Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Her Presence Was Enough
Meringkuk hangat di bawah balutan selimut, Sena duduk di depan meja belajar, memeriksa beberapa catatan di dalam laptopnya. Lilin aromaterapi masih menyala, sedangkan cangkir berisi teh di atas meja belajarnya sudah lama kosong.
Hari itu hujan turun tanpa henti, mendung menggantung tinggi di atas langit Seoul. Sena menghabiskan waktunya seharian di apartemen, sibuk belajar dan sesekal mengambil jeda untuk sekadar merenggangkan otot-otot yang terasa kaku.
Sena belajar sedikit lebih lama lagi, sebelum akhirnya menutup buku dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan helaan napas yang terdengar lelah. Dia memejamkan matanya sebentar, berusaha merilekskan seluruh anggota tubuhnya setelah diajak belajar seharian. Selimut yang membalut tubuhnya dirapatkan, dan dia menghela napas puas merasakan kenyamanan yang tercipta karenanya.
Lalu, dia bangun, untuk membereskan kekacauan yang dia tinggalkan di meja belajar. Buku dan pulpen, sertan kertas note yang berserak di meja, dia kembalikan ke tempat semula. Setelah selesai, dia turun ke lantai bawah. Ponselnya yang tertinggal di ruang tamu, menyembul sedikit dari sela-sela sofa. Teknisnya, benda itu tidak benar-benar tertinggal secara tidak sengaja. Sena sengaja meninggalkannya di sana demi mengurangi distraksi selama belajar. Dia mengambil benda pipih itu, untuk menemukannya dipenuhi banyak sekali pesan masuk, yang terbaru dikirimkan oleh Joana.
Joana
Hai, Manis!
Semua member Elements sedang berlatih untuk persiapan tur, dan aku berpikir untuk datang membawakan kopi dan camilan
Apa kau mau ikut?
Sena
Oh, apakah itu diperbolehkan?
Joana
Iya, jangan khawatir
Para staff sudah mengenalku dengan baik, jadi seharusnya tidak masalah jika aku membawamu ke sana
Sena
Baiklah kalau begitu
Jam berapa?
Joana
30 menit lagi? Aku akan menjemputmu
Sena
Baiklah.... see you
Joana
See you
Sena merasa bersemangat untuk bertemu Joana dan para member Elements lagi. Tapi kemudian saat dia menurunkan pandangan untuk memeriksa tampilan dirinya, Sena mendesah kasar. Belajar selama berjam-jam membuatnya berantakan. Rambutnya yang dicepol asal sudah tidak keruan bentuknya, dan pakaian rumahan yang dikenakannya sudah sangat kusut. Lagipula, tidak mungkin juga dia pergi ke gedung perusahaan menggunakan pakaian rumahan seperti ini.
Jadi, Sena buru-buru naik lagi ke lantai atas dan menjelajah lemari pakaian untuk menemukan pakaian yang cocok. Berkutat sebentar, pilihannya jatuh pada jeans biru muda, ikat pinggang kecil, dan kaus putih polos pas badan. Wajahnya dipulas make up sekadarnya, hanya agar bisa menutupi kelelahan dan stress yang menumpuk di sana. Sedangkan untuk rambutnya, Sena tidak punya pilihan selain membuat cepolan rendah dan menarik beberapa helai rambut depan, berharap itu cukup membuatnya tampak ok.
Beres berdandan, Sena turun setelah memastikan dompet dan ponselnya masuk ke dalam tas. Dia lalu turun ke lobi, dan sekitar enam menit kemudian Joana datang menjemput. Dari apartemen Sena, mereka pergi ke coffee shop terdekat untuk membeli kopi dan beberapa makanan yang dijual di sana. Joana ingin memastikan semua member Elements makan dengan baik di tengah padatnya jadwal latihan, dan Sena setuju akan hal itu.
