Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Antara Aku, Kamu, dan Dia
"Aluna," sapa Brian lirih saat melihat gadis itu sedang duduk menyendiri di taman sekolah.
Aluna mendongak, sedikit terkejut. "Brian, ngapain kamu ke sini?" ucapnya sambil merapatkan letak duduknya.
"Luna, aku punya sesuatu buat kamu." Brian berdiri tepat di depan Aluna, menghalangi cahaya matahari yang jatuh ke wajah gadis itu.
"Apa?"
"Tara.... cokelat!" Brian menyodorkan sebungkus Silverqueen. "Kamu suka kan sama cokelat Silverqueen? Jadi aku beliin deh buat kamu."
Aluna tertegun, tangannya perlahan menerima pemberian itu. "Dari mana kamu tahu aku suka cokelat?"
"Dari hati aku, hehe. Terima ya." Brian terkekeh, meski matanya menyiratkan harapan yang besar.
"Yaudah, iya," ucap Luna akhirnya sambil tersenyum tipis.
Dari balik tembok kelas yang tak jauh dari sana, Bara menyaksikan semuanya. Dadanya berdenyut nyeri melihat senyum Aluna untuk orang lain. Padahal, semalam Bara lah yang mengitari kota demi mencari cokelat itu setelah Brian merengek meminta bantuan. Bara yang memilih, Bara yang membayar, tapi Brian yang mendapat senyuman nya. Sakit, namun Bara merasa ini satu-satunya cara untuk tetap berada di dekat Aluna.
Sakit si, tapi Setidaknya Aluna Suka, walaupun bukan aku yang memberikan coklat itu secara langsung. batin bara.
"Oiya Luna, nanti pulang sekolah bareng aku ya? Nanti aku bonceng kamu, gimana?" tanya Brian, mencoba peruntungannya.
Aluna terdiam sebentar, jemarinya meremas pinggiran buku yang ia pegang. "Ah, gak usah lah Brian, aku bisa pulang sendiri."
"Kamu gak suka ya pulang bareng aku?" suara Brian merendah, terdengar kecewa.
"Bukan gitu Brian, aku udah ada janji sama temen aku, jadi maaf ya aku gak bisa."
"Ya udah deh, kalau gitu aku masuk kelas dulu. Jangan lupa dimakan ya cokelatnya."
"Iya, terimakasih ya Brian."
"Oke, sama-sama."
Begitu Brian menjauh dan masuk ke gedung kelas, suasana taman mendadak terasa dingin bagi Aluna. Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul di sampingnya. Bara sudah berdiri di sana, menatap cokelat di tangan Aluna dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Enak cokelatnya?" ucap Bara dingin.
Aluna yang sedang asyik membaca buku pun menoleh dengan jantung yang hampir melompat. "Bara! Kamu ngagetin aja deh!"
Bara tidak bergeming. "Aku tanya, enak cokelatnya?"
"Ya enaklah, namanya juga cokelat. Kamu kan tau sendiri aku paling suka cokelat," jawab Aluna antusias, namun matanya kemudian menyipit bingung. "Tapi kok aneh ya, Brian bisa tau aku suka makan cokelat, padahal kan aku gak pernah bilang sama dia. Ya kan, Bar?"
Bara membuang muka ke arah lain, rahangnya mengeras. "Tau ah, bete."
"Bete kenapa?" Aluna mengernyit, mencoba menatap mata Bara.
"Gak tau," ucap Bara cuek. Ia berbalik dengan gerakan kaku, meninggalkan Aluna yang masih terpaku di tempatnya.
Teng... Teng... Teng...
Bunyi lonceng sekolah memecah keheningan . Aluna dan Bara pun berjalan masuk ke kelas dengan jarak yang terbentang lebar, membawa rahasia masing-masing yang belum sempat terucap.
Aluna berusaha mengejar Bara yang seolah sedang menghindari nya. "Bara, tungguin! Kamu kenapa, sih?" panggilnya, tapi Bara tetap diam, terus berjalan lurus sampai masuk ke dalam kelas.
Bara langsung duduk di samping Brian dengan wajah yang ditekuk habis. Brian, yang dari tadi memang sudah tidak sabar, langsung menyenggol lengan Bara dengan semangat.
"Bar, lo tahu nggak? Tadi pas aku kasih Aluna cokelat yang kamu beli itu, dia langsung terima!" Brian bercerita dengan mata berbinar-binar. "Dan kamu tahu nggak? Dia langsung senyum ke aku. Duh, senyum Aluna bikin aku makin suka sama dia, Bara!"
Bara hanya diam. Ia membuang muka ke arah jendela, menumpu dagunya dengan tangan. Rasanya sesak sekali mendengar Brian memuji senyum yang sebenarnya tercipta karena cokelat pilihannya sendiri.
