NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:26
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 24: Ingatan Lengkap Zarvan

Zarvan jatuh terduduk. Kepalanya terasa mau pecah—ada sesuatu yang... yang meledak di dalam otaknya. Bukan sakit. Lebih ke... penuh. Terlalu penuh. Seperti ada ratusan tahun memori yang dipaksakan masuk dalam satu detik.

"Zarvan!" Mahira berlutut di sampingnya—tapi dia sendiri juga pucat. Keringat dingin. Napas pendek. "Kamu... kamu oke?"

"Aku... aku inget." Suaranya keluar serak. Tangannya gemetar ngambil keris yang jatuh ke lantai. "Aku inget semuanya sekarang. Bukan cuma kilasan. Bukan cuma potongan-potongan. Tapi... tapi semua. Dari awal sampe... sampe akhir."

Raesha langsung ambil air mineral dari tasnya. "Minum dulu. Pelan-pelan."

Zarvan minum—tapi tangannya gemetar sampai air tumpah sedikit. Dia nggak peduli. Yang dia peduli sekarang cuma satu: wajah Mahira yang menatapnya dengan mata penuh kekhawatiran.

Wajah yang sama dengan Aisyara 300 tahun lalu.

"Ceritakan," kata Ustadz Hariz pelan. "Apa yang kamu ingat?"

Dan Zarvan—dengan suara yang bergetar—menceritakan.

***

"Aku tahu Khalil mencintaimu," katanya sambil menatap Mahira. "Aku tahu sejak awal. Tapi aku pikir... aku pikir cukup dengan aku awasi dia. Cukup dengan aku pastikan dia nggak deket-deket kamu. Tapi ternyata itu nggak cukup."

Mahira menggenggam tangannya. "Lanjutkan."

"Malam sebelum pernikahan kita—malam di mana seharusnya aku nggak boleh ketemu kamu karena tradisi—aku... aku denger percakapan. Percakapan Khalil sama adiknya. Danial." Zarvan menutup matanya—seperti ngeliat kejadian itu lagi. "Mereka ngomong di teras istana. Aku kebetulan lewat. Dan aku denger Danial bilang: 'Besok dia akan jadi istrinya. Kalau kamu nggak bertindak sekarang, kamu akan kehilangan dia selamanya'."

"Dan Khalil jawab apa?" tanya Pak Arman.

"Dia bilang... dia bilang 'Aku sudah putuskan. Kalau dia nggak bisa jadi milikku, maka dia nggak akan jadi milik siapa-siapa. Termasuk pangeran sok suci itu'." Zarvan membuka matanya—dan ada air mata di sana. "Aku dengar itu. Aku dengar ancaman eksplisit. Tapi aku... aku nggak lakuin apa-apa."

"Kenapa?" bisik Mahira.

"Karena aku pikir dia cuma ngomong doang! Aku pikir dia nggak akan beneran lakuin!" Zarvan hampir berteriak—frustrasi pada dirinya sendiri. "Aku pikir—bodohnya—aku pikir besok setelah kita nikah, dia akan terima kenyataan dan move on. Jadi aku nggak lapor ke Sultan. Nggak bilang ke siapa-siapa. Aku cuma... aku cuma pergi tidur dengan pikiran 'besok aku akan nikah dan semuanya akan baik-baik aja'."

"Zarvan..." Mahira memeluknya—erat. "Itu bukan salahmu."

"ITU SALAHKU!" Zarvan menolak pelukan itu—bukan karena nggak mau, tapi karena dia nggak merasa pantas. "Kalau aku lapor malam itu—kalau aku bilang ke Sultan bahwa Khalil ngancam—mungkin Sultan akan tindak. Mungkin Khalil akan ditahan. Mungkin kamu—maksudku Aisyara—masih hidup sampai sekarang!"

"Atau mungkin nggak," sahut Ustadz Hariz dengan nada tegas. "Mungkin Sultan nggak akan percaya. Mungkin Khalil akan pura-pura innocent. Mungkin tragedi tetap terjadi tapi dengan cara lain. Kamu nggak tahu, Zarvan. Kamu nggak bisa tahu."

