Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepercayaan dan Kedamaian
🕊
Alea tiba lebih awal di restoran. Matahari baru saja menembus jendela kaca besar, memantulkan cahaya hangat ke lantai bersih dan meja-meja rapi. Aroma adonan pizza segar dan saus yang baru dimasak menyambutnya, seperti pelukan hangat yang membuat hatinya tenang. Ia menaruh tas di ruang ganti, merapikan seragam hitam-putihnya, dan menarik napas dalam-dalam.
“Selamat pagi, Lea!” sapa Rita, sambil tersenyum sambil menata area drive-thru. “Pagi, Rit,” balas Alea, senyum tipis muncul di wajahnya.
Hari ini berbeda. Alea merasa ada energi baru di sekitarnya. Pak Doni, kepala koki, sudah menunggunya di dapur.
“Lea, hari ini gue kasih tanggung jawab lebih. Lo yang atur antrean drive-thru, tapi kalau dapur butuh tambahan, lo bisa langsung turun dan bantu,” ujar Pak Doni. Suara nya tegas, tapi jelas menunjukkan kepercayaan. Alea menunduk hormat, senyum kecil. “Siap, Pak. Gue nggak akan bikin kecewa.”
Selama shift berlangsung, Alea menunjukkan kemampuannya. Ia menerima pesanan dengan cepat, menyiapkan struk, mengatur antrian kendaraan, dan sekaligus membantu di dapur ketika pesanan menumpuk. Setiap kali ia melangkah ke dapur, Pak Doni mengangguk puas. Bahkan Bu Tika, yang mengawasi jalannya restoran, beberapa kali menepuk bahunya sebagai tanda apresiasi.
“Bagus, Lea. Terus pertahankan ritme ini,” kata Bu Tika sambil tersenyum tipis.
Tidak hanya dari atasan, hubungan Alea dengan rekan kerja juga semakin hangat. Rita dan Sasa mulai berbagi trik, saling mengingatkan, dan sesekali bercanda ringan. Alea yang dulu mudah tersulut emosi kini lebih tenang, mampu menghadapi tekanan dengan kepala dingin.
Di sela-sela pekerjaan, Alea menyempatkan diri untuk istirahat singkat. Ia melangkah ke ruang kecil yang telah disiapkan restoran untuk staf beristirahat. Di sana, ia membuka tasnya, menggelar sajadah kecil, dan mulai sholat zuhur. Setiap gerakan terasa menenangkan, mengisi kembali energi fisik dan mentalnya. Setelah sholat, ia duduk sejenak, menatap jendela kecil yang menyorot sinar matahari.
“Ya Allah, terima kasih atas semua ini. Terima kasih atas pekerjaan, teman-teman, dan kesempatan untuk belajar. Bimbing aku agar selalu bisa bersikap adil, sabar, dan tetap bersemangat,” gumam nya dalam doa.
Suasana hatinya menjadi ringan. Ia menulis beberapa catatan di notes kecilnya, mencatat trik pelayanan yang ia pelajari hari itu, serta hal-hal baru tentang membuat pizza dan saus spaghetti yang lebih cepat tapi tetap rapi.
Sore harinya, Alea kembali ke drive-thru, kali ini sendirian. Pelanggan datang dan pergi, tapi ia tetap tersenyum ramah, membuat suasana menjadi lebih hangat. Ia merasa pekerjaannya bukan sekadar memenuhi pesanan, tapi membangun pengalaman menyenangkan bagi setiap orang yang datang.
Ketika jam pulang tiba, Pak Doni menghampirinya. “Lea, minggu depan gue ingin lo coba atur shift pagi. Lo sekarang udah cukup dipercaya. Gue yakin lo bisa handle semua,” ujarnya sambil menepuk pundak Alea. Alea menunduk hormat, senyum hangat di wajahnya. “Terima kasih, Pak. Gue nggak akan mengecewakan.”
Di perjalanan pulang, Alea duduk di sepeda motor yang dikendarai Ayu. Angin sore menerpa wajahnya, dan dia tersenyum. Hatinya lega, pikirannya tenang. Hari itu ia belajar banyak—tentang tanggung jawab, kepercayaan, kerja sama, dan kedamaian batin.
Alea tahu, meski tantangan akan selalu datang, ia sekarang siap menghadapi semuanya dengan kepala dingin, hati tenang, dan semangat yang tak tergoyahkan.
–
Pagi itu, Alea tiba lebih awal di restoran. Pagi yang hangat, udara sedikit lembab, namun ia merasa energi positif mengalir di dalam dirinya. Hari ini berbeda: ia dipercaya menangani shift penuh sendirian, sekaligus memimpin tim kecil yang terdiri dari Rita, Sasa, Reno, dan Dimas.