Membawa hasil buruan di coffee shop, mereka pergi ke studio latihan. Jaraknya sekitar 25 menit, masih aman untuk membuat kopi tetap pada suhu yang masih bisa dinikmati. Dari luar, bangunan studio itu tampak seperti bangunan-bangunan lainnya. Tidak ada yang begitu spesial, tidak ada dekorasi meriah yang menunjukkan bahwa tempat itu adalah tempat di mana para bintang mempersiapkan segala hal menjelang comeback ataupun world tour. Mereka menyapa beberapa security yang berjaga di gate masuk, kemudian melenggang bebas ke dalam.
Suara musik terdengar keras ke seluruh penjuru lorong, seakan menyambut kedatangan mereka. Keduanya melangkah mendekat ke ruang latihan, di mana para member berada. Ada banyak staf di dalam sana, tersebar di penjuru ruangan, merekam, memonitor, dan menonton pergerakan para member Elements. Joana menyapa mereka satu persatu, kemudian bergerak mendekat kepada make up artist yang duduk di pojok. Dia meletakkan semua barang bawaannya di meja, lalu bersama Sena ia mulai ikut menonton sesi latihan.
Mulanya, Sena memperhatikan 8 member di sana satu persatu, menikmati setiap detail berbeda yang ditampakkan oleh mereka untuk satu gerakan dance yang sama. Lalu pandangannya terkunci seterusnya hanya pada satu sosok yang paling menarik perhatiannya. Alih-alih Logan yang merupakan biasnya, Sena kini lebih tertarik mengunci pandangannya pada Andy, teman baik yang sangat ia sayangi.
Ketika lagu akhirnya berhenti dan delapan pria itu mematung selama beberapa detik dalam pose ending, semua staf bertepuk tangan memberikan apresiasi. Sena dan Joana turut melakukan hal serupa, ditambah senyum yang merekah menghias wajah. Para member juga ikut bertepuk tangan setelahnya, berterima kasih pada para staf yang sudah bekerja keras mendampingi mereka selama sesi latihan, dan mengambil jeda sejenak sebelum nanti lanjut ke lagu lainnya.
Joana bergegas menghampiri Jeremy, mereka berpelukan begitu erat bagai sudah tidak bertemu selama berabad-abad. Sena menyusul, menyapa Taehee sebab pria itulah yang pertama kali menyadari keberadaannya. Sang leader melambaikan tangan dan tersenyum lebar, Sena pun membalasnya. Kemudian sebuah suara muncul dari arah samping, menarik perhatian Sena.
"Hei, aku tidak tahu kau akan datang hari ini!"
Yushi menampilkan senyum lebar yang menampakkan deretan giginya yang rapi. Jenis senyum yang mengundang orang lain ikut menarik ujung-ujung bibir begitu tinggi, seperti Sena saat ini.
"Ini tidak direncakan. Joana mengajakku untuk datang, jadi aku ikut." Sena menjelaskan, dan Yushi mengangguk selagi ia menenggak air minum dalam kemasan. Selesai minum, ia mengajak Sena pergi ke sudut yang kosong, duduk lesehan di lantai. Sena menurut saja. Dia duduk di sebelah Yushi, membiarkan pria Jepang itu mengatur napasnya yang berantakan sebelum memulai percakapan.
"Maaf, aku harus duduk dulu sebentar. Kalau tidak, aku bisa pingsan," celetuk Yushi. Sena hanya mengangguk paham.
"Sudah berapa lama kalian latihan?"
"Hmm ... Sekitar 4 jam?"
Sena menganga, "Wah ... Pasti berat sekali rasanya."
"Ya. Tapi kami sudah terbiasa," kata Yushi. "Apalagi, sekarang ada kau di sini. Motivasi kami jadi bertambah." Dia melanjutkan, membuat Sena tertawa.
"Kurasa aku tidak sebegitu membantu."
Yushi menggeleng. "Percayalah, kehadiranmu sudah cukup untuk membuat kami termotivasi untuk melakukannya dengan lebih baik."
