Winny adalah seorang gadis preman yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan nyawa. Malam itu dia berada di sirkuit balap mobil, ketika dia hendak sampai di garis finis tiba-tiba mobilnya mengeluarkan api di bagian mesin. suara ledakan terdengar begitu keras, cahaya putih tiba-tiba muncul dan membawa Winny pergi ke suatu tempat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oh ya aku lupa
"Beraninya kamu mengatakan hal itu." kata Kaisar Han. Dia terlihat marah ketika Ling Xu-mei tidak memperbolehkan Jenderal Tanzo pergi dari tempat itu.
"Memangnya kenapa? lagi pula ini adalah kediaman Ibu suri, jadi tidak apa-apa dong kalau mereka ada di sini, lagi pula Ibu suri tidak mempermasalahkan Mereka ada di sini kok." kata Ling Xu-mei yang kemudian mengambilkan makanan untuk Gu Yanzel dan jenderal tanzo.
"Kamu benar-benar baik hati nona Ling." ucap Gu Yanzel.
"Kalian...," kaisar Han semakin kesal.
"Biarkan saja, Kaisar. lagi pula Jenderal dan penasehat mu kan bisa makan bersama kita." Kaisar Qin yang kemudian meminta Ling Xu-mei untuk mengambilkannya makanan.
Ling Xu-mei menganggukkan kepalanya, dia mengambilkan Kaisar Qin makanan dia juga menuangkan segelas air untuknya.
Kaisar Han merasa kesal namun dia tidak ingin dilihat oleh siapapun, Kaisar duduk di samping Ling Xu-mei, hal itu membuat Ling Xu-mei merasa risih. Dia kemudian berdiri meminta jendral tanzo untuk berganti posisi, akhirnya dia berada diantara Jenderal Tanzo dan Gu Yanzel.
"Apa nona Ling suka bermain pedang?" tanya Kaisar Qin.
Ling Xu-mei yang sedang mengunyah makanannya kemudian menatap Kaisar Qin, mulutnya yang mengunyah makanan itu belum mengeluarkan sepatah katapun. Sesaat kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Iya yang mulia, apa yang mulia Kaisar suka bermain pedang?"
Kaisar Qin menjawab dengan anggukan kepalanya. "Bagaimana kalau aku yang akan melatih mu bermain pedang? aku akan meminta Kaisar Han mengajakku ke tempat pelatihan." kata Kaisar Qin.
Ling Xu-mei tersenyum kemudian melanjutkan makan, sedangkan Kaisar Han Dia hanya bisa mendengar interaksi antara istri atau mantan istrinya itu dengan pria lain. Ingin sekali dia marah namun gengsi terlalu besar, dan takut untuk ditolak itu membuatnya hanya terdiam, dia mengunyah makanan di dalam mulutnya dengan ekspresi kesal. Matanya menatap tajam kepada kaisar Qin.
"Kalau begitu aku ingin melihat nona Ling bermain pedang, seorang wanita bermain pedang itu pasti sangat luar biasa." kata Gu Yanzel yang kemudian memasukkan makanan ke mulutnya. tanpa sengaja dia menatap ke arah Kaisar Han, ekspresi yang ditunjukkan oleh sang Kaisar benar-benar tidak menyenangkan hal itu membuat Gu Yanzel langsung memalingkan wajahnya. "Apa yang terjadi dengan yang mulia Kaisar? kenapa wajahnya semuram durja seperti itu? Apakah ada sesuatu yang mengganggunya?" Gu Yanzel kemudian melirik saudaranya, namun ekspresi yang ditunjukkan oleh kaisar Han benar-benar seperti mendung yang berwarna hitam kelam.
Ibu suri ingin tertawa namun dia tidak mungkin melakukannya, dalam hati dia terus menertawakan Kaisar Han, bahkan Ibu suri mengunyah makannya secara perlahan sembari terus memperhatikan orang-orang yang ada bersamanya di meja bundar berisi 6 orang itu. Ibu suri melihat interaksi Ling Xu-mei dengan Kaisar Qin juga Jenderal Tanzo, sedangkan reaksi yang ditunjukkan oleh kaisar Han sekarang seperti pria kebakaran jenggot yang melihat istrinya sedang berselingkuh secara terang-terangan.
"Apakah kamu merasa cemburu dan sakit hati putraku, kamu harus merasakan itu untuk waktu yang lama, Ling yang sekarang bukan Ling istrimu dahulu, wanita ini sudah berubah. Rasa sakit dan kebencian itu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya, dia tidak akan memberikanmu tempat dan dia tidak akan memberikanmu ruang untuk mendekatinya." gumam Ibu suri dalam hati yang kemudian mempersilahkan Kaisar Kin untuk mencicipi kue yang dibuat oleh Ling Xu-mei.
