NovelToon NovelToon
The Journey Of Soul Detective

The Journey Of Soul Detective

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Mata Batin
Popularitas:423
Nilai: 5
Nama Author: humairoh anindita

Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.

Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Malam itu hujan deras disertai angin ribut mengguyur seluruh kota, terasa seolah akan menenggelamkan seluruh pulau. Suara gemuruh guntur dan petir sesekali akan memecah keheningan membuat suasana yang sejak pagi cerah menjadi suram seketika. Desember telah tiba dan tentu saja hujan akan datang lebih bersemangat dari biasanya. Udara mulai terasa dingin ditambah dengan kabut tipis yang diciptakan oleh hujan membuat tekanan udara semakin dingin. Hiruk pikuk kota seolah berhenti pada tidak ini, membiarkannya tenang setelah seharian penuh dengan energi.

Erwin Yulian, duduk di belakang meja kasir tokonya dengan bosan. Menatap air hujan yang turun dari atap teras dan mengabaikan setumpuk laporan yang telah ditulis kariyawannya. Ia telah melakukan kegiatan ini hampir 2 jam, terdengar tidak bermanfaat tapi cukup mengisi kekosongan. Terkadang ia benar-benar letih dengan keadaan. Omset yang tidak menentu, stok barang yang berlebih, gaji kariyawannya, dan hal-hal lain yang tidak terduga. Mewarisi usaha yang hampir bangkrut memang tidak mudah, tapi memulainya dari titik awal sepertinya lebih tidak mudah.

Sebenarnya ia tidak ingin ada di sini, tidak tahun ini. Bukan tahun dimana tidak ada lagi ibu yang menunggunya pulang. Tahun dimana ia kehilangan segalanya, ibunya, bisnisnya dan anaknya yang bahkan belum lahir. Dia tidak mengerti kenapa hidupnya penuh dengan ujian, ia tidak merasa pernah berhutang atau melakukan hal buruk pada siapa pun. Dia tidak tahu kapan ini semua akan berakhir. Saat ini dia sedang menunggunya, duduk diantara bisnis yang hampir hancur menunggu pelangi yang dibicarakan oleh banyak orang.

Dia menatap hujan dengan pandangan kosong hingga ia menyadari ada seorang wanita dengan pakaian putih berdiri tanpa payung di bawah lampu papan nama tokonya. Sesaat ia meragukan penglihatnya, apakah itu manusia?

Namun kakinya menapak di tanah, jadi dia pasti manusia. Erwin keluar dari meja kasirnya dan menuju teras.

“Kenapa Bu, ada yang bisa dibantu?”

Mendengar suara Erwin wanita itu tampak ragu dan berjalan mendekatinya,

“ada yang melakukan percobaan pembunuhan” ucapnya.

“Apa?”

Suara hujan deras menyamarkan suara wanita yang terdengar bergetar itu. Ia mengambil kartu nama dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Erwin.

Amira, itu yang tertulis. Dia adalah seorang perawat di Rumah Sakit yang tidak jauh dari sini.

“Ada bayi yang baru lahir dan hampir terbunuh,” sahut wanita itu.

“Apa maksudmu?”

“Ada seorang ibu yang baru saja melahirkan, dan dia ingin membunuh anaknya!” Ucap wanita itu lebih tegas.

Ekspresi wanita itu tampak panik dan khawatir, benar-benar menampakan keseriusan dan bukan kebohongan. Namun Erwin tidak langsung mempercayai wanita itu, ada begitu banyak kasus penipuan akhir-akhir ini jadi ia harus waspada. Ia mengaktifkan mode detektifnya untuk menelisik apa yang sebenarnya terjadi.

Ada seorang perawat yang datang ke tokonya dengan begitu kacau dan mengatakan ada seseorang yang akan melakukan pembunuhan. Mengapa ia tidak menghubungi ambulan atau kembali ke tempat kerja jika memang ada wanita hamil yang butuh pertolongan, dan mengapa ia tidak menghubungi kantor polisi jika itu adalah kasus kriminal. Distrik ini adalah tempat yang sangat strategis rumah sakit, kantor polisi, bahkan tempat ibadah berada di satu jalur yang sama dan tidak berjauhan. Mengapa ia malah keluar dan mencari orang lain?

