NovelToon NovelToon
SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Sistem / Fantasi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 KELUAR DARI PASAR

Langkah kaki Abimanyu kini membawanya ke sebuah dataran tinggi yang landai sebelum benar-benar memasuki kelebatan hutan rimba. Dari ketinggian ini, ia bisa melihat jalanan setapak yang menghubungkan desa-desa di bawahnya, tempat di mana manusia-manusia berkumpul dalam apa yang ia sebut sebagai "Pasar Besar Kehidupan". Di kejauhan, ia masih bisa mendengar sayup-sayup keramaian—bukan suara perdagangan barang, melainkan dengung dari peradaban yang sedang sibuk memamerkan dirinya sendiri.

Ia berhenti sejenak, duduk di atas akar pohon tua yang mencuat ke permukaan tanah seperti urat nadi bumi. Ia menatap ke bawah, ke arah lembah yang perlahan mulai tertutup kabut tipis. Di sana, di dalam pasar yang tidak pernah tidur itu, ia tahu apa yang sedang terjadi.

"Di sana," gumam Abimanyu, matanya menyipit menatap titik-titik cahaya di kejauhan, "mereka sedang melakukan transaksi yang paling mengerikan. Mereka tidak menjual gandum atau emas; mereka menjual detak jantung mereka demi selembar kertas pengakuan. Mereka menukar keheningan batin mereka dengan kebisingan tepuk tangan."

Abimanyu teringat pada hari-hari di mana ia sendiri adalah pedagang terkemuka di pasar itu. Ia teringat akan ruang-ruang konferensi yang pengap, tempat para pemikir berpakaian rapi saling melempar argumen bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk meningkatkan "harga jual" intelektual mereka. Pasar itu adalah tempat di mana nilai seorang manusia ditentukan oleh seberapa sering namanya disebut oleh orang lain—sebuah sistem barter ego yang tak berujung.

"Kalian memuja 'angka' seolah-olah angka adalah napas Tuhan," desisnya. "Kalian mengejar h-index seolah-olah itu adalah indeks keselamatan jiwa. Kalian menghitung jumlah sitasi seolah-olah setiap kutipan adalah satu langkah menuju surga. Kalian telah mengubah hikmat menjadi komoditas, dan pemikiran menjadi barang dagangan yang bisa ditawar."

Ia tertawa getir saat mengingat bagaimana ia dulu merasa bangga ketika grafiknya naik, ketika angka-angka di layar monitor menunjukkan bahwa ia "berharga" di mata pasar. Sekarang, dari tempatnya berdiri, angka-angka itu tampak seperti semut yang berebut remah-remah di atas meja yang akan segera dibersihkan.

Bagi Abimanyu yang kini memiliki mata seorang Anak, pasar itu tampak seperti sirkus yang menyedihkan. Di sana, orisinalitas adalah musuh utama. Para pedagang di pasar itu lebih suka menjual barang yang sudah dikenal—pemikiran-pemikiran lama yang dikemas kembali dengan label baru agar tetap laku. Mereka takut pada kesunyian karena di dalam kesunyian tidak ada yang akan memberikan kutipan. Mereka takut pada kegelapan karena di sana tidak ada lampu sorot yang akan menyoroti gelar mereka.

"Kalian telah menciptakan Tuhan baru dari statistik," Abimanyu melanjutkan kontemplasinya. "Kalian mengukur kecerdasan dengan algoritma, dan mengukur keberadaan dengan data. Jika namamu tidak muncul di dalam daftar mesin pencari, kalian merasa tidak ada. Kalian adalah hamba dari cermin; kalian hanya merasa hidup jika kalian melihat pantulan diri kalian di mata orang lain."

Ia teringat akan rekan-rekannya yang masih berada di sana. Dr. Hardi yang selalu gelisah jika makalahnya tidak segera terbit, atau Profesor Danu yang menghabiskan energinya untuk memastikan posisinya di puncak klasemen sitasi tetap aman. Mereka adalah orang-orang yang kaya akan angka namun miskin akan pengalaman. Mereka memiliki peta yang sangat detail tentang lautan, namun mereka belum pernah membiarkan kaki mereka basah oleh air garam.

"Pasar itu dingin," ucapnya pelan. "Meskipun riuh, ia dingin karena tidak ada kehangatan kejujuran di dalamnya. Semuanya adalah transaksi. Bahkan persahabatan intelektual di sana hanyalah kemitraan strategis untuk saling mengutip."

Abimanyu berdiri, membalikkan badannya membelakangi lembah dan pasar yang hiruk pikuk itu. Di hadapannya, hutan rimba di kaki gunung berdiri dengan keagungan yang diam. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, dahan-dahannya saling bertautan membentuk atap alami yang hanya menyisakan sedikit celah bagi cahaya matahari.

