NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Fitting

“Ayuna! Toko gaun pernikahan ini yang terbaik di Kota Jakarta!” seru Kalina begitu mereka masuk.

“Semuanya cantik-cantik!”

Ayuna tersenyum kecil. “Aku juga sudah memesankan gaun khusus untukmu,” katanya lembut.

Meski hatinya belum benar-benar tenang setelah pembicaraannya dengan Renan, Ayuna tetap datang hari ini. Bukan karena semuanya sudah baik-baik saja, melainkan karena ia belum siap menolak semua hal yang berkaitan dengan pernikahan itu, termasuk permintaan

Mama Reni.

“Walaupun kita tidak membutuhkan bridesmaid,” lanjut Ayuna, “kamu tetap harus terlihat cantik saat menghadiri pernikahanku.”

Kalina terkejut sekaligus tersentuh. “Serius? Terima kasih, Ayuna. Aku bahkan sempat berpikir untuk menyewa. Aku tidak menyangka kamu sudah menyiapkannya.”

Ayuna hanya tersenyum. Ia tidak mengatakan bahwa menyiapkan gaun terasa jauh lebih mudah daripada menata ulang perasaannya sendiri.

“Ayuna,” kata Kalina tiba-tiba, “Shaila bilang dia sudah sampai di bawah. Perlu aku turun menjemputnya?”

Ayuna terdiam sesaat.

Kalina tidak tahu. Ia tidak tahu bahwa nama itu kini terdengar berbeda di telinga Ayuna, bukan sekadar nama teman, melainkan sumber ketidaknyamanan yang terus berulang.

“Apakah kamu sudah mengirimkan alamatnya?” tanya Kalina lagi.

Ayuna melirik ke arah Renan yang berdiri di dekat jendela butik, sedang menjawab panggilan telepon. Wajahnya datar, sikapnya terkendali. Dari luar, tak ada yang berubah.

Namun, Ayuna tahu tidak semua hal yang stabil berarti aman.

Sejak Renan menghapus nomor Shaila, justru Shaila semakin sering menghubunginya. Menelpon, mengirim pesan, mencari alasan untuk tetap terhubung.

Awalnya terdengar seperti kekhawatiran biasa.

Sebagai teman.

Sebagai orang yang merasa Renan “tidak diperlakukan dengan cukup baik”.

Namun Ayuna tahu, itu bukan kepedulian.

Pembicaraan Shaila selalu berujung pada hal yang sama.

Tentang Renan.

Tentang aktivitasnya.

Tentang mengapa ia dihapus.

Tentang apakah Renan membicarakannya dengan Ayuna.

Bukan karena kehilangan.

Melainkan karena tidak terima.

Ayuna tidak tertarik menghadapi itu terlalu lama. Ia mengatakan dengan jelas bahwa Renan memperlihatkan semua pesan itu padanya. Ia meminta Shaila berhenti menghubungi Renan. Ia memblokirnya.

Dan tetap saja, Shaila tidak benar-benar pergi.

Mengingat itu, Ayuna justru merasa geli. Bukan geli lucu, melainkan geli pahit, seperti menyadari seseorang masih berusaha merebut sesuatu yang bukan miliknya, hanya karena ia merasa pantas.

“Ayuna?” Kalina menatapnya heran. “Tadi ekspresimu agak, menakutkan. Apa aku salah lihat?”

“Kamu tidak perlu turun,” jawab Ayuna lembut. “Suruh saja staf membawanya ke atas.”

Kalina mengangguk, lalu berhenti ketika Ayuna kembali bersuara.

“Kalina,” katanya pelan, “menurutmu, bagaimana Shaila?”

Nada suaranya tetap lembut, tapi matanya terlalu jernih. Kalina merasakannya.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Kalina akhirnya. “Apa kamu dan Renan bertengkar?”

Pertanyaan itu membuat Ayuna terdiam.

Karena Shaila, pikirannya sempat teralihkan. Padahal masalah terbesarnya bukan hanya tentang orang ketiga.

Taruhan.

Satu kata itu kembali muncul, menekan dadanya perlahan.

Ayuna tidak pernah ragu soal Shaila.

Yang membuatnya goyah justru bukan kehadiran orang ketiga, melainkan luka yang datang dari orang yang ia cintai sendiri.

Ayuna menarik napas pelan.

Mungkin inilah yang paling menyakitkan, bukan kehadiran orang yang ingin merebut, melainkan kenyataan bahwa pernikahannya sendiri masih berdiri di atas luka yang belum sembuh.

Dan saat menatap deretan gaun putih di hadapannya, Ayuna tidak lagi bertanya apakah gaun itu indah.

Ia bertanya apakah ia masih percaya pada alasan ia akan mengenakannya.

"Menurutmu, Shaila benar-benar menganggapku sebagai teman?” tanya Ayuna pelan.

Begitu kalimat itu keluar, ia sendiri sadar pertanyaan itu terdengar sepele. Namun, hatinya tidak setenang kelihatannya.

Jika memang menganggapnya teman, lalu mengapa Shaila mengirim pesan-pesan itu langsung kepada Renan?

