Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10# Sisa-sisa Kemakmuran
Suara gerimis di luar tebing Saka terdengar seperti bisikan ribuan serangga yang mencoba menembus celah batu. Di dalam gua, suasana masih terasa kaku. Kehadiran tiga penghuni baru Rick, Cicilia, dan Leo yang masih terbaring lemah membuat ruang gerak di dalam camp terasa sempit. Naya masih sibuk mengganti perban Leo dengan bantuan Lira, sementara yang lain berkumpul di sekitar perapian untuk menghangatkan tubuh.
Finn duduk sambil memutar-mutar tombak mekanis milik Rick yang sempat ia pinjam. Matanya yang tajam meneliti setiap detail ukiran logam pada senjata itu, lalu ia menatap busur panah milik Cicilia, dan beralih pada pisau besar milik Harry. Sebuah kerutan muncul di dahi Finn.
"Ada yang aneh," gumam Finn, memecah kesunyian.
"Apa yang aneh, Finn? Selain fakta bahwa kita dikelilingi monster dan dipandu oleh profesor yang tidur di kulkas?" sahut Rayden dengan suara pelan. Ia duduk meringkuk di dekat Zephyr, masih terlihat waspada terhadap setiap bayangan yang bergerak.
Finn mengabaikan sindiran Rayden. "Senjata-senjata ini. Rick, kau bilang kau menemukan tombak ini di tengah hutan, kan? Cicilia juga menemukan busurnya di sebuah peti kayu yang tertimbun tanah? Bahkan Harry punya koleksi pisau dan busur yang kualitasnya bukan buatan tangan amatir."
Rick mengangguk pendek. "Ya. Kami hanya beruntung menemukannya saat dikejar kawanan Phenix Omega sepuluh bulan lalu. Kami pikir itu adalah peninggalan orang-orang yang mati sebelum kami."
"Itu poinnya!" Finn berdiri, matanya menatap teman-temannya satu per satu. "Waktu kita semua bangun di hutan ini, kita tidak punya apa-apa. Hanya baju perak ini dan gelang di tangan kita. Lalu dari mana semua teknologi ini berasal? Jika tempat ini adalah penjara maut, kenapa penjara ini menyediakan alat untuk melawan penjaganya?"
Mendengar pertanyaan Finn, semua remaja itu terdiam. Arlo menatap gelangnya, lalu menatap Harry yang sejak tadi duduk membelakangi mereka sambil menatap api.
Harry menghela napas panjang. Ia meletakkan batu asahannya dan berbalik menghadap mereka. Wajahnya yang penuh luka gores tampak sangat tua di bawah cahaya api. "Finn benar. Senjata-senjata itu bukan muncul begitu saja dari tanah."
Harry terdiam sejenak, seolah sedang menggali memori yang sudah lama ia kunci rapat-rapat. "Sembilan tahun lalu, saat aku pertama kali dikirim ke sini bersama timku yang berjumlah dua puluh orang, tempat ini bukan neraka. Hutan ini... dulunya sangat tenang. Pohon-pohonnya tidak mencoba menjerat kakimu, dan kabutnya tidak berbau kematian."
"Lalu bagaimana kalian bertahan?" tanya Naya sambil menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Dulu, setiap satu bulan sekali, sebuah helikopter tanpa awak akan terbang rendah di atas wilayah ini," kenang Harry, matanya menerawang. "Mereka menjatuhkan peti-peti suplai. Isinya makanan kaleng, obat-obatan, pakaian, dan ya... senjata-senjata ini. Dulu kami pikir ini adalah semacam kamp pelatihan militer atau pelatihan menjaga diri. Tidak ada yang sakit, tidak ada yang mati. Kami hidup dengan damai meskipun kami tidak tahu kenapa kami dikirim ke sini."
Arlo mengerutkan kening. "Pelatihan? Jadi kalian tidak diserang oleh Phenix Omega?"
"Mereka ada di sana," jawab Harry sambil menunjuk ke luar gua. "Tapi dulu mereka hanya seperti anjing penjaga. Mereka diam di batas wilayah, mengawasi kami, memastikan kami tidak melewati jalur tertentu. Mereka membantu menjaga perimeter agar kami tetap aman di dalam jalur pelatihan. Semuanya damai... selama sembilan bulan pertama."
"Sembilan bulan?" bisik Cicilia. "Lalu apa yang terjadi?"
