Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 - Kereta yang Tak Menunggu
Tidak ada yang berubah pagi itu.
Langit masih abu-abu pucat.
Jalanan menuju kantor kepolisian masih dipenuhi kendaraan yang bergerak tanpa saling menatap.
Di radio mobil Karina, penyiar membacakan berita dengan nada yang sama seperti kemarin-tenang, terkontrol, seolah tidak ada yang mendesak untuk dikejar.
Karina menyetir seperti biasa.
Tidak terburu-buru.
Tidak terlambat.
la berhenti di lampu merah yang sama, menunggu hitungan detik yang sama, lalu melaju ketika lampu berubah hijau. Semuanya terasa... tepat waktu.
Dan justru itulah yang mengganggunya.
Tidak ada rasa waspada yang berlebihan.
Tidak ada ketegangan di bahu.
Tidak ada pikiran tentang korban baru.
Seolah-olah semalam tidak pernah terjadi apa-apa.
Di kaca spion, ia melihat wajahnya sendiri-tenang, rapi, siap bekerja. Wajah seseorang yang tahu apa yang harus dilakukan hari ini. Wajah yang mulai dikenal orang lain.
Karina tidak tahu sejak kapan ia berhenti bertanya apakah semuanya masih berada dalam kendalinya.
la hanya tahu satu hal:
kereta itu sudah bergerak.
Dan pagi ini, tidak ada yang menunggu siapa pun.
Karina baru menyadari perubahan itu ketika ia melewati lobi kantor tanpa dihentikan siapa pun.
Tidak ada sapaan berlebihan.
Tidak ada bisik-bisik terang-terangan.
Tidak ada tatapan penuh rasa ingin tahu seperti hari-hari sebelumnya.
Yang ada justru sebaliknya—orang-orang memberi jalan.
Petugas jaga berdiri sedikit lebih tegak ketika ia lewat. Seorang penyidik junior yang sedang berbincang di dekat lift menghentikan kalimatnya di tengah jalan. Bahkan seorang staf administrasi yang biasanya hanya mengangguk singkat kini tersenyum lebih lama dari perlu.
Karina merasakannya.
Bukan sebagai ancaman.
Bukan sebagai pujian.
Sebagai sesuatu yang… sudah ditetapkan.
Di papan pengumuman digital dekat ruang rapat utama, sebuah klip berita diputar tanpa suara. Wajah Karina muncul selama beberapa detik, diikuti potongan gambar lama—konferensi pers, TKP yang sudah disegel, potret buram dari tujuh tahun lalu.
Judulnya singkat.
“Simbol Ketegasan di Tengah Kekacauan.”
Karina berhenti melangkah.
Ia membaca ulang judul itu, perlahan. Kata simbol terasa lebih berat dari yang seharusnya. Bukan karena ia tidak paham artinya—justru karena ia terlalu paham.
Simbol tidak bergerak.
Simbol tidak ragu.
Simbol tidak berubah pikiran.
Ia memalingkan wajah sebelum klip itu selesai diputar ulang.
Di ruang kerjanya, layar komputer sudah menyala. Seseorang—entah siapa—telah membukakan beberapa tab berita. Baris demi baris judul muncul, berbeda media, nada yang sama.
“Karina Intan: Wajah Baru Kepolisian Modern.”
“Ketika Ketegasan Perempuan Menjadi Jawaban.”
“Jejak Keputusan Karina Intan dari Kasus Anak Wali Kota hingga Hari Ini.”
Yang terakhir membuat jarinya berhenti di atas mouse.
Kasus anak wali kota.
Ia mengkliknya.
Artikel itu panjang, ditulis dengan gaya reflektif, seolah wartawannya hadir langsung di setiap momen. Kutipan lama Karina dimunculkan kembali—kalimat yang dulu ia ucapkan di bawah tekanan kamera, ketika semua orang menuntut kepastian.
“Kadang keputusan harus diambil bukan karena semua data lengkap, tapi karena menunggu juga bisa memakan korban.”
Karina ingat betul hari itu.
Ia mengucapkannya dengan ragu.
Dengan napas yang tidak stabil.
Dengan kesadaran penuh bahwa kalimat itu tidak sempurna.
Namun di artikel ini, kalimat itu berdiri sendiri. Bersih. Tegas. Dipisahkan dari konteksnya. Dipakai sebagai dasar pembenaran.
Artikel itu tidak bertanya apakah Karina benar.
Ia menyimpulkan bahwa Karina selalu benar.
Tangannya turun ke meja.
Ia menunggu reaksi dari dirinya sendiri—penolakan, kemarahan, dorongan untuk mengoreksi.
Tidak ada.
Yang ada hanya kelelahan yang aneh. Seperti seseorang yang terlalu lama berdiri, lalu mendapati kursi di belakangnya tanpa sadar.
“Ini bukan aku,” pikirnya.
Namun pikirannya tidak diikuti tindakan.
Ia tidak menutup tab itu.
Ia tidak mengirim klarifikasi.
Ia tidak memanggil humas.
Ia membiarkan layar itu menyala.
Karena sebagian dari dirinya—bagian yang jarang ia akui—merasa lega.
Simbol tidak perlu menjelaskan.
Simbol tidak perlu berdebat.
Simbol cukup berdiri, dan orang lain akan menyesuaikan.
Ponselnya bergetar.
Bukan pesan darurat.
Bukan laporan kasus.
Sebuah notifikasi dari akun berita nasional, mengutip pernyataannya—bukan yang terbaru, tapi potongan lama yang diberi konteks baru.
“Dengan figur seperti Karina Intan, publik bisa percaya bahwa kepolisian masih punya arah.”
Karina mengunci ponselnya tanpa membaca komentar di bawahnya.
Ia tahu isinya.
Ia sudah belajar mengenali pola itu:
pujian yang berubah menjadi tuntutan,
kepercayaan yang pelan-pelan menjadi jebakan.
Di luar ruangannya, suara langkah kaki terdengar teratur. Rapat pagi akan dimulai. Agenda hari ini sebenarnya ringan—evaluasi internal, penyesuaian tim, tidak ada TKP baru.
Tidak ada korban.
Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.
Karina berdiri, merapikan kemeja, lalu menatap pantulan dirinya di kaca lemari arsip.
Untuk sesaat, ia bertanya—bukan pada cermin, tapi pada dirinya sendiri:
Sejak kapan aku berhenti merasa asing dengan semua ini?
Ia tidak menemukan jawabannya.
Yang ia tahu, ia sudah melangkah terlalu jauh untuk berpura-pura tidak melihat arah kereta itu.
Dan kereta tidak pernah bertanya siapa yang siap.
...----------------...
Antono datang ke kantor lebih pagi dari biasanya.
Tidak membawa map.
Tidak membawa berkas.
Ia hanya berdiri cukup lama di depan papan kasus yang hampir kosong. Beberapa foto lama masih tertempel—bukan karena relevan, tapi karena belum ada alasan kuat untuk mencabutnya.
Karina melihatnya dari balik kaca ruang rapat.
Biasanya, Antono akan menoleh lebih dulu.
Memberi isyarat singkat.
Atau setidaknya mengangguk.
Hari itu, tidak.
Ia hanya menatap papan itu, seolah Karina tidak berada di ruangan yang sama.
Karina keluar dari ruangannya dan berdiri di samping Antono. Jarak mereka tidak jauh—cukup dekat untuk bicara pelan, cukup jauh untuk menghindari sentuhan.
“Pak,” sapa Karina, singkat.
Antono menjawab tanpa menoleh, “Pagi.”
Tidak ada lanjutan. Tidak ada pertanyaan tentang berita. Tidak ada komentar tentang rapat nanti.
Sunyi itu aneh.
Karina akhirnya bicara lebih dulu, suaranya dibuat setenang mungkin.
“Banyak media mulai angkat kasus lama. Termasuk… yang tujuh tahun lalu.”
Antono mengangguk tipis. Masih menatap papan.
“Mereka selalu melakukannya,” jawabnya.
Nada suaranya netral. Terlalu netral.
Karina menunggu. Biasanya, setelah kalimat itu, Antono akan menyelipkan analisis. Menarik garis tak terlihat. Memberi peringatan samar.
Tidak kali ini.
“Menurut Bapak?” Karina akhirnya bertanya. “Perlu klarifikasi?”
Antono baru menoleh. Tatapannya singkat, menimbang, lalu kembali ke papan.
“Kalau kamu merasa perlu.”
Kalimat itu sederhana. Tapi justru karena itu, Karina merasa seperti kehilangan pegangan.
Ia menelan ludah.
“Biasanya Bapak punya pendapat.”
Antono tersenyum tipis—bukan senyum hangat, lebih seperti refleks.
“Dan biasanya kamu mendengarkan?”
Pertanyaan itu tidak keras. Tidak menyerang. Tapi cukup untuk membuat Karina diam.
Rapat dimulai sepuluh menit kemudian.
Antono duduk di ujung meja, bukan di samping Karina seperti biasanya. Ia tidak membuka diskusi. Tidak memotong pembicaraan. Ia hanya mendengar.
Ketika seorang perwira menyinggung soal tekanan publik dan menyebut nama Karina sebagai “aset kepercayaan,” Antono tidak bereaksi.
Ketika strategi komunikasi dibahas tanpa menyentuh substansi kasus, Antono tetap diam.
Karina memperhatikannya dari sudut mata.
Ia tahu Antono tidak setuju.
Ia juga tahu Antono mampu menghentikan arah pembicaraan itu jika mau.
Tapi Antono memilih tidak melakukannya.
Seolah-olah ia sedang… menunggu sesuatu.
Setelah rapat, Karina mengejarnya di koridor.
“Pak Antono.”
Langkah Antono melambat, lalu berhenti.
“Kenapa Bapak diam saja tadi?” tanya Karina, kali ini lebih langsung.
Antono berbalik, menatapnya penuh. Untuk pertama kalinya hari itu, ia benar-benar melihat Karina—bukan sebagai simbol, bukan sebagai nama besar, tapi sebagai individu.
“Apa yang kamu harapkan aku lakukan?” tanyanya.
“Mengarahkan. Mengingatkan,” jawab Karina cepat. “Seperti biasanya.”
Antono menghela napas pelan.
“Dulu,” katanya, “kamu butuh arah karena kamu masih belajar berjalan.”
Karina mengernyit.
“Dan sekarang?”
“Sekarang,” Antono menjawab perlahan, “aku perlu tahu apakah kamu berjalan karena kamu memilih… atau karena semua orang mendorongmu ke sana.”
Kalimat itu menggantung di antara mereka.
Karina membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Antono melanjutkan, suaranya tetap rendah, “Kalau aku terus berdiri di sampingmu, kamu selalu bisa bilang itu bukan pilihanmu. Bahwa kamu hanya mengikuti.”
Ia melangkah satu langkah mundur.
“Aku tidak ingin jadi alasan itu.”
Karina merasakan sesuatu bergeser di dadanya—bukan marah, bukan kecewa, tapi rasa kehilangan yang samar.
“Jadi Bapak menjauh?” tanyanya.
Antono menggeleng.
“Aku mengamati.”
Ia lalu berjalan pergi, meninggalkan Karina sendirian di koridor yang tiba-tiba terasa terlalu panjang.
Karina berdiri beberapa detik, lalu menatap tangannya sendiri.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang membuatnya tidak nyaman:
Ia tidak tahu apakah ia ingin Antono kembali…
atau ia takut jika Antono terlalu lama diam, maka ia tidak lagi membutuhkan suaranya.
Dan pikiran itu—alih-alih membuatnya panik—justru terasa… tenang.
...----------------...
Ruang rapat itu kecil.
Lampunya terlalu putih.
Tidak ada jendela.
Karina duduk di satu sisi meja, Arga di sampingnya. Mereka sudah terbiasa duduk bersebelahan—tanpa sadar, itu jadi kebiasaan. Seperti refleks. Seperti dua orang yang sama-sama butuh sandaran, tapi tidak pernah mengakuinya.
Antono berdiri, tidak duduk. Tangannya menyentuh punggung kursi kosong, lalu dilepaskan lagi. Ia tidak membuka berkas. Tidak menyalakan proyektor. Tidak mengatur suara.
Ia hanya menatap.
Sunyi di ruangan itu bukan sunyi yang damai.
Ini sunyi yang menunggu kesalahan kecil.
Arga merasakannya lebih dulu.
Ia melirik Karina sekilas. Karina tampak tenang—terlalu tenang. Tatapannya lurus, bahunya tegak. Wajah yang sama yang kini sering muncul di layar televisi, di potongan berita, di tajuk-tajuk yang menyebutnya SIMBOL.
Arga ingin berkata sesuatu. Apa pun.
Tapi ia memilih diam.
Karina tidak butuh suara. Ia butuh pendengar. Dan Arga sudah lama memilih peran itu.
Antono akhirnya bicara.
Tidak keras.
Tidak berwibawa.
Justru terlalu santai.
“Kalau kamu tidak disebut-sebut media,”
Antono berhenti sejenak,
“kamu masih mau memimpin kasus ini?”
Tidak ada tekanan di kalimat itu.
Tidak ada nada menguji.
Dan justru karena itu, pertanyaan itu mematikan.
Karina bahkan tidak menarik napas lebih dulu.
“Tentu.”
Satu kata.
Cepat.
Terlalu cepat.
Arga langsung menoleh. Bukan karena ia ragu pada jawaban itu—tapi karena ia tahu Karina biasanya berpikir lebih lama. Karina yang ia kenal adalah Karina yang menimbang kata. Yang mengulang kalimat di kepala sebelum mengucapkannya.
Yang ini… refleks.
Antono tidak bereaksi.
Ia tidak mengangguk. Tidak tersenyum. Tidak mencatat apa pun.
Tapi di dalam kepalanya, sebuah catatan kecil dibuat.
Bukan tentang benar atau salah.
Melainkan tentang kecepatan memilih.
Karina tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Baginya, itu jawaban jujur. Baginya, itu kepastian.
Arga, sebaliknya, merasakan sesuatu yang dingin merambat di punggungnya.
Ia mencoba menetralkan suasana. Suaranya pelan, hampir bersahabat.
“Maksud Pak Antono mungkin…”
Arga berhenti, mencari kata,
“…kalau tekanan itu dihilangkan.”
Karina menoleh padanya. Tatapannya lembut. Ada kepercayaan di sana. Kepercayaan yang sudah terbentuk dari malam-malam panjang, dari kopi dingin, dari diam yang tidak canggung.
“Aku ngerti, Ga,” katanya.
“Dan jawabanku tetap sama.”
Arga mengangguk. Ia tidak membantah.
Ia tidak ingin menjadi orang pertama yang meragukan Karina.
Antono akhirnya berbicara lagi.
“Baik,” katanya singkat.
“Itu saja.”
Tidak ada penutup.
Tidak ada arahan.
Pertemuan selesai begitu saja.
...----------------...
Di lorong, Karina berjalan lebih dulu. Langkahnya cepat, yakin. Arga menyusul di sampingnya, seperti biasa.
“Kamu oke?” tanya Arga.
Pertanyaan sederhana.
Bukan sebagai rekan kerja.
Sebagai orang yang peduli.
Karina tersenyum kecil.
“Kenapa nggak?”
Arga ingin berkata: karena kamu menjawab terlalu cepat.
Tapi ia menelan kalimat itu.
“Cuma ngerasa… suasananya beda,” katanya akhirnya.
Karina berhenti sebentar, lalu melanjutkan langkahnya lagi.
“Pak Antono selalu begitu,” ujarnya ringan.
“Dia suka bikin orang mikir sendiri.”
Arga mengangguk. Tapi di kepalanya, satu pikiran lain muncul:
Atau dia sedang memastikan sesuatu.
Arga memilih tetap di sisi Karina.
Bukan karena ia yakin semuanya baik-baik saja.
Tapi karena jika Karina jatuh, ia ingin jadi orang terdekat yang menyadarinya lebih dulu.
Dan itu… keputusan yang nantinya tidak akan netral.
...****************...
Arga tidak langsung kembali ke mejanya.
Ia berdiri di lorong yang sama, tempat Karina tadi berjalan menjauh. Lorong itu sudah kosong sekarang, tapi rasanya masih ada sisa kehadiran—langkah cepat, suara sepatu, keyakinan yang tidak ragu.
Arga menyandarkan punggungnya ke dinding. Dingin.
Baru sekarang napasnya terasa berat.
Ia mengulang kembali satu momen itu.
Satu kata.
Satu jawaban.
Terlalu cepat.
Bukan salah.
Bukan juga bohong.
Tapi Arga sudah cukup lama mengenal Karina untuk tahu: kecepatan itu bukan cirinya.
