Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Awal Yang Baru
Nana terperanjat.
Jordan apalagi.
Mereka berdua sama-sama membeku seperti patung, menatap Nenek Rita yang berdiri dengan ekspresi penuh kemenangan seolah baru saja menemukan solusi hidup paling jenius abad ini.
“Nenek?!” serempak mereka bersuara.
Nana refleks mundur setengah langkah. “N-nikah?! Nek, saya—”
Jordan langsung mengangkat kedua tangan. “Tunggu! Nenek gak bisa gitu dong."
Nenek Rita mengibaskan tangan. “Ah, nunggu kamu lama."
Ia bahkan sudah mengeluarkan ponsel jadulnya dari tas kecil di lengannya. Jarum jam kecil di layar menyala.
“Nenek kenal pemilik gedung serbaguna dekat rumah. Murah. Parkir luas. Katering bisa pesan paket sederhana dulu. Undangan nanti menyusul.”
Jordan membelalakkan mata. “Nenek barusan bilang apa? Mau nyewa gedung? Yang bener aja. Kami belum saling kenal lho."
“Iya,” jawab Nenek Rita santai. “Biar gak keduluan mantan laki-laki Nana itu. Kenalan pas malam pertama aja."
“Nek…” Nana hampir menangis lagi. Kali ini campur panik. “Saya belum siap nikah.”
Jordan mengangguk cepat. “Nah. Itu dia. Kita bahkan belum ngopi bareng.”
Nenek Rita mendengus. “Ngopi bisa pas lamaran. Siap gak siap ya harus siap."
Jordan meraih pergelangan tangan neneknya dengan lembut tapi tegas, menjauhkan ponsel itu dari layar pemilik gedung yang hampir terhubung."Nenek dengerin Jordan dulu...."
Nenek Rita manyun. “Kamu ini kebanyakan mikir. Keburu tua.”
“Nenek…” Jordan menghela napas panjang, lalu menurunkan nada suaranya. “Aku mau serius. Tapi pelan-pelan. Pendekatan dulu. Kenal dulu. Jangan langsung nikah.”
Nenek Rita menatap cucunya lama. Lalu menoleh ke Nana.
“Kamu setuju gak sama dia?” tanyanya polos.
Nana menelan ludah. Pipinya terasa panas. “Saya… saya setuju pendekatan dulu.”
Nenek Rita menghela napas dramatis. “Dua orang keras kepala.”
Tapi akhirnya ia mengangguk. “Ya sudah. Tapi jangan lama-lama.”
Jordan menutup wajahnya sebentar.
Ia lalu menoleh ke Nana, ekspresinya jauh lebih lembut dan canggung. “Maaf ya… nenek saya emang… agresif.”
Nana tersenyum tipis. “Gapapa. Lucu, sih… kalau dipikir-pikir.”
Jordan terkekeh kecil, lega.
“Oke,” katanya lalu, menggeser posisi berdiri sedikit mendekat tapi tetap menjaga jarak sopan. “Kamu kelihatan capek banget. Kamu masih pasien di sini, kan?”
Nana mengangguk. “Iya. Kamar 312.”
Jordan melirik jam tangannya. “Kamu sebaiknya istirahat. Aku anter ke kamar?”
Nana ragu sesaat, lalu mengangguk pelan. “Boleh.”
Jordan meraih tas kecil Nana yang tergeletak di bangku lorong. “Aku bawa ini.”
Nenek Rita langsung menyusul di belakang mereka. “Hati-hati, Nana masih trauma laki-laki.”
“Nek…” Jordan mendesah.
Nana tersipu kecil.
Mereka berjalan pelan menuju lift. Sepanjang jalan, suasananya canggung tapi tidak menekan. Lebih seperti… tenang.
Setelah Nana masuk ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang, Jordan berhenti di ambang pintu.
“Kamu istirahat ya,” katanya pelan. “Kalau butuh apa-apa… bilang perawat. Atau… bilang aku.”
Nana menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa aman mendengar suara laki-laki lagi.
“Terima kasih, Dok.”
Jordan tersenyum tipis. “Jordan aja.”
Ia lalu menutup pintu perlahan.
Di lorong, Nenek Rita langsung mencubit lengannya.
“Kamu bodoh banget kenapa gak pegang tangannya.”
Jordan meringis. “Nenek! Ih sakit tauk!"
“Dia perlu dihibur. Kasihan lho."
Jordan mendorong kursi roda neneknya menuju lift. “Kita pulang. Sebelum nenek nyewa gedung lagi.”
"Hehe ... btw Nana itu kasihan ya? Dia keknya gak sakit tapi kenapa masuk panti rehabilitasi?"
***
Bersambung...