Ini adalah pintu masuk menuju laboratorium yang sesungguhnya. Laboratorium tanpa dinding, tanpa jurnal, dan tanpa penonton.

"Selamat tinggal, para pedagang angka," kata Abimanyu dengan nada yang kini lebih ringan. "Teruskanlah menghitung dirimu hingga kau lupa cara bernapas. Teruskanlah membangun menara dari angka sitasimu hingga kau tidak lagi bisa melihat tanah yang kau pijak. Aku memilih kesunyian ini."

Ia melangkah masuk ke dalam hutan. Saat ia melewati batas antara padang rumput dan rimbunnya pepohonan, suara dunia di belakangnya tiba-tiba menghilang. Suasana berubah menjadi sunyi yang padat—kesunyian yang tidak kosong, melainkan penuh dengan suara-suara alam yang jujur: gesekan daun, suara patahan ranting di bawah kakinya, dan deru angin di ketinggian tajuk pohon.

Di sini, tidak ada yang peduli pada gelarnya. Pohon ek tua di depannya tidak akan membungkuk karena ia seorang profesor. Lumut di atas batu tidak akan memberikan sitasi pada langkah kakinya. Hutan ini adalah tempat di mana "angka" kehilangan maknanya dan hanya "keberadaan" yang diakui.

"Di pasar, aku adalah apa yang mereka katakan tentangku," pikir Abimanyu sambil menyibak semak belukar. "Di hutan ini, aku adalah apa yang aku lakukan pada setiap detik ini. Hutan ini tidak memuji, tapi ia juga tidak berbohong. Ia hanya ada, dan di dalam 'keadaan' ini, aku menemukan kejujuran yang tidak pernah dijual di pasar."

Langkahnya semakin dalam memasuki hutan. Cahaya matahari mulai meredup, menciptakan suasana temaram yang tenang. Aroma humus yang lembap dan bau kayu yang membusuk memenuhi indranya. Baginya, ini adalah aroma kehidupan yang sejati—kehidupan yang tumbuh dari kematian, kehidupan yang tidak butuh publikasi untuk menjadi nyata.

Ia menemukan sebuah aliran sungai kecil dengan air yang sangat jernih mengalir di sela-sela batu hitam. Abimanyu berlutut di tepi sungai itu, menciduk air dengan tangannya, dan meminumnya. Air itu sangat dingin dan segar, memberikan energi baru yang meresap hingga ke jiwanya.

"Di pasar, mereka berdebat tentang definisi air," gumamnya sambil menatap riak air. "Di sini, aku meminumnya dan aku hidup. Itulah perbedaan antara Manusia Kertas dan Sang Pendaki. Yang satu mengumpulkan teori tentang dahaga, yang lain memuaskan dahaganya dengan tindakan."

Ia menyadari bahwa keputusannya untuk "Keluar dari Pasar" bukan hanya tentang berpindah tempat secara fisik, melainkan sebuah perpindahan ontologis. Ia sedang keluar dari sistem nilai yang didasarkan pada perbandingan, menuju sistem nilai yang didasarkan pada pertumbuhan biri sendiri.

Hutan ini menjadi laboratorium barunya. Tanpa RPS, tanpa kurikulum, tanpa target capaian pembelajaran. Gurunya adalah gravitasi, angin, dan keletihan tubuhnya sendiri. Setiap langkah menanjak adalah bab baru dalam bukunya yang tidak akan pernah ia tulis di atas kertas.

"Biarlah kesunyian ini menjadi jurnalku," ucap Abimanyu sambil menatap ke atas, ke arah puncak gunung yang kini tampak lebih dekat melalui celah pepohonan. "Biarlah setiap detak jantungku menjadi angka yang tidak perlu dihitung oleh siapa pun. Aku telah keluar dari pasar manusia, dan kini aku memasuki pasar semesta—di mana satu-satunya mata uang yang berlaku adalah kehendak untuk terus mendaki."

Malam mulai turun menyelimuti hutan kaki gunung. Abimanyu mencari tempat untuk beristirahat di bawah perlindungan sebuah ceruk batu besar. Ia tidak lagi merasa kesepian meskipun ia benar-benar sendiri. Karena di dalam kesunyian hutan ini, untuk pertama kalinya, ia merasa tidak lagi terbagi. Ia bukan lagi profesor, bukan lagi subjek sitasi, bukan lagi angka statistik. Ia adalah seorang Pendaki yang sedang mendengarkan bisikan gunung dalam kegelapan yang jujur.

Pasar di lembah sana kini hanyalah kenangan yang samar dan tidak berarti. Di sini, di bawah atap hutan dan bintang-bintang yang mulai bermunculan, Abimanyu telah benar-benar melampaui "Manusia Kertas". Ia telah merobek kontraknya dengan pasar dunia, dan kini ia sedang menandatangani perjanjian baru dengan takdirnya sendiri.

1
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!