Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. 16 Jam
Di jet pribadi, Bianca dilayani pramugari bak seorang nyonya besar. Perjalanan enam belas jam itu membuatnya bosan dan mengantuk. Setelah selesai memeriksa laporan keuangan yang diberikan Simon tadi pagi, dan bahkan devidennya sudah di transfer ke rekeningnya.
"Ini bahkan bisa untuk membeli pulau pribadi di Perancis." gumam Bianca dengan senyum puas.
"Lora, kau sedang apa? Kau tidur?"
Untungnya, ada Lora yang bisa diajak mengobrol seolah sedang bertukar pesan di ponsel. Bianca meletakkan cermin ajaib itu di sandaran tangan, jemarinya lincah mengetik.
"Aku sedang membedah memori. Bali memiliki energi yang jauh lebih liar daripada Paris atau Italia. Dan aku sedang memastikan mana di antara mereka yang paling pantas untukmu."
Cermin di tangan Bianca bergetar singkat. Tak lama kemudian, ponselnya berdenting, menampilkan sebuah profil yang dikirim melalui enkripsi gelap yang hanya bisa dibuka olehnya.
Target: Gede Mahesa
Usia: 32 tahun.
Tinggi Badan: 188 cm.
Pekerjaan: Arsitek lanskap kelas dunia dan pemilik jaringan beach club eksklusif di Seminyak serta Uluwatu.
Status: Single, namun dikenal sebagai penakluk yang sulit dijinakkan.
Catatan Lora: "Dia memiliki darah bangsawan Bali yang kental namun jiwa pemberontak. Dia tidak mencari istri, dia mencari tantangan yang sepadan dengan keliarannya. Dan yang terpenting, dia bersih dari segala penyakit. Dia akan menunggumu di gerbang kedatangan VIP dengan tanda yang hanya akan kau kenali."
"Dia bukan Simon yang bisa kau kendalikan dengan air mata, Bianca," bisik Lora. "Dia adalah badai. Kau harus menjadi karang yang membuatnya hancur berkeping-keping karena terpesona."
"Sejak kapan kau punya koneksi dengan pria lokal di Bali, Lora?"
ketik Bianca, matanya menatap tajam ke arah pantulan di ponselnya.
Lora tertawa dalam bentuk riakan cahaya di layar, tulisannya muncul.
"Kau lupa siapa aku, Bianca? Aku tidak hanya berdiam di satu cermin selama ratusan tahun. Aku berpindah, mengamati, dan meninggalkan jejak pada orang-orang yang memiliki 'api' yang sama denganku. Mahesa adalah keturunan dari keluarga yang pernah menyimpan salah satu cermin terkutukku di masa lalu."
"Dia mengenalku bukan sebagai 'Lora', tapi sebagai bisikan keberuntungan yang membuat bisnisnya raksasa. Baginya, melayani tamu yang kukirim adalah sebuah bentuk penghormatan—atau mungkin, rasa penasaran yang tak tertahankan."
"Sekarang, berhentilah menginterogasiku."
"Tunggu aku ingin tahu, lalu kau bermanisfestasi dalam bentuk apa?."
"Aku muncul dari genangan air jernih atau kaca gelap saat dia sedang sendirian mencari inspirasi. Dia mengenalku sebagai pemandu gelap yang menjanjikan kesuksesan, dan kali ini, manifestasiku adalah membawa kau sebagai ujian sekaligus hadiah untuk ambisinya."
"Apakah dia juga punya pantangan? Jika aku tidak boleh menikah, bagaimana dengannya? Dan apakah dia juga bisa hidup abadi?" ketik Bianca.
"Mahesa tidak memiliki keabadian sepertimu, dia hanyalah manusia yang kupinjamkan keberuntungan. Pantangannya berbeda denganmu; dia dilarang jatuh cinta dengan tulus jika ingin kekuasaan arsitekturnya tetap kokoh. Pernikahan baginya hanyalah kontrak bisnis, Jika dia melanggar hatinya dikuasai seorang wanita, seluruh kerajaan bisnis yang ia bangun akan runtuh seperti pasir yang tersapu ombak. Dia tetap akan menua dan mati, namun melalui kau, aku ingin melihat apakah 'badai' miliknya mampu memadamkan api ambisimu, atau justru kau yang akan membakar seluruh hidupnya."
Bianca menggelengkan kepala jika dirinya dan Mahesa dipertemukan sebagai dua budak lintas negara untuk saling menguji kekuatan dari badai masing-masing.
"Ngomong-ngomong, Aku iri padanya....😑" ketik bianca disertai emot kegetiran hatinya.
"Tak perlu iri, Sayang. Tapi kau punya aku yang bisa memberikan dunia dalam genggamanmu. Mahesa mungkin tidak terikat sumpah lajang, tapi dia hidup di bawah ancaman kehancuran jika salah melangkah. Sedangkan kau? Kau bebas berpetualang tanpa risiko kehilangan harta, selama kau tetap setia pada cerminmu. Lagipula, bukankah jauh lebih menyenangkan menjadi wanita yang bisa menghancurkan kerajaan seorang pria hanya dengan satu kedipan mata?"
"Aku iri krn dia bisa menua dan mati... sedang aku, membusuk dan terlempar ke neraka kekal jika sampai 3 hari tak bercinta seperti katamu." Protes bianca
"Mengapa merindukan tanah dan ulat jika kau bisa memiliki kecantikan abadi? Berhenti mengeluh tentang keabadian dan mulailah menikmati mangsamu. Pilot sudah menurunkan roda pendaratan, bersiaplah menjadi dewi yang paling mematikan bagi pria lokal itu."
...****************...
Bianca melangkah keluar dari gerbang kedatangan VIP, matanya menyapu kerumunan orang yang menunggunya. Di tengah keramaian itu, seorang pria tinggi dengan kulit sawo matang dan tatapan tajam berdiri tegak, memegang papan nama bertuliskan "Bianca". Dia adalah Gede Mahesa, persis seperti yang Lora gambarkan.
"Kenapa kau menjemputku?" tanya Bianca, sedikit terkejut melihat kehadirannya secara langsung, bukan sekadar supir. Cukup tampan sebagai pria lokal; kulitnya coklat, lebih tinggi dari Bianca yang hanya 175 cm
Mahesa tersenyum tipis, matanya memancarkan karisma yang gelap.
"Karena Lora memintanya."
"Dia adalah kawan lama yang sangat tahu cara memilihkan hiburan terbaik untukku,"
"Lagipula, Bianca, wanita secantik dirimu terlalu berisiko jika dibiarkan berkeliaran sendirian di Bali tanpa pengawalan yang tepat. Mari, mobil sudah menunggu. Jangan biarkan matahari tropis ini merusak kulitmu yang sempurna."
Mahesa memberi isyarat ke arah mobil SUV hitam mewah yang terparkir tepat di depan pintu keluar VIP, lalu membukakan pintu untuk Bianca dengan gerakan yang sangat gentlemen.
"Berarti kau tahu aku punya kekasih di Italia? Kuharap Lora sudah memberitahumu soal itu," ucap Bianca sambil melirik Mahesa yang tengah fokus menyetir menuju resor pesanan Simon.
Mahesa tersenyum hambar tanpa mengalihkan fokusnya. "Simon Maldini, owner perusahaan logistik dan sejata api itu? Tentu saja aku tahu. Tapi di pulau ini, kekuasaan pria Eropa itu tidak berlaku. Lora tidak hanya memberitahuku soal statusmu, tapi juga soal kebutuhanmu yang... spesifik. Bagiku, Simon hanyalah investor jauh yang sedang meminjamkan mainannya padaku untuk sementara waktu. Jadi, jangan harap aku akan merasa bersalah saat kita menghabiskan malam nanti."
"Justru itu yang kuharap kau tahu, karena Simon akan meneleponku setiap malam saat kita sedang bersama nanti," ucap Bianca, memberikan jawaban telak yang bermaksud menantang nyali Mahesa.
Mahesa sedikit memperlambat laju mobilnya, lalu menoleh sekilas dengan tatapan yang semakin gelap dan penuh gairah. "Biarkan saja dia menelepon. Aku ingin tahu seberapa hebat kau bisa mengatur desahanmu di telepon sementara tanganku menjelajahi tempat-tempat yang tidak pernah Simon sentuh dengan cara yang sama. Jika kau pikir ancaman telepon dari Italia itu bisa menghentikanku, kau baru saja memberikan alasan bagiku untuk bermain lebih kasar malam ini."
Bianca mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap deretan pohon kamboja dan pura yang berjajar di sepanjang jalanan Bali yang asri. Pikirannya melayang; artinya Lora harus bekerja ekstra memastikan Simon tidak menelepon terlalu sering.
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?