"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 25
Di malam yang sama, di perusahaan Barata group...
Seno tengah duduk di singgasana kekuasaannya sebagai direktur utama sekaligus CEO, dengan angkuh dan wajah dingin. Tumpukan dokumen di mejanya belum tersentuh sama sekali. Saat ini pikirannya sedang melanglang jauh-- lebih tepatnya ke satu nama, Indira.
Sejak kejadian malam itu, malam di mana ia mencium Indira untuk pertama kalinya semenjak mereka menikah dan sejak saat itu Indira semakin menjauh. Gadis itu bahkan hampir tak pernah menatap matanya lagi.
Seno mengusap wajahnya kasar, frustasi mulai menggerogoti pikirannya. Sejurus kemudian, ia mengambil ponsel, tangannya berselancar di layar pipi itu dan mulai membuka akun media sosial tanpa tujuan jelas-- lebih tepatnya mencoba mengalihkan pikirannya. Tapi tak lama kemudian, sebuah postingan muncul di beranda.
Dan akun itu milik Adrian, sejak kuliah mereka memang sudah berteman lewat medsos. Mata elang Seno melebar otomatis melihat layar, ia langsung menegakkan tubuhnya.
Di foto itu, tampak Adrian sedang tersenyum lebar dengan Indira berada di sampingnya dengan mengenakan seragam perawat berwarna putih dan di tengah mereka ada Keano-- anak itu terlihat sedang tersenyum manis sambil memeluk sebuah boneka.
Tak ada yang salah sebenarnya dengan foto itu, Adrian tampak lebih dekat dengan Keano dan Indira juga nampaknya sedikit menjauh, namun caption yang tertera di bawahnya lah yang membuat suasana di sekitar Seno mendadak panas.
(Kali ini di temani perawat cantik kesayangan Keano-- eh tapi mungkin, kesayangan kita juga🤭😇)
Caption itu menggelikan tapi ada makna yang terkandung di sana. Dada Seno langsung mengencang, dia menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat lalu dengan gerakan kasar dia menutup ponsel dan membanting nya ke meja.
BRAKK!
Sekretaris nya yang sedang berdiri di dekat pintu untuk memberikan laporan sontak terlonjak kaget. "T- tuan? "
Seno tidak menjawab. Matanya masih menyala marah, napasnya memburu.
"Siall! kenapa aku harus sekesal ini?? " ia pun tak mengerti dengan perasannya. "lagipula apa- apaan dia, tidak bilang kalau sudah mulai bekerja lagi? bukankah harusnya bilang, bagaimanapun aku suaminya. " dia bersungut-sungut sendiri.
Mengacak rambut, Seno menghela napas gusar. "kenapa juga dia terus menempel pada Adrian? tidak kah dia memikirkan apa kata orang-orang? " kali ini suara hatinya yang berbicara.
"Siallan!" pria itu memijit kepalanya.
"Tuan... ada yang bisa saya bantu?" tanya sekretarisnya hati-hati, suaranya hampir berbisik.
Seno menggeleng cepat. "Keluar. Sekarang."
Sekretarisnya langsung membungkuk dan bergegas keluar, menutup pintu dengan hati-hati.
Seno menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Tapi gagal. Dadanya masih sesak, emosinya masih bergejolak.
Dia sudah tidak bisa lagi menyangkal--dia cemburu. Sangat cemburu.
Tangannya meraih ponsel lagi, membuka kembali postingan itu. Matanya menatap tajam pada senyum Indira di foto. Senyum yang jarang sekali dia lihat ketika gadis itu bersamanya.
"Kenapa dia bisa senyum begitu sama Adrian? kepada pria lain?"
Seno mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya kembali mengetat.
Kali ini, dia tidak akan tinggal diam.
Seno langsung berdiri dari kursinya, meraih jas yang tergantung di sandaran kursi. Dia tidak peduli dengan tumpukan pekerjaan yang masih menunggu. Dia harus bertemu Indira. Sekarang.
Raka yang kebetulan baru masuk ke ruangan langsung terkejut melihat ekspresi Seno. "Tuan? Mau kemana?"
"Rumah sakit," jawab Seno singkat sambil terus berjalan.
Raka mengejar. "Tapi Tuan, masih ada meeting dengan--"
"Tunda semua!" potong Seno tajam. "Aku harus ke rumah sakit sekarang."
Raka terdiam sejenak, lalu mengangguk paham. "Baik, Tuan. Saya siapkan mobilnya."
Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat lama bagi Seno, padahal hanya butuh dua puluh menit. Selama di mobil, pikirannya terus memutar postingan itu. Senyum Indira dan caption Adrian yang menyebalkan.
Kenapa dia sampai segini nya? dia pun tak tahu.
Tapi begitu sampai di rumah sakit, Seno justru merasa ragu. Langkahnya melambat saat mendekati ruang perawat anak--tempat Indira bekerja.
