Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.
Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.
Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Pengst
Rent Kuhichi berdiri, memantau situasi di luar kota Dunggos. Dia bisa merasakan energi sihir kuat dan gelap, yang membuatnya tahu bahwa suatu hal buruk sedang terjadi.
"Sebenarnya ada apa? Mengapa ada tanda bahaya di sini? Padahal aku ingin bersantai dengan para pelayan cantik di rumah. Mengapa ada perasaan aneh yang muncul tiba-tiba?"
Tiba-tiba, suara terompet terdengar dari menara pengawas, dan suara penjaga istana terdengar. "Peringatan! Pengst (pengikut iblis) telah tiba! Semua pasukan Kerajaan Dunggos, bersiap untuk bertempur!"
"Pengst? Apa itu? Mengapa sampai ada peringatan? Apakah mereka berbahaya? Sungguh sial sekali aku. Baru bereinkarnasi, malah harus bertarung."
Rent melihat ke luar kota, dan melihat pasukan Pengst yang besar dan kuat, dengan senjata dan armor yang gelap dan menakutkan. Mereka dipimpin oleh seorang Pengst bertubuh besar dan kuat, dengan mata yang merah dan kulit yang hitam.
Lyra, yang telah kembali dari pertemuan dengan Raja, berdiri di samping Rent. "Rent, kita harus pergi. Pasukan Kerajaan Dunggos telah dikerahkan, dan kita harus membantu melindungi kota."
"Apa? Aku juga harus melindungi kota?" Benar saja apa yang dia takutkan. Namun asalkan bersama sang instruktur, ia tetap harus bertarung. "Baiklah ... aku ikut denganmu."
Entah itu pasukan maupun para Hunter/ Petualang, mereka telah dikerahkan. Namun hati masih belum tenang. Karena pada dasarnya, kekuatan Rent masih berada di level rendah. Bahkan belum pantas dianggap sebagai pahlawan.
Rent mengikuti instrukturnya dan bersama-sama mereka berlari ke arah pasukan Kerajaan Dunggos. Di sana, mereka bergabung dengan para Hunter dan Petualang lainnya, yang telah bersiap untuk bertempur.
"Baiklah, pasukan! Kita harus melindungi kota Dunggos dari Pengst!" seru Lyra, sambil mengangkat pedangnya. Sebagai seorang ahli sihir api, ia dapat menggunakan sihirnya, melapisi pedang dengan api.
Pasukan Kerajaan Dunggos maju ke medan perang, dengan Rent dan Lyra di garis depan. Mereka bertempur melawan pasukan Pengst, dengan pedang dan sihir yang berkilau di bawah sinar matahari.
Meski kekuatan pemuda lima belas tahun itu masih kurang, ada pelindung yang mengawalnya. Ia hanya melawan pasukan yang lemah. Makhluk-makhluk itu bergerak dengan brutal dan memangsa pasukan dan Hunter yang telah tumbang.
Rent bertempur dengan seorang Pengst, sambil menggunakan pedangnya yang telah dilapisi sihir api. Lyra bertempur di sampingnya, menggunakan sihirnya untuk membantu pasukan Kerajaan Dunggos.
"Jumlah mereka sangat banyak. Tapi tenang saja, kita juga mendapatkan bantuan dari para petualang. Petualang dari kota Swrisdk juga akan datang sebentar lagi."
Begitu kata yang diucapkan Lyra, perasaan Rent menjadi lebih tenang. Setelahnya, mereka terus bertarung dengan sekuat tenaga. Meskipun sebagian pengawal yang menyelesaikannya.
Pertempuran berlangsung sengit, dengan jumlah Pengst yang kuat dan banyak. Tapi pasukan Kerajaan Dunggos tidak menyerah, dan terus bertempur dengan keberanian dan kekuatan.
"Bantuan telah datang! Bantuan telah datang!" teriak seorang tentara dengan lantang. Itu karena melihat kelompok petualang yang datang dengan niat membantu.
Bantuan itu merupakan para petualang dari kota Swrisdk. Mereka datang dengan portal sihir yang terhubung dari satu kota ke kota lain. Itupun kedatangan mereka secara bertahap. Kelompok pertama yang datang adalah petualang Rank E dan F.
Yah, untuk menjadi korban pertama, tentu mendatangkan kelompok terlemah. Rapphael dan Gwysaa merupakan bagian dari kelompok itu. Namun keduanya tidak langsung bertempur. Meskipun yang lainnya sudah maju.
"Tuan, kenapa kita tidak ikut bertarung? Nanti tidak dapat komisi." Gwysaa yang ada di samping Rapphael bertanya dengan penasaran. Karena baru saja ingin berlari, tubuhnya ditarik oleh kekuatan tidak terlihat.
"Tujuan kita datang ke sini bukan untuk bertarung. Jika kita bertarung dengan mereka, kita tidak dapat keuntungan apapun. Lebih baik menunggu kesempatan datang. Ayo kita pergi."
Rapphael menepuk pundak Gwysaa dan mereka hilang dari pandangan. Keduanya berpindah tempat yang lebih tinggi. Di atas pohon besar yang dilewati rombongan Pengst.
"Lihat di bawah sana. Jumlah mereka sangat banyak. Jika kita ikut bertarung, hanya merugikan kita. Tunggu mereka selesai bertarung. Baru kita turun dan bertindak."
Menjadi umpan sebagai kelompok pertama yang datang, para petualang Rank E dan F berkorban nyawa demi membuka jalan mereka yang lebih kuat. Saat bertarung, banyak di antara mereka kehilangan nyawa. Pihak Pengst maupun petualang, telah kehilangan banyak.
"Nah, sekarang giliranmu. Ambil senjata dan harta mereka. Tugasmu hanya itu saja. Jika tidak terpaksa, jangan ikut bertarung."
Mayat-mayat teronggok di tanah. Tidak ada yang mempedulikan mereka. Namun dibalik itu semua, terdapat banyak senjata dan harta yang tersisa di tubuh mereka.
Dan di sinilah peran Gwysaa sebagai bawahan Rapphael. Mengambil keuntungan atas musibah yang terjadi pada peperangan itu. Mengambil harta benda yang bisa ditukarkan dengan mata uang.
"Masukan semua barang berharga ke dalam tas di pinggangmu!" perintah Rapphael. Ia sudah memberikan tas yang dapat menampung semua benda ke dalamnya.
Tas ruang yang merupakan sebuah pusaka yang dapat menampung semuanya dan memiliki batas ruang yang sangat luas. Meski ada batasannya, tetapi bisa menampung satu kerajaan jika mau.
Hal itu memudahkan Gwysaa ketika berada jauh dari Rapphael. Sehingga dapat menyimpan banyak barang berharga. Rapphael sendiri tidak memerlukan arang seperti itu karena memiliki ruang penyimpan sendiri. Bahkan tidak ada yang tahu dan tidak akan terdeteksi oleh penyihir level tertinggi sekalipun.
Lalu apa yang dilakukan oleh Rapphael? Tentu saja dia melakukan tugasnya sebagai seorang tuan. Hanya memerintah dan tiduran di atas pohon. Ia telah bersantai sambil memetik buah berwarna ungu berukuran jempol kaki, berbentuk bulat. Lalu memakan buah yang rasanya sedikit masam itu.
"Wah, datang pengganggu lainnya." Rapphael meluncurkan sihirnya ke arah Gwysaa. Memberikan perlindungan dan membuat budaknya itu tembus pandang.
Dengan demikian, tidak ada yang mengetahui keberadaan Gwysaa. Sehingga bebas memungut barang berharga dari kedua belah pihak yang bertarung.
"Terima kasih, Tuan." Gwysaa merasa bersyukur karena mendapatkan perlindungan dari tuannya. Ia mengumpulkan banyak barang berharga, yang semuanya masuk ke dalam tas di pinggangnya.
Sementara di tempat lain, pasukan petualang kembali berdatangan. Mereka adalah petualang Rank C dan D. Setelah mereka datang, sudah melihat mayat-mayat berserakan di tanah. Mereka langsung maju ke garis depan demi mendapatkan poin kontribusi.
Namun tidak ada yang tahu konsep poinnya, didapat dengan cara apa. Karena Guild Petualang kota Swrisdk tidak memberikan informasi.
Lain halnya dengan Rapphael yang tidak peduli dengan poin kontribusi. Yang ada hanya ingin mendapatkan banyak harta. Setelah itu, ia bisa menjadi orang terkaya di dunia. Membiarkan Gwysaa mengambil perlengkapan tempur. Bahkan menemukan pakaian zirah, ia juga mengambilnya dari seorang petualang Rank C.
Yang dilakukan Rapphael selanjutnya adalah mengeluarkan gelas. Lalu memetik buah dari pohon tersebut. Setelahnya, menghancurkan buah-buah tersebut dan menambahkan dengan gula dan didinginkan dengan sihir.
***