Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.
Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.
Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 | KESAN PERTAMA
Langkah Summer dan Alkaios bergema di lorong dengan atap melengkung halus dan lantai marmer bergurat hitam abstrak. Suara tembakan terdengar berkejaran dari ruang dalam latihan, disusul seruan, keluhan, dan arahan instruktur yang saling tumpang tindih. Bau mesiu tercium samar selagi Summer memandang berkeliling, mengamati sekilas orang-orang yang baru melewatinya, sepertinya latihan mereka sudah selesai.
“Ruang khusus pemula seharusnya berada di sana.” Alkaios menunjuk sebuah ruangan dengan pintu sedikit terbuka, tidak terdengar suara apa pun dari sana.
Summer melongokkan kepalanya melewati celah sempit pintu, mendapati ruangan luas dengan atap berpencahayaan putih hangat merata. Terdapat sekitar lima sekat memanjang berwarna abu-abu tua dengan garis-garis kuning redup untuk memisahkan setiap arena tembak, target diam berupa proyeksi tubuh atas manusia menggantung dari atap dengan jarak berbeda-beda pada setiap arena. Residu amunisi masih pekat membungkus ruangan sehingga Summer terbatuk kecil.
“Kita ke arena terbuka di belakang. Tante Diana tidak pernah suka ruang tertutup seperti ini karena terganggu dengan gema tembakan meskipun sudah memakai penutup telinga.”
Alkaios mendahului berjalan, membimbing Summer ke sayap barat, melintasi beberapa ruangan tertutup yang berisik oleh suara tembakan. Begitu pintu kayu berpanel terbuka, tampaklah sebuah lapangan luas dengan beranda tembak memanjang beratap kayu gelap dan bertiang ramping. Pohon-pohon pinus menjulang mengungkung lapangan, menjadi prolog hutan pinus kecil di belakangnya.
“Jangan bersikap terlalu ramah, Tante Diana benci penjilat,” bisik Alkaios.
Mereka melangkah menuju beranda tembak, di mana seorang wanita paruh baya berpenutup telinga dan berkacamata menembak tengah mengacungkan pistol semi-otomatis ke arah deretan target berpelat baja yang bergerak perlahan di lintasan, sekitar dua belas meter di depan sana. Bahunya lurus, punggungnya tenang, matanya tajam menaksir pergerakan target. Rambut sewarna kastanyenya yang disanggul bergeming, gesturnya mengabarkan kehati-hatian. Hawa di arena terasa menggantung berat seiring target yang sebentar lagi mencapai posisi tembak ideal.
Rel logam yang berderak halus terdengar seperti hitungan mundur yang membawa napas-napas tertahan. Ketika akhirnya target pertama menyentuh jarak efektif, telunjuk wanita itu menekan halus pelatuk. Peluru logam menyongsong target dengan kecepatan tak tertangkap mata telan-jang. Summer mengerjap saat pelat baja pertama terpental dengan bunyi “klang” tajam bersamaan dengan papan kayu penyangganya yang tumbang ke rumput berpangkas pendek.
Jeda hanya bertahan sedetik karena tembakan-tembakan berikutnya menyusul memekakkan telinga. Empat target dihabisi dalam sekejap, seruan rendah kekaguman semakin bersahut-sahutan. Namun, pada tembakan terakhir, peluru hanya bersinggungan dengan area pinggir baja. Meleset. Target bergeming dengan geletar singkat sebelum akhirnya kembali berdiri kaku bak tolok ukur sebuah kegagalan.
“Sial.” Wanita paruh baya itu menurunkan pistol sembari mendesis kesal.
“Anda ragu pada tembakan terakhir, fokus tercerai, berakhir terlambat menekan pelatuk,” seorang pria akhir enam puluhan berkepala plontos dan memakai pakaian sesantai membeli kopi instan di minimarket berkata ringan, tangannya terlipat tanpa melepaskan pandangan pada target yang masih berdiri. “Tidak perlu menunggu konfirmasi visual, saat Anda merasa posisi target sudah benar, jangan perkenankan keraguan untuk masuk. Tekan pelatuknya atau musuh akan menghabisi Anda duluan. Setelah mengacungkan pistol, ini bukan lagi arena latihan, Nyonya Meridian, Anda berada di medan tempur.”
“Jangan terlalu keras pada Tante Diana, Osias. Lembutlah sedikit. Kau menakuti para wanita cantik di sini.”
Alkaios sudah berdiri di belakang Diana, tersenyum menawan layaknya pangeran keberkahan yang turun ke bumi hanya untuk dipuja.
Diana dan empat wanita di sekelilingnya menoleh nyaris berbarengan, hanya Osias yang menghela napas berat.
“Alka!” Diana berseru terlampau bersemangat. Ia menjatuhkan pistol semi-otomatisnya begitu saja seiring ia yang melompat untuk memeluk Alkaios hingga pria itu sedikit terhuyung ke belakang.
Alkaios mengeratkan rahang saat Diana mengurai pelukan hanya agar bisa mendaratkan kecupan dalam di dahi dan pipi kirinya hingga menciptakan jejak rapuh bibir berwarna merah gelap.
“Kukira kau sudah ditelan tumpukan draf surat kabar sehingga tidak pernah muncul. Terima kasih, Tuhan, keponakanku ternyata baik-baik saja,” ucap Diana sarkastik.
Saat Summer masih tercengang atas apa yang baru saja terjadi, Alkaios menoleh ke arahnya dengan pipi memerah dan ekspresi seperti ingin menenggelamkan diri ke Laut Merah. Tangan pria itu terangkat separuh jalan, yang Summer duga ingin menghapus jejak lipstik di dahi dan pipinya namun berusaha menahan diri.
“Aku sibuk ….” Alkaios menghela napas samar, sepertinya harga dirinya tidak sebegitu retak. “Tante tahu sendiri ada banyak sekali hal yang harus aku pelajari di Meridian Eyes.”
“Ya, ya, Pak Redaktur. Tentu saja.” Diana mendengus. “Maka dari itu kenapa kau menyusahkan diri sendiri dengan berusaha merangkak dari bawah ketika kau bisa menjadi pemangsa di puncak piramida? Tinggal bilang pada kakekmu kau menginginkan posisi direktur. Tidak perlu membuang waktu untuk hal yang tidak perlu.”
“Dan membuat perusahaan ambrol di sana-sini? Kakek dengan senang hati akan mengerok mataku dengan cincin garnet ungunya yang norak. Lagi pula Kak Archi juga tidak langsung menjadi menteri, kan? Membangun citra dari anak tangga bawah itu penting—Paman Dimitri yang memberi tahuku.”
“Berhenti dengarkan pamanmu, lama-lama kau diseret menjadi politisi juga—oh ….” Perkataan Diana terhenti saat matanya berserobok dengan Summer yang berdiri sedikit di belakang Alkaios. “Siapa ini, Alka?”
Dahi Diana sedikit berkerut saat ia terang-terangan mengamati penampilan Summer untuk dinilai. Sekelumit kekhawatiran yang menyesakkan tetap menghinggapi Summer kendati ia sudah mempersiapkan diri dengan pertimbangan masak.
Dengan bantuan Lauren yang sepanjang waktu cemberut, Summer berhasil menemukan blus sutra abu-abu pucat berpotongan sederhana, celana taupe berpinggang tinggi, blazer tipis gading, dan sepatu loafers cokelat tua di butik mentereng langganan Lauren. Jam tangan mungil hitam yang sekarang melingkar di pergelangan tangan kirinya juga atas pertimbangan serius Lauren. Wanita itu menghabiskan lebih dari setengah jam sendiri untuk menilai proporsi ukuran terhadap pergelangan tangan, keseimbangan simetri desain, warna dial terhadap warna kulit, dan lebih banyak waktu dihabiskan untuk menaksir kualitas strap kulit jam tangan.
Saat melihat Summer menebalkan alis siang tadi, Lauren semakin berang, berkata jika lengkungan alis Summer tidak simetris dua derajat. Ia merebut pensil alis dari tangan Summer dengan semena-mena, menghapus jejak lama hingga tak bersisa sama sekali, lalu menggambar alis baru sambil menggerutu. Summer mati-matian menahan senyum ketika Lauren meletakkan pensil alis hanya untuk mengambil alat makeup lain. Kegemarannya bersolek membuat tangan Lauren terampil membubuhkan riasan di sana-sini. Hasilnya, secara mengejutkan, nyaris setara riasan di salon.
Summer mengambil napas samar sebelum maju setengah langkah hingga berdiri persis di samping Alkaios, bibirnya mengembang tipis, diikuti oleh kepalanya yang sedikit tertunduk ke arah Diana. “Saya Summer, teman Alkaios.”