“Lea, lo yakin bisa?” tanya Rita sambil menata meja di area drive-thru. Alea tersenyum tipis. “Santai aja, Rit. Kita jalan bareng, semua pasti beres.”
Sementara itu, Pak Doni datang menghampiri Alea. “Hari ini lo yang atur semuanya. Gue percaya sama lo, Lea. Kalau ada masalah, lo yang handle dulu sebelum gue masuk,” ucapnya.
Alea mengangguk, merasakan detak jantungnya sedikit lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena semangat. Ia menyusun jadwal, membagi tugas, memastikan setiap orang tahu perannya. Dari menerima pesanan drive-thru hingga pelayanan dalam restoran, semuanya tertata rapi.
Sepanjang hari, Alea berjalan dari satu titik ke titik lain, menyesuaikan tempo tim, menenangkan rekan yang sedikit gugup, sambil tetap menerima pesanan dengan senyum manis. “Eh, Lea, lo santai banget ya, padahal gue udah panik setengah mati,” canda Dimas ketika Alea menghampiri area kasir.
Alea tertawa kecil. “Ya nggak usah panik, Dim. Santai aja, yang penting pelanggan senang, kita juga senang.” Senyuman Alea itu menular. Reno ikut tertawa, Rita mengangguk setuju, dan tim kecil itu bekerja seiring, tanpa drama, tanpa ego. Bahkan ketika terjadi kesalahan kecil—pesanan tertukar atau topping pizza yang kurang—Alea tetap tenang, mengatur perbaikan dengan cara yang elegan.
Waktu hampir sore, pelanggan berkurang, dan saatnya closingan. Alea berdiri di tengah restoran, menatap kehebohan yang terjadi. Semua orang bekerja sama membersihkan meja, menyapu lantai, mencuci piring, sambil bercanda satu sama lain. Alea tidak ketinggalan ikut membuat lelucon kecil:
“Eh, jangan sampai pizza gue dipakai buat latihan lempar, ya!” gurau Alea, menirukan suara dramatis. Reno menimpali dengan tertawa, “Kalau itu kejadian, kita langsung gantiin lo semua topping gratis!” Dimas ikut menimpali dengan suara tinggi, “Awas, Lea! Lo nanti malah jadi komedian resmi restoran!”
Suasana begitu hangat. Tawa mereka saling bersahutan, seperti gelombang kecil yang menenangkan hati siapa pun yang melihatnya. Alea merasakan sesuatu yang berbeda, ini bukan sekadar kerja, tapi keluarga kecil yang saling mendukung.
Setelah semuanya selesai, Alea merapikan seragamnya, memeriksa area kerja satu terakhir kali, dan menyapa setiap rekan dengan senyum. “Besok kita lakukan lagi, tapi jangan lupa bawa semangat yang sama, ya!” Rita menepuk bahunya. “Tenang aja, Lea. Lo pemimpin kita yang paling asik.”
Sementara itu, Reno dan Dimas saling bersandar sambil tertawa kecil, menatap Alea dengan rasa hormat terselip di antara candaan. Alea hanya tersenyum, tapi hatinya hangat.
Perjalanan pulang Alea terasa ringan. Ia naik kereta bersama Rita, jalurnya searah, sambil berbagi cerita ringan tentang shift hari ini. Di beberapa titik, mereka harus berpindah angkutan, dan akhirnya berpisah di stasiun transit berbeda.
Ketika Alea membuka pintu rumah, suasana sudah hening. Lampu taman menyala redup, tidak ada suara televisi atau langkah kaki. Namun Alea tidak merasa kosong. Ia menaruh tas, melepaskan sepatu, dan menatap ruang tamu sebentar. Tenang. Damai.
Ia duduk di tepi sofa, menutup mata sejenak, membiarkan napasnya mengalir. Hari yang panjang, tantangan yang berat, semua terasa ringan sekarang. Alea tersenyum kecil, menepuk dadanya sendiri. Ia tahu, ia mulai berubah: lebih dewasa, lebih bijak, lebih mampu menahan diri, dan tetap hangat dalam hubungannya dengan orang lain. “Terima kasih, Allah,” bisiknya pelan. “Hari ini indah… dan gue siap untuk besok lagi.”
Alea menatap langit-langit rumahnya sejenak, merasakan damai yang jarang ia rasakan sebelumnya. Hari itu, ia tidak hanya menyelesaikan shift dengan baik, tapi juga membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri: ia bisa memimpin, bisa mengatur, dan tetap bisa membuat semua orang tersenyum, tanpa kehilangan versi terbaik dari dirinya.