“Pak, kalau kau tidak cepat bayi itu mungkin mati!”

Kejadiannya memang mencurigakan tapi wanita ini berkata jujur, ini bukan saatnya berpikir macam-macam. Nyawa seorang bayi masih dalam bahaya.

“Di mana lokasinya?”

“Aku akan mengantarmu kesana.”

Amira, wanita perawat itu kembali berlari menerobos hujan dan Erwin melangkah di belakangnya. Menerobos hujan deras tanpa payung atau jas hujan di malam Desember sepertinya bukan salah satu agenda yang Erwin rencanakan. Baju tipis yang ia gunakan basah kuyup sedetik setelah ia keluar dari pelataran toko, kulitnya merinding dan persendiannya mulai terasa ngilu. Diam-diam ia mulai mengkhawatirkan nasib ponsel baru di saku celana jeans-nya. Ia selalu menjadi orang yang ceroboh ketika terburu-buru.

Erwin mengamati punggung Amira yang berlari di depannya. Dia hanya menggunakan seragam rumah sakitnya, baju lengan pendek dan celana panjang yang terlihat tidak begitu tebal. Dengan sepatu heels yang cukup tinggi ia masih dapat berlari di tengah hujan.

Selain itu,

“bagaimana kau tau ada yang mencoba membunuh?”

“Aku yang membantunya melahirkan dan ketika aku ingin menghubungi ambulan dia menolak dengan keras, menghancurkan hpku dan mulai mengancamku dengan pisau. Aku terpaksa memberinya suntikkan bius sederhana dan mengamankan bayinya untuk sementara,” ucap Amira sambil memperlambat larinya.

“Kau sudah memberinya bius, mengapa kau masih panik?”

“Aku membawa bius hanya untuk keamanan dan itu saja sudah menjadi tindakan ilegal. Pada orang normal itu hanya akan berefek selama 5 menit, dan akan lebih cepat pudar pada orang yang memiliki vitalitas tinggi. Sedangkan wanita itu tampak setengah gila!”

Erwin menahan nafas mendengar Amira berkata dengan sedikit keras. Orang setengah waras entah bagaimana memiliki vitalitas yang luar biasa, dan Amira hanya memberinya dosis yang hanya cukup untuk orang normal. Sudah bisa ditebak bagaimana ini berakhir, mereka pun berlari semakin cepat menuju tempat itu. Mengabaikan hujan yang mulai memperpendek jarak pandangnya atau tokonya yang bahkan belum ditutup!

“Apakah masih jauh?”

Amira tidak menjawab, ia berlari semakin cepat begitu melihat pertigaan di depannya. Ia berbelok kurang lebih 50 meter hingga sampai ke sebuah bangunan mangkrak yang terlihat sangat terbengkalai. Erwin ingat bangunan ini, gedung 3 lantai yang investornya kabur membawa seluruh dana pembangunan dan membuat pekerjaaan terhenti. Seluruh dinding cornya telah berlumut gelap dan menghitam, dengan udara dingin dan hujan yang lebat bangunan ini tampak seperti destinasi horror. Erwin diam-diam bersyukur ia tidak punya kemampuan untuk melihat makhluk astral, jika tidak misi penyelamatan ini pasti gagal.

Ada sebuah mobil terparkir di depan gedung itu. Mesinya masih menyala dan lampu utamanya menyorot seorang wanita berusia setidaknya 30 tahun berdiri tidak jauh dari mobil. Kulitnya pucat, rambutnya sangat acak-acakan, dan pandanganya tampak kosong dan liar. Jika tidak dalam keadaan yang seperti ini, Erwin yakin wanita ini benar-benar cantik. Dia tidak terlihat seperti ibu-ibu yang baru saja hamil atau melahirkan. Badannya tampak kecil dan langsing, hanya noda-noda darah lah yang menegaskan bahwa ia baru saja melahirkan.

