NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Alice tetap dalam posisi itu cukup lama, seolah waktu berhenti hanya untuk mereka. Akhirnya, perlahan ia membuka mata… dan menyadari Danzel sudah tidak ada di hadapannya.

Kebingungan menyelimutinya. Ia mengedarkan pandangan, hingga matanya menangkap sosok Danzel di sisi halte, tepat di bawah aliran deras air yang jatuh dari ujung atap.

Pria itu berdiri di sana, membiarkan air mengguyurnya dengan kencang, sambil tertawa kecil seperti anak-anak yang menemukan kegembiraan sederhana di tengah hujan.

Danzel yang melihat Alice menatap ke arahnya langsung melambaikan tangan, mengisyaratkan agar Alice bergabung.

Dengan langkah ragu namun perlahan, Alice mulai mendekat. Saat tiba di samping Danzel, ia berdiri di bawah atap halte, memperhatikan pria itu yang masih larut menikmati guyuran air.

“Bagaimana, Alice? Apa kamu merasa lebih baik?” tanya Danzel sambil meliriknya.

Alice tersenyum lembut. “Ya… aku merasa jauh lebih baik. Terima kasih banyak.”

Senyum lebar terukir di wajah Danzel. “Kalau begitu, sekarang kamu juga harus merasakan kesenangan ini.”

Tanpa peringatan, Danzel meraih tangan Alice dan menariknya keluar, tepat ke bawah guyuran air deras yang jatuh dari atap. Alice yang tak siap hanya bisa terpekik kecil saat tubuhnya tersapu air dingin.

“Danzel!! Kamu…” serunya dengan mata membulat.

Danzel hanya tertawa lepas. “Kalau mau membalas, kejar aku sampai dapat!” tantangnya. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berlari menuju taman kecil tak jauh dari halte.

Alice sempat terdiam, tapi kemudian senyum nakal merekah di bibirnya dan mulai mengejar Danzel. meskipun fisiknya belum cukup pulih, Alice sudah merasa sedikit lebih baik.

Di bawah hujan deras, mereka terlibat dalam kejar-kejaran di taman yang dikelilingi pepohonan. Suara langkah kaki menghantam genangan air berpadu dengan derai tawa yang menghangatkan suasana.

Danzel berlari cepat, sesekali menoleh ke belakang dengan senyum penuh kemenangan, sementara Alice tak kenal lelah mengejarnya, tawa cerianya menggema di antara rintik hujan.

Alice akhirnya berhasil menyusul Danzel. Dengan cepat, ia meraih tangan pria itu, lalu sambil tertawa dan berjalan mundur, membawanya kembali ke bