"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
"Apa papa sudah gila?! Bisa-bisanya papa menjodohkan putriku seperti pion catur dalam transaksi bisnis busuk mu? Tanpa bicara sepatah kata pun padaku?!" seru Elise.
Wanita itu berdiri di tengah ruangan dengan koper yang bahkan belum sempat dibawa masuk ke kamar. Jas formalnya masih melekat sempurna, sisa dari perjalanan bisnis satu bulannya meninjau laboratorium cabang di Indonesia.
"Kau sudah kembali, Honey?" sapa Diego yang sedang duduk di sofa ruang tengah hanya menyesap kopinya dengan tenang. Ia tidak berniat ikut campur.
Berdebat dengan mertuanya adalah kegiatan paling sia-sia yang pernah ada. Karena pria tua itu lebih keras kepala daripada beton pelabuhan.
Hanya Elise, putri tunggalnya, yang punya cukup nyali dan otak untuk menjatuhkan harga diri pria tua arogan itu.
"Dia bukan sekadar pion, Elise! Aaron adalah pewaris tunggal keluarga kolega kita! Ini tentang masa depan dinasti kita!" William menyahut dari lantai atas, melangkah turun dengan tongkat peraknya yang mengetuk lantai dengan angkuh.
"Dinasti? Ini keluargaku, Papa, bukan kerajaanmu!" Elise tertawa sinis sembari melemparkan tasnya ke atas meja.
"Aku baru meninggalkan rumah ini selama sebulan untuk urusan pekerjaan dan Papa sudah mencoba menjual cucu Papa sendiri? Kau tahu betul pandanganku soal pernikahan. Menikah tanpa dasar kecocokan genetik dan intelektual hanya akan menghasilkan depresi jangka panjang. Kau ingin cucumu berakhir mati bunuh diri karena tidak bahagia?" lanjut Elise.
"Jangan bicara soal sains padaku! Ini soal kehormatan! Lea itu manja, dia butuh pria yang setara. Bukan pria yang hanya bisa memberinya perintah."" bentak William.
"Setara?" Elise melipat tangannya di dada, melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di hadapan ayahnya. "Aaron adalah pria yang aku tahu punya rekam medis ketergantungan zat di Swiss tiga tahun lalu? Itu yang Papa sebut setara? Aku punya akses ke semua data lab dan kesehatan di jaringan bisnisku, Pa. Jangan coba-coba membohongiku soal kualitas calon menantu!"
William terdiam dengan wajah memerah karena tertangkap basah. Ia tahu Elise terlalu cerdas untuk dikelabui dengan embel-embel keluarga terhormat.
"Lagipula, Diego sudah setuju untuk membiarkan anak-anak memilih jalannya sendiri. Kenapa Papa melangkahi keputusan suamiku?" Elise menoleh sekilas ke arah Diego.
Diego hanya mengangkat cangkirnya sebagai tanda hormat dan tetap tidak mau bersuara. Sementara, William mendengus kasar, ia merasa terpojok.
"Aku melakukan ini karena kulihat ada yang tidak beres di rumah ini! Kau tahu apa yang dilakukan putri kesayanganmu? Dia hampir setiap malam menghabiskan waktu dengan pengawalnya! Pria itu sudah tua, Elise! Dia hampir kepala empat, penuh luka, dan tidak punya masa depan selain memegang senjata!"
Elise mengernyitkan alis. Tatapannya mendadak berubah tajam dan penuh selidik. "Maksudmu Jimmy?"
"Ya! Siapa lagi?! Daripada dia berakhir dengan pria tua yang tidak punya apa-apa seperti Jimmy, bukankah jauh lebih baik dia dengan Aaron yang punya segalanya?!" William berseru, merasa telah memenangkan argumen.
Elise tidak meledak marah. Ia justru terdiam, matanya beralih menatap Diego yang kini tampak sedikit salah tingkah. Sebagai istri seorang ilmuwan dan ibu yang sangat peka, Elise menangkap sesuatu dari nada suara ayahnya.
"Jadi, selama aku tidak ada, Jimmy menunjukkan ketertarikan pada putriku? Dan Lea juga?" gumam Elise.
"Mereka sudah melampaui batas, Elise! Aku melihatnya sendiri bagaimana pria itu menatap cucuku!" William terus mengompori.
Elise menarik napas panjang. Senyum tipis yang sulit diartikan muncul di wajahnya.
"Papa, jika Lea benar-benar memilih Jimmy, maka itu adalah pilihan yang paling logis yang pernah dia buat."
"Apa?! Kau sudah gila?!" William nyaris menjatuhkan tongkatnya.
"Pikirkan dengan otak bisnismu yang tua itu, Pa. Jimmy adalah pria yang sudah teruji kesetiaannya selama puluhan tahun. Dia tahu setiap rahasia keluarga kita. Dia bahkan rela mati dan yang paling penting dia pria yang sudah matang secara emosional. Daripada memberikan Lea pada Aaron yang rapuh dan licik, Jimmy adalah aset yang paling stabil. Usia? Tiga puluh delapan tahun adalah masa puncak kejantanan pria secara biologis. Aku lebih percaya pada pria yang tahu cara melindungi daripada anak manja yang hanya tahu cara menghabiskan uang ayahnya."
William mati kutu. Ia tidak menyangka Elise justru akan mendukung hubungan yang menurutnya sangat tabu itu.
"Dan satu hal lagi, Pa," Elise menunjuk ke arah pintu depan. "Malam ini, mereka pergi ke restoran itu atas perintahmu, kan? Jika terjadi sesuatu pada Lea karena rencana konyol mu ini, aku bersumpah akan menghancurkan istana yang kau banggakan itu. Kita lihat siapa yang akan memohon di kaki siapa."
William mematung dengan tangan berkeringat. Inilah alasan, kenapa ia benci melihat Lea dekat dengan Jimmy sejak cucunya itu masih kecil.
"Sayang, siapkan mobil sekarang. Kita susul mereka. Aku punya firasat buruk soal Aaron ini," pinta Elise.
Diego langsung berdiri dan meletakkan cangkirnya. "Mobil sudah siap sejak sepuluh menit yang lalu, Sayang."
Meninggalkan William yang berdiri mematung di ruang tengah, Elise melangkah keluar dengan amarah. Di dalam kepalanya, ia hanya memikirkan satu hal, jika Jimmy benar-benar mencintai putrinya, pria itu lebih baik membuktikannya dengan membawa Lea pulang dalam keadaan utuh.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