"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Khodam Suami Padmi
Melihat para pelaku menjerit membuat ustadz Firman kesal. Dia pun naik ke atas pendopo lalu menghardik mereka dengan lantang.
"Berhenti menjerit. Kalian seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Apa kalian lupa bagaimana kalian tertawa saat membuat orang lain menderita?!" tanya ustadz Firman.
Ucapan sang ustadz sontak membuat jeritan para pelaku lenyap seketika. Mereka nampak berusaha menahan jeritan dengan cara menutup mulut masing-masing. Yang tersisa hanya suasana hening mencekam disertai nafas yang memburu tak beraturan.
Hal serupa juga terjadi pada Burhan dan Narti. Keduanya sontak berhenti menangis. Meski masih menutupi wajah dengan telapak tangan, keduanya tampak menunggu instruksi ustadz Firman selanjutnya.
Melihat semua pelaku berusaha menahan diri, ustadz Firman pun menghela nafas kasar. Kelelahan nampak membayang di wajahnya. Dia tak menyangka para pelaku yang sebelumnya berani main-main dengan ilmu hitam, kini justru terlihat seperti kerupuk terkena air.
"Sekarang kalian duduk. Lanjutkan berzikir dan jangan coba-coba untuk lari. Semua ada aturannya. Kalian patuh, kalian selamat. Jika kalian melanggar, tanggung sendiri akibatnya," kata ustadz Firman kemudian.
Para pelaku nampak gentar mendengar ucapan ustadz Firman. Tanpa aba-aba mereka segera duduk. Sedikit berdesakan tapi mereka tak peduli. Sesaat kemudian lantunan zikir kembali terdengar memenuhi area pendopo.
Danu dan Rama yang menyaksikan semuanya hanya bisa menggerutu dalam hati. Mereka kesal melihat sikap para pelaku yang 'cengeng' dan membuat waktu yang ada terbuang percuma.
Khawatir ustadz Firman kembali kesal karena ulah para pelaku, Danu segera mendekati pria sepuh itu.
"Maaf Ustadz, bisa kita mulai sekarang?. Waktunya hampir terlewat," bisik Danu mengingatkan.
"Tentu Mas Danu. Kita mulai sekarang. Kamu dan Rama tetap di posisi ya," pinta ustadz Firman sambil mendudukkan diri di pendopo.
"Siap Ustadz," sahut Danu cepat.
Setelah memastikan para pelaku benar-benar fokus berzikir, ustadz Firman mendekati pocong Ginah dan berusaha berkomunikasi dengannya. Di tempatnya Sastro nampak mengamati dengan perasaan tak menentu.
"Saya mengundangmu secara khusus untuk mempertemukanmu dengan mereka. Saya tau, ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan diantara kalian. Mereka sudah mengakui kesalahan mereka dan minta maaf pada suamimu. Mereka berharap kamu mau mengampuni mereka dan berhenti mengejar mereka," kata ustadz Firman dengan suara nyaris berbisik.
Pocong Ginah tetap mematung tanpa berkedip. Ustadz Firman yang mengerti mengapa pocong Ginah belum merespon ucapannya tadi nampak tersenyum. Setelah berdehem, dia melanjutkan ucapannya.
"Baik lah, saya akan jujur. Mereka takut kamu menyakiti mereka seperti yang kamu lakukan kepada Padmi dan Oji. Mereka ... " ucapan ustadz Firman terputus karena tiba-tiba pocong Ginah melakukan gerakan yang tak biasa.
Jika dalam situasi biasa mungkin apa yang dilakukan pocong Ginah akan terlihat lucu dan membuat ustadz Firman tertawa, tapi tidak kali ini. Ustadz Firman tahu, gerakan itu adalah isyarat bahwa pocong Ginah tak setuju dengan ucapannya tadi.
"Iya iya. Tolong berhenti bergerak, saya pusing ngeliatnya," pinta ustadz Firman sambil memijit pelipisnya.
Ajaib. Pocong Ginah nampak menghentikan aksinya lalu menatap ustadz Firman dengan lekat.
"Jadi kamu ga melakukan apa pun sama Padmi dan Oji. Kalo bukan kamu, terus siapa?" tanya ustadz Firman kemudian.
Karena sebelumnya dilarang bergerak, maka pocong Ginah pun menggeram untuk merespon pertanyaan ustadz Firman.
Ustadz Firman nampak menghela nafas kasar. Dia menoleh kearah Sastro dan memberi isyarat agar pria itu mendekat kearahnya.
