Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Iren langsung meraih tasnya begitu panggilan dengan Riana berakhir. Kursinya terdorong ke belakang ketika ia berdiri terlalu cepat, sementara pikirannya masih dipenuhi kalimat terakhir yang ia dengar. Kevin dan Vano sedang balapan, dan menurut orang-orang di sana semua itu terjadi karena seorang wanita.
Bibir Iren perlahan melengkung membentuk senyum tipis.
“Akhirnya…” gumamnya pelan.
Ia tidak perlu menebak terlalu jauh. Di dunia Kevin dan Vano, tidak banyak wanita yang cukup penting untuk membuat keduanya saling menantang. Dan Iren sangat tahu di mana posisinya selama ini.
“Ternyata kamu memang belum bisa melepaskanku, Kevin,” bisiknya pada dirinya sendiri.
Tanpa membuang waktu lagi, ia meraih tasnya dan keluar dari ruang kerja. Langkahnya cepat menyusuri lorong perusahaan yang sudah mulai sepi. Beberapa karyawan yang masih lembur sempat menoleh heran melihatnya hampir berlari menuju lift, tetapi Iren tidak memedulikan mereka sedikit pun.
Pikirannya hanya dipenuhi satu hal, Kevin.
Beberapa menit kemudian mobilnya sudah melaju di jalanan malam. Lampu-lampu kota berderet panjang di sepanjang jalan, tetapi perhatian Iren sama sekali tidak tertuju pada itu. Ia justru merasa sedikit geli memikirkan betapa dramatisnya Kevin jika benar lelaki itu sampai balapan hanya karena dirinya.
“Masih keras kepala seperti dulu,” gumamnya pelan.
Ia bahkan tidak merasa marah. Sebaliknya, ada rasa puas yang sulit disembunyikan. Di dalam pikirannya, semua ini justru membuktikan sesuatu yang sudah lama ia yakini. Kevin tidak pernah benar-benar bisa melupakannya.
Mobilnya terus melaju hingga akhirnya memasuki kawasan jalan yang sering digunakan untuk balapan liar. Dari kejauhan ia sudah melihat kerumunan orang berdiri di pinggir jalan. Suara obrolan dan tawa bercampur dengan sisa deru mesin mobil yang masih menggantung di udara malam.
Iren menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu turun dengan langkah tergesa. Matanya langsung menyapu kerumunan, mencari sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
Ia mendorong pelan orang-orang di depannya.
“Permisi… sebentar.”
Seorang pria yang berdiri di dekatnya menoleh ketika melihat ekspresi tergesa di wajah Iren.
“Kamu telat,” katanya santai.
Iren menatapnya cepat. “Maksudmu?”
“Balapannya sudah selesai.”
Alis Iren langsung berkerut. “Selesai?”
Pria itu mengangguk sambil menunjuk ke arah jalan yang lebih depan. “Mereka berhenti di sana.”
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Iren segera berjalan ke arah yang ditunjuk. Semakin ia mendekat, semakin jelas dua mobil yang terparkir di pinggir jalan dengan beberapa orang masih mengelilinginya. Dan di antara kerumunan itu akhirnya ia melihat sosok yang sejak tadi ia cari, Kevin.
Langkah Iren otomatis melambat. Dadanya berdebar keras ketika melihat lelaki itu berdiri tidak jauh dari mobilnya bersama Vano. Untuk beberapa detik ia hanya berdiri di tempat, memperhatikan Kevin dari kejauhan.
“Kevin…” gumamnya pelan.
Kenangan masa lalu sempat melintas di kepalanya. Ia masih ingat bagaimana dulu dirinya pernah dijadikan bahan taruhan di antara Kevin dan Vano. Hal itu memang sempat melukai harga dirinya, tetapi jauh di dalam hatinya Iren selalu tahu satu hal.
Ia bukan wanita yang mudah dilupakan. Apalagi oleh Kevin. Keyakinan itu membuat langkahnya kembali mantap. Iren menarik napas panjang lalu berjalan mendekat.
