NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01. Tangisan Palsu

Rian baru saja akan memulai match baru untuk membalas dendam kekalahannya. Jemarinya sudah bersiap di atas tombol saat sebuah tangan kasar dan berbau amis menarik kuat lengan baju kaosnya.

“Rian! Rian, bangun!”

Rian tersentak, bahunya menegang. “Apa sih, Bu? Bentar lagi tanggung!” tangkisnya tanpa menoleh, matanya terpaku pada layar monitor yang sedang loading.

Namun, tarikan itu makin menjadi. Kali ini lebih bertenaga, hingga tubuh Rian nyaris terjungkal dari kursi plastik warnet itu. Kesal karena fokusnya terganggu, Rian menyambar headset di kepalanya, membantingnya ke meja hingga menimbulkan bunyi braak yang keras.

“BISA SABAR NGGAK SIH?! AKU LAGI KERJA INI!” bentak Rian, suaranya menggelegar mengalahkan suara bising kipas angin warnet. Ia berdiri, menatap ibunya dengan mata merah penuh amarah.

Ibu Rian, seorang wanita berusia 45 tahun yang masih mengenakan celemek dagangannya yang kumal, tidak membalas bentakan itu dengan kemarahan. Wajahnya pias. Air mata sudah membanjiri pipinya yang keriput premature. Tubuhnya gemetar hebat.

“Cucuku, Rian, cucuku,” suaranya tercekat di tenggorokan.

Rian terdiam. Amarahnya yang tadi meluap tiba-tiba terasa membeku. “Maksud Ibu apa?”

“Cucuku sudah tidak ada, anakmu, Rian! Istrimu pendarahan di rumah besar itu!”

Wanita itu histeris. Ia jatuh terduduk di lantai warnet yang kotor, kedua tangannya memukul-mukul lututnya sendiri dengan keras, seolah mencoba mengalihkan rasa sakit di dadanya ke fisiknya.

“Cucuku tiada. Dia sudah pergi.”

Suara pukulan tangan ke lutut itu terdengar berulang-ulang, beradu dengan isak tangis yang memilukan. Para pemain lain di warnet itu mendadak hening. Suara tembakan dari game di layar monitor seakan berubah menjadi latar belakang yang hambar.

Rian tidak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik, meninggalkan komputernya yang masih menyala. Ia berjalan keluar dengan langkah limbung, nyaris menabrak pintu kaca warnet.

Celana kolor dan kaos oblongnya kini tampak begitu menyedihkan tertiup angin jalanan, seiring dengan langkahnya yang tak tentu arah.

Rian berlari seperti orang kesetanan. Sandal jepitnya entah terlepas di mana, tapi ia tak peduli. Aspal jalanan yang panas membakar telapak kakinya, rambut ikalnya yang berantakan makin awut-awutan diterjang angin.

Langkah Rian melambat saat ia sampai di gerbang besar Cluster Magnolia. Napasnya putus-putus, dadanya naik-turun dengan hebat. Tepat saat ia hendak merengsek masuk, sebuah raungan sirene membelah kesunyian kompleks elit itu.

Ninu! Ninu! Ninnuuu!

Sebuah mobil ambulans berwarna putih meluncur keluar dengan kecepatan tinggi dari arah dalam. Cahaya lampu rotator merah dan birunya menyambar-nyambar pilar gedung yang megah.

Rian terpaku. Di balik kaca jendela ambulans yang buram, ia seolah bisa merasakan kepedihan yang sedang terjadi di dalamnya.

“Maya!” teriaknya parau, meski suaranya tenggelam oleh suara mesin.

Tanpa pikir panjang, Rian memutar arah. Ia mencoba mengejar mobil itu dengan kakinya sendiri. Otot kakinya menegang, keringat bercampur debu jalanan membasahi kaos oblongnya yang kumal. Namun, mesin kendaraan tentu lebih perkasa dari kaki manusia yang gemetar. Jarak ambulans itu kian menjauh, meninggalkan Rian yang mulai tertinggal di belakang.

“Sial! Berhenti!” Rian berteriak sambil melambaikan tangan, tapi ambulans itu terus melaju, membelah kemacetan di jalan raya utama.

Sadar ia takkan mungkin mengejar dengan berlari, Rian menghentikan sebuah angkutan yang sedang melintas secara serampangan.

“Bang! Kejar ambulans itu, Bang! Cepat!!” seru Rian sambil melompat masuk ke pintu belakang, bahkan sebelum angkot itu benar-benar berhenti.