"Aduh, Bara! Kamu kenapa sih? Aku lagi ngomong lho sama kamu," gerutu Brian kesal karena merasa dicueki habis-habisan oleh sahabatnya.
"Lo kalau ngomongin yang nggak penting mending diam deh. Berisik," ketusnya.
Brian ternganga, merasa aneh dengan sikap Bara yang tiba-tiba sensitif. Tak lama kemudian, Aluna masuk ke kelas. Langkahnya terhenti sejenak saat matanya dan mata Bara beradu. Ada sesuatu yang tak terucap di sana, sebuah perasaan yang sulit diartikan, namun Bara cepat-cepat menghindar.
Aluna memberanikan diri mendekat ke meja mereka. "Bara, aku mau ngomong sama kamu," ucapnya pelan.
"Maaf, aku nggak punya waktu. Lagian ini udah masuk, bentar lagi Bu Sinta datang," jawab Bara tanpa menatap Aluna. Tangannya sibuk membuka tas, pura-pura mencari sesuatu.
"Bentar aja, Bar."
"Nggak bisa, Luna. Kalau mau ngomong, sama Brian aja deh. Aku lagi males,".
Kata-kata itu membuat Aluna terdiam di tempatnya. Sakit sekali mendengar Bara seolah tidak memperdulikan nya. Bara memang sengaja. Ia berusaha mati-matian menghindari Aluna, berharap rasa cinta itu perlahan hilang. Di matanya, mengorbankan perasaan sendiri jauh lebih baik daripada menyakiti hati Brian, sahabat yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Bu Sinta akhirnya masuk ke kelas, memecah kecanggungan yang nyaris membeku diantara mereka. Semua murid berhamburan duduk ke kursi masing-masing, termasuk Aluna yang berjalan gontai menuju bangkunya di barisan tengah.
"Buka buku paket kalian halaman empat puluh lima," suara tegas Bu Sinta menggema, diikuti suara gesekan kertas yang serentak.
Aluna membuka bukunya, tapi matanya terus melirik ke barisan depan. Di sana, Bara duduk tegak, tampak sangat fokus memperhatikan penjelasan di papan tulis. Padahal Aluna tahu, kalau Bara lagi serius banget kayak gitu, biasanya dia justru lagi menyembunyikan sesuatu.
Tiba-tiba, ada sebuah gumpalan kertas kecil mendarat di atas meja Aluna. Aluna menoleh ke samping, melihat Brian yang memberikan isyarat dengan kedipan mata supaya dia membuka kertas itu.
Aluna membukanya perlahan.
“Nanti pulang sekolah, beneran nggak bisa ya? Aku mau ajak kamu ke tempat baru yang asyik.”
Aluna menghela napas. Ia melirik Brian, lalu beralih menatap punggung Bara. Entah kenapa, rasanya sangat menyakitkan melihat Bara diam saja, padahal biasanya Bara yang paling sensi kalau Brian mulai mencoba mendekatinya. Sekarang, Bara benar-benar tidak peduli.
Aluna pun menulis balasan di balik kertas itu: “Maaf, Brian. Aku beneran ada urusan.”
Ia melempar kembali kertas itu ke meja Brian. Aluna sempat melihat Brian membacanya. Brian kemudian menyenggol Bara, menunjukkan kertas itu seolah meminta dukungan.
Dari tempatnya duduk, Aluna bisa melihat Bara melirik kertas itu sekilas. Bara tidak bicara, dia hanya menepuk-nepuk bahu Brian pelan, memberikan semangat sahabatnya, itu untuk tidak menyerah.
Hati Aluna mencelos. "Segitunya kamu mau aku sama Brian, Bar? ".batinnya perih.
Pelajaran terasa berjalan lambat sekali. Aluna sama sekali tidak mencatat apa pun.
Begitu bel istirahat berbunyi, Bara langsung berdiri dan pergi meninggalkan kelas.
"Brian, kantin yuk. Laper gue," ajak Bara tanpa menoleh ke belakang, seolah takut kalau saja dia lengah, dia bakal berpapasan lagi dengan mata Aluna.
"Ayo! Aluna, kamu mau ikut ke kantin bareng nggak?" tanya Brian, masih mencoba mengajak Aluna.
Bara tidak berhenti, dia terus berjalan keluar kelas. "Udah telat, Brian. Meja penuh nanti," potong Bara dari pintu kelas.
Brian jadi bingung, dia melihat Aluna sebentar, lalu melihat Bara yang sudah menjauh. "Eh, iya! Aluna, aku duluan ya!" seru Brian sambil berlari mengejar Bara.
Aluna hanya bisa terdiam di kursinya. Di atas meja, cokelat dari Brian masih tergeletak rapi. Cokelat yang rasanya manis, tapi meninggalkan rasa paling pahit yang pernah Aluna rasakan di hatinya.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan vote kakak 🙏♥️ terimakasih, semoga rezekinya lancar dan sehat selalu♥️🥰