Karina yang ia kenal adalah Karina yang diam sebelum bicara. Karina yang memeriksa ulang niatnya sendiri. Karina yang dulu pernah berkata, setengah bercanda tapi jujur:
“Kalau aku yakin sama sesuatu terlalu cepat, itu justru bikin aku takut.”
Hari ini… Karina tidak takut.
Dan justru itu yang membuat Arga gelisah.
Ia memikirkan Antono.
Cara Antono bertanya.
Cara Antono tidak bereaksi.
Arga paham satu hal yang mungkin Karina lewatkan:
Antono tidak sedang mencari jawaban.
Ia sedang mengukur jarak.
Jarak antara prinsip dan ambisi.
Antara kesadaran dan kenyamanan.
Dan Arga… berdiri di tengah-tengahnya.
Ia sadar, perlahan tapi pasti, dirinya mulai menjadi perantara emosi. Karina berbicara padanya lebih sering. Diam bersamanya lebih lama. Percaya padanya tanpa syarat.
Kepercayaan itu hangat.
Tapi juga berbahaya.
Karena jika suatu hari Karina salah melangkah—
Arga tahu, ia mungkin tidak akan jadi orang pertama yang menghentikannya.
Ia akan jadi orang yang tetap di sampingnya.
Dan pikiran itu membuat dadanya sesak.
...----------------...
Kantor sudah hampir kosong.
Lampu-lampu dimatikan satu per satu, menyisakan cahaya kuning redup di beberapa sudut. Mesin kopi berdengung pelan, seperti napas terakhir ruangan yang belum sepenuhnya tidur.
Karina duduk di mejanya. Papan kasus di depannya masih penuh, tapi malam ini ia tidak benar-benar melihatnya.
Arga datang tanpa banyak suara. Ia meletakkan dua gelas kopi.
“Kamu lupa makan,” katanya pelan.
Karina tersenyum kecil, tanpa menoleh.
“Kamu selalu ingat.”
Arga tidak menjawab. Ia duduk di kursi seberang, lalu memindahkannya ke samping Karina. Lebih dekat. Tidak berhadapan.
Diam di antara mereka terasa… nyaman.
Tidak menuntut.
Tidak menguji.
“Hari ini capek,” kata Karina akhirnya.
“Aneh ya? Padahal nggak ada kasus.”
Arga menatapnya. Profil wajah Karina terlihat lelah, tapi matanya hidup. Terlalu hidup.
“Capeknya beda,” jawab Arga.
“Bukan fisik.”
Karina mengangguk pelan. Ia menyeruput kopi.
“Aku ngerasa semua orang ngeliat aku sekarang,” katanya.
“Bukan sebagai Karina. Tapi sebagai… sesuatu.”
Ia tidak menyebut katanya.
Tapi Arga tahu.
SIMBOL.
“Dan kamu gimana?” tanya Arga.
Karina diam cukup lama. Lalu:
“Aku nggak benci itu.”
Pengakuan itu jatuh pelan.
Tidak dramatis.
Justru jujur.
Arga tidak langsung merespons. Ia memilih kata dengan hati-hati.
“Takut nggak?”
Karina menggeleng.
“Yang bikin aku takut,” katanya,
“kalau suatu hari aku kehilangan semua ini… dan ternyata aku kangen.”
Arga menelan ludah. Ia ingin berkata hati-hati.
Ia ingin berkata jangan sampai.
Tapi yang keluar justru:
“Selama kamu inget kenapa kamu mulai,” katanya pelan,
“aku percaya kamu nggak akan salah arah.”
Karina menoleh padanya. Tatapan mereka bertemu.
Ada sesuatu di sana.
Bukan cinta.
Bukan ambisi.
Kepercayaan mentah.
Dan ketergantungan yang mulai tumbuh.
Karina tersenyum—senyum yang hanya Arga lihat.
“Makasih ya, Ga,” katanya.
“Kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah capek dari kemarin.”
Arga membalas senyum itu.
Dan di dalam hatinya, sebuah garis terlewati.
Bukan garis profesional.
Bukan garis etika.
Tapi garis yang lebih sunyi:
ia memilih Karina, apa pun yang terjadi.
Lampu di ujung ruangan mati.
Menyisakan mereka berdua dalam cahaya setengah gelap.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y