Sastro mengangguk lalu bergegas mendekati ustadz Firman.
"Apa ada yang bisa saya bantu Ustadz?" tanya Sastro.
"Iya Pak Sastro. Tolong kamu sentuh istrimu itu. Saya kesulitan membaca apa yang ingin dia ceritakan," pinta ustadz Firman.
Sastro terkejut mendengar permintaan sang ustadz.
"Tapi bukannya Ustadz nyuruh saya menjauh tadi?" tanya Sastro mengingatkan.
"Iya. Tapi sekarang saya butuh bantuan Pak Sastro. Saya harap bisa dapat informasi lebih banyak nanti," sahut ustadz Firman gusar.
Sastro mengangguk lalu bergerak mendekati pocong Ginah. Berdiri berhadapan sambil menatap wujud lain wanita yang menemaninya puluhan tahun itu membuat Sastro hampir menangis. Kedua matanya nampak berkaca-kaca, nafasnya pun terasa memburu.
Setelah berhasil mengendalikan diri, Sastro mengulurkan tangannya kearah punggung tangan pocong Ginah yang bersedekap itu.
Melihat keraguan di mata Sastro membuat ustadz Firman iba. Dia segera mencekal pergelangan tangan Sastro lalu mengarahkannya hingga benar-benar menyentuh pocong Ginah.
Rasa dingin menyapa telapak tangan Sastro saat menyentuh permukaan kulit pocong Ginah yang terhalang kain kafan itu. Dan kali ini Sastro tak lagi kuasa menahan tangis.
Meski menahan iba karena melihat Sastro menangis, tapi ustadz Firman akhirnya berhasil mendapatkan informasi yang dia cari.
Ternyata selama ini yang menghantui Padmi dan Oji bukan hanya arwah Ginah tapi juga sesuatu yang lain. Dari penglihatan ustadz Firman diketahui bahwa sesuatu yang lain itu adalah khodam penjaga yang ada di rumah Padmi.
Khodam itu milik suami Padmi yang sedang merantau keluar negeri. Pria itu sengaja meletakkan khodam itu di rumah untuk menjaga Padmi dan kedua anak mereka. Suami Padmi khawatir Padmi akan mendua saat dia jauh dari rumah. Ternyata kekhawatirannya terbukti. Padmi mendua bahkan melakukan hubungan terlarang dengan pria lain.
Keberadaan khodam itu tak diketahui oleh Padmi. Saat Padmi dan Oji bercinta di rumah sebagai imbalan Oji melakukan apa yang Padmi suruh, khodam itu menyaksikan semuanya.
Kemudian khodam itu memberitahu suami Padmi tentang apa yang terjadi. Tentu saja itu membuat suami Padmi murka. Dia meminta sang khodam membalaskan sakit hatinya kepada Padmi dan Oji.
Tanpa diketahui banyak orang, ternyata khodam peliharaan suami Padmi telah melakukan banyak teror pada Padmi dan Oji jauh sebelum keduanya meninggal dunia. Belakangan dia juga menyerupai Ginah, sesuatu yang memang ditakuti oleh Padmi dan Oji.
Setelah mendapat perintah untuk menyudahi teror, khodam itu pun mengakhiri hidup Padmi dan Oji dengan cara yang tragis.
Ustadz Firman membuka matanya perlahan lalu menghela nafas panjang usai mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Padmi dan Oji.
Kini ustadz Firman mengerti mengapa suami Padmi tak pernah kembali meski sudah dikabari Padmi meninggal dunia. Jangankan menziarahi makam Padmi, suaminya bahkan tak peduli dengan kedua anak mereka yang kini ada dalam pemeliharaan Sartika.
"Sudah cukup Pak Sastro. Terima kasih ...," kata ustadz Firman sambil menepuk bahu Sastro.
Sayangnya Sastro tak merespon ucapan ustadz Firman. Pria itu justru jatuh terduduk dengan kepala menunduk dan wajah bersimbah air mata. Tangannya yang tadi digunakan untuk menyentuh pocong Ginah tampak kaku seolah sulit digerakkan. Semua orang tahu, Sastro masih belum rela melepas kepergian istrinya itu.
Rama dan Danu yang siaga sejak tadi segera bertindak. Mereka segera menggotong Sastro dan membawanya menjauh dari pendopo.
Ustadz Firman nampak tersenyum melihat kesigapan Rama dan Danu. Dia bersyukur kedua pemuda itu berada di sana karena bisa membantu meringankan bebannya.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya