NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keesokan Paginya — Pintu yang Akhirnya Terbuka

Pagi itu datang dengan langit mendung tipis. Tidak hujan, tapi udara terasa berat, seolah ikut memikul kegelisahan yang sejak malam tidak pergi dari rumah itu.

Safira bangun paling awal.

Ia duduk di tepi ranjang cukup lama sebelum akhirnya berdiri. Di kepalanya hanya ada satu pikiran: mereka tidak bisa terus menunggu. Jika orang tua mereka meninggalkan petunjuk, berarti kebenaran memang harus dicari—meski perlahan, meski menyakitkan.

Di ruang makan, Clarissa sudah berdiri dengan ponsel di tangan. Adrian menyusul tak lama kemudian, masih setengah mengantuk tapi wajahnya serius.

“Kita jadi pergi?” tanya Adrian.

Clarissa mengangguk.

“Ke rumah salah satu teman lama Ayah. Waktu kecil, kita sering lihat dia datang.”

Safira langsung mengangguk.

“Aku ingat. Rumahnya di ujung kota.”

Tidak ada yang menambahkan apa-apa. Mereka bersiap tanpa banyak bicara.

Rumah Lama di Ujung Kota

Rumah itu berdiri sendiri di jalan yang sepi. Catnya sudah memudar, pagar besinya berkarat, tapi halaman depannya bersih—dirawat dengan rapi, seolah pemiliknya tidak ingin terlihat mencolok.

Clarissa mengetuk pagar.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, lebih keras.

Akhirnya, pintu terbuka sedikit. Seorang pria tua muncul. Rambutnya memutih, wajahnya keras, matanya tajam dan waspada.

Amos

“Apa perlu kalian?” tanyanya dingin.

“Kami anaknya Armand Bastian,” jawab Clarissa langsung.

Wajah pria itu berubah seketika. Tangannya langsung menutup pintu lebih lebar.

“Pergi,” katanya tegas.

“Aku tidak mau urusan apa pun dengan keluarga itu lagi.”

Pintu hampir tertutup penuh.

Safira refleks maju satu langkah.

“Pak… tunggu.”

Pria itu berhenti, tapi tidak menoleh.

“Ayah dan Ibu kami hilang,” suara Safira bergetar.

“Kami tidak tahu harus ke mana lagi.”

Tidak ada jawaban.

Safira menarik napas, lalu—tanpa ia rencanakan—air matanya jatuh.

“Ayah selalu bilang, kalau suatu hari kami butuh kebenaran… Bapak adalah orang yang pernah berdiri di sampingnya.”

Tangisnya pecah.

“Kami cuma ingin tahu… siapa Ayah kami sebenarnya.”

Pintu itu terbuka kembali, perlahan.

Pria tua itu menatap Safira lama. Tatapannya bergetar, seolah sedang melihat sesuatu dari masa lalu.

“Kamu…” katanya lirih.

“Safira Grace Bastian?”

Safira mengangguk pelan, air matanya belum berhenti.

Pria itu menghela napas panjang, lalu membuka pintu sepenuhnya.

“Masuk.”

Begitu mereka melangkah masuk, pria itu—Amos—menoleh ke luar sebentar, memastikan jalanan sepi, lalu segera menutup dan mengunci pintu.

Foto yang Tidak Pernah Diceritakan

Ruang tamu rumah itu sederhana. Tidak banyak perabot, tapi bersih. Di dinding tergantung beberapa foto lama yang warnanya sudah pudar.

Amos berjalan ke sebuah lemari kayu tua. Tangannya sedikit gemetar saat ia membuka laci paling bawah.

Ia mengeluarkan sebuah foto usang.

“Kalian pernah lihat ini?” tanyanya pelan.

Clarissa mengambil foto itu.

Safira dan Adrian mendekat.

Di dalam foto itu, ayah mereka—Armand—berdiri di tengah. Wajahnya jauh lebih muda, tatapannya tajam, posturnya tegak. Di sekelilingnya berdiri beberapa orang lain. Wajah-wajah asing. Serius. Tidak ada yang tersenyum.

“Siapa mereka…?” tanya Adrian pelan.

Safira merasa dadanya sesak.

Ayahnya terlihat… berbeda. Lebih dingin. Lebih keras.

Amos menatap Safira.

“Balikkan fotonya.”

Safira menurut.

Di bagian belakang foto itu, tertulis dengan tinta yang sudah hampir pudar.

PERISAI MALAM

Nama itu terasa dingin di lidah.

Nama yang pernah mereka dengar—sekilas, samar—dan selalu disertai peringatan.

Clarissa mengepalkan tangan.

“Itu… organisasi Ayah?”

Amos mengangguk pelan.

“Dan bukan organisasi biasa.”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Ayah kalian bukan orang biasa.”

Ruangan itu mendadak terasa sempit.

“Dia bukan hanya pelindung,” lanjut Amos dengan suara berat.

“Dia adalah bagian dari sesuatu yang seharusnya tidak pernah muncul ke permukaan. Sesuatu yang sekarang… mulai bangkit lagi.”

Safira menelan ludah.

“Dan sekarang Ayah dan Ibu kami hilang.”

Amos menutup mata sejenak.

“Karena masa lalu tidak pernah benar-benar tidur.”

Ia membuka mata kembali.

“Dan karena nama Armand Bastian… masih membuat banyak orang takut.”

Ketiga bersaudara itu semakin terdiam.

Kebingungan terasa semakin menyesakkan, karena selama ini yang mereka kenal hanyalah Armand dan Elisabet yang hangat—orang tua yang sabar, penyayang, dan tidak pernah mengajarkan kekerasan sedikit pun.

“Ayah bahkan tidak pernah meninggikan suara,” ucap Safira lirih.

“Bagaimana mungkin…?”

Clarissa menarik napas panjang.

“Kita memang pernah dengar Ayah cerita soal organisasi itu,” katanya pelan.

“Tapi hanya sebatas… mantan ketua. Tidak pernah nama. Tidak pernah struktur. Tidak pernah alasan.”

Adrian mengangguk.

“Seolah-olah itu bagian hidup yang sengaja dia kunci.”

kebingungan menggantung di udara—berat dan menyesakkan.

Bagaimana mungkin semua ini nyata, sementara yang mereka kenal hanyalah sosok ayah dan ibu yang hangat? Orang tua yang tidak pernah membentak, tidak pernah mengangkat tangan, selalu pulang dengan senyum meski lelah. Dan kini… kata ketua organisasi berdiri berseberangan dengan seluruh ingatan itu.

Safira menatap foto di tangannya sekali lagi. Wajah ayahnya di tengah barisan orang-orang asing itu terasa begitu jauh dari rumah, dari tawa, dari panggilan lembut di pagi hari.

Dengan suara yang bergetar, Safira mengangkat kepala.

“Paman Amos… apa kau tahu di mana mereka sekarang?”

Ia menelan ludah. “Tolong… ceritakan tentang ayahku. Tentang ibuku.”

Amos tidak langsung menjawab.

Pria tua itu berdiri membelakangi mereka, menatap jendela sejenak—seolah mencari sesuatu di luar sana, atau justru memastikan tidak ada siapa pun yang mendengar. Saat ia berbalik, wajahnya kembali tertutup, dingin, dan tegas.

“Aku tidak bisa mengatakan apa-apa,” katanya pelan tapi pasti.

“Kalian harus mencari tahu sendiri.”

Ia menghela napas pendek. “Aku tidak ingin berurusan lagi dengan mereka. Dengan dunia itu.”

Safira mengepal jemarinya.

“Lalu… Ayah dan Ibu kami?”

Amos menggeleng perlahan.

“Aku tidak bisa memastikan apakah mereka masih hidup atau tidak.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Safira menunduk, matanya kembali ke foto. Dadanya sesak. Di dalam hati, sebuah pertanyaan berputar tanpa henti.

Apakah ini benar ayah dan ibuku?

Atau aku hanya mengenal sebagian kecil dari mereka selama ini?

Amos melangkah mendekat, lalu dengan gerakan pelan namun tegas, ia mengambil foto itu dari tangan Safira. Tanpa berkata apa-apa, ia menyimpannya kembali ke dalam laci yang terkunci.

“Kalian harus pergi,” katanya singkat.

Clarissa hendak membuka mulut, namun Amos sudah berjalan ke pintu. Saat mereka melangkah mendekat, Amos berhenti tepat di samping Clarissa. Suaranya merendah nyaris tak terdengar.

“Lindungi Safira,” bisiknya.

“Dia adikmu. Lindungi dia.”

Clarissa menegang, lalu mengangguk kecil tanpa kata.

Amos membuka pintu. Cahaya pagi menerobos masuk. Sebelum mereka benar-benar keluar, Amos menatap mereka satu per satu Adrian, Clarissa, lalu Safira.

Tatapan Amos tertahan lebih lama pada Safira.

Ada sesuatu di sana—penyesalan, kekhawatiran, dan peringatan yang tak terucap.

“Hati-hati di jalan,” katanya akhirnya.

“Kalian sudah dalam bahaya. Ada banyak yang menunggu di depan.”

Ia menatap Safira lurus-lurus. “Berjalanlah dengan hati-hati.”

Pintu tertutup perlahan di belakang mereka.

Dan saat langkah Safira menjauh dari rumah itu, satu hal terasa semakin jelas di dadanya

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

hayo penasaran ngk sama lanjutan nya ??

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!