Wajah Harry berubah menjadi kelam. "Aku tidak tahu siapa pelakunya. Aku tidak tahu siapa yang memerintahkannya. Tapi tepat di bulan kesembilan, helikopter itu berhenti datang. Suplai makanan berhenti. Dan yang paling mengerikan... dalam satu malam, semua Phenix Omega yang tadinya tenang mendadak mengamuk. Mereka mulai berburu manusia. Mereka mencabik teman-temanku satu per satu saat kami sedang tidur. Kedamaian itu berubah menjadi neraka hanya dalam hitungan jam."
"Dan kau tidak tahu siapa yang melakukan ini pada kalian?" tanya Zephyr dengan nada menuduh.
"Tidak," jawab Harry jujur. "Aku tidak tahu tentang proyek ayahmu, Arlo. Aku tidak tahu tentang laboratorium bawah tanah. Aku hanya seorang prajurit yang dibuang ke sini untuk menjadi umpan dalam permainan yang tidak aku mengerti."
Tiba-tiba, suara dingin dan datar memotong pembicaraan. Dokter Luz, yang sedari tadi duduk di sudut terjauh sambil memeriksa alat pemancar listriknya, mendongak. Ia melepaskan tudung jasnya, memperlihatkan wajahnya yang tampak lelah namun tetap terlihat tajam.
"Harry benar tentang perubahannya, tapi dia salah tentang alasannya," ucap Luz.
Semua mata kini tertuju pada Dokter Luz. Rick langsung menggenggam tombaknya lebih erat, sementara Arlo maju selangkah.
"Ya," lanjut Luz, menatap Harry dengan pandangan yang sulit diartikan. "Semua itu berubah menjadi neraka karena ini semua adalah ulah pengkhianatan sahabat ayah Arlo. Dia menyuntikkan virus Predator-Log ke dalam sistem pusat Menara. Dia ingin menghancurkan kinerja semua program yang telah ayah Arlo bangun. Dia mengubah makhluk-makhluk yang awalnya diciptakan untuk membantu dan melindungi, menjadi predator ganas yang haus darah."
Luz berdiri, berjalan perlahan menuju tengah ruangan. "Peti-peti suplai itu berhenti karena jalur logistik diputus oleh pihak pemberontak di dunia luar. Ayah Arlo ditangkap tepat saat dia mencoba mengirimkan tim penyelamat untuk kalian. Dan aku... aku dikirim ke sini secara diam-diam olehnya untuk memperbaiki program itu sebelum semuanya terlambat. Tapi aku gagal mencapai konsol utama dan terpaksa membekukan diriku."
"Kau tahu semuanya, tapi kau membiarkan kami terjebak di sini?!" bentak Rick, amarahnya meluap. "Teman-temanku mati karena program yang kau sebut 'pelindung' itu!"
Luz menatap Rick tanpa rasa takut sedikit pun. "Aku tidak membiarkan siapa pun terjebak. Aku adalah orang yang paling ingin tempat ini hancur. Tapi pengkhianatan itu terlalu dalam. Sekarang, kita semua ada di perahu yang sama. Entah kalian ingin memercayaiku atau tidak, faktanya senjata di tangan kalian adalah satu-satunya peninggalan dari masa kedamaian yang sekarang telah mati."
Arlo menatap Dokter Luz, lalu menatap Harry. Ia bisa merasakan kejujuran dalam cerita Harry yang penuh luka, namun ia juga merasakan ada kebenaran pahit dalam penjelasan Luz, meskipun cara bicara wanita itu tetap membuat semua orang curiga.
"Jadi, kita menggunakan senjata dari orang-orang yang membuang kita untuk menghancurkan tempat buatan mereka sendiri?" Finn tertawa pahit. "Ironis sekali."
"Yang penting sekarang adalah bertahan," ucap Arlo tegas, mencoba meredam ketegangan. "Rick, Leo butuh istirahat. Naya, pastikan Leo mendapat cairan yang cukup. Besok pagi, kita tidak akan menunggu helikopter yang tidak akan pernah datang. Kita akan pergi ke Menara itu dan meminta pertanggungjawaban."
Malam itu, di dalam camp Saka, kenyataan tentang masa lalu mulai terkuak. Namun, penjelasan Dokter Luz bukannya meredakan suasana, justru membuat mereka semakin waspada. Di mata mereka, Luz adalah saksi hidup dari kehancuran ini, dan mungkin saja, dia masih menyembunyikan bagian paling mengerikan dari rencana pengkhianatan tersebut.
Di luar tebing, Phenix Omega terus mengintai dalam kabut, menunggu alat pelindung Saka benar-benar padam sepenuhnya.