"Tapi aku nggak coba!" Zarvan menunduk—bahu nya bergetar. "Aku dengar ancaman dan aku... aku nggak lakuin apa-apa. Itu yang paling nyakitin. Bukan karena aku gagal lindungi dia. Tapi karena aku bahkan nggak coba."

Keheningan mengisi ruangan. Cuma terdengar suara Zarvan yang mencoba nahan tangis tapi gagal.

Mahira duduk di sampingnya—nggak bicara. Cuma duduk. Dekat. Dan setelah beberapa menit, dia pegang tangan Zarvan lagi.

"Dengar aku," katanya dengan suara yang mengejutkan tenang. "Di masa lalu, kamu gagal. Oke. Aku terima itu. Aisyara juga pasti udah maafin kamu. Tapi kamu tahu apa bedanya sekarang?"

Zarvan mengangkat wajahnya—mata merah, pipi basah.

"Sekarang kamu tahu. Sekarang kamu inget. Dan sekarang kamu punya kesempatan kedua." Mahira tersenyum—senyum yang pahit tapi juga penuh harapan. "Kamu bilang kamu nggak akan ulangin kesalahan yang sama kan?"

"Iya. Aku bersumpah—"

"Maka buktikan." Mahira menggenggam tangannya lebih erat. "Buktikan dengan tindakan. Bukan dengan nyesel. Bukan dengan nangis. Tapi dengan pastiin—kali ini—aku selamat. Khaerul selamat. Semua orang yang kita sayang selamat."

Zarvan menatap wanita di depannya—wanita yang seharusnya marah, seharusnya menyalahkan dia—tapi malah ngasih dukungan. Ngasih kesempatan kedua.

"Aku nggak akan gagal lagi," ucapnya—kali ini dengan suara yang lebih tegas. "Aku janji. Dengan nyawaku. Dengan segala yang aku punya. Kali ini aku nggak akan diam. Aku akan bertindak. Aku akan lindungi kamu. Dan aku akan pastikan Damian—atau Danial atau siapapun dia—nggak bisa ganggu kita lagi."

"Bagus." Ustadz Hariz berdiri. "Karena sekarang kita punya keris. Kita punya ingatan lengkap. Dan kita punya waktu untuk prepare. Tapi waktu itu terbatas. Damian pasti sudah tahu kita dapet keris. Dan dia pasti akan bertindak cepat."

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Raesha.

"Kita harus lindungi Khaerul. Dia yang paling rentan sekarang." Ustadz Hariz menatap Mahira. "Dan kita harus mulai persiapan ritual. Kumpulin semua yang dibutuhkan. Karena kalau Damian nyerang sebelum kita siap—maka semua usaha kita sia-sia."

"Berapa lama kita punya waktu?" tanya Mahira.

"Alzena bilang waktu semakin menipis. Tapi dia nggak kasih angka pasti." Ustadz Hariz mengeluarkan kalender dari sakunya. "Bulan depan ada tanggal yang... spesial. Tanggal di mana 300 tahun lalu Aisyara dan Zarvan seharusnya menikah. Kalau kita bisa lakukan ritual di tanggal itu—dengan Khaerul yang sukarela, dengan keris Sulaiman, dan dengan doa yang ikhlas—maka kemungkinan berhasil lebih besar."

"Tanggal berapa?" tanya Zarvan.

"17 Februari. Masih tiga minggu lagi."

Tiga minggu. Cuma tiga minggu untuk mempersiapkan segalanya. Untuk lindungi Khaerul dari Damian. Untuk pastikan nggak ada yang salah.

"Oke," kata Mahira sambil berdiri—dengan keris Sulaiman di tangannya. "Tiga minggu. Kita bisa. Kita harus bisa."

"Dan aku akan ada di sampingmu," kata Zarvan sambil berdiri juga. "Setiap langkah. Setiap detik. Aku nggak akan tinggalin kamu sendirian lagi. Nggak akan."

Mereka berdua saling menatap—dan ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Bukan cuma chemistry. Bukan cuma ketertarikan. Tapi... komitmen. Komitmen untuk berjuang bareng. Untuk nggak nyerah. Untuk saling lindungi.

Meskipun dunia—dan kutukan—mencoba memisahkan mereka lagi.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 22**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!