Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 : Senyum Bayi dan Roda Takdir.
[PoV Shen Yu]
Keesokan paginya, aku sudah terbangun saat cahaya matahari pertama menyentuh wajahku. Hangat. Lembut. Udara pagi membawa aroma kayu dan tanah basah.
Tubuh kecilku digendong Ibu di teras depan rumah. Lengannya menopangku dengan mantap, seolah aku adalah bagian dari dirinya sendiri. Detak jantungnya terdengar jelas di telingaku. Stabil. Teratur. Irama itu menenangkan pikiranku lebih efektif daripada meditasi apa pun yang pernah kurasakan.
Yu Yan bangun pagi itu dengan sesuatu yang berbeda.
Aku bisa merasakannya bahkan sebelum melihat wajahnya. Ada perubahan halus di aliran auranya. Simpul gelap di dadanya masih ada, masih melekat di Ren Mai, tapi tekanannya berkurang. Tidak lagi seperti genggaman yang mencekik. Lebih mirip simpul yang diikat longgar, cukup kuat untuk bertahan, tapi tidak lagi melukai setiap tarikan napasnya.
Saat langkah kecilnya mendekat ke teras, kesadaranku ikut bergerak.
Aku menoleh ke arahnya.
Dan aku tersenyum.
Senyum bayi yang polos, tanpa maksud tersembunyi, tanpa perhitungan. Begitulah kelihatannya dari luar.
Namun di balik pandanganku yang masih kabur, ada kilatan singkat yang lolos dari kendaliku. Cahaya emas yang sangat tipis, muncul dan lenyap dalam sekejap. Bahkan aku tidak yakin apakah itu benar-benar terlihat.
Tapi aku tahu. Dan dari cara Yu Yan terdiam sesaat, matanya sedikit melebar sebelum ia tersenyum balik, ada kemungkinan dia juga merasakannya.
Di kejauhan, di balik garis perbukitan, dua aura asing masih ada. Mereka tidak mendekat, tidak mundur. Hanya mengamati, menunggu. Kehadiran mereka seperti bayangan panjang yang tidak bergerak meski matahari sudah naik.
Namun kini ada yang lain.
Aura ketiga.
Lebih halus. Lebih teratur. Alirannya rapi, hampir menyatu dengan alam sekitar. Tidak agresif, tidak mengintimidasi. Kehadiran itu terasa sejak malam tadi, dan pagi ini sudah menyatu sempurna dengan lingkungan seolah memang berasal dari sana.
Yang ini berbeda.
Tanpa peringatan, kesadaranku tersentak oleh gema yang jauh. Sangat jauh. Bukan dari perbukitan, bukan dari wilayah ini.
Sebuah kota kultivasi, seribu li dari sini.
Seorang wanita duduk tegak dari posisi meditasi. Rambutnya terurai, matanya terbuka perlahan. Di dadanya tergantung sebuah liontin berbentuk bunga bulan, permukaannya berkilau lembut oleh cahaya spiritual.
Liontin yang sama seperti milik Ibu.
“Adikku,” bisiknya pelan ke udara kosong.
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa mengetahui itu. Tidak ada penglihatan, tidak ada suara yang benar-benar sampai padaku.
Aku hanya tahu.
Perlindungan sedang bergerak.
Dan pada saat yang sama, ancaman juga tidak tinggal diam.
Benang-benang tak terlihat berpilin di sekelilingku. Takdir, bahaya, rahasia, niat baik dan niat tersembunyi, semuanya saling mendekat, saling tarik-menarik.
Jujur saja, semuanya terasa terlalu rumit untuk tubuh sekecil ini.
Karena satu hal lain segera mengambil alih seluruh perhatianku.
Aku lapar.
Ketika Ibu menyusuiku, rasa ASI pagi itu menyentuh lidahku dengan lembut. Lebih manis dari biasanya. Lebih hangat. Aliran qi halus mengikutinya, menenangkan perut dan pikiranku sekaligus.
“Besok kita lanjutkan latihan, Nak,” bisik Ibu pelan.
Suaranya tidak hanya masuk ke telingaku, tapi langsung menyentuh kesadaranku, seperti getaran yang dikenali oleh jiwaku.
“Ada banyak yang harus kau pelajari.”
Aku mengisap dengan penuh semangat, refleks bayi yang bercampur dengan kesadaran yang jauh lebih tua.
Di sela-sela itu, tanpa sengaja, mata spiritualku menangkap kilatan aura asing dari arah perbukitan. Sangat tipis. Sangat cepat. Namun cukup nyata untuk dikenali.
Siapa itu?
Pikirku sekilas.
Lalu rasa lapar kembali mendominasi.
Dunia mungkin penuh misteri, perlindungan yang bergerak diam-diam, dan ancaman yang saling mendekat.
Namun untuk bayi berusia empat bulan, perut yang kenyang tetap menjadi prioritas utama.
Setidaknya, untuk sekarang.