Pipi Sena terasa panas setelah mendengar ucapan Yushi. Maka ia memalingkan wajahnya, sebelum dirinya tenggelam dalam pesona yang terpancar dari sorot mata teduh pria itu.
Di sampingnya, Yushi tersenyum puas atas reaksi Sena yang menurutnya lucu. Matanya hampir tidak berkedip, terus memandangi gadis itu untuk waktu yang cukup lama. Sampai pandangannya terhalang sebab Andy tahu-tahu menyempilkan diri di tengah-tengah mereka. Yushi menggeleng tak habis pikir, dengan senyum jahil menggantung di wajahnya. Tapi sebagai pria yang cukup peka, ia langsung bangkit dan pamit pada Sena, beralasan hendak mengambil lebih banyak air untuk memuaskan dahaga.
"Hai," Andy menyapa dengan wajah polosnya.
Sena menggeleng pelan. "Hai, Andy," sapanya balik. Memutuskan tidak ambil pusing soal Andy yang datang tiba-tiba dan menginterupsi obrolannya dengan Yushi.
"Aku tidak tahu kau akan datang," katanya. "Tapi syukurlah kau di sini. Aku senang."
"Berterima kasihlah pada Joana, dia yang mengajakku ke sini." Sena menggerakkan dagunya, menunjuk Joana yang sudah lengket dengan Jeremy di sudut lain ruangan itu.
Andy hanya mengangguk dan bergumam pelan.
"Kami membawakan kopi dan camilan, ambillah," kata Sena.
Andy menggeleng. "Tidak, terima kasih."
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya. Dia tahu, Andy akan langsung menjawab baik, tapi setelah melihat betapa keras Andy latihan, Sena tidak akan lagi percaya pada jawaban itu. Mustahil Andy tidak lelah.
"Aku baik-baik saja."
Jawaban yang sudah diduga, dan Sena hanya bisa menertawakannya sendiri.
"Apa?" Andy bertanya dengan dahi berkerut, kebingungan.
"Aku sudah tahu kau akan menjawab begitu," cetus Sena.
Andy terkekeh pelan. "Tapi betulan, aku baik-baik saja."
Sena menelengkan kepala dan menyipitkan mata, mencoba menemukan kebenaran di mata Andy. Jelas sekali terlihat bahwa Andy lelah, jadi sudah pasti Andy tidak baik-baik saja.
"Jangan bohong. Aku tahu kau lelah, dan itu bisa dimengerti."
Andy tidak bersuara, hanya mengedik lalu menenggak air minum dalam kemasan. Dia merenung sesaat, pandangannya jatuh ke lantai. Itu adalah momen istirahat sejenak yang biasa ia lakukan untuk kembali rileks. Dan Sena, di sampingnya memperhatikan bagaimana ia memejamkan mata dan perlahan merebahkan diri ke lantai. Satu tangannya memegang botol air mineral, satunya lagi mendarat lunglai di atas perut.
Melihat Andy santai saja rebahan di lantai, Sena pun menyusul. Dia menggunakan kedua tangannya sebagai bantal, tatapannya menerawang ke langit-langit. Fokusnya dibuat terkunci hanya pada Andy, sehingga suara-suara yang berasal dari orang lain di dalam ruangan itu secara otomatis seperti dimute.
Andy yang akhirnya sadar bahwa Sena ikut merebahkan diri di sebelahnya, membuka mata perlahan. Diperhatikannya tatapan Sena yang menjelajah langit-langit, dan bagaimana lampu-lampu di atas sana menerangi sosok Sena. Rambut hitamnya tampak berkilau, bibirnya berwarna merah muda. Andy tersenyum, sebelum mengalihkan pandangan dan memejamkan matanya lagi. Dia ingin menikmati waktu istirahatnya dengan baik, bersama kehadiran Sena yang membantu membangkitkan energinya seribu kali lebih cepat dari biasanya.
Bersambung....