“Ada mobil di sana mengapa kamu tidak mengamankan bayinya lebih jauh!”

Erwin hampir meledak emosi. Ada sebuah mobil yang dapat menyala dengan baik, bayi dan seorang wanita gila yang ingin membunuh anaknya. Mengapa ia tidak berinisiatif untuk pergi dengan mobil itu.

“Aku tidak bisa membawa mobil, dan aku tidak mungkin membawa bayi yang baru lahir ke tengah hujan lebat!”

Lalu dimana bayi itu?

“Dan kau meletakan bayi itu di dalam mobil?”

Erwin hampir berteriak frustasi ketika Amira mengangguk. Tapi ia tidak sempat, wanita gila itu sudah berjalan mendekat dengan langkah cepat.

“Berhenti disana, aku polisi!” Erwin berteriak.

Wanita gila itu berhenti berlari, hanya tinggal 2 meter dan ia akan mencapai mobil. Suara tangisan bayi terdengar bersama derasnya suara hujan dan deru mesin mobil.

Terdiam di tengah derasnya hujan, wanita itu mulai menelisik Erwin. Dan sekali lagi Erwin benar-benar kagum dengan wanita-wanita yang ia temui malam ini. Di tengah dinginnya hujan seorang wanita yang baru saja melahirkan dapat berdiri dengan kedua kakinya tanpa goyah. Dia bahkan baru saja dibius.

“Apa gunanya polisi?” ucap kedua wanita itu bersamaan.

Bahkan di tengah-tengah ketegangan kedua wanita ini memiliki pemikiran yang sama.

“Aku akan membunuhnya!”

Suara serak dan lirih itu kembali terdengar. Erwin dan Amira mulai merasakan takut dan merinding. Erwin menelan ludah dengan susah payah begitu melihat sebuah pisau tajam di tangan wanita itu.

“Menyingkir darinya, dia akan mati bersamaku.”

Jadi dia ingin bunuh diri bersama anaknya?

Tiba-tiba wanita itu menggila dan berlari menuju mobil, dengan panik Erwin dan Amira mencoba menahannya. Namun mereka benar-benar kalah langkah, wanita itu telah membuka pintu kemudi mobil. Beruntung Amira meletakan bayi itu di samping kemudi jadi mereka masih punya sepersekian detik untuk berusaha.

Erwin menendang wanita itu dari pintu mobil tanpa tenaga, berhasil membuatnya oleng dan berhasil membuat wanita gila itu berubah pikiran. Dia mulai menyerang Erwin dengan pisaunya. Erwin dengan pandangan yang kabur dan kepala yang mulai memberat tidak dapat menghindar dengan baik, wanita itu berhasil melukai lengannya.

Namun sebelum wanita itu bertindak lebih jauh Amira telah memanfaatkan waktu dengan mengambil balok kayu yang cukup besar. Ia memukul punggung wanita itu dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Wanita itu tampak linglung dan terhuyung mundur, tanpa menyadari tanah yang tidak rata ia terjatuh ke lantai sebelum menggelinding diantara besi-besi berkarat.

“Aku tidak akan mati sebelum anakmu mati” gumamnya.

Namun beberapa saat kemudian wanita itu kehilangan kesadaran dengan mata yang masih terbuka.

Erwin menatapnya dengan tidak percaya. Apakah ia mati atau masih hidup? Ia tidak peduli. Ia dengan segera mengambil ponsel di saku celananya, benar-benar bersyukur karena itu belum rusak. Ia menelfon polisi dan ambulan, lalu memandang wajah bayi yang menangis itu dengan prihatin.

Bayi kecil itu sangat malang, ibunya gila dan hampir membunuhnya. Lalu di mana ayahnya?

Tidak ada satu orang pun yang menyadari seorang pria misterius mengawasi mereka dari balik pohon besar. 

 

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!