Melalui jendela kaca, dia melihat Indira sedang berjongkok di depan Keano, tersenyum lembut sambil merapikan baju anak itu. Di sampingnya, Adrian juga berjongkok, ikut membantu menenangkan Keano yang sepertinya baru selesai menangis.
Mereka terlihat .... serasi seperti keluarga kecil yang bahagia.
Sesuatu di dada Seno seperti diremas kuat-kuat. Dia hendak masuk, tapi langkahnya terhenti ketika melihat Indira tertawa kecil karena Keano memeluknya tiba-tiba. Adrian juga ikut tertawa, lalu menepuk kepala Keano dengan sayang.
Seno mengepalkan tangannya. Pikirannya berkecamuk, antara ingin masuk dan menganggu kesenangan mereka atau bertahan demi untuk melihat senyum Indira yang selepas itu, yang mungkin tak bisa ia lihat ulang.
Dan pada akhirnya Seno tetap berdiri di sana, dengan bersandar di di tiang dan kedua tangan terlipat di dada, matanya dalam menatap sang gadis, seolah- olah hanya ada mereka di ruangan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Esok harinya...
Pagi datang dengan cahaya yang menyilaukan bagi Windya. Kepalanya berdenyut hebat, seperti ada yang memukul-mukul dari dalam tengkoraknya. Dia mengerang pelan, mencoba membuka netranya tapi cahaya yang masuk lewat celah tirai langsung membuat matanya perih.
Tunggu.
Tirai?
Windya terdiam, kesadarannya perlahan mulai pulih. Ini bukan kamarnya di panti asuhan. Baunya berbeda. Seprei ini berbeda. Dan suara apa itu di sebelahnya?
Windya langsung menegakkan tubuhnya--lalu merasakan nyeri hebat di selangkangannya. Dia meringis, matanya melebar saat menyadari dia tidak mengenakan apa-apa. Selimut menutupi tubuhnya, tapi pakaiannya berserakan di lantai.
"Apa yang..." bisiknya dengan suara serak.
Lalu matanya menangkap sosok pria yang terbaring di sebelahnya. Telanjang. Tidur dengan wajah menyamping, napasnya teratur.
Bayu.
Ingatan semalam mulai kembali secara samar-samar. Club. Minuman. Bayu yang menyentuh pahanya. Hotel. Ciuman brutal. Lalu, tubuhnya yang merespon tanpa bisa melawan.
"Oh my god," gumam Windya dengan napas tercekat. "Apa yang sudah gue lakukan?"
Tangannya bergetar saat meraih pakaiannya yang berserakan. Dia mencoba bangkit dari ranjang dengan hati-hati, tapi gerakan itu membuat Bayu terbangun.
"Hei," suara Bayu serak, matanya setengah terbuka. "Mau kemana?"
Windya tidak menjawab. Dia langsung berdiri, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, lalu dengan tergesa-gesa mengenakan pakaiannya.
Bayu bangkit, duduk di tepi ranjang dengan senyum miring. "Kenapa buru-buru? Kemarin malam lo nggak begini."
Windya menoleh, menatap tajam, matanya berkaca- kaca-- entah karena malu atau marah. "Fu*ck you bi*tch... lo... Lo apain gue hah?! "
Bayu tertawa kecil. "Gue? Lo yang minta, cantik. Lo yang nempel terus sama gue semalam."
"Bohong!" Windya membentak, suaranya bergetar. "Gue nggak mungkin... gue nggak akan..."
"Lo emang nggak akan kalau gue nggak kasih sedikit 'bantuan' " potong Bayu santai sambil meraih celana yang tergeletak di lantai. "Tapi lo menikmatinya kok. Malah minta lebih."
Windya membeku. Dadanya sesak, tangannya mengepal kuat-kuat.
'Bantuan?'
"Lo... lo ngasih gue obat?" tanyanya dengan suara nyaris berbisik.
Bayu hanya mengangkat bahu, tidak peduli. "Ya namanya juga seneng-seneng. Lo pikir gue peduli lo mau atau nggak?"
Windya menggertakkan giginya, marah namun sejurus kemudian ia merasakan mual yang tiba-tiba menyerang. Dia langsung berlari ke kamar mandi, membanting pintu, lalu muntah di toilet. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung.
"Breng*sek, bisa- bisanya gue tidur sama orang asing. Gila! Ini gila! "
Setelah membilas wajahnya dengan air dingin, Windya menatap pantulannya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sembab, ada bekas kemerahan di lehernya--tanda dari ciuman brutal Bayu semalam.
Dia merasa jijik. Sangat jijik, bisa- bisanya sampai kebablasan seperti ini?
Seperkiam detik kemudian, Windya menyadari sesuatu, matanya melotot.
"Jangan sampai kak Seno tahu hal ini! " Pekiknya lalu cepat- cepat menutup mulut.
*****
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah