NovelToon NovelToon
Jodoh Ku Mas Kades

Jodoh Ku Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa pedesaan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Prettyies

Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mario Mesum

Ponsel Anggika bergetar. Ia melihat layar dan mendesah pelan.

“Sebentar ya… emak nelpon,” bisiknya pada Mario sebelum keluar ke koridor UGD.

Ia menempelkan ponsel ke telinga.

“Halo, Mak…”

Di seberang sana suara Kulsum terdengar cemas.

“Gimana, Gi? Mario nggak kenapa-kenapa kan?”

Anggika bersandar di dinding rumah sakit.

“Nggak apa-apa kok, Mak. Cuma dehidrasi dan radang lambung ringan. Tadi dipasang infus. Dokter bilang kemungkinan besok sore sudah boleh pulang.”

“Alhamdulillah… ya sudah kamu nginep aja di sana, temenin si Mario. Kasihan anak orang,” ujar Kulsum.

“Iya, Mak. Anggi temenin kok,” jawabnya lebih lembut.

“Tadi emak juga sudah telepon Bu Aisyah. Dia bilang nggak apa-apa Mario sakit, yang penting kamu mau ngurusin dia.”

Anggika tersenyum kecil.

“Iya, Mak. Ini juga lagi dijagain.”

Kulsum terkekeh pelan.

“Kamu tau sendiri bapak kamu. Masuk angin sedikit aja rasanya mau bikin surat wasiat.”

Anggika langsung menahan tawa.

“Ih, Mak! Nanti kalau bapak dengar bisa ngambek seminggu.”

“Iya iya, sudah. Emak mau tidur. Bapakmu dari tadi nungguin emak di kamar.”

“Iya, Mak. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Telepon ditutup. Anggika menguap pelan, rasa kantuk mulai menyerang. Ia kembali masuk ke ruang UGD rawat inap, melihat Mario yang terbaring dengan selang infus di tangannya.

“Untung dia udah tidur pusing aku ngadepin dia,” gumamnya pelan meski Mario tampak terlelap.

Anggika duduk di kursi penunggu. Ia melipat kedua tangannya di atas tepi ranjang, lalu merebahkan kepalanya di atas lengannya sebagai bantalan seadanya.

“Ngantuk banget dari tadi siang gak tidur…” bisiknya.

Tak lama kemudian napasnya terdengar teratur.

Beberapa menit setelah itu, Mario membuka mata perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada Anggika yang tertidur dengan posisi kurang nyaman.

Ia tersenyum tipis.

“Semoga suatu saat kamu bisa membalas perasaan ku,” gumamnya lirih.

Dengan tangan yang masih terpasang infus, ia pelan-pelan mengelus rambut Anggika, sangat hati-hati agar tidak membangunkannya.

“Aku seneng kita bisa akrab begini apalagi kamu yang galak begini, Gi…” bisiknya lembut.

Mario lalu meraih bantalnya sendiri. Perlahan ia menyelipkan bantal itu di bawah kepala Anggika agar lebih nyaman.

Anggika bergerak sedikit, tapi tetap tertidur.

Mario menatapnya beberapa detik, senyum tak lepas dari wajahnya.

“Cepat sembuh… biar bisa jagain kamu balik,” gumamnya pada diri sendiri.

Setelah itu ia merebahkan kembali kepalanya ke bantal, menutup mata dengan perasaan hangat, sementara lampu UGD menyinari mereka dalam keheningan malam.

Pagi hari cahaya matahari menembus tirai tipis ruang perawatan. Anggika menggeliat pelan lalu membuka mata.

Ia mengerjap bingung.

“Loh… ini kan bantalnya Mario,” gumamnya dalam hati saat sadar kepalanya bertumpu pada bantal empuk di atas ranjang.

Ia menoleh.

Mario sudah duduk santai di tepi ranjang pasien, infusnya masih terpasang, tapi wajahnya terlihat jauh lebih segar.

“Selamat pagi, Gi. Udah bangun? Nih, aku beliin bubur ayam. Sarapan dulu sebelum marah-marah,” ujarnya santai.

Anggika langsung duduk tegak.

“Kamu udah bangun dari kapan? Emang perut kamu nggak sakit lagi? Sampai pergi beli bubur segala?”

Mario mengangkat bahu.

“Mendingan. Tadi aku minta OB beliin bubur di depan rumah sakit. Kata dokter boleh makan yang lembek-lembek dulu.”

“Kamu jalan sendiri?” Anggika mengernyit.

“Ya enggak lah. Aku masih pasien, bukan atlet lari. OB yang beliin,” jawab Mario sambil menyodorkan mangkuk bubur.

Anggika menerima dengan wajah sedikit canggung.

“Makasih…”

Mario menatapnya beberapa detik lalu menyeringai.

“Sebelum makan, cuci muka dulu sana.”

“Hah? Kenapa?” Anggika langsung defensif.

“Belekan, Gi. Mata kamu ada kotorannya.”

“Apaaan sih, nggak ada!” protesnya cepat.

Mario menunjuk wajahnya.

“Terus itu apa? Sama bibir kamu… ada bekas iler. Jorok banget jadi cewek.”

Anggika membelalak.

“Mario! Sembarangan banget ngomongnya!”

“Ya makanya cuci muka dulu. Nanti suster ngira aku nyulik orang nggak keurus,” godanya tanpa rasa bersalah.

Anggika mendengus kesal lalu berdiri.

“Ih nyebelin banget kamu. Tadi baik sekarang mulai lagi.”

Ia berjalan cepat ke kamar mandi.

Begitu pintu tertutup, Mario tertawa kecil.

“Baru bangun aja cantik banget… tapi kalau dipuji pasti makin songong,” gumamnya pelan.

“Mending dijailin aja biar mukanya merah-merah lucu.”

Beberapa menit kemudian Anggika keluar dengan wajah segar.

“Udah bersih sekarang?” tanyanya jutek.

Mario pura-pura meneliti.

“Hm… lumayan. Masih jelek sih, tapi versi fresh.”

Anggika langsung mencubit lengannya pelan.

“Kamu tuh ya!”

Mario meringis dramatis.

“Aduh! Ini pasien, Bu! Jangan KDRT di rumah sakit.”

Anggika akhirnya duduk dan mulai menyuap bubur.

“Enak?” tanya Mario.

Anggika mengangguk kecil.

“Lumayan.”

Mario tersenyum puas melihatnya makan dengan tenang.

“Gi…”

“Apa lagi?” jawabnya sambil mengunyah.

“Kalau tiap aku sakit kamu jagain begini… kayaknya aku harus makan sambel tiap hari deh.”

Anggika langsung menatap tajam.

“Coba aja. Aku kasih cabe satu kilo sekalian.”

Mario terkekeh.

“Galak, tapi perhatian. Calon istri idaman.”

Anggika menunduk, pura-pura fokus ke bubur agar Mario tak melihat pipinya yang mulai memerah.

Pintu ruang perawatan diketuk pelan.

“Permisi, Mbak. Untuk administrasi semalam belum ke bagian pendaftaran pasien ya?” tanya perawat dengan ramah.

Anggika langsung berdiri sedikit gugup.

“Oh iya, Sus. Maaf, tadi malam panik jadi belum sempat. Nanti setelah saya selesai makan, saya ke sana.”

“Baik, Mbak. Nggak apa-apa, yang penting sekarang sudah tercatat. Jangan lupa bawa KTP dan kartu BPJS kalau ada, ya.”

“Iya, Sus. Terima kasih.”

Perawat tersenyum lalu keluar ruangan.

Mario melirik Anggika.

“Pelan-pelan aja. Nggak usah buru-buru. Kamu juga semalam kurang tidur.”

“Iya, tahu,” jawab Anggika singkat sambil melipat tangan.

“Kalau capek bilang. Jangan sok kuat.”

“Yang sok kuat itu kamu. Makan sambel satu mangkok,” balasnya ketus.

Belum sempat Mario membalas, pintu kembali terbuka.

“Selamat pagi,” sapa dokter jaga sambil mendekat ke ranjang. “Mas Mario, bagaimana kondisinya hari ini? Masih nyeri perut atau sudah berkurang?”

Mario mencoba duduk lebih tegak.

“Sudah jauh lebih mendingan, Dok. Tadi malam sempat mulas beberapa kali, tapi sekarang cuma agak nggak nyaman sedikit.”

Dokter mengangguk sambil memeriksa catatan.

“Frekuensi buang airnya masih sering?”

“Subuh tadi terakhir, Dok. Setelah itu belum.”

“Bagus. Itu tanda ususnya mulai tenang.”

Anggika ikut menyela dengan wajah khawatir.

“Dok, ini cuma karena kebanyakan makan sambel kan? Nggak ada infeksi serius atau apa?”

Dokter tersenyum menenangkan.

“Dari gejalanya ini lebih ke iritasi lambung dan usus karena makanan terlalu pedas. Tidak ada tanda dehidrasi berat atau infeksi bakteri sejauh ini. Infusnya untuk menjaga cairan tubuh saja.”

“Berarti nggak perlu rawat inap lama, Dok?” tanya Anggika lagi.

“Kalau sampai siang tidak ada keluhan tambahan dan kondisi stabil, sore bisa dipertimbangkan pulang. Tapi tetap jaga pola makan.”

Mario langsung menyeringai kecil.

“Dengar tuh, Gi. Jangan paksa aku makan cabe lagi.”

Anggika menatapnya sinis.

“Siapa juga yang maksa? Kamu sendiri yang sok jago.”

Dokter tertawa ringan melihat keduanya.

“Justru yang seperti ini bagus. Ada yang ngawasin makanannya.”

Mario menunjuk Anggika.

“Dok, dia ini penyebab sekaligus perawat pribadi saya.”

Anggika langsung menyela cepat.

