Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7
Jeffrey segera berlari. Dengan sigap menangkap tubuh Lily, kemudian membawanya ke pangkuan. Nafasnya terengah-engah. Jantungnya terasa akan keluar dari tempatnya. Sementara keringat mulai bercucuran membasahi dahi, lalu mengalir ke pelipis dan berakhir menyatu dengan baju yang ia pakai.
Untuk sesaat suasana terasa mencekam. Tak ada yang berbicara, tak ada yang bersuara. Hanya nyanyian riang dari lagu anak-anak yang masih terdengar yang menjadi latar, serta suara deru nafas mereka yang tak beraturan.
Jeffrey membetulkan letak bandana Lily yang sedikit miring. Lalu menatap tepat di mata. Gadis kecil itu menatap balik dirinya. Dengan kepolosannya. Membuat ia tak tega untuk memarahi.
Tangannya masih sigap memegangi. Sementara tangan yang lain bergerak mengelus pipi. Anehnya, rasa khawatir itu tak kunjung pergi.
"Kamu mau apa tadi? Kenapa nggak hati-hati?" Tanya Jeffrey lembut. Wajah tegangnya berangsur-angsur berubah. Ada senyum tipis yang terbentuk samar, tapi terasa menenangkan.
Mata Lily berkaca-kaca, tapi tak menangis. Jari jemarinya tertaut di pangkuan. Sedikit bergetar. Jelas anak itu ketakutan. Mungkin juga terkejut. Karena sejak tadi yang ia lakukan hanya terus menatap Jeffrey, seolah minta dikasihani. Sementara telunjuknya mengarah ke satu arah. Dengan wajah yang tetap sama. Tak berpaling.
Sebenarnya ini terjadi sudah lama. Tetapi orang-orang baru menyadarinya beberapa waktu belakangan ini. Tentang sesuatu yang aneh pada Lily. Karena entah kenapa, entah bagaimana bisa anak itu tak pernah menangis saat bersama Jeffrey. Bahkan ketika matanya sudah berkaca-kaca seperti tadi, air mata itu akan surut kembali. Seolah tersedot oleh sesuatu yang entah itu apa hingga tak jadi keluar.
Berbeda ketika ia bersama kakaknya, Andra. Tangis Lily malah makin kencang, tak berhenti-berhenti seperti keran bocor. Hal itu membuat Sarah sangat kesusahan.
Saat Lily tantrum, wanita itu dengan terpaksa akan mencari Jeffrey untuk menangkan putrinya. Untungnya anak baik itu tak keberatan. Selalu siap kapanpun ia panggil.
Kini tatapan Jeffrey mengarah pada Andra. Begitu tajam, begitu menusuk seolah dapat melubangi tubuh temannya itu.
"Kamu nggak jagain Lily." Ucapnya datar. Tanpa intonasi, tanpa ekspresi. Membuat siapa saja yang melihat itu akan merasa ciut. Begitu juga Andra.
Ia tertunduk lemah, merasa bersalah. Tak ada yang mengira akan terjadi hal seperti itu. Ia juga terkejut. Ia juga ketakutan. Tapi orang-orang hanya peduli pada Lily tanpa mau mengerti perasaanya.
"Aku nggak sengaja. Aku cuma mau nyelametin ini." Gambar yang tadi dirinya buat, ia tunjukan pada Jeffrey. Tugas sekolah mereka yang harus dikumpulkan besok pagi. Hasil kerja kerasnya yang kini telah dirusak.
Tetapi Jeffrey hanya menatap sekilas. Tak begitu peduli. Baginya itu hanya sebuah gambar, bisa dibuat lagi. Tapi kalau ada apa-apa dengan Lily, ia tidak tahu harus bagaimana. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk Andra juga. Dan ia tidak mau Andra menyesal nantinya.
Tubuh Andra yang masih menempel pada dinding, perlahan mendekat. Memutari sofa, kemudian berjongkok tepat di depan mereka. Gambar ditangan, ia letakan begitu saja diatas meja, tangannya menggenggam erat tangan Lily, tapi tak melukai.
"Maafin Mas Andra yah. Jangan marah, jangan nangis. Ini gambarnya buat kamu."
Mendengar itu, Lily tersenyum lebar. Tatapnya beralih pada sang kakak dengan binar dimatanya. "Enelan?" Tanyanya tak percaya. Sejujurnya gadis kecil itu takut di marahi seperti sebelumnya. Jadi ia perlu memastikan demi ketenangan hatinya.
Andra mengangguk tanpa ragu. "Iya beneran."
Tubuh Lily bergerak-gerak, bersorak kegirangan. Lalu turun dari pangkuan Jeffrey. Dengan tergesa-gesa. Tanpa aba-aba. Kemudian duduk dengan nyaman dibawah. Beralaskan karpet bulu tebal. Tepat dimana Andra duduk sebelumnya.
Seekor kelinci dengan telinga besar memenuhi kertas. Tidak begitu jelas karena masih dalam goresan kasar dari pensil. Juga tidak sempurna seperti gambar orang dewasa. Di depan kelinci itu sebuah wortel tergeletak begitu saja. Hanya di pandangi. Cukup untuk menjadi teman agar kertas gambar itu tak terlalu kosong. Baginya, gambar sang kakak sangat bagus. Dan ia sangat menyukainya.
Lily mengangkat pewarna di tangannya dengan bahagia. Lalu mulai mencoret-coret kertas itu. Bermaksud memberi warna. Namun motoriknya belum sempurna, jadi hasilnya tidak sesuai harapan. Tidak rapi, bahkan cenderung berantakan.
Sedangkan di tempatnya, Andra menatap dengan sedih. Tetapi anak sekecil Lily tidak akan mengerti. Yang ia tahu hanya rasa senang saat melakukan itu.
"Gambar ku..." Ratapnya.
Elusan lembut dapat ia rasakan di bahunya. Andra menoleh, menemukan tangan Jeffrey berada disana. "Biarin aja, nanti aku bantu kamu buat lagi."
Andra mengangguk. Tetapi rasa tak rela itu masih ada. Masih sangat terasa. Tapi demi adiknya Lily, ia mencoba untuk baik-baik saja. "Iya deh..." Akhirnya ia hanya bisa pasrah.
Langkah tergesa-gesa datang menghampiri. Dengan celemek yang masih terpakai, Sarah bermaksud menjemput anak-anak untuk sarapan. Senyumnya tertarik lebar saat melihat Jeffrey juga ada disana.
"Jeffrey juga disini ternyata, ayo kita sarapan bereng." Ajaknya. Binar bahagia tak dapat disembunyikan dari mata, meskipun ia mencoba terlihat biasa.
Untuk hari ini, tidak perlu paksaan untuk membuat Lily makan. Karena ada Jeffrey, gadis kecil itu tak akan menolak apapun yang ia berikan.
Jeffrey tak menolak, meskipun ia sudah makan sebelumnya.
Sementara itu, Lily masih asik dengan dunianya. Wajahnya penuh konsentrasi. Seolah dunia disekelilingnya tidak ada. Kedua matanya tak pernah lepas dari kelinci putih yang kini telah berganti warna. Seperti pelangi. Tak berbentuk lagi. Hanya terlihat garis abstrak yang tak berujung.
"Lily, ayo nak."
Gadis kecil itu menggeleng. "Nggak au mama. Nyinci nanti layi." Ucapnya polos.
Sarah yang penasaran, mendekat. Lalu terkekeh pelan. "Kelinci nya nggak akan lari, Lily kan bisa bawa kesana."
Gerakan gadis kecil itu terhenti. Lalu menatap ibunya. Benar juga. "Boyeh mama?"
Tak ada balasan, hanya anggukan kepala sebagai jawaban. Maka dengan semangat yang membumbung tinggi, Lily mulai mengemasi barang-barangnya. Pewarna yang berserakan, ia letakkan asal dalam wadah, lalu ia tenteng di tangan kanan. Sementara kotak pensil milik sang kakak ia bawa di tanah kiri. Mata Lily menyipit, menatap kertas gambarnya yang masih tergeletak. Ia mencoba meraihnya, tapi kesulitan karena tangannya penuh.
Sarah tersenyum melihat itu. "Yang ini biar mama bantu bawakan."
Lily mengangguk. "Bantu.. bantu..." Ucapnya lucu, lalu berjalan lebih dulu seperti pemimpin. Sementara Jeffrey mengikuti di belakangnya, sembari mengawasi. Takut Lily jatuh lagi. Karena gadis kecil itu belum begitu lancar berjalan, masih tertatih-tatih.
Sedangkan Andra sendiri masih duduk diatas sofa. Wajahnya masih sama seperti tadi. Tak ada semangat.
"Kamu kenapa Mas?" Melihat anaknya termenung sendiri, Sarah bertanya karena khawatir.
Andra tak bicara, hanya gelengan kepala sebagai jawaban. Namun wajahnya tetap murung.
Sarah kira itu karenanya. Tapi entah itu karena hal yang mana. Ia yang mengagetkannya saat tidur atau ia yang terlambat membuat sarapan. Sarah benar-benar tak tahu.
"Mama minta maaf yah untuk hari ini, tentang apapun itu. Sekarang, ayo sarapan dulu." Ucapnya penuh sesal.
"Nggak kok ma, aku nggak papa." Jawab Andra. Lalu segera berdiri. Ia mencoba menarik sudut-sudut bibirnya. Mencoba membuat sang ibu tak khawatir lagi.
Jalannya agak pelan. Persis seperti Lily. Sedikit pincang karena kakinya kesemutan.
Di meja makan, Jeffrey dan Lily sudah duduk di kursi masing-masing. Tampak bersemangat. Jeffrey terlihat sedang mengajari gadis kecil itu memegang pensil dengan benar. Sementara di depan mereka tersaji beberapa hidangan seperti cah brokoli dan sayur Sop yang masih mengepulkan asap, ada juga tempe goreng serta nugget.
Andra menarik kursi disisi lain meja, di depan mereka. Sedangkan Sarah berjalan kembali ke dapur untuk mengambil piring dan sendok.
"Lily mau pake lauk apa?"