Kaisar Han meletakkan sumpitnya dengan kasar di meja, Dia kemudian berdiri dengan raut wajah yang begitu kesal. "Hehh...," helaan nafas kasar kaisar Han. "Ibunda, hamba akan kembali ke istana. Ada banyak pekerjaan yang harus hamba lakukan." pamit Kaisar Han.
Ibu suri menganggukkan kepalanya. "Baiklah putraku." jawab ibu suri.
Kaisar sempat melirik Ling Xu-mei yang masih berbicara dengan Kaisar Qin, pria itu seperti hutan yang sudah terbakar habis. Dia pergi dengan emosi yang sungguh luar biasa, Gu Yanzel yang melihat itu dia menganggukkan kepalanya. "Kakakku benar-benar cemburu, padahal dulu yang tidak menginginkan wanita ini." gumamnya dalam hati.
Detelah Kaisar Han pergi dari tempat Ibu suri, Kaisar Qin meminta izin kepada Ibu suri untuk membawa Ling Xu-mei ke tempat pelatihan. Gu Yanzel juga ingin melihat bagaimana permaisuri yang dahulu lemah itu sekarang berubah, dari beberapa kejadian yang dia lihat dengan kedua matanya sendiri Gu Yanzel yakin sosok yang sudah kembali dari kematian itu benar-benar sangat menarik perhatiannya.
Ketika berada di tempat pelatihan para prajurit, Ling Xu-mei meminta sebuah pedang. ketika mereka hendak berlatih ada beberapa wanita yang julitnya tingkat dewa juga berada di tempat itu. Selir Jia dan selir Me-ang bersama beberapa wanita yang lainnya juga ada di tempat itu, mereka yang sedang mencari Kaisar Han tanpa sengaja malah menemukan Ling Xu-mei bersama dengan beberapa pria.
"Selir agung, bukankah itu wanita tidak tahu diri? apa yang dilakukan oleh wanita itu di sini?" tanya salah selir kepada selir Jia.
Selir Jia melihat ke arah Ling Xu-mei yang sedang bersama dengan Kaisar Qin dan Gu Yanzel, sedangkan Jenderal Tanzo dia harus membuat beberapa laporan mengenai para prajuritnya. "Kelihatannya wanita murahan itu sedang menggoda Kaisar Qin." ucap selir Jia.
Beberapa selir Kaisar Han menatap Ling Xu-mei dengan tatapan mata yang penuh penghinaan dan cemoohan, di balik itu mereka terus mengatakan kalau Ling Xu-mei adalah wanita murahan yang benar-benar tidak mempunyai otak sama sekali. "Wanita itu benar-benar tidak punya malu sama sekali ya, setelah dibuang oleh yang mulia Kaisar dia kembali ke dalam istana, seharusnya wanita itu dibuang keluar istana, dibuang ke pengasingan bersama dengan keluarganya." ucap salah satu selir.
"Kamu benar sekali, lihat saja sebentar lagi aku akan mengeluarkan wanita itu dari istana, aku akan membuangnya ke tempat yang sama dengan menteri penghianat itu." jawab selir Me-ang yang kemudian mengajak para selir Kaisar Han untuk mendekat ke arah Ling Xu-mei yang bersama dengan Kaisar Qin juga Gu Yanzel.
Dengan senyum licik dan semua rencana jahatnya, selir Me-ang dan selir Jia juga beberapa selir lainnya, mereka mendekat ke arah Ling Xu-mei yang sedang bersama dengan Kaisar Qin juga Gu Yanzel. "Kita permalukan dia sampai dia tidak berani lagi bersikap sombong kepada kita." ucap selir Jia yang kemudian mendekat ke arah Kaisar Qin yang sedang memperlihatkan bagaimana cara memanah.
"Kamu harus menariknya dengan kuat, kamu juga harus menarik tali busur ini dengan kekuatan tanganmu." kata Kaisar Qin yang menunjukkan kepada Ling Xu-mei,
Ling Xu-mei mengangguk, dia memperhatikan Kaisar Qin dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Aku tidak pernah mengira Kalau pria seperti Kaisar Qin adalah pria setia, setelah ditinggal oleh istrinya Dia tidak menikah lagi. Wow... dia ini benar-benar pria sejati di antara 100 pria." gumam Ling Xu-mei dalam hati sembari menatap Kaisar Qin dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Apa yang dikatakan oleh kaisar Qin seolah lewat di telinga Ling Xu-mei, karena ketika sang Kaisar mengatakan mengenai bagaimana cara menggunakan busur malah Ling Xu-mei menatap sosok yang ada di depannya itu dengan semua khayalan nya.
*bersambung*
semangat berkaryaa