NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23: infansi balik, gerbang neraka yang bergetar

Di kedalaman The Blood Fortress, suasana tidak lagi tenang seperti biasanya. Udara di dalam aula utama terasa berdenyut dengan energi merah yang pekat, seolah-olah benteng itu sendiri sedang mempersiapkan diri untuk perang besar. Arkan berdiri di depan sebuah retakan dimensi buatan yang diciptakan oleh gabungan kekuatan Julian dan Elara. Di hadapannya, Bastian (Vanguard) dan Hana (Phantom) berdiri tegak, mengenakan zirah tempur lengkap yang kini telah berevolusi setelah menyerap energi dari kapal induk WHA di bab sebelumnya.

"Dunia manusia terlalu sempit untuk kekuatan kalian yang terus tumbuh," suara Arkan bergema, menatap lubang hitam di depannya yang menuju ke Sektor Abyss: Penumbra. "Selama ribuan tahun, monster-monster ini merayap ke dunia kita seolah bumi adalah ladang ternak. Hari ini, kalian akan mengajarkan mereka arti dari rasa takut yang sebenarnya. Masuklah, hancurkan singgasana Jenderal Abyss di sana, dan bawa jantung energinya kepadaku."

Bastian mengepalkan tinjunya, membuat udara di sekitarnya retak. "Akan saya bawakan kepala mereka di atas nampan, Sovereign."

Hana hanya mengangguk pelan, tubuhnya mulai memudar menjadi partikel hitam yang dingin. Dalam satu lompatan simultan, kedua bawahan terkuat Arkan itu meluncur masuk ke dalam portal, meninggalkan dimensi manusia menuju wilayah musuh.

Dimensi Abyss: Sektor Penumbra – Wilayah Tanpa Matahari.

Penumbra bukanlah tempat bagi makhluk hidup. Langitnya berwarna ungu pekat dengan dua bulan yang pecah di cakrawala. Tanah di sana terdiri dari pasir tulang yang tajam dan sungai-sungai mana mentah yang bergejolak. Di tengah dataran luas itu berdiri benteng raksasa yang terbuat dari obsidian hidup—kediaman 'General Malphas', penguasa gerbang yang selama ini mengirimkan monster ke wilayah Asia.

Bastian mendarat di tengah padang pasir tulang dengan ledakan gravitasi yang meratakan bukit-bukit kalsium di sekitarnya. Ribuan 'Abyss Soldiers'—makhluk berzirah duri dengan mata menyala—segera mengepungnya.

"Julian, apa kau masih bisa memproses pemetaan di sini?" tanya Bastian melalui frekuensi Blood-Link lintas dimensi.

'Koneksi agak terganggu oleh radiasi mana hitam, Kakak,' suara Julian terdengar sedikit statis di dalam kepala Bastian. 'Tapi Seer telah mengirimkan proyeksi visual langsung ke otakmu. Ada tiga puluh ribu tentara di depanmu, dan Malphas sedang memperhatikan dari puncak menaranya. Phantom sudah masuk melalui jalur bayangan untuk melumpuhkan artileri mereka.'

Bastian menyeringai lebar. Zirah hitamnya mulai berpendar merah terang saat ia melepaskan segel energinya hingga tingkat enam. "Tiga puluh ribu? Itu hanya pemanasan."

Bastian melesat maju seperti meteor yang jatuh secara horizontal. Setiap kali ia mengayunkan tangannya, gelombang kejut gravitasi tercipta, menghancurkan zirah dan tubuh para monster Abyss hingga menjadi debu mana. Ia tidak butuh senjata; tubuhnya adalah senjata pemusnah massal yang paling efisien.

Di sisi lain, Hana bergerak di antara bayangan menara obsidian. Para penjaga elit Malphas jatuh satu per satu tanpa suara. Hana menggunakan teknik Sanguine Vibration, di mana ia menggetarkan molekul darah di tubuh musuhnya hingga mereka menguap dalam hitungan detik. Baginya, pertahanan fisik setebal apa pun di Abyss tidak ada artinya jika ia bisa menyerang langsung ke inti sel.

Sementara itu, di markas pusat WHA di Swiss, Jenderal Silas dan tim analis sedang menatap layar satelit dimensi yang mereka miliki. Mereka melihat sesuatu yang mustahil: sebuah energi merah raksasa sedang mengamuk di dalam dimensi Abyss, tempat yang selama ini dianggap sebagai wilayah yang mustahil ditembus manusia.

"Apakah itu mereka? Crimson Eclipse sedang menginvasi balik?!" teriak Silas dengan wajah penuh rasa tidak percaya.

"Benar, Jenderal. Berdasarkan pembacaan energi, Vanguard dan Phantom sedang menghancurkan sektor Penumbra. Ini gila... mereka melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh seluruh Hunter dunia digabungkan!"

Di sudut ruangan, Alice Pendragon menonton dengan tatapan yang sulit diartikan. Di tangannya, ia memegang sebuah artefak kuno berbentuk mata yang terus berbisik padanya. Ia telah mengkhianati rahasia Arkan ke pihak Abyss, mengharapkan mereka bisa membunuh sang Sovereign. Namun, yang ia lihat justru sebaliknya—para bawahan Sovereign sedang membantai penguasa Abyss seolah-olah mereka adalah hama.

Kembali ke Penumbra, General Malphas akhirnya turun dari singgasananya. Ia memiliki tubuh setinggi lima meter dengan empat sayap gagak yang memancarkan api hitam. "Manusia lancang! Kalian berani mengotori tanah ini dengan darah rendah kalian?!"

Malphas melepaskan serangan 'Abyssal Void'—sebuah lubang hitam kecil yang mampu menghisap segala materi. Namun, Bastian hanya berdiri diam di depan serangan itu.

"Darah kami tidak rendah," ucap Bastian, suaranya mengandung gema kekuatan Arkan. "Darah kami adalah hukum di sini."

Bastian menangkap bola lubang hitam itu dengan tangan kosongnya. Ia meremasnya, menggunakan manipulasi gravitasi tingkat tinggi yang ia pelajari dari Arkan, dan mengubah serangan Malphas menjadi bola energi padat yang kemudian ia ledakkan kembali ke wajah sang Jenderal.

BOOOOOOMMM!!!

Ledakan itu mengguncang seluruh sektor Penumbra. Malphas terhempas, sayap-sayapnya patah. Sebelum ia sempat bangkit, Hana sudah berdiri di atas bahunya, memegang pisau darah yang ditempatkan tepat di leher sang monster.

"Tuan menginginkan jantungmu," bisik Hana dingin.

Dengan satu gerakan presisi, Hana membedah dada Malphas. Ia menarik keluar sebuah kristal ungu gelap yang masih berdenyut kencang—inti energi dari seorang Jenderal Abyss. Tanpa inti itu, tubuh Malphas hancur menjadi tumpukan pasir hitam yang tertiup angin.

'Tuan, target telah diamankan,' lapor Hana melalui Blood-Link.

Di The Blood Fortress, Arkan yang sedang duduk di takhtanya tersenyum puas. "Bagus. Kembali sekarang. Kita akan menggunakan inti itu untuk memperluas jangkauan perlindungan kita ke Seoul."

Seoul – Pukul 19.00.

Liora sedang duduk di perpustakaan sekolah yang kini terasa asing baginya. Ia menatap botol kecil pemberian Elara. Tiba-tiba, ia merasakan getaran yang sangat halus di bawah kakinya. Di luar jendela, ia melihat langit malam Seoul mendadak dihiasi oleh aurora berwarna merah yang sangat indah namun misterius.

Itu adalah efek dari inti Malphas yang baru saja diintegrasikan Arkan ke dalam sistem pertahanan kota. Mulai malam ini, tidak ada satu pun gerbang Abyss yang bisa terbuka di Seoul tanpa izin dari sang Sovereign.

Liora memejamkan matanya, membayangkan wajah Arkan yang sedang tersenyum di balik kacamatanya. "Di mana pun kamu berada sekarang... terima kasih sudah menjaga tempat ini."

Di atas awan, Arkan menatap inti energi ungu yang kini terpasang di langit-langit aula bentengnya. "Fase invasi pertama selesai. Julian, siapkan data untuk sektor selanjutnya: The Glacial Abyss. Aku ingin Rehan dan Elara segera bergerak ke sana. Kita akan mengambil alih seluruh dimensi Abyss sebelum manusia menyadari bahwa rumah mereka sudah tidak lagi memiliki ancaman."

Arkan menatap tangannya yang kini memancarkan cahaya merah yang semakin pekat. Kekuatannya kembali pulih dengan cepat seiring dengan keberhasilan misi-misi bawahannya.

"Alice Pendragon..." gumam Arkan pelan. "Aku tahu kau menonton. Dan aku tahu apa yang kau lakukan. Nikmatilah ketakutanmu sejenak, karena saat aku turun dari benteng ini lagi, tidak akan ada tempat di bumi maupun Abyss yang bisa menyembunyikanmu."

Dunia kini memasuki era baru. Bukan lagi era Hunter melawan Monster, melainkan era di mana Sang Sovereign mulai menyatukan dua dimensi di bawah satu kekuasaan yang mutlak.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!