibunya.

Dan orang asing ini—monster arogan yang tidak jelas ini—berani menghinanya begitu saja?

"Jaga mulut lo ya!" Sentak Lunaris keras, membuat Sirius sedikit terkejut dan menghentikan tawanya.

Lunaris berbalik badan sepenuhnya menghadap Sirius, matanya menyalang tajam. "Lo boleh hina gue, lo boleh hina penampilan gue, tapi gue peringatkan jangan pernah hina rumah gue! Ini rumah peninggalan ibu gue! Ibu gue kerja mati-matian buat beli tempat ini supaya gue gak kehujanan!"

Dada Lunaris naik turun menahan emosi. Ia menunjuk wajah tampan Sirius dengan jari gemetar. "Gue gak pernah minta lo buat ikut ke sini, kan? Lo sendiri yang seenaknya mau ikut gue balik! Lo yang bilang soal kontrak jiwa sialan itu yang bikin kita harus barengan! Jadi kalau lo ngerasa tempat ini gak level sama standar lo yang setinggi langit itu, mending lo pergi aja! Enyah sana! Tidur di hutan atau balik ke kuil busuk lo itu!"

Lunaris terdiam sejenak untuk mengabil nafas, "Bahkan mungkin istana lo aja sekarang paling juga udah jadi setumpuk batu."

Sirius terdiam. Matanya mengerjap sekali, dua kali.

Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun eksistensinya, ia dibuat bungkam.

Seumur hidupnya, baik saat ia masih menjadi penguasa kegelapan yang ditakuti maupun saat menjadi legenda, tidak ada satu pun manusia yang berani menatap matanya dengan nyalang.

Manusia selalu menunduk, gemetar, memohon ampun, atau lari ketakutan. Bahkan para raja vampir yang licik dan lycan yang bengis, ataupun penyihir hebat di masa lalu pun berbicara padanya dengan nada hormat yang penuh ketakutan.

Tapi gadis kecil ini... gadis manusia yang lemah, rapuh, dan miskin ini... baru saja mengusirnya? Membentaknya?

Bukannya marah, sudut bibir Sirius justru perlahan terangkat membentuk senyum miring yang aneh. Rasa takjub merayapi benaknya.

Menarik, batin Sirius. Sangat menarik. Dia masih punya nyali yang lebih besar daripada tubuh kecilnya.

"Kau mengusirku?" tanya Sirius pelan, suaranya rendah namun berbahaya. "Kau lupa siapa aku?"

"Gue gak peduli lo siapa! Mau setan atau iblis sekalipun, gue gak peduli!" potong Lunaris, membalikkan badan dan membuka gembok pagar dengan kasar hingga berbunyi klak nyaring. "Masuk kalau mau masuk, pergi kalau mau pergi. Gue capek."

Lunaris mendorong pagar besi yang berdecit menyakitkan telinga, lalu berjalan masuk ke halaman tanpa menoleh lagi. Ia membuka pintu kayu rumahnya, menyalakan lampu ruang tamu yang suram, dan membanting pintu—namun pintu itu ditahan oleh sebuah tangan pucat yang kuat sebelum sempat tertutup rapat.

Sirius sudah berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih menyiratkan keangkuhan, tapi ia melangkah masuk juga.

"Baiklah," Gumam Sirius sambil mengedarkan pandangan ke seluruh isi ruang tamu yang sempit dan berbau lembab. "Karena kontrak itu mutlak, aku terpaksa menoleransi kandang ini."

Lunaris hanya memutar bola matanya malas, terlalu lelah untuk berdebat lagi. Ia membiarkan monster itu menggerutu sendiri tentang debu tipis di meja, sementara dirinya berjalan gontai menuju kamarnya untuk menghempaskan tubuh yang rasanya mau remuk.

Tapi sebelum benar-benar masuk kamar suara Sirius terlebih dahulu menghentikan langkah Lunaris.

"Tunggu sebentar, lalu dimana aku tidur?"

Lunaris membalikkan badannya, alisnya mengerut. "Setahuku bukannya makhluk kaya lo gak perlu tidur ya?"

"Sebagian dalam diriku tetap makhluk hidup yang butuh istirahat."

"Yaudah, tidur di sofa itu kan bisa."

Sirius menoleh dan melihat sofa usang yang masih cukup empuk, tapi sialnya sofa itu cukup berdebu.

"Kau becanda? Seperti ini kah kau memperlakukan tamu? Kau menyuruhku tidur di sofa berdebu ini?"

"Tinggal dibersihin kalo gitu. Repot banget sih ah. Udah ah gue ngantuk!"

Kemudian Lunaris pun masuk ke dalam kamarnya dan meninggalka Sirius yang kembali menggerutu.

Malam itu, di rumah kecil yang reyot di pinggir kota, seorang gadis manusia dan sesosok iblis kuno memulai kehidupan atap yang sama dengan awal yang sangat buruk.

Sirius benar-benar dibuat risih dengan debu-debu tipis yang menempel di sofa dan meja.

"Kenapa tempat ini tidak lebih bersih mansion milikku," Ucap Sirius sembari tangannya mencoba mengelap membersihkan sofa dengan kain lap bersih yang entah pemuda itu dapatkan. "Lihat saja gadis itu, akan kubalas nanti. Bisa-bisanya dia membuatku harus berususah payah seperti ini."

Sedangkan di luar rumah terdengar suara burung gagak yang berterbangan sambil mengeluarkan suara bersahutan yang nyaring.

"Aish! Kenapa pula di luar sangat berisik?!" Malam itu Sirius habiskan dengan mengomel dan menggerutu.

Sementara itu, jam dinding terus berputar. Waktu bergulir tanpa ampun, meninggalkan sisa-sisa aktivitas manusia dan menyisakan kesunyian yang mencekam.

Jarum jam menunjukkan pukul 23.15 malam.

Di sisi lain kota, jauh dari pemukiman padat tempat tinggal Lunaris, area yang cukup sepi dan minim penerangan. Jalan setapak di pinggiran Sungai Khanzaz, sungai besar yang mengalir membelah pusat kota.

Sungai itu besar, airnya hitam pekat memantulkan cahaya bulan yang timbul tenggelam di balik awan mendung.

Di sepanjang bantaran sungai, pohon-pohon besar tumbuh rindang, cabang-cabangnya menjuntai seperti tangan-tangan hantu yang ingin meraih siapa pun yang lewat di bawahnya.

Seorang wanita paruh baya, bernama Maria, sedang berjalan tergesa-gesa menyusuri jalan setapak itu. Ia mengenakan seragam pabrik yang ditutupi jaket tipis, tas kerjanya didekap erat di dada.

Wajah Maria pucat dan berkeringat dingin, meski udara malam itu menusuk tulang. Matanya terus bergerak gelisah, melirik ke kiri dan ke kanan, waspada terhadap setiap pergerakan bayangan pohon yang tertiup angin.

Seharusnya ia tidak lewat sini. Ia tahu itu.

Dalam beberapa bulan ini sering ditemukan mayat di pinggir sungai ini. Yang paling anyar adalah empat hari yang lalu, berita lokal gempar dengan penemuan mayat seorang wanita di tepi sungai ini. Lalu dihari selanjutnya, mayat lain juga ditemukan dengan kondisi serupa —kehabisan darah— juga ditempat yang sama persis.

Polisi belum menemukan pelakunya. Isu tentang perampokan, pembunuh berantai atau binatang buas yang lepas menyebar cepat di kalangan pekerja pabrik.

Walaupun sudah dua hari ini tidak ada lagi penemuan mayat, tetap saja Maria tidak bisa menurunkan kewaspadaan dan rasa takutnya jika berjalan seorang diri di malam hari seperti ini.

Tapi malam ini, angkutan umum yang biasa ia tumpangi mogok, dan ia harus segera pulang karena anaknya sakit di rumah. Jalan pintas lewat pinggir Sungai Khanzaz adalah satu-satunya cara untuk memangkas waktu satu jam berjalan kaki.

"Tuhan, lindungi aku..." bisik Maria, langkah kakinya beradu cepat dengan detak jantungnya sendiri. Tap. Tap. Tap.

Suasana di sekitar sungai itu aneh. Terlalu sepi. Biasanya masih ada suara jangkrik atau kodok, tapi malam ini hening total. Bahkan suara aliran air sungai terdengar seperti bisikan orang-orang mati.

Tiba-tiba...

Keresek.

Suara langkah kaki lain.

Maria berhenti mendadak. Tubuhnya kaku.

Suara itu berasal dari belakangnya. Bukan suara hewan, tapi jelas suara sepatu yang menginjak dedaunan kering.

Perlahan, dengan leher yang kaku karena ketakutan, Maria menoleh ke belakang.

Kosong.

Hanya jalan setapak gelap yang diterangi satu lampu jalan yang berkedip-kedip mau mati lima puluh meter di belakang sana. Tidak ada siapa-siapa.

"Hanya angin... cuma angin, Maria. Jangan paranoid seperti ini," sugestinya pada diri sendiri, meski bulu kuduk di tengkuknya sudah berdiri tegak.

Ia kembali berjalan, kali ini lebih cepat. Setengah berlari.

Tap... Tap... Tap...

Suara itu lagi. Dan kali ini, temponya lebih cepat, mengikuti irama langkah kaki Maria. Seseorang sedang mengikutinya. Seseorang sedang menikmati ketakutannya.

Kepanikan meledak di dada Maria. Ia tidak berani menoleh lagi. Insting bertahan hidupnya mengambil alih. Ia berlari sekuat tenaga, napasnya memburu, uap putih keluar dari mulutnya di udara dingin.

Air mata ketakutan mulai mengalir. Ia hanya ingin pulang. Ia ingin bertemu anaknya.

"Tolong! Siapa saja!" jeritnya dalam hati, karena suaranya tercekat di tenggorokan.

Langkahnya semakin cepat, matanya terfokus pada ujung jalan setapak yang mengarah ke jalan raya yang lebih terang. Sedikit lagi. Seratus meter lagi.

Namun, harapan itu pupus dalam sekejap.

Saat ia berbelok di tikungan tajam dekat sebuah pohon beringin tua, tiba-tiba sesosok bayangan tinggi muncul entah dari mana, tepat di hadapannya.

BRUK!

Ibu Maria menabrak tubuh itu dengan keras. Tubuh yang ditabraknya tidak bergeming sedikit pun, kokoh dan keras seperti dinding batu, membuat Ibu Maria terpental jatuh ke tanah berumput.

"Aduh..." rintihnya, tas kerjanya terlempar.

Dengan gemetar, Maria mendongak, bersiap untuk meminta maaf atau meminta tolong, berharap yang ia tabrak adalah polisi yang sedang berpatroli atau warga lokal.

"Maaf... tolong saya, ada yang mengi—"

Kalimatnya terputus. Oksigen di paru-parunya seolah disedot habis saat ia melihat siapa yang berdiri menjulang di atasnya.

Seorang pemuda.

Pemuda itu mengenakan pakaian serba hitam yang casual dan rapi, jaket hitam dan celana jeans yang juga berwarna hitam. Kulitnya pucat seperti mayat yang sudah dikuras darahnya. Wajahnya tampan, sangat tampan, tapi ketampanan itu dirusak oleh ekspresi yang terpampang di sana.

Mata pemuda itu berkilat merah menyala, bersinar di kegelapan malam seperti dua bara api neraka. Dan saat pemuda itu tersenyum... Maria menjerit histeris.

"AAAAAARGHHH!"

Senyum itu bukan senyum manusia, ketika sudut bibirnya terangkat membentuk senyum dua taring panjang yang runcing dan berkilat di bawah cahaya bulan, mencuat keluar dari sela bibirnya, siap untuk merobek daging.

Suara jeritan Maria menggema di kesunyian sungai, namun segera tenggelam oleh suara angin. Tidak ada rumah di dekat sana. Tidak ada yang mendengarnya.

Pemuda itu —vampir itu— terkekeh pelan. Suaranya serak dan berat, seperti gesekan batu nisan. Ia menunduk, menatap Maria yang merangkak mundur dengan kaki gemetar, mencoba menjauh meski sia-sia.

"Tolong... jangan... saya punya anak..." isak Ibu Maria, air matanya membanjiri wajah. "Ambil uang saya... ambil tas saya... tolong lepaskan saya..."

Pemuda itu memiringkan kepalanya, seolah menikmati aroma ketakutan yang menguar deras dari tubuh wanita itu. Ia melangkah maju perlahan, menikmati perburuan ini.

"Uang?" tanyanya, nada suaranya penuh ejekan. "Aku tidak butuh kertas tidak berguna itu, Nyonya."

Ia berjongkok di depan Maria, mencengkeram pergelangan kaki wanita itu dengan satu tangan yang kekuatannya setara besi, lalu menariknya mendekat dengan mudah.

"Sayang sekali..." bisik pemuda itu, mendekatkan wajah mengerikannya ke leher Ibu Maria yang terekspos. Hawa dingin yang mematikan menerpa kulit leher wanita itu.

"Hari ini adalah hari yang sangat sial untukmu. Kau memilih jalan yang salah di malam yang salah."

Maria memejamkan matanya rapat-rapat, doa terakhir terucap di bibirnya.

"Kau akan menjadi makan malamku yang lezat sekarang," lanjut pemuda itu sambil membuka mulutnya lebar-lebar, memamerkan taringnya yang siap menghujam. "Darahmu... baunya sangat manis karena ketakutanmu."

Tanpa membuang waktu lagi, pemuda itu menerjang.

Gigi taringnya menancap dalam ke leher Ibu Maria.

Cipratan darah segar menodai rumput dan jaket wanita itu. Suara erangan tertahan dan bunyi gluk gluk yang mengerikan—suara darah yang disedot dengan rakus—mengisi keheningan malam di tepi Sungai Khanzaz.

Satu lagi nyawa melayang di kota ini, menjadi korban dari kegelapan yang semakin merajalela, sementara sang predator menikmati pestanya di bawah sinar rembulan yang pucat.

1
Yani Sri
lanjut sebanyak-banyaknya kakak
Lucient Night: okayyy
total 1 replies
Draggnel
perasaan prolognya udah saya baca dan komen. kok hilang? apa error ya nt? btw ayo kita saling support. mampir juga di novel saya kalau berkenan 🤝
Draggnel: oh saya kira hilang atau error. sip, sama2. nanti saya baca lagi
total 2 replies
Draggnel
pas baca episode ini langsung berasa banget feelnya, beda sama prolognya.

lunaris ini tipe keras, bagus lah cewek2 begini untuk karakter fantasy. saya kasiab sama ibunya lunaris yg mungkin terlalu lembut. aaron itu kayak gimana ya? penasaran juga
Yani Sri
yg like sangat sedikit kak, padahal cerita sebagus ini

berharap, sekali update itu langsung 3 atau 4 bab gt lho
Lucient Night: hehe iya nih, makasih udah mampir 🤗
total 1 replies
Yani Sri
5 bunga bermekaran untukmu, kak
Yani Sri
😍💪💪💪
Yani Sri
bab ini terasa lebih panjang dari sebelum2nya....

walau sebagian tentang kilas balik...

segera lanjut kakak, kalau perlu langsung 5 bab🤭🤭🤭
Yani Sri
lanjut kakak,,,
Yani Sri
wow
Yani Sri
lanjut kak, aq kasih kopi untuk semangat
Yani Sri
boom like ya kak
Lucient Night: makasih 🥹🥹
total 1 replies
Yani Sri
setelah sekian lama tidak buka novel Toon, alhamdulillah nemu cerita sebagus ini, segera lanjut, ya Kak... bagus ceritanya...
Yani Sri
kapan lanjut?
Lucient Night: aku lanjut hari ini kok
total 1 replies
Yani Sri
cerita sebagus ini, kenapa like sedikit sih?
Jerryaw
mampir ketempat aku juga kk
Lucient Night: okayy, makasih udh mampir kak
total 1 replies
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!