NovelToon NovelToon
SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Sistem / Fantasi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 KEMATIAN SANG GURU

Hutan di kaki Gunung Kehendak bukan lagi sekadar kumpulan pepohonan yang tumbuh serampangan, ia telah bertransformasi menjadi sebuah katedral hijau yang masif, di mana setiap pilar batangnya yang bersisik lumut tampak menopang langit yang semakin berat oleh kabut. Di sini, cahaya matahari bukan lagi penguasa, ia hanya penyusup yang datang dalam garis-garis tipis, mencoba menembus kanopi yang begitu rapat, menciptakan tarian bayangan yang tidak menentu di atas lantai hutan yang lembap. Abimanyu melangkah di atas hamparan lumut yang tebal, sebuah permadani alam yang mampu meredam suara langkah kaki paling keras sekalipun. Namun, setiap kali kakinya memijak bumi, ia merasakan tarikan gravitasi yang bukan berasal dari tanah, melainkan dari sisa-sisa sebuah identitas yang masih enggan melepaskan cengkeramannya: identitas sebagai seorang Guru.

Identitas itu bukan sekadar gelar yang melekat pada nama, ia adalah jubah yang telah menyatu dengan kulit, sebuah topeng yang telah membentuk struktur wajahnya selama puluhan tahun. Di tengah keheningan hutan yang absolut, Abimanyu mulai mendengar suara-suara yang selama ini ia kira adalah musik keberhasilan—suara kapur yang beradu dengan papan tulis, deru proyektor di ruang seminar yang pengap, dan yang paling mematikan: gema suaranya sendiri yang memantul di dinding-dinding aula, selalu mencari pembenaran di mata para pendengar.

Di sebuah ceruk yang tersembunyi, dikelilingi oleh barisan pohon cemara kuno yang batangnya melilit seperti urat nadi raksasa, Abimanyu menemukan sebuah gundukan batu datar yang menonjol dari tebing. Batu itu sangat simetris, permukaannya rata secara alami, menyerupai sebuah podium yang sering ia gunakan di universitas untuk menyampaikan kuliah-kuliah besarnya. Secara insting—sebuah gerak refleks dari otot-otot yang telah terlatih untuk berpose di depan publik—Abimanyu melangkah mendekati batu itu. Ia berdiri di belakangnya, membusungkan dada, dan menatap ke arah barisan pohon yang berdiri tegak dalam keheningan yang disiplin. Di matanya yang mulai berhalusinasi karena keletihan dan oksigen yang menipis, pohon-pohon itu perlahan berubah menjadi barisan mahasiswa yang duduk terpaku, menanti dengan pena yang siap di tangan, siap menelan setiap kata yang keluar dari mulut sang otoritas.

Abimanyu meletakkan telapak tangannya di atas permukaan batu yang dingin dan berlumut. Selama bertahun-tahun, podium adalah bentengnya. Di balik sekat kayu atau beton itu, ia merasa tak tersentuh. Podium memberinya ilusi tentang ketinggian moral dan intelektual. Di sana, ia adalah pusat gravitasi. Ia adalah matahari kecil yang dikelilingi oleh planet-planet yang haus akan cahaya. Ia adalah pemilik kebenaran yang ia bagikan dalam porsi-porsi kecil yang telah dikemas rapi melalui naskah Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang kaku, sebuah dokumen yang ia susun bukan untuk memicu rasa ingin tahu, melainkan untuk menjamin ketertiban.

"Dengarlah, wahai kesunyian yang luas," suaranya bergema, namun kali ini tidak ada gemuruh tepuk tangan yang biasanya mengikuti kalimat pembukanya. Tidak ada goresan pena di atas kertas, dan tidak ada mata yang menatapnya dengan kekaguman yang kosong.

Ia menyadari sebuah kebenaran yang memuakkan, sebuah borok yang selama ini ia tutupi dengan jubah akademiknya: Seorang Guru sering kali bukan mencintai kebenaran, melainkan mencintai perasaan bahwa ia mengetahui kebenaran. Ia membutuhkan murid bukan untuk mencerahkan mereka, tetapi sebagai cermin besar untuk menegaskan eksistensi dirinya sendiri. Tanpa telinga yang mendengarkan, Sang Guru merasa tuli. Tanpa mata yang memuja, Sang Guru merasa buta. Otoritas itu adalah candu yang paling halus, ia memberikan rasa kuasa tanpa perlu memegang senjata. Ia telah terpenjara oleh kebutuhan untuk selalu memiliki jawaban, untuk selalu menjadi sosok yang "Selesai", sosok yang telah memenangkan pertandingan intelektual dan kini hanya bertugas membagikan piala-piala kecil kepada mereka yang patuh.

"Aku telah menjadi hamba dari rasa hausku akan pengakuan," bisiknya pada batang-batang pohon yang tetap bergeming. "Aku telah membangun tembok-tembok teori di dalam kerangka Outcome-Based Education (OBE), bukan untuk membebaskan jiwa mereka dari kegelapan, tetapi untuk memastikan bahwa mereka tetap berada dalam jangkauan otoritas ku. Aku memberikan mereka peta yang sudah dicoret-coret, agar mereka tidak pernah memiliki keberanian untuk melihat lautan yang sesungguhnya dengan mata kepala mereka sendiri."

Abimanyu menunduk, menatap jemarinya yang kini kotor oleh tanah hitam dan sisa-sisa lumut—sesuatu yang dulu ia hindari seolah-olah tanah adalah kuman yang akan merusak kredibilitasnya. Ia teringat betapa ia sangat menjaga kebersihan jemarinya, lebih memilih memegang kapur yang steril atau spidol yang tidak berbau daripada menyentuh realitas yang kasar. Ia menyadari bahwa identitas "Guru" telah memberinya beban psikologis yang mengerikan: ketakutan untuk terlihat bodoh, ketakutan untuk tidak tahu.

Seorang Guru di Lembah Nama tidak boleh ragu. Ia harus berdiri tegak di atas menara statistik dan data populasi yang ia bangun dengan kalkulator proyeksinya, memprediksi masa depan manusia seolah-olah mereka adalah angka-angka dalam tabel distribusi tenaga kerja. Namun, di tengah hutan yang jujur ini, semua data itu menjadi sampah yang tidak laku. Pohon-pohon ini tidak tumbuh berdasarkan kurikulum yang ia susun. Akar-akar ini tidak membutuhkan akreditasi untuk menembus tanah yang paling keras. Alam tidak membutuhkan "Capaian Pembelajaran" untuk mekar dan membusuk.

"Kebenaran adalah badai yang menghancurkan setiap rumah yang mencoba mengurungnya," pikirnya dengan rasa pedih. "Dan dengan menyebut diriku Guru, aku sebenarnya sedang mencoba menjinakkan badai itu, mengubahnya menjadi angin sepoi-sepoi yang aman bagi telinga mereka yang membayar uang kuliah. Aku telah mengkhianati Kebenaran demi sebuah posisi di puncak meja makan."

Sang Guru, di mata Abimanyu sekarang, adalah penjaga makam. Ia menjaga pemikiran-pemikiran besar yang sudah mati, membungkusnya dengan kain kafan teori, dan memastikan tidak ada seorang pun yang mencoba membangkitkannya kembali menjadi sesuatu yang liar dan berbahaya. Ia mengajarkan tentang api, tapi ia sendiri takut terbakar. Ia berbicara tentang kebebasan, tapi ia sendiri adalah tawanan dari jadwal kuliahnya sendiri.

Abimanyu melangkah turun dari batu podium itu. Gerakannya sengaja dibuat kasar, seolah-olah ia sedang mencoba merobek kulit yang terlalu sempit. Ia tidak lagi berdiri di belakang batu itu, ia berdiri di sampingnya, sejajar dengan tanah yang basah dan berbau humus. Ini adalah tindakan pemberontakan pertamanya terhadap dirinya sendiri, sebuah dekonstruksi atas takhta yang ia bangun selama puluhan tahun.

Ia mengambil sebatang ranting kering yang jatuh dan mulai menggambar pola acak di tanah—sebuah ritual Behind the Scene yang jauh lebih jujur daripada semua panggung yang pernah ia kuasai. Selama ini, hidupnya adalah sebuah film yang telah diedit dengan rapi, di mana setiap kesalahan telah dipotong dan setiap keraguan telah ditutup dengan musik latar yang agung. Kini, ia memilih untuk masuk ke dalam kekacauan produksi yang sebenarnya, ke dalam proses mentah yang penuh dengan outtake dan kegagalan yang memalukan. Di sinilah letak keindahan yang sesungguhnya: dalam proses yang tidak terlihat oleh penonton.

"Mulai detik ini," ucapnya dengan nada yang bergetar namun penuh dengan kelegaan yang luar biasa, "aku membunuh Sang Guru di dalam diriku. Aku melepaskan jubah otoritas yang membuatku merasa lebih tinggi dari kerikil yang kupijak. Aku membuang kebutuhan akan murid yang memuja, karena hanya dalam kesendirian yang tanpa saksi, kebenaran akan menampakkan wajahnya yang paling liar dan paling jujur."

Ia menyadari bahwa untuk menjadi pengikut kebenaran sejati, seseorang harus memiliki keberanian untuk menjadi Anak Kecil kembali—sosok yang tidak memiliki beban sejarah, tidak malu untuk bertanya "Mengapa?" seribu kali, dan tidak takut untuk terlihat tidak tahu. Kematian Sang Guru adalah kelahiran kembali Sang Murid Abadi yang tidak lagi terikat pada hasil akhir, peringkat sitasi, atau penilaian pasar. Ia tidak lagi mencari "Ya" dari orang lain, ia hanya mencari "Ya" dari hidupnya sendiri.

Abimanyu merasakan sebuah beban metafisika yang sangat berat, yang selama ini ia kira adalah sayap, akhirnya terlepas dari pundaknya. Selama ini, ia merasa harus selalu tampak bijaksana di mata para pengikutnya, bahkan di dunia digital seperti NovelToon atau platform lainnya, di mana setiap kata harus memiliki bobot yang bisa dikutip. Sekarang, ia merangkul ketidaktahuannya sebagai kekuatan paling murni. Ia merangkul kerapuhannya sebagai senjata yang paling tajam.

"Jangan ikuti aku!" Abimanyu berteriak ke arah rimbunnya hutan, suaranya memantul di antara batang-batang pohon cemara. "Jika kau mengikutiku, kau hanya akan menemukan bayanganku, bukan cahayamu sendiri. Carilah pendakianmu sendiri! Bakarlah podiummu sendiri! Guru yang sejati adalah dia yang pada akhirnya berhasil membuat dirinya sendiri tidak lagi dibutuhkan oleh siapa pun, bahkan oleh muridnya yang paling setia."

Ia meninggalkan batu podium itu, membiarkannya kembali menjadi sebongkah batu bisu yang akan segera ditelan oleh lumut dan waktu. Ia terus melangkah lebih dalam ke arah hutan yang lebih gelap, lebih terjal, dan sama sekali tidak terpetakan dalam Google Maps manapun. Ia tidak lagi menoleh ke belakang untuk melihat apakah ada yang mencatat langkahnya atau apakah ada yang memberikan "like" pada perjalanannya. Ia tidak lagi menunggu siapa pun untuk memvalidasi pemikiran-pemikirannya.

Kematian Sang Guru telah selesai. Ritual itu telah menumpahkan darah ego yang selama ini haus akan pemujaan. Yang tersisa hanyalah Abimanyu, sang manusia fana, sang pendaki yang kini mulai mendaki bukan untuk menceramahi dunia, tetapi untuk belajar bagaimana caranya benar-benar ada. Di puncak gunung sana, tidak ada kelas yang harus dipimpin, tidak ada ijazah yang harus ditandatangani, dan tidak ada gelar yang harus dipertahankan. Hanya ada kesunyian yang luas dan murni, dan di sanalah ia akan bertemu dengan gurunya yang sesungguhnya: Kehendak murni yang tidak butuh nama, tidak butuh pengikut, dan tidak butuh tepuk tangan.

Setiap langkahnya kini adalah sabda yang ia tuliskan pada tanah, sebuah naskah yang hanya dibaca oleh angin dan waktu. Ia telah berhenti mengajar hidup, ia mulai membiarkan hidup mengajarinya melalui rasa sakit di kakinya, rasa lapar di perutnya, dan rasa damai yang mulai merayap di jiwanya. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi di bab selanjutnya—dan itulah kegembiraan yang paling murni dari seorang pendaki.

1
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!