NovelToon NovelToon
Kontrak Dua Minggu

Kontrak Dua Minggu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Wanita Karir
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.

Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 (Part 1) Aroma Pagi

Sinar matahari Jakarta yang tipis menerobos masuk melalui celah gorden apartemen, memantul di atas permukaan meja dapur yang sudah dibersihkan semalam. Setelah kemenangan besar melawan sabotase Bima, suasana di unit Kemang itu terasa jauh lebih ringan-seolah-olah beban berat yang menindih bahu mereka selama berbulan-bulan baru saja terangkat.

Marisa terbangun lebih lambat dari biasanya. Pukul 06.00 pagi. Masih pagi bagi kebanyakan orang Jakarta, tapi bagi seorang pengusaha katering,  ini adalah sebuah kemewahan. Ia merenggangkan tubuhnya, merasakan otot-ototnya yang tidak lagi setegang kemarin.

Saat ia melangkah ke dapur, ia menemukan pemandangan yang tidak biasa. Dalend yang biasanya baru bangun setelah aroma kopi memenuhi ruangan, sudah berdiri di depan kompor. Ia hanya mengenakan celana kain panjang tanpa atasan, memamerkan punggungnya yang tegap dan bahu yang lebar-hasil dari kerja kasar di pabrik selama enam bulan terakhir.

"Lagi apa kamu?" Tanya Marisa, suaranya masih parau khas bangun tidur. Ia menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu, melipat tangan di dada sambil mengamati punggung Dalend yang berkeringat tipis karena uap kompor.

Dalend menoleh, memberikan senyum nakal yang sudah lama tidak Marisa lihat. "Mencoba menjadi asisten katering yang baik. Tapi sepertinya telurnya tidak mau bekerja sama denganku."

Marisa mendekat, melihat dua butir telur mata sapi yang hancur di atas wajan. Ia tertawa kecil, suara tawa yang hangat dan tulus. "Kamu bisa merestrukturisasi perusahaan bernilai miliaran dolar, tapi tidak bisa membalik telur?"

"Setiap orang punya kelemahannya masing-masing,  Tunangan," balas Dalend. Ia meletakkan spatula, berbalik sepenuhnya menghadap Marisa. Tatapannya turun ke arah Marisa yang hanya mengenakan kaus kebesaran miliknya-hoodie abu-abu legendaris itu kini sudah berganti menjadi kaus katun tipis.

Dalend melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Marisa bisa merasakan hawa panas dari tubuh pria itu. "Dan kelemahanku saat ini ada tepat di depanku, rambut berantakan dan wajah bantal yang sangat... menggoda. "

Marisa merasakan pipinya memanas. Ia mencoba menghindar dengan meraih gagang wajan, namun tangan Dalend lebih cepat. Pria itu mengurung Marisa di antara meja dapur dan tubuhnya. 

"Dalend, telurnya gosong," bisik Marisa, napasnya mulai tidak beraturan.

"Biarin aja gosong," jawab Dalend rendah. Ia menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Marisa. "Kemarin kita terlalu sibuk dengan Bima dan Papa. Kita bahkan belum benar-benar merayakan kemenangan kita sendiri."

Dalend mencium leher Marisa dengan lembut, membuat bulu kuduk Marisa meremang. "Aku kangen kamu, Marisa. Bukan Marisa si pemilik katering, tapi Marisa yang galak di halte bus itu."

Marisa memejamkan mata, tangannya tanpa sadar meremas bahu kokoh Dalend. " Gue di sini, Dalend. Gue enggak ke mana- mana "

Tepat saat Dalend hendak mencium bibirnya, ponsel Marisa di atas meja bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk yang terus-menerus.

"Abaikan saja," gumam Dalend di sela ciumannya. "Enggak bisa, ini telepon dari nomor tak dikenal, bisa saja supplier penting," Marisa mendorong pelan dada Dalend, meski dengan berat hati.

...

Marisa mengangkat telepon itu, sementara Dalend masih berdiri di belakangnya, melingkarkan tangan di pinggang Marisa dan menyandarkan dagunya di bahu wanita itu-sebuah gangguan manis yang membuat Marisa sulit berkonsentrasi.

"Halo? Dapur sejati dengan Marisa di sini," ujar Marisa profesional.

Hening sejenak di ujung telepon, sebelum sebuah suara pria yang sangat dikenal Marisa terdengar.

"Marisa... ini aku. Bara."

Marisa seketika membeku. Tangan Dalend yang tadinya sedang memainkan ujung rambut Marisa berhenti bergerak. Dalend bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba menjalar di tubuh Marisa.

"Bara? Mau apa lagi kamu?" Suara Marisa berubah dingin, sedingin es di kutub utara.

"Aku... aku di Jakarta. Aku melihat beritamu di media sosial bisnis. Marisa, aku minta maaf soal kejadian di pasar waktu itu. Aku sedang kacau. Anya... kami sudah berakhir.  Dia hanya menginginkan uangku, dan sekarang restoranku sedang di ambang bangkrut karena ulahnya."

Marisa ingin tertawa, tapi yang ia rasakan hanyalah rasa muak. "Lalu? Apa hubungannya denganku? Aku sedang sibuk, Bara."

"Aku butuh bantuanmu,  Marisa. Reputasi 'Dapur Sejati' sekarang sedang naik daun di Jakarta. Jika kamu bisa memberikan testimoni atau bekerja sama sedikit saja dengan resto ku, investor mungkin akan kembali. Tolong,  Marisa... kita punya sejarah panjang. Aku yang melatihmu memasak, ingat?"

Dalend merebut ponsel itu dari tangan Marisa sebelum wanita itu sempat membalas.

"Dengar, Tuan Mantan," suara Dalend menggelegar, penuh otoritas dan ancaman yang nyata. " Sejarahmu dengan Marisa sudah berakhir saat kamu Membuangnya seperti sampah demi wanita lain. Marisa tidak berhutang apa pun padamu, terutama kemampuan memasaknya-itu adalah bakat alaminya, bukan hasil didikanmu. Jangan pernah telepon nomor ini lagi, atau aku akan memastikan sisa restoranmu itu benar-benar rata dengan tanah sebelum matahari terbenam."

Dalend mematikan telepon itu dan membantingnya pelan ke meja.

...

1
Sherlys01
Semangat yaa😁💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!