Gadis kecil itu menunjuk piring yang berisi nugget kesukaannya. "Ini ma."
"Di kasih sayur yah?" Tawar Sarah.
Lily terdiam sejenak. Menatap ibunya, lalu menatap Jeffrey secara bergantian. Perlahan kepala kecilnya mengangguk, tetapi tak yakin.
Sarah tersenyum senang. Ini yang ia harapkan dari kehadiran Jeffrey dirumahnya. Karena anak-anak akan jauh lebih penurut dari biasanya.
Mereka makan dalam diam. Sesuap demi sesuap nasi mulai berpindah ke perut. Lily sedang dibiasakan untuk mandiri. Ia berusaha memotong-motong sendiri nugget-nya menjadi kecil-kecil. Saat berhasil ia akan tersenyum senang, saat kesulitan alisnya akan menukik tajam. Sesekali Jeffrey akan membantu dari samping.
Sementara di bawah sana, kaki kecilnya tak bisa diam. Terus bergerak-gerak sampai membentur meja tanpa sengaja karena terlalu keras. Tak ada tangisan, tak ada raungan kesakitan. Seolah kakinya terbuat dari baja.
Potongan demi potongan nugget masuk ke mulutnya. Bahkan saat mulutnya penuh, ia akan memasukkannya lagi hingga pipinya menggembung. Sedangkan nasi di piringnya terlihat masih banyak.
Keadaan itu berbanding terbalik dengan orang di seberangnya. Andra makan dengan tenang. Fokusnya terus tertuju pada piring di depannya. Nasinya tinggal sedikit, namun sayurnya terlihat masih utuh. Seolah tak tersentuh.
"Di makan juga sayurnya sayang." Kata Sarah.
"Aku kan nggak suka sayur ma." Tolaknya.
Sarah menghentikan suapannya, lalu menatap Andra dengan tangan yang menempel ke dagu. Alisnya terangkat satu. "Padahal mamanya Jeffrey suka muji kamu karena kamu nggak pilih-pilih makanan. Makanya sekarang Jeffrey jadi suka makan sayur. Kok sekarang beda?"
"Iihh mama ngomongnya gitu terus. Kan Andra udah bilang, Andra nggak enak nolaknya. Takut Tante Mona kecewa."
"Terus kalau mama kecewa, nggak papa buat Andra?"
Okeh, kalau sudah seperti ini Andra tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mengambil garpu, menusuk brokoli dan memasukkannya ke dalam mulut. Ia mengunyahnya perlahan. Rasanya aneh seperti rumput, tapi masih bisa ia telan. Meski terpaksa.
"Jeff! Jeff!"
Suara itu terus memanggil-manggil. Dari depan rumah. Suara berat dan dalam milik orang dewasa yang sangat ia kenali. Suara Rama.
"Sepertinya kamu dipanggil papa kamu Jeff, coba samperin dulu." Kata Sarah.
Jeffrey menajamkan pendengaran, lalu terdiam kaku. Seolah baru teringat sesuatu. Tentang apa yang menjadi tujuannya kesini. Lalu mengangguk. Ia turun dari kursi, kemudian keluar untuk menghampiri ayahnya.
"Mama mas... Emana?" Tanya Lily yang penasaran, melihat kepergian Jeffrey dengan hampa.
Kaki kecilnya yang berbalut sepatu bergerak-gerak, tubuhnya perlahan merosot ke bawah. Turun dari kursi. Dengan punggung yang menjadi bantalan. Lalu berlari mengejar.
"Mas... Iyi kut mass!!"
"Nak, Mas Jeffrey nya dipanggil papanya sebentar. Lily disini aja dulu." Cegah Sarah. Namun tubuh keduanya telah menghilang di belokan. Ia menatap piring Lily yang masih tersisa banyak. Lalu menarik nafas dalam-dalam. Lagi-lagi anak itu hanya memakan nugget nya saja.
Tak lama, keduanya kembali sambil bergandengan tangan. Lily tampak ceria. Rambutnya berkibar tertiup angin yang masuk melalu celah-celah jendela.
"Mama... Iyi kut mas taman ma om yahh." Ucapnya tak jelas. Namun Sarah paham yang di maksud.
"Kalau mau ikut mas ke taman, makanannya harus di habisin dulu. Kalau nggak, nggak boleh ikut. Yakan mas?"
Mata Sarah berkedip-kedip memberi kode. Jeffrey segera mengerti dan mengiyakan. "Iya, habisin dulu makanannya."
Meskipun cemberut, Lily mengangguk. Kembali duduk ditempatnya semula. Tangan gemuknya berusaha menyendok nasi lalu memasukkannya ke dalam mulut. Dengan gerakan cepat. Kuah dari sup memudahkannya menelan. Dan dalam hitungan menit, nasinya sudah habis tak bersisa.
"Aku juga udah selesai." Suara itu datang dari seberang meja. Andra mendorong piringnya ke depan.
"Dah mama yaaa. Iyi mau kut mas taman sana yahh?"
Sarah tertawa lalu mengangguk. "Iya iya, kamu boleh pergi sekarang."
"Yeyyy, dadah Andlaaaa. Wleee..."
***