Kalina terdiam sejenak, lalu mengerutkan bibir.

“Jangan marah dulu. Sejujurnya, aku juga tidak terlalu ingin bergaul dengannya.”

Ia menghela napas ringan. “Tapi setelah kupikir-pikir, memang begitu adanya. Setelah lulus, kami hanya bertemu sesekali. Tidak dekat, tidak juga jauh. Jadi selama ini aku merasa, ya sudahlah.”

Ia menatap Ayuna dengan ekspresi jujur. “Kalau soal dia menganggapmu teman atau tidak, kurasa hanya kamu sendiri yang bisa merasakannya.”

Ayuna mengangguk pelan.

“Ada apa sebenarnya?” lanjut Kalina.

“Pagi ini dia menghubungiku, minta alamat butik. Aku pikir kamu sudah tahu, jadi langsung kukirimkan.” Ungkap Kalina

Ia baru menyadari ada yang tidak beres ketika melihat Ayuna sama sekali tidak bereaksi.

“Tidak apa-apa,” kata Ayuna akhirnya, suaranya datar.

“Kita lihat saja nanti, apa yang ingin dia katakan setelah naik ke sini.” Nada bicaranya terlalu datar.

“Ada apa?” Renan mendekat, menangkap perubahan suasana.

“Tidak apa-apa,” jawab Ayuna jujur. “Shaila ada di bawah.”

Ekspresi Renan berubah tipis. Rahangnya mengeras.

“Aku suruh orang membawa dia pergi.”

Nada itu terdengar lebih seperti refleks, bukan kelembutan.

Ia jelas tidak ingin Ayuna berurusan dengan siapa pun yang berpotensi melukai lagi.

“Tidak perlu,” Ayuna menggeleng.

“Aku ingin melihatnya,” lanjutnya tenang.

“Sekalian memastikan dia datang dengan niat apa.”

Renan menatapnya beberapa detik.

Bukan ragu, melainkan menahan sesuatu yang ingin ia lakukan sendiri.

“Kalau begitu terserah kamu,” katanya akhirnya.

“Kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu tidak perlu menahannya.”

Kalina yang mendengar itu tanpa sadar menelan ludah.

Nada bicara Renan tetap dingin. Tidak manis. Tidak hangat. Namun, jelas berpihak.

Ia melirik Ayuna lagi.

Perubahan itu nyata.

Bukan karena Ayuna menjadi lebih lunak, melainkan karena ia tidak lagi menghindar. Tanpa disadari, sikapnya mulai menyerupai Renan. Terkendali di luar, waspada di dalam.

“Pak, Bu,” seorang staf mendekat sopan.

“Gaun pengantinnya sudah siap. Silakan dicoba.”

“Aku masuk dulu,” kata Ayuna sambil menoleh ke arah Renan.

Nada suaranya stabil, datar, bukan dingin, tapi juga bukan akrab.

“Kamu tunggu di luar saja.”

Tidak ada senyum berlebihan.

Hanya satu anggukan kecil, formal.

“Kalina,” lanjutnya sambil berbalik,

“ikut aku, ya. Bantuin sebentar.”

Renan menatap punggung Ayuna saat ia melangkah pergi.

Ada sesuatu yang tertahan di matanya. Ingin mendekat, tapi sadar ia belum berada di posisi itu.

Kalina menangkap jarak itu dengan jelas.

Mereka tidak bertengkar.

Namun, juga belum kembali seperti dulu.

Di dalam ruang ganti, Kalina membantu menyesuaikan gaun sambil berbicara pelan, “Aku merasa kalian berdua berubah banyak. Rasanya seperti kembali ke awal-awal kalian bersama. Apa semua kesalahpahaman itu sudah selesai?”

Ayuna memiringkan kepala, lalu mengangguk kecil. “Iya.”

“Kalau begitu wajar hubungan kalian jadi lebih baik,” lanjutnya sambil tersenyum.

“Kamu kelihatan jauh lebih terbuka.”

Ayuna terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Mungkin karena sekarang aku tidak lagi berpura-pura baik-baik saja.”

Kalina menghela napas lega. “Syukurlah.”

Ia lalu terdiam sejenak, sebelum berkata pelan, “Nanti aku mau keluar sebentar, minta maaf ke Renan. Tadi aku bahkan tidak berani menatapnya. Rasanya bersalah sekali.”

Ayuna menggeleng. “Kalina, ini bukan salahmu. Renan juga sudah bilang.”

Kalina tertegun. “Hah? Bukan karena ucapanku waktu itu?”

“Bukan.”

“Kalau begitu,” Kalina mendongak, lalu terdiam.

“Ayuna, kamu cantik sekali.”

Ayuna tersenyum tipis. “Benarkah?”

Ia memandang pantulan dirinya di cermin dan sejenak merasa pangling.

Benarkah wanita yang berdiri di sana dengan garis bahu yang anggun, berbalut gaun yang nyaris sempurna, dan sorot mata yang berseri adalah dirinya?

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Temanya memang itu 😊
total 3 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!