“Kevin!” panggilnya.
Suara itu cukup keras membuat beberapa orang menoleh. Kevin yang sedang berdiri berhadapan dengan Vano ikut memalingkan kepala. Namun begitu matanya bertemu dengan Iren yang berdiri beberapa langkah dari sana, ekspresinya langsung berubah dingin.
Seolah kehadiran wanita itu sama sekali tidak berarti. Bagi orang lain mungkin sikap itu terlihat seperti penolakan. Tetapi bagi Iren, justru sebaliknya. Ia mengenal Kevin terlalu baik.
Sikap dingin itu tidak lebih dari gengsi seorang pria yang terlalu keras kepala untuk mengakui perasaannya. Senyum tipis muncul di wajah Iren ketika ia melangkah semakin dekat.
“Jadi benar,” ucapnya sambil menatap Kevin lekat-lekat. “Kalian benar-benar balapan.”
Vano melirik Kevin sekilas sebelum tertawa kecil. “Kamu datang juga rupanya,” katanya santai. “Cepat sekali dapat kabarnya.”
Iren tidak menoleh ke arahnya. Tatapannya tetap tertuju pada Kevin.
“Aku sudah dengar semuanya,” lanjutnya dengan suara lebih pelan namun jelas. “Kalian balapan karena seorang wanita.”
Kerumunan di sekitar mereka mulai saling bertukar pandang.
Iren mengangkat dagunya sedikit. “Dan katanya wanita itu aku.”
Vano kembali terkekeh pelan, jelas menikmati situasi itu. Namun Kevin tetap diam dengan wajah datar.
Diamnya Kevin justru membuat keyakinan Iren semakin kuat. Iren melangkah satu langkah lagi mendekat.
“Kevin,” panggilnya lembut, nadanya berubah lebih personal. “Kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini hanya untuk membuktikan sesuatu.”
Kevin akhirnya menatapnya dengan lebih tajam. “Apa maksudmu?”
Iren tersenyum seolah pertanyaan itu sangat mudah dijawab.
“Kamu masih sama seperti dulu,” katanya. “Tidak pernah mau mengatakan apa yang sebenarnya kamu rasakan.”
Beberapa orang di belakang mereka mulai berbisik pelan.
Iren melanjutkan tanpa ragu sedikit pun. “Kalau kamu masih marah karena masa lalu, aku bisa mengerti. Tapi balapan seperti ini hanya karena aku… itu terlalu berlebihan, Kevin.”
Vano mengangkat alis sambil melirik Kevin.
“Iren,” gumamnya pelan. “Kamu sadar apa yang ingin kamu katakan?”
Namun Iren sama sekali tidak memperhatikan reaksinya. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada Kevin.
“Aku tahu kamu masih memikirkanku,” lanjutnya dengan nada yakin. “Kalau tidak, kamu tidak mungkin sampai sejauh ini. Kalau kamu menginginkan aku kita bisa langsung rujuk.”
Kevin terdiam beberapa detik. Angin malam berembus pelan melewati mereka, membuat suasana di sekitar terasa semakin sunyi.
Bagi Iren, keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban. Senyumnya semakin lebar.
“Aku juga tidak pernah benar-benar melupakanmu, Kevin,” katanya pelan. “Jadi kalau ini caramu menunjukkan bahwa kamu masih menginginkanku kembali…”
Ia berhenti sejenak, menatap Kevin dengan penuh keyakinan.
“Kamu tidak perlu melakukan semua ini.”
Kevin akhirnya benar-benar tertawa kecil. Ia menepuk pundak Vano.
“Vano,” katanya sambil menepuk bahu lelaki itu. “Aku serahkan dia padamu, lakukan dengan baik jika kamu mau mendapatkan apa yang kamu mau.”
Mendengar kalimat itu, Iren melirik Kevin dan Vano secara bergantian lalu bertanya dengan nada penasaran, "Apa maksudnya?"