Sopir angkot itu sempat terperangah melihat penampilan Rian yang berantakan tanpa alas kaki, berkeringat, dan mata yang menyiratkan kegilaan. Namun, melihat kepanikan di wajah pemuda itu, sang sopir langsung menginjak gas sedalam-dalamnya.

Beberapa menit kemudian, angkot itu mengerem mendadak di depan rumah sakit. Rian merogoh saku celana kolornya, menarik beberapa lembar uang kertas yang sudah lecek dan basah oleh keringat, lalu melemparkannya begitu saja ke arah sopir tanpa menunggu kembalian.

Bau karbol yang tajam menyambut penciumannya, sangat kontras dengan bau asap rokok yang baru saja ia tinggalkan di warnet. Di ujung lorong, ia melihat kerumunan perawat yang mendorong ranjang dorong dengan tergesa-gesa.

Di atas ranjang itu, ia melihat Maya. Wajah istrinya pucat, seputih kertas, matanya terpejam rapat. Kain penutup tubuhnya yang berwarna hijau rumah sakit kini ternoda merah pekat di bagian bawah, seolah darah itu menolak berhenti.

“Maya! Maya, ini aku!” teriak Rian. Suaranya pecah, bergema di lorong rumah sakit yang tinggi.

Ia mencoba menyalip langkah para perawat, tangannya berusaha meraih jempol kaki istrinya yang terasa dingin. Rian terus berlari di samping ranjang itu, napasnya tersengal, air mata mengaburkan pandangannya hingga beberapa kali menabrak tiang infus yang ikut dibawa lari.

Langkah mereka sampai di depan sebuah pintu ganda besar bertuliskan “RUANG OPERASI” dengan lampu merah yang siap menyala di atasnya. Saat Rian hendak merengsek masuk, seorang staf medis bertubuh tegap menahan dadanya dengan kuat.

“Maaf, Bapak tunggu di luar!” tegas staf itu, menghalangi jalan Rian.

“Itu istriku! Anakku juga di dalam!” Rian memberontak, mencoba menyelinap di bawah lengan staf tersebut. “Aku harus masuk! Maya!”

'‘Pak, tolong tenang! Kami akan melakukan yang terbaik, tapi Bapak tidak boleh masuk ke area steril. Tunggu di sini!”

Brak. Pintu ganda itu tertutup rapat.

Rian mundur selangkah, lalu lututnya lemas. Ia merosot di dinding lorong yang dingin.

Di tengah keheningan lorong yang mencekam, terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi yang berirama, klik, klak, klik, klak, mendekat ke arahnya.

Rian mendongak. Di hadapannya berdiri seorang wanita. Meskipun usianya mungkin sudah kepala empat, wajahnya tampak sangat kencang dan terawat, seolah waktu tak berani menyentuhnya. Ia mengenakan blus sutra berwarna krem yang jatuh sempurna di tubuhnya. Wanita itu adalah Nyonya Adiwangsa, pemilik rumah tempat Maya bekerja.

Tanpa banyak bicara, wanita itu mengulurkan sebuah amplop cokelat yang tampak sangat tebal.

“Ini, uang untuk biaya operasi istrimu,”ucapnya dengan suara yang tenang dan sangat teratur.

Rian tertegun. Ia menatap amplop itu, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke wajah wanita di hadapannya. Wajah Nyonya Adiwangsa yang terlihat tersenyum.

Rian kembali menunduk, menatap amplop itu dengan tangan gemetar.

“Ini uang kompensasi, sekaligus…tutup mulut,” lanjut wanita itu, nadanya sedikit merendah namun tetap terdengar wibawa. “Aku tidak ingin ada pemberitaan yang luas mengenai kejadian yang terjadi pada istrimu. Kamu tahu sendiri, kompleks kami sangat menjujung tinggi privasi, dan aku tidak ingin reputasi keluargaku terganggu hanya karena kecelakaan kecil di rumahku.”

Rian menatap tumpukan uang di dalam amplop itu. Bayangan tagihan rumah sakit, sewa kontrakan, dan hidupnya yang selama ini luntang-lantung berputar di kepalanya. Dengan tangan yang masih gemetar dan sedikit kotor, ia perlahan menjangkau amplop tersebut.

“Terima kasih. Terima kasih, Nyonya,” ucap Rian lirih, suaranya parau. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gesture tunduk di hadapan kekuasaan uang.

Wanita itu hanya memberikan senyum tipis yang penuh kemenangan. Tanpa sepatah kata pun lagi, ia berbalik, tumit sepatunya kembali beradu dengan lantai rumah sakit, menciptakan irama yang angkuh saat ia berjalan menjauh.

Di tengah lorong, wanita itu berpapasan dengan Ibu Aminah, ibunya Rian, yang baru saja selesai mengurus pendaftaran di bagian depan.

Langkah Nyonya Adiwangsa melambat. Ia berhenti tepat di samping Ibu Aminah. Tanpa menoleh sepenuhnya, hanya dengan lirikan mata yang tajam di balik riasan tipisnya, ia berbisik dengan nada yang sangat dingin.

“Jangan ungkit apa pun. Anggap ini tidak pernah terjadi,” ucapnya.

Ibu Aminah tertegun. Langkahnya terkunci di lantai. Ia menatap wajah wanita kaya itu dengan tatapan kosong dan penuh luka, namun Nyonya Adiwangsa tidak peduli. Ia terus berjalan keluar dengan anggun, membiarkan aroma parfum mahalnya tertinggal.

Setelah sosok wanita itu menghilang di balik pintu otomatis lobi, Ibu Aminah seolah tersadar dari biusnya. Ia segera berlari sekuat tenaga menuju putranya.

“Rian! Rian, bagaimana?!” teriaknya cemas.

Namun, langkah Ibu Aminah melambat saat ia sampai di depan pintu ruang operasi. Ia melihat putranya tidak lagi menangis. Rian berdiri bersandar di dinding, matanya tidak lagi menatap lampu operasi yang masih merah.

Kedua tangan Rian sibuk memilah-milah tumpukan uang kertas berwarna merah di dalam amplop cokelat itu.

“Rian, itu apa?” tanya Ibu Aminah dengan suara bergetar, menatap tumpukan uang yang kini berada di tangan putranya yang kumal.

“Tiga ratus juta, Bu. Tiga ratus juta!” Rian tertawa kecil, suara tawa yang terdengar janggal di depan ruang operasi. Ia mendekatkan tumpukan uang itu ke wajahnya, menghirup aroma kertas baru itu dalam-dalam, lalu menciumnya berulang kali seolah uang itu adalah benda paling suci di dunia.

Ibu Aminah awalnya terdiam, namun perlahan bibirnya ikut menyunggingkan senyum lebar. Ia tertawa pelan, tawa yang serak dan penuh kepuasan. Namun, sedetik kemudian ia berhenti. Matanya menyipit waspada.

“Itu uang nyata, Rian,” bisik Ibu Aminah.

“Iya, Bu! Kita kaya mendadak! Aku nggak perlu lagi bermain judi—”

Plaak!

Ibu Aminah merampas amplop cokelat itu dengan kasar, lalu tangan satunya memukul dahi Rian dengan keras.

“Bodoh!” bisik Ibu Aminah tajam, matanya melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada perawat atau saksi mata yang memperhatikan mereka. “Jangan terlalu senang di sini. Jaga mukamu itu. Jangan sampai kelihatan kita kegirangan di depan ruang operasi!”

Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Rian, suaranya kini seberat batu. “Satu lagi, uang ini, jangan sampai Maya tahu. Kalau dia tau ini uang tutup mulut, dia pasti bakal histeris dan minta lapor polisi. Biar dia pikir ini cuma bantuan biaya pengobatan saja.”

“Tapi, Bu…” Rian mencoba meraih kembali amplop yang sudah berada di pelukan ibunya.

“Nggak ada tapi-tapi! Sekarang, kau pergi ke meja administrasi. Selesaikan biaya rumah sakitnya dan pindahkan Maya ke kamar biasa. Sisa uangnya, Ibu yang pegang. Kamu itu nggak bisa pegang uang banyak, nanti habis buat main game, judi!”

Rian sempat hendak membantah, tangannya sudah terlanjur ingin mengambil kembali haknya. Namun, Ibu Aminah dengan cekatan menarik lengan kaos Rian, menyeret putranya itu hingga Rian terhuyung melangkah beberapa langkah.

“Jalan! Selesaikan administrasinya sekarang!” perintah ibunya dengan nada tak terbantahkan.

***

Beberapa jam berlalu.

Di sisi ranjang, Rian duduk di sebuah kursi plastik. Ia sudah mengenakan sandal jepit baru yang di beli di koperasi rumah sakit. Wajahnya ditekuk, berusaha keras untuk terlihat hancur. Sesekali ia mengusap matanya yang sebenarnya tidak mengeluarkan air mata, hanya demi menjaga akting di depan pasien lain.

Ibu Aminah berdiri di kaki ranjang, sesekali mengelus kaki Maya dengan gerakan mekanis.

“Sabar ya, May. Memang belum rezekinya,” ucap Ibu Aminah datar, matanya sesekali melirik ke tas plastiknya, memastikan amplop cokelat itu terselip aman di sana.

Maya tidak merespons. Ia bahkan tidak menoleh saat Rian memegang tangannya. Pikirannya masih tertinggal di rumah mewah itu. Ia merasa tubuhnya mengkhianatinya karena terus memproduksi air susu untuk bayi yang tidak akan pernah menyusu padanya.

“Mas,” suara Maya terdengar sangat tipis, nyaris seperti bisikan angin.

Rian segera mendekat, memasang wajah cemas. “Iya, Sayang? Aku di sini.”

“Anak kita sudah dikubur?” tanya Maya dengan pandangan yang masih terkunci ke langit-langit.

Rian mengangguk pelan, wajahnya dibuat-buat seolah sedang menanggung beban duka yang berat. “Sudah, May. Tadi saat kamu masih belum sadar, aku dan Ibu sudah mengurusnya. Dia sudah dikebumikan dengan layak di pemakaman dekat rumah,” jawabnya bohong, karena sebenarnya ia hanya menyerahkan urusan jenazah itu kepada petugas rumah sakit demi mempercepat urusan, dan mengurangi biaya.

Rian kemudian membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Maya. Ia mengelus rambut istrinya yang lepek oleh keringat dingin. Awalnya terlihat seperti gerakan mesra bagi orang yang melihat dari kejauhan, namun bisikan yang keluar dari mulutnya bagaikan belati yang berkarat.

“Dasar wanita lemah,” desis Rian, suaranya sangat rendah hingga hanya Maya yang bisa mendengarnya. “Bisa-bisanya kau terpeleset dan membunuh bayi kita sendiri. Sia-sia aku menunggumu hamil kalau ujung-ujungnya kau ceroboh seperti ini.”

Mata Maya yang tadinya kosong mendadak membulat sempurna. Ia seolah baru saja disengat aliran listrik tepat di jantungnya. Ia menoleh perlahan, menatap mata suaminya yang tidak menunjukkan rasa cinta sedikit pun, hanya ada kebencian dan kepuasan tersembunyi.

...❌ Bersambung❌...

1
Manyo
Traumanya dalam
Manyo
pingin kucabaein.
Manyo
Taeee...aku kira beneran sedih karena istrinya keguguran
Evi Lusiana
zavier terlalu sadis thor
Dewi Payang
Tak semudah itu Din.... kamu bukan siapa² upssaa🙈🙈🙈🙈🙈🙈
Dewi Payang
Awas ye berantem
Dewi Payang
Aku mencium aroma kecemburuan disini, ahayyyuuuu
Dewi Payang
Sepwrtinya, apa saja sslalu enak di lidah Zavier😂
Dewi Payang
Setuju sama kamu Zavier, tetaplah bahagia walau hati menangis😂😂😂😂
Dewi Payang
Zavierrrr mau bakso nahhhhh😂
Dewi Payang
Ratu apaan😂😂😂
Dewi Payang
Si oria pasti mokondo🤭🤭🤭🤭
Dewi Payang
11 12 lah mereka berdua🤭
Dewi Payang
Ya ampun dodolnya si Sofia, jelas² Anggun ngaku gak bisa ngerawat bayi, masih aja mau di jadikan menantu, hadehhhhhhhh....
Akaaaaaaaaaak Sariiiiiiiiiii, aku eamosis sama dua perempuan ituuuuuuhhhhhh.....
Dewi Payang
Duh ini si emaak, dah tau anaknya kagak syka di jodohin.....
~~N..M~~~
Mam*pus!!!! Bagaimana rasanya. Pasti sakit sekali, kayak gitulah yang dirasakan Maya. Bahkan lebih dari sakit. Sudah perut maya dibelah, anak m3ninggal, dll.
~~N..M~~~
Good job zavier👍👍👍👍👍
~~N..M~~~
Anak orang kaya, punya segalanya, tapi kenapa kelakuannya kayak iblis?
~~N..M~~~
Ternyata kita semua sama. Kalau tak sengaja m3ndengar klip video dengan suara begitu./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Evi Lusiana
boleh gk sih thor si fadly tuh jd guru ny maya biar jd wanita tangguh yg lepas dr traumany dn gk mudah d tindas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!