“Jangan didengerin, Dok. Dia aja yang nggak kuat.”

Dokter menutup map rekam medis.

“Baik, Mas istirahat dulu. Nanti kami cek lagi tekanan darah dan kondisi infusnya. Kalau ada mual atau nyeri hebat, langsung panggil perawat.”

“Iya, Dok. Terima kasih,” jawab Mario dan Anggika hampir bersamaan.

Setelah dokter keluar, Mario menoleh ke Anggika.

“Kamu jadi perawat pribadi aku aja gimana…?”

“Diam kamu. Nanti kuminta dokter suntik lagi biar kapok.”

Mario langsung mengangkat kedua tangannya pura-pura menyerah.

“Jangan dong… aku sebenarnya takut jarum suntik. Deg-degan tiap lihat suster bawa alat suntik.”

Anggika menyipitkan mata.

“Terus tadi sok berani segala?”

Mario mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik nakal,

“Tapi kalau urusannya sama kamu… nyuntik mah berani. Bahkan sampai bikin kamu hamil pun aku siap.”

Anggika langsung melotot.

“Astaga, Maryono! Otak kamu itu kayaknya perlu masuk laundry deh. Isinya ngeres melulu, sumpah!”

Mario tertawa kecil, menikmati ekspresi kesalnya.

“Lho, aku cuma bercanda. Kenapa sih kamu gampang banget panas?”

“Karena bercanda kamu levelnya nggak pernah waras!” balas Anggika sambil melipat tangan di dada.

Mario pura-pura menghela napas.

“Padahal kalau aku diem, kamu bilang aku dingin. Kalau aku romantis dikit, kamu bilang ngeres.”

“Romantis apanya? Itu mah modus!” sahut Anggika cepat.

Mario menatapnya lembut, senyum tipis terukir di wajahnya.

“Yaudah deh… mulai sekarang aku jadi pasien baik-baik aja. Nggak bercanda aneh-aneh.”

Anggika mendengus pelan.

“Bagus. Fokus sembuh aja dulu sebelum ngomong yang nggak-nggak.”

1
Nabila Nabil
laaahhhh jangankan beda rumah, aku yg beda kamar sama pak suami aja kalo malem WA nan... 🤣🤣🤣🤣
sundusiyah86
yeeehhh otw kondangan Thor wkwkkwkw lanjut Thor lanjut
Ayu
lanjut
Ayu
lanjut kak
wagiyah baru
lanjut
Nabila Nabil
promagh kok pedes... 🤣🤣🤣🤣🤣
Prettyies: oh iya lupa 😭 efek lapar kayanya kak gagal fokus padahal aku punya asam lambung😭
total 2 replies
Anonymous
lanjut
Nabila Nabil
seneng lu ye tiap malam gempur si anggi mulu... 🤣🤣🤣🤣
Nabila Nabil
harus sehat banget ya... di kampungku yg 2 orang aku ceritain itu perempuannya gendut semua... makanya orang bilang pada bilang "diet nak menowo iso meteng" tapi ya gak didepan orang banyak bilanginnya,,, bisa bicara dari hati ke hati,,, itu mah namanya ngeledek, aku kalo ada yg bilang gitu mulutku rasanya gatal pengen belain tapi suami ku selalu bilang jangan ikut campur urusan orang.... hiiiihhh gatel mulutku.....
sundusiyah86
lanjut Thor lanjut
Prettyies: ditunggu kelanjutannya
total 1 replies
sundusiyah86
wkwkw cuma semcama aja Mario 🤣... lanjut Thor lanjut
sundusiyah86: hayuu gass keun Thor....jangan sampai berhenti 🤭🤭
total 2 replies
Nabila Nabil
pingit aja seminggu.... walau udah nikah tapi jangan diketemuin dulu🤣🤣
Prettyies: Sulit sepertinya😂
total 1 replies
Nabila Nabil
pukul pukulan mulut mereka... 🤣🤣🤣
Prettyies: Belum tahap berantem diranjang😅
total 1 replies
Nabila Nabil
dasar buaya... semua laki mah sama ngomongnya gitu.... eh tapi ada lho tetanggaku nikah udah lama ada 2 pasangan malahan,, lama banget gak punya anak... nah ada yg bilang suruh ganti jago atau ganti pasangan... ya gak mau lah.... edan aja... tapi respek sih pada setia banget....
Prettyies: Aamiin Terima kasih doaanya😊
total 3 replies
sundusiyah86
lanjut Thor lanjut keyen ceritanya....semoga Anggi SM Mario cepet nikah
Prettyies: Terima kasih Kak. Ditunggu kelanjutannya
total 1 replies
Ayu
lanjut kak
Ayu
lanjut thor
wagiyah baru
lanjut
wagiyah baru
lanjut thor
Nabila Nabil
othornya pinter,, jadiin si tasya tumbal... padahal kan yak yg bikin marah nggak itu.... 🤣🤣🤣🤣
Prettyies: Daripada nyalahin Pak Huda gak lucu banget kak😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!