Sepertinya nilai untuk penampilan Summer memenuhi standar Diana, karena ia balas tersenyum dan menjabat tangan Summer. “Ya ampun, Alka tidak pernah bilang punya teman semanis ini. Teman kuliah? Rekan kerja?”
“Teman lama, ketika kami masih remaja bodoh.”
“Sampai sekarang dia masih sama bodohnya.” Tawa Diana semakin lepas sehingga gurat senyum tercetak di area sekitar mata dan mulut. “Kau ke sini untuk menemani Alka?”
“Tidak, dia yang menemani saya. Katanya Cinderhall ramah untuk pemula, dia yang merekomendasikannya—”
“Sepertinya Tante tahu apa yang terjadi.” Mendadak Diana tersenyum penuh arti, melirik Summer dan Alkaios bergantian. “Katakan, Summer, kenapa kau tertarik belajar menembak?”
Ini dia. Summer menatap Diana lurus-lurus, mata keemasannya memancarkan keteguhan. “Saya ingin merasakan sensasi kemenangan,” katanya memulai. “Saat peluru menjatuhkan baja atau mengenai titik paling sentral target, meninggalkan lubang atau deformasi pada logam yang tangguh … saya juga ingin merasakan euforia itu dengan utuh.” Mati-matian Summer menjaga agar intonasinya terkendali kendati jantungnya mengentak. “Dan saya sependapat dengan Tuan Osias, kesenangan mengalahkan ‘musuh’ akan semakin terasa berarti hanya bila saya menganggap tempat ini sebagai medan tempur. Saya tidak terbiasa memperlakukan segala yang menarik minat saya sebagai permainan, makanya hidup saya penuh ambisi dengan cara yang membosankan.”
Diana terdiam sejenak, mengamati wajah Summer lekat-lekat, lalu sudut bibirnya tertarik laten—mengingatkan Summer akan cara Archilles menyeringai.
“Kehidupan yang membosankan selalu jauh lebih menarik,” kata Diana. Ada sekelumit antusias dalam suaranya yang bernuansa tegas. “Bertempur bahkan untuk hal-hal remeh … aku akan mempertaruhkan segalanya untuk dapat kembali ke masa di mana sakit punggung tidak menghalangiku memperlakukan segala hal sebagai musuh yang harus ditaklukkan.”
Kekehan Diana disambut tawa rendah Summer.
“Menjatuhkan empat target bergerak dalam kecepatan yang nyaris tidak bisa diikuti mata … itu bukan kapasitas normal seseorang seusia Anda. Saya akan mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan ketajaman dan kebugaran yang Anda miliki di masa rehat saya nanti.”
Tawa Diana menyeruak senang. “Ah, di mana kau bisa menemukan gadis semanis ini, Alka?” Diana menoleh pada Alkaios, menemukan keponakannya yang bergeming dengan pandangan nyaris kosong ke salah satu titik di antara pohon pinus jauh di depan sana. Memang sejak tadi tidak terdengar apa pun darinya setelah perkenalan Summer. Diana mengulurkan tangan ragu untuk mengguncang pelan lengan Alkaios sembari mengernyit. “Alka?”
Gerakan Diana yang lembut terhadap Alkaios itu rupanya lebih dari cukup untuk membuat pria itu terhuyung ke belakang setengah langkah, lantas terduduk dengan suara gedebuk berat hingga orang-orang di sekitarnya memekik, Osias berderap dengan raut khawatir.
“Alka! Alkaios! Hei, ada apa?” Dengan cepat Diana menangkup wajah Alkaios yang sedikit pucat entah sejak kapan, suaranya diwarnai kekalutan. “Kau sakit? Mana yang sakit? Estelle, panggil ambulans!”
Suaranya berubah carut-marut dalam sekejap. Saat seorang wanita usia pertengahan empat puluh yang mengenakan kaus putih berkerah sibuk mengambil ponsel untuk menghubungi ambulans, kepala Alkaios bergerak pelan untuk mendongak menatap Summer yang langsung memberinya sorot terkejut. Tautan pandangan itu membawa bibir Alkaios bergerak-gerak lambat seperti tengah berusaha keras menemukan suaranya kembali.
“Bi—bisakah kau memanggil namaku sekali lagi?”
...****...
ayo lanjut kak
sama2 orang aneh jadi nyambung obrolannya