Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengintai Desa
Pagi di desa datang tanpa berita.
Kabut tipis masih menggantung di ladang. Ayam berkokok terlambat. Jalan tanah basah oleh embun semalam.
Mika menjemur kain di halaman. Tangannya bergerak biasa. Tidak terburu-buru.
Di dalam rumah, Pak Raka duduk di kursi kayu. Kakinya disandarkan pada bangku kecil. Perban masih melilit lututnya. Luka memar mulai menguning.
Mika masuk mengambil sapu. “Obatnya nanti siang lagi,” kata Mika tanpa menoleh.
Pak Raka mengangguk. Tidak banyak bicara sejak kejadian itu.
Ia berhenti sepersekian detik.
Mobil hitam memasuki jalan desa dengan kecepatan yang terlalu terkontrol untuk ukuran orang yang tersesat.
Kaca gelap.
Tidak ada debu berlebihan. Suspensi bagus.
Mobil itu berhenti di depan rumahnya.
Tidak ada yang turun.
Jendela sisi penumpang terbuka sedikit.
Seorang pria dengan wajah biasa, wajah yang mudah dilupakan, menatap rumah kayu itu seperti menilai properti. Bukan ingin berkenalan. Bukan ingin bertanya arah. Akan tetapi
menghitung.
Seperti, ada pintu depan, jendela samping dan tidak ada pagar tinggi serta tidak ada orang bersenjata.
Mika tidak menatap langsung. Ia melanjutkan menyapu. Tapi punggungnya menegang seperkian detik.
Di dalam rumah, Pak Raka mendengar mesin mobil asing itu. Tangannya meraih tongkat lebih cepat dari biasanya.
Mobil itu diam selama hampir tiga puluh detik.
Lalu bergerak lagi.
Pelan.
Seperti tidak pernah berhenti.
Namun di tikungan besar dekat pohon trembesi tua, mobil itu berhenti sekali lagi.
Pria di kursi penumpang menekan nomor di ponselnya.
“Lokasi cocok dengan laporan,” katanya rendah.
“Rumah kayu, satu penghuni pria tua cedera. Perempuan sekitar dua puluh lima. Tidak ada penjagaan.”
Suara di seberang tidak terdengar jelas.
Pria itu mengangguk kecil.
“Ya. Kita tandai saja dulu.”
Telepon ditutup.
Mobil berbalik arah dan meninggalkan desa.
Di desa, Mika sedang menutup jendela meski matahari belum terik.
Pak Raka memperhatikannya.
“Kamu gelisah.”
Mika berhenti sejenak.
“Ada mobil asing lewat.”
Pak Raka tidak langsung menjawab.
Ia pernah hidup cukup lama untuk tahu kapan sesuatu hanya kebetulan.
Dan kapan itu pengintaian.
“Kalau dia tahu…” gumamnya pelan.
Mika tidak menyelesaikan kalimat itu
.
Di kota, Jovan sedang berdiri di balkon apartemen yang tidak tercatat atas namanya.
Angin siang membawa aroma aspal panas dan asap knalpot.
Tangannya memegang kopi hitam yang sudah dingin.
Ia tidak meminumnya.
Sejak pelabuhan, semuanya bergerak terlalu rapi.
Terlalu cepat.
Barang sudah dipindahkan. Jalur distribusi baru diamankan. Dua orang yang berkhianat sudah dibersihkan.
Tapi justru itu yang mengganggunya.
Musuh yang kehilangan pelabuhan sebesar itu tidak akan diam.
Mereka akan membalas.
Pertanyaannya bukan bagaimana.
Tapi di mana.
Ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Jovan mengangkat.
Tidak ada sapaan.
Hanya satu kalimat pendek dari suara yang ia kenal—salah satu informannya di wilayah selatan.
“Ada mobil asing masuk ke desa pagi ini.”
Jovan tidak bergerak.
“Berapa orang?”
“Dua. Tidak turun. Hanya lihat-lihat.”
“Plat?”
Disebutkan.
Jovan menghafalnya dalam satu dengar.
Mobil kelas menengah atas. Bukan milik warga desa. Bukan milik aparat lokal.
“Berapa lama?”
“Kurang dari satu menit.”
Satu menit.
Itu cukup untuk mengukur jarak tembak.
Cukup untuk menentukan waktu respon polisi terdekat.
Cukup untuk memilih titik bakar paling efektif.
“Terima kasih,” kata Jovan.
Ia menutup telepon.
Angin masih berhembus. Kota tetap sibuk. Tidak ada yang berubah.
Tapi sesuatu sudah dipindahkan.
Ia masuk ke dalam apartemen. Meletakkan cangkir kopi tanpa suara.
Di meja kerja, ada peta wilayah distribusi lama dan baru.
Ia tidak melihat peta itu.
Ia membuka laci dan mengeluarkan pistolnya. Memeriksa magasin. Penuh.
Bukan karena ia akan ke desa hari ini.
Tapi karena sekarang desa sudah masuk papan permainan.
Ia menekan nomor lain.
Levis mengangkat pada dering kedua.
“Ada apa?” suara Levis terdengar tenang seperti biasa.
“Pelabuhan terlalu bersih,” kata Jovan.
“Hm.”
“Mereka sudah bergerak.”
“Ke mana?”
Jovan tidak langsung menjawab.
“Ke tempat yang tidak punya penjaga.”
Hening beberapa detik.
Levis tidak bodoh.
“Desa?”
“Ya.”
“Kita perkuat?”
“Tidak.”
Jawaban itu cepat.
Levis terdiam.
“Kenapa?”
“Kalau kita kirim orang sekarang, mereka tahu kita panik. Desa jadi target resmi.”
“Lalu?”
“Kita pasang mata. Bukan tameng.”
Jovan berjalan mendekati jendela.
Di bawah, mobil-mobil bergerak seperti garis tanpa arti.
“Mereka ingin aku keluar dari bayangan,” lanjutnya. “Mereka ingin aku bergerak terbuka.”
“Dan kau tidak akan?”
“Aku akan,” jawab Jovan pelan. “Tapi bukan hari ini.”
Ia menutup telepon.
Di desa, Mika sedang menutup jendela meski matahari belum terik.
Pak Raka memperhatikannya.
“Kamu gelisah.”
Mika berhenti sejenak.
“Ada mobil asing lewat.”
Pak Raka tidak langsung menjawab.
Ia pernah hidup cukup lama untuk tahu kapan sesuaTu hanya kebetulan.
Dan kapan itu pengintaian.
“Kalau dia tahu…” gumamnya pelan.
Mika tidak menyelesaikan kalimat itu.
Di kota.
Jovan sempat gelisah yang tidak menentu.
Pikirannya tidak kembali ke pelabuhan. Tidak ke gudang. Tidak ke Don Marco.
Hanya ke rumah kayu itu.
Rumah yang tidak punya pagar.
Rumah yang tidak pernah ia tandai dalam peta perangnya.
Dan itu kesalahannya.
Ia menatap layar ponsel sekali lagi. Tidak ada pesan baru. Tapi instingnya tidak pernah salah.
Pelabuhan hanyalah pembuka.
Balasan tidak akan datang dengan peluru pertama.
Balasan akan datang ke titik yang paling membuatnya berhenti berpikir jernih.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali dari kematian yang direncanakan orang-orang itu…Jovan merasa sesuatu yang jarang ia izinkan muncul.
Bukan takut. Tapi waspada yang lebih tajam dari biasanya.
Perang ini tidak lagi soal distribusi senjata.
Ini sudah menyentuh wilayah pribadi. Dan ketika itu terjadi, Perhitungan berubah.
Suatu malam, Jovan dan Levis bertemu di bar.
Di dalam sana, setelah menerima pesan bahwa ada surveilans di desa, Levis mematung beberapa detik.
Lalu ia berbicara, nada suaranya datar tetapi dipilih secara sengaja. “Aku tahu kau tidak akan membiarkan ancaman besar mengarah ke rumah orang yang kau hormati,” katanya, bukan sebagai pelembut hati, tapi sebagai pengamat strategi.
Jovan menatap ke depan. Perlahan, tanpa ekspresi berubah secara dramatis.
“Aku tidak berbicara soal kemanusiaan,” Levis menambahkan, menurunkan suara sedikit. “Tapi musuhmu tahu. Mereka tahu titik lemahmu. Dan kekuatan terbesar mereka bukan senjata tetapi hal yang paling kau lindungi.”
Jovan berhenti sejenak sebelum menjawab. “Kalau itu benar,” katanya pelan, “kita hanya menang ketika kita tahu siapa yang sedang bermain permainan ini dan siapa yang sebenarnya tertarik pada peta perjuangan kita.”
Levis mengangguk kecil. Bukan setuju. Tapi mengakui bahwa strategi kini bukan lagi soal posisi, harta, atau wilayah.
Ini soal kepentingan. "Dan kita berada di medan yang sama sekali berbeda sekarang."