Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Rahasia Yang Tersingkap Dan Penyesalan Daviko
Seminggu telah berlalu sejak Kaffara meninggalkan rumah sakit. Kediaman Daviko kini benar-benar kembali hidup. Namun, kedamaian itu seolah terusik ketika sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang.
Bu Ratna dan Tari kembali datang. Alibi mereka sangat klise, menjenguk Kaffara yang sedang masa pemulihan. Namun, sorot mata mereka tidak bisa berbohong. Ada bara kebencian yang masih menyala setiap kali melihat sosok Saliha melintas di depan mereka.
Saliha sendiri tidak terlalu peduli. Baginya, Bu Ratna dan Tari hanyalah bagian dari masa lalu pahit yang harus ia lalui. Ia tetap bersikap sopan, namun sangat dingin. Jika berpapasan, Saliha hanya akan sedikit mengangguk atau menepi memberikan jalan tanpa sepatah kata pun.
Gestur tubuhnya sangat menjaga jarak, menunjukkan bahwa ia tidak ingin terlibat dalam drama apa pun.
Sikap dingin Saliha ini justru membuat Bu Ratna semakin muak.
"Lihat itu, Tari," bisik Bu Ratna saat mereka duduk di ruang tamu. "Gaya bicaranya yang sok suci dan formal itu benar-benar membuatku mual. Dia pikir dia itu siapa di rumah ini?"
Tari mendengus pelan, tangannya sibuk memoles kuku namun matanya melirik tajam ke arah dapur tempat Saliha sedang menyiapkan botol bayi. "Sabar, Ma. Ada hal yang lebih besar yang harus kita urus. Apalagi setelah apa yang kita dengar di taman rumah sakit tempo hari."
Ingatan mereka kembali pada kejadian tiga hari yang lalu di taman Rumah Sakit Anak. Saat itu, Bu Ratna dan Tari sedang berjalan menuju kantin. Namun langkah mereka terhenti ketika mendengar percakapan serius di balik rimbunnya tanaman taman rumah sakit, antara Papa Arkaffa dan Mama Davira.
"Papa masih sering merasa bersalah pada Saliha," suara Papa Arkaffa terdengar berat saat itu.
Mama Davira menatap suaminya lembut tapi menyimpan rasa penasaran.
"Mengingat dia adalah wanita yang hampir dinikahi Daviko dulu. Tapi saat ini, justru Daviko begitu membencinya. Padahal kita saat ini membutuhkannya untuk Kaffara.".
Mama Davira menghela napas panjang. Ia cukup paham atas apa yang diucapkan suaminya. Saliha memang mantan kekasih Daviko sebelum akhirnya Daviko menikahi Amara.
"Sama, Pa. Tapi takdir berkata lain. Sekarang, melihat Saliha kembali dan merawat Kaffara, rasanya seperti diberi kesempatan kedua untuk menebus dosa masa lalu."
Percakapan singkat itu seperti ledakan bom di telinga Bu Ratna dan Tari. Mereka kini tahu alasan kuat di balik perlindungan berlebihan Mama Davira kepada Saliha. Ternyata, Saliha bukan sekadar ibu susu yang melamar kerja secara kebetulan, tidak hanya itu merupakan mantan kekasih Daviko yang hampir menjadi menantu di keluarga itu.
Itulah alasan mengapa Bu Ratna merasa Saliha adalah ancaman nyata bagi masa depan Tari yang ingin menggantikan posisi Amara.
"Ma, kita tidak boleh membiarkan Daviko kembali pada Saliha," bisik Tari penuh ambisi. "Daviko harus bersamaku. Hanya aku yang pantas menggantikan Mbak Amara, bukan wanita desa yang pernah menyakiti hatinya itu."
Bu Ratna mengangguk yakin. "Tentu, Sayang. Mama akan pastikan Daviko melihat bahwa Saliha itu hanya benalu."
Mereka mulai melancarkan rencana. Tari semakin gencar mencari perhatian Daviko. Setiap kali Daviko pulang kerja, Tari akan menjadi orang pertama yang menyambutnya di depan pintu, membawakan tasnya, atau menyajikan kopi kesukaan Daviko dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin.
"Mas Daviko pasti lelah habis pulang kerja? Ini...Tari buatkan kopi tanpa gula, persis seperti yang Mas suka," ujar Tari dengan suara yang dilembut-lembutkan saat Daviko baru saja melepas sepatunya.
