Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WASIAT DI BALIK TABIR DUKA.
Ruang VVIP rumah sakit yang tadinya panas oleh perdebatan, mendadak berubah menjadi panggung tragedi yang membeku. Monitor jantung di samping ranjang Firman Syaputra mengeluarkan bunyi melengking yang panjang, sebuah garis lurus yang menandakan akhir dari segala ambisi dan penyesalan sang penguasa bisnis konstruksi itu.
"Papa? Papa!" Aurel menjerit, mengguncang bahu ayahnya yang sudah tak lagi memberikan respon.
Asnita, sang ibu, jatuh terduduk di lantai sambil meraung histeris. Sementara itu, Ansel terpaku di tempatnya, wajahnya pucat pasi namun sorot matanya masih memancarkan keterkejutan yang egois. Ia tidak menyangka amarahnya akan menjadi pemicu berhentinya jantung sang ayah.
"Cepat panggil dokter! Adam, lakukan sesuatu!" teriak Aurel kalap.
Adam segera menekan tombol darurat dan mencoba melakukan resusitasi jantung paru sebisanya, namun ia tahu tubuh ringkih itu sudah menyerah. Dokter datang dengan tergesa-gesa, melakukan upaya terakhir yang sia-sia, hingga akhirnya waktu kematian diumumkan.
Setelah jenazah Firman ditutupi kain putih, Aurel berdiri dengan tubuh gemetar. Ia menoleh ke arah Ansel yang masih berdiri mematung di sudut ruangan. Tanpa peringatan, Aurel melangkah maju dan melayangkan tamparan keras ke pipi adiknya.
PLAAK!
"Puas kamu, Ansel? Puas melihat Papa mati karena kerakusanmu?" desis Aurel dengan suara yang sarat akan kebencian.
Ansel memegang pipinya yang panas, matanya mulai memerah. "Kak, ini bukan salahku! Papa memang sudah sakit! Aku cuma menuntut hakku!"
"Hak? Hak apa yang kamu bicarakan saat Papa sedang berjuang hidup?" Aurel menunjuk jenazah ayahnya dengan tangan gemetar. "Kamu membunuh Papa, Ansel! Kamu pulang dari Singapura bukan untuk menjenguk, tapi untuk merampok orang tuamu sendiri!"
Adam maju, memegang bahu Aurel agar istrinya tidak semakin kehilangan kendali. "Adel, tenanglah. Ini rumah sakit. Mari kita urus jenazah Papa dulu."
"Lepaskan aku, Adam!" Aurel terisak di dada suaminya. "Lihat dia... dia bahkan tidak meneteskan air mata untuk Papa. Dia hanya memikirkan harta!"
Adam memeluk Aurel dengan erat, "Sssth... Papa sudah tenang sekarang, dia sudah tidak merasakan sakit lagi. Jadi sekarang sebaiknya kita urus jenazah Papa,"
Jenazah Firman langsung dibawa pulang. Adam-lah yang semua bahkan ia yang menjadi Imam ketika sholat jenazah. Dan dia juga yang memimpin doa ketika Firman dimakamkan. Membuat ia menjadi pusat perhatian bagi para pelayat. Dan juga menambah rasa simpatik dihati Aurel.
Belum kering tanah kuburan Firman Syaputra, ketamakan Ansel sudah tak bisa dibendung. Hanya tiga jam setelah pemakaman usai, saat para pelayat masih bercakap-cakap di ruang tamu rumah besar mereka, Ansel sudah memanggil Pak Baskoro, pengacara keluarga, ke ruang kerja pribadi sang ayah.
"Ansel, ini tidak sopan! Papa baru saja dimakamkan!" protes Asnita yang matanya masih sembab.
"Ma, urusan bisnis tidak bisa menunggu duka yang berlarut-larut. Aku harus segera kembali ke Singapura dan aku perlu kejelasan status FB Build," sahut Ansel dingin. Ia menoleh pada pengacara. "Pak Baskoro, silakan bacakan wasiat terakhir Papa. Sekarang."
Aurel duduk di samping Adam, tangannya menggenggam erat jemari suaminya. Ia sudah tidak peduli lagi soal harta, ia hanya ingin tahu seberapa jauh ayahnya mencoba menebus dosa masa lalu.
Pak Baskoro membuka map hitam itu dengan tangan gemetar. Ia berdeham, menatap satu per satu anggota keluarga yang ada di ruangan itu. "Saya akan membacakan pembagian saham utama dari seluruh aset almarhum Pak Firman Syaputra, termasuk FB Build."
"Langsung saja ke intinya," potong Ansel tidak sabar.
"Baik," Pak Baskoro menarik napas panjang. "Berdasarkan wasiat tertulis dan disahkan notaris dua minggu lalu: Saham FB Build dan aset properti lainnya dibagi sebagai berikut: Lima belas persen untuk Ibu Asnita Baskoro, sepuluh persen untuk Adelia Aurellia..."
Ansel tersenyum kemenangan, ia yakin sisanya akan jatuh ke tangannya. Namun, kalimat berikutnya membuat dunianya runtuh.
"...Dua puluh lima persen untuk Ansel Aulian, dan sisanya... lima puluh persen beserta hak kendali penuh perusahaan, jatuh kepada Adam Ashraf sebagai bentuk pemulihan hak keluarga Bramasta."
Hening. Ruangan itu mendadak sunyi senyap seolah oksigen di dalamnya tersedot habis. Wajah Ansel berubah dari pucat menjadi merah padam dalam hitungan detik.
"APA?! TIDAK MUNGKIN!" teriak Ansel sambil menggebrak meja kerja ayahnya. "Pasti ada yang salah! Papa tidak mungkin segila itu memberikan separuh hartanya pada orang asing!"
"Ini dokumen sah, Pak Ansel. Ditandatangani dalam keadaan sadar sepenuhnya," jawab Pak Baskoro tenang.
Ansel beralih menatap Adam dengan kebencian yang meluap. "Kamu! Kamu pasti sudah mencuci otak Papa saat aku di Singapura! Kamu menggunakan kakakku untuk masuk ke keluarga ini dan merampas semuanya!"
Adam berdiri perlahan, wajahnya datar namun matanya menyorotkan otoritas yang mematikan. "Aku bahkan tidak tahu Papa membuat wasiat ini, Ansel. Aku datang ke keluarga ini bukan untuk mencari harta yang memang seharusnya menjadi milik ayahku sejak dulu."
"Jangan sok suci!" maki Ansel. Ia menoleh pada ibunya. "Mama lihat! Papa lebih sayang pada menantunya daripada anak kandungnya sendiri! Lima puluh persen? Ini penghinaan!"
Aurel berdiri, menatap adiknya dengan tatapan muak. "Ini bukan penghinaan, Ansel. Ini adalah keadilan. Selama sepuluh tahun, Papa hidup dalam rasa bersalah karena memakan harta yang bukan haknya. Papa hanya mengembalikan apa yang seharusnya milik Adam. Dan fakta bahwa kamu hanya mendapat dua puluh lima persen menunjukkan bahwa Papa tahu kamu belum layak memimpin apa pun."
"Diam kau, Kak! Kau sama saja dengan penjilat ini!" Ansel menunjuk muka Aurel. "Aku tidak akan terima! Aku akan menggugat wasiat ini ke pengadilan!"
Adam melangkah maju, menghalangi Ansel yang terus memaki Aurel. "Ansel, cukup. Jika kamu ingin menggugat, silakan. Tapi perlu kamu tahu, aku memegang kendali penuh. Mulai besok, aku akan melakukan audit total di FB Build. Jika ada satu rupiah pun dana yang kamu selewengkan selama kamu' di Singapura, aku sendiri yang akan menyeretmu ke kantor polisi."
Ansel terkesiap. Ia tahu betul ada beberapa aliran dana perusahaan yang ia gunakan secara ilegal untuk gaya hidupnya di Singapura. Ancaman Adam bukan sekadar gertakan.
"Kalian akan menyesal telah memperlakukan aku seperti ini," gumam Ansel sambil melangkah keluar dan membanting pintu ruang kerja hingga kaca di bingkai foto keluarga retak.
Asnita menangis di pelukan Aurel. Suasana rumah yang seharusnya menjadi tempat duka, kini berubah menjadi medan perang. Aurel menatap Adam dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa bersalah karena adiknya begitu rakus, namun di sisi lain, ia melihat betapa kokohnya Adam melindungi kehormatan wasiat ayahnya.
"Adam... apakah ini benar?" tanya Aurel lirih, setelah ia membawa ibunya ke kamarnya,"Lima puluh persen itu tanggung jawab yang sangat besar."
Adam menatap istrinya, lalu menariknya ke dalam pelukan yang hangat. "Aku tidak menginginkan saham ini, Adel. Aku hanya ingin menjalankan amanah terakhir Papa. Aku akan membenahi perusahaan itu, dan jika suatu saat Ansel sudah berubah menjadi pria yang bertanggung jawab, aku akan mengembalikannya. Tapi untuk sekarang, aku tidak akan membiarkan kerja keras Ayahku dan Papamu hancur di tangan orang yang salah."
Aurel memejamkan mata. Di tengah kekacauan ini, ia sadar bahwa Adam adalah satu-satunya pelabuhan yang ia miliki. Ketakutannya soal usia dan masa lalu seolah memudar, tertutup oleh kebutuhan besar akan sosok pelindung di sampingnya. Namun, ia tahu, Ansel tidak akan berhenti sampai di sini.