NovelToon NovelToon
MENAGIH JANJI MASA KECIL

MENAGIH JANJI MASA KECIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.

“Kamu harus jadi pengantinku.”

Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.

Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.

Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.

Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?

Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CAHAYA YANG HILANG.

Sinar matahari pagi menembus celah-celah dinding bambu gubuk tua itu, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas wajah pucat wanita yang terbaring lemah. Kelopak mata itu bergetar perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Arumi mengerjap berkali-kali, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan suasana asing yang menyambutnya.

"Syukurlah, akhirnya cah Ayu sadar juga," ucap sebuah suara lembut yang penuh dengan kelegaan.

Arumi menolehkan kepalanya dengan gerakan kaku. Ia melihat seorang wanita tua dengan kerutan halus di wajahnya sedang tersenyum lebar ke arahnya. Di samping nenek itu, berdiri seorang kakek yang mengenakan topi peci, menatapnya dengan binar mata syukur. Arumi berusaha untuk duduk, namun rasa pening yang luar biasa menghantam kepalanya.

"Ini... di mana?" tanya Arumi dengan suara yang sangat parau. Kerongkongannya terasa kering bagaikan padang pasir.

"Kamu ada di gubuk kakek dan nenek, ndok. Jangan dipaksakan bangun dulu, badanmu masih sangat lemah," jawab nenek sambil dengan cekatan menyodorkan segelas air putih hangat.

Arumi meminum air itu dengan perlahan. Setelah rasa sakit di kepalanya sedikit mereda, ia menatap kedua orang asing di hadapannya dengan tatapan kosong. "Siapa... siapa kalian?"

Nenek dan kakek saling berpandangan dengan raut wajah yang berubah prihatin. Nenek itu duduk di pinggir balai-balai kayu, lalu mengusap punggung tangan Arumi dengan lembut. "Kami hanya orang tua yang tinggal di pinggir sungai ini. Sebenarnya kami ingin bertanya padamu, kamu berasal dari mana, cah Ayu? Siapa namamu yang sebenarnya?"

Arumi terdiam. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menggali memori di dalam kepalanya. Ia mencari sebuah nama, sebuah wajah, atau setidaknya sebuah tempat yang familiar. Namun, setiap kali ia mencoba masuk lebih dalam ke dalam ingatannya, rasa sakit yang menusuk-nusuk kembali menyerang saraf kepalanya. Ia hanya melihat kegelapan dan mendengar suara gemuruh air yang mengerikan.

"Aku... aku tidak tahu. Aku tidak ingat apa-apa," bisik Arumi, air mata mulai menetes di pipinya yang masih memiliki bekas luka goresan.

Kakek menghela napas panjang sambil membetulkan letak sarungnya. "Sepertinya anak ini mengalami hilang ingatan akibat benturan keras di sungai kemarin, Nek. Jangan dipaksa, nanti kepalanya malah semakin sakit."

"Iya, kakek benar," sahut nenek lembut. "Nanti perlahan juga kamu akan ingat lagi. Untuk saat ini, karena kami tidak tahu namamu, kami panggil kamu Ayu saja ya? Karena wajahmu memang sangat cantik."

Arumi hanya bisa mengangguk pasrah. Nama itu terasa asing, namun hangat di telinganya. Nenek kemudian membantunya untuk duduk bersandar pada dinding bambu dan menyuapinya bubur hangat yang harum.

"Bagaimana aku bisa ada di sini, Nek?" tanya Arumi setelah beberapa suap bubur masuk ke perutnya.

Nenek tersenyum, lalu menunjuk ke arah sungai di luar gubuk. "Kakek menemukanmu tersangkut di akar pohon besar tiga hari yang lalu. Tubuhmu sudah sangat pucat dan dingin. Kami pikir kamu sudah tidak bernyawa, tapi Tuhan ternyata masih memberikanmu kesempatan kedua."

Arumi menatap tangannya yang kasar dan penuh luka. Ia merasa seperti botol kosong yang hanyut di samudra. Tidak ada identitas, tidak ada masa lalu. Namun, saat melihat kerukunan kakek dan nenek yang saling menggoda satu sama lain di hadapannya, setitik senyum muncul di bibir Arumi.

"Mungkin ini adalah jawaban dari doa kami yang selama puluhan tahun ingin memiliki seorang anak, Nak. Allah justru mengantar kamu ke sini untuk menemani masa tua kami," ujar nenek sambil memeluk Arumi dengan penuh kasih sayang.

Arumi merasakan kehangatan yang luar biasa dalam pelukan itu. Meskipun ia tidak tahu siapa dirinya, ia merasa aman di gubuk terpencil ini. Suasana haru itu menyelimuti mereka, seolah-olah takdir memang sengaja menghapus memori pedih Arumi agar ia bisa merasakan kasih sayang yang tulus sejenak.

🍃

Sementara itu, ribuan kilometer dari gubuk sunyi itu, suasana di pusat rehabilitasi Jakarta sangat berbeda. Ariya sedang berdiri di antara dua palang besi sejajar, keringat bercucuran membasahi baju kaosnya. Wajahnya memerah karena menahan beban tubuhnya sendiri. Dengan tekad yang luar biasa besar, ia menyeret kaki kanannya selangkah ke depan.

"Satu langkah lagi, Pak Ariya. Anda luar biasa," puji sang terapis dengan penuh semangat.

Ariya tidak menjawab. Fokusnya hanya satu, ia ingin bisa berjalan secepat mungkin agar bisa menyusul Arumi. Setiap kali ia merasa lelah, bayangan wajah Arumi yang sedang menangis di bawah guyuran hujan selalu muncul, memberinya kekuatan ekstra yang seolah tidak masuk akal.

Ferdiansyah yang baru saja kembali dari Sumatera berdiri di ambang pintu, menatap putranya dengan perasaan campur aduk. Ia bangga melihat kemajuan pesat Ariya, namun hatinya hancur karena ia pulang tanpa membawa kabar pasti tentang keberadaan Arumi. Baginya, selama mayat Arumi belum ditemukan, wanita itu masih bernapas di suatu tempat.

"Papa," panggil Ariya saat menyadari kehadiran ayahnya. Ia berhasil menempuh jarak dua meter tanpa bantuan kursi roda. "Ada kabar dari Arumi?"

Ferdiansyah mendekat, ia menepuk bahu anaknya dengan kuat. "Pencarian masih berlanjut, Arya. Papa sudah menyewa tim penyelamat tambahan untuk menyisir muara sungai. Kamu fokuslah sembuh dulu."

Tiba-tiba, kegaduhan terdengar dari luar ruangan. Erwin, ayah kandung Arumi, masuk dengan wajah yang sangat pucat dan panik. Di belakangnya, tampak Rina, ibu tiri Arumi, yang mengenakan kacamata hitam besar dan berpura-pura menyeka air mata dengan sapu tangan.

"Ferdi! Katakan padaku, apa berita di televisi itu benar? Apa benar anakku Arumi hilang terbawa arus?" tanya Erwin dengan suara yang gemetar hebat.

Ferdiansyah mengangguk perlahan. "Kami masih mengupayakan pencarian yang terbaik, Win. Mohon doanya."

Rina melangkah maju, ia menatap Ariya dengan binar mata yang aneh. Ia tampak terkejut melihat Ariya sudah bisa berdiri tegak meskipun masih bertumpu pada palang besi. "Wah, Ariya! Kamu sudah bisa berdiri? Luar biasa sekali kemajuanmu."

Ia kemudian melanjutkan dengan nada bicara yang dibuat-buat manis namun mengandung racun. "Pasti Lusi akan sangat senang dan mau segera pulang dari luar negeri kalau tahu kamu sudah sembuh begini. Kasihan Arumi, tapi mungkin ini sudah jalannya agar kamu bisa kembali pada yang seharusnya."

Suasana ruangan seketika menjadi dingin membeku. Ariya menatap ibu tiri istrinya itu dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian dan kemarahan yang meluap-luap.

"Jaga mulutmu, Rina!" bentak Ferdiansyah sebelum Ariya sempat bersuara. Ferdiansyah melangkah maju, menghalangi pandangan Rina dari anaknya. "Jika aku melihat wajahmu atau Lusi muncul lagi di hadapan kami, aku tidak akan segan-segan menyerahkan semua bukti penggelapan dana perusahaan yang dilakukan saudaramu ke pihak kepolisian. Aku akan memenjarakan kalian semua!"

Wajah Rina seketika memucat. Ia menciut ketakutan di balik punggung Erwin. Ia tidak menyangka bahwa Ferdiansyah telah memegang kartu as miliknya.

"Win, bawa istrimu keluar sekarang juga sebelum aku kehilangan kendali," ujar Ferdiansyah pada sahabatnya.

Erwin yang juga merasa malu atas ucapan istrinya segera menarik lengan Rina untuk pergi. Sepeninggal mereka, Ariya kembali terduduk di kursi roda dengan napas terengah.

"Pa, Arya harus menemukan Arumi," ujar Ariya dengan suara parau. "Arya tidak peduli dengan Lusi atau siapa pun. Hanya Arumi yang Arya inginkan."

Ferdiansyah berjongkok di depan anaknya. "Papa tahu. Maka dari itu, percepat pemulihanmu. Minggu depan, kalau kakimu sudah cukup kuat untuk menempuh perjalanan jauh, Papa sendiri yang akan mengantarmu ke Sumatera."

Ariya mengangguk mantap. Di dalam benaknya, ia terus memanggil nama Arumi. Ia tidak tahu bahwa saat ini istrinya sedang menjalani kehidupan baru tanpa ingatan di sebuah gubuk kecil, dicintai oleh orang lain sebagai "Ayu", sementara ia sendiri sedang berperang dengan waktu untuk menebus segala kesalahannya.

🍃🍃🍃

Malam Gyus selagi menunggu Ramanda Update Yuk kepoin Novelnya teman Ramanda 👇🏻

Jangan lupa berikan dukungannya juga ya 🙏🏻

1
NP
sudut ya
Uba Muhammad Al-varo
Ariya........ sekarang Arumi udah memberikan kesempatan pergunakan dengan baik
Neng Salwa
bagus cerita nya juga seru
Uba Muhammad Al-varo
sekarang Ariya tugasmu berjuang untuk mendapatkan cintanya Arumi lebih berat kalau memang cintamu tulus jangan sampai kamu menyerah Ariya
tiara
semoga Lusi dan mamanya cepat dipenjara biar hidup Arumi dan ayahnya tenang
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya Erwin tahu kejahatan yang dilakukan oleh Rina dan Lusi, sekarang cepat ambil tindakan ceraikan Rina dan jebloskan ke penjara
Uba Muhammad Al-varo
mungkin ini jalan untuk kamu membuktikan cinta tulusmu dengan melindungi Arumi dari kekejaman ibu tirinya dan menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh Rina ibu tiri Arumi
Pujiastuti
makin seru aja ceritanya, lanjut kak semangat upnya 💪💪
Uba Muhammad Al-varo
itulah tugas terberatmu Arya membentengi diri dan menjaga Arumi dari kejahatannya lusi dan ibunya serta menyakinkan Arumi dengan kesungguhan cinta mu
tiara
semoga mereka dapat melalui semua ujian dimasa yang akan datang dengan tetap bersama selalu
tiara
semoga Arumi lekas pulih kembali ingatannya
tiara
akhirnya mereka dipertemukan kembali
tiara
semoga Arumi lekas ditemukan Ariya dan kakek juga tidak kesepian lagi
Uba Muhammad Al-varo
Ariya....... kalau kamu benar' tulus mencintai Arumi, tunjukkan kesungguhan dan kasih sayang ke Arumi
Nanik Arifin
Karmamu terbalas Ariya... dlu kau benci Arumi, sekarang Arumi tak mengingatmu sama sekali. sesuatu yg ingin dilupakan pasti terhapus saat hilang ingatan
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya pertemuan antara Ariya dan Arumi terjadi semoga ini awal Arumi bahagia dan Ariya mencintainya dengan tulus
Uba Muhammad Al-varo
semoga Ariya bisa menemukan Arumi, kasihan Arumi hidupnya selalu sedih dan Ariya juga mengajak kakek nenek untuk hidup bersama
Nanik Arifin
di Sumatra tapi nenek memakai kosa kata bahasa Jawa ( cah ayu, nduk ) asalmu dr Jawa atau keturunan Jawa ?
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra
Uba Muhammad Al-varo
si Rina otaknya oleng, kalau ngomong asbun Percis kaya si Lusi anaknya, memang enak kena mental dari Ferdiansyah /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!