Daviko hanya menanggapi dengan anggukan singkat. "Terima kasih, Tari. Taruh saja di meja. Aku mau lihat Kaffara dulu."
Daviko langsung menuju kamar bayi, mengabaikan Tari yang berdiri dengan wajah kaku karena merasa diabaikan.
Bagi Daviko, Tari tidak lebih dari sekadar adik ipar, kerabat mendiang istrinya. Sama sekali tidak ada getaran cinta, apalagi pikiran untuk menjadikannya pengganti Amara. Pikiran Daviko saat ini hanya terpusat pada dua hal, kesehatan Kaffara dan bagaimana caranya mencairkan kebekuan Saliha.
Sore itu, Daviko melihat Saliha sedang duduk di teras belakang sembari menggendong Kaffara yang sudah tertidur. Sinar matahari senja menyapu wajah Saliha, membuatnya tampak begitu tenang namun menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Daviko melangkah mendekat, mencoba sesantai mungkin agar tidak membuat Saliha merasa terancam.
"Kaffara sudah tidur?" tanya Daviko pelan.
Saliha tersentak, lalu segera bangkit dan menunduk. "Sudah, Pak. Baru saja lelap."
"Duduklah, Saliha. Jangan kaku begitu," bujuk Daviko sembari duduk di kursi kayu yang ada di sana.
Saliha terpaksa duduk kembali. Namun ia mengambil posisi paling ujung, menjaga jarak sekitar satu meter.
Daviko menghela napas melihat jarak itu. "Kondisi Kaffara sudah jauh lebih baik. Kamu benar-benar menjaganya dengan luar biasa. Sekali lagi, terima kasih."
"Sama-sama, Pak. Itu sudah menjadi tugas saya sebagai pengasuh dan ibu susu," jawab Saliha singkat tanpa menatap Daviko.
"Saliha, kalau boleh aku meminta, bisakah sikap kamu tidak terlalu kaku seperti ini?" pinta Daviko menatap wajah Saliha dari samping.
"Bukankah aku sudah meminta maaf atas sikapku dulu? Dan...mengenai sumpah itu, aku... aku sudah memaafkannya. Aku saat itu ego dan merasa pengkhiatan kamu di masa lalu terlalu menyakitkan untuk dikenang. Dan... sekarang, setelah melihatmu begitu tulus terhadap Kaffara, semua sumpah itu aku tarik. Kamu berhak bahagia," lanjut Daviko panjang lebar.
Saliha menarik napas panjang, matanya lurus menatap taman. Ada rasa lega sekaligus haru. Lega karena Daviko sudah menarik sumpahnya. Saliha juga terharu, karena kalimat yang diucapkan Daviko, terdengar tulus.
"Sa~saya senang mendengar Pak Viko sudah memaafkan saya. Juga... menarik kembali sumpah itu. Saya rasa itu suatu anugerah paling besar untuk saya. Sekali lagi terimakasih. Tapi...."
"Tapi kenapa?"
"... tentang sikap saya. Saya hanya menempatkan di mana saya berada. Saya hanya pengasuh dan Bapak majikan saya. Saya, tidak mau melampaui batasannya saya," tegas Saliha kukuh.
"Pak Viko melakukan itu, memaafkan kesalahan saya di masa lalu dan menarik sumpah itu, murni tulus dari hati atau hanya karena saya sudah kembali di saat Kaffara hampir...."
"Stop Saliha! Kalau kamu berpikir seperti itu, silahkan itu hakmu. Tapi, lebih dari itu...aku memang menyesal telah menyumpahimu dan mengaitkan keadaan kamu yang seperti ini dengan sumpahku empat tahun lalu. Aku benar-benar menyesal," potong Daviko penuh penekanan.
"Baiklah, Pak. Saya percaya dengan ucapan Bapak. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Tapi, mengenai sikap saya yang sudah disinggung Bapak di depan, saya tekankan... saya hanya menjaga batasan, bahwa saya tetaplah pengasuh dan Pak Viko atasan saya."
Sudut mata Saliha mulai berkaca-kaca, lalu dia segera bangkit dan berpamitan tanpa menunggu Daviko kembali bicara.
Daviko menatap kepergian Saliha dengan kecewa. Ia merasa Saliha sudah berubah.
"Sepertinya kamu memang merasa sakit hati atas sikapku yang kasar itu. Padahal, aku benar-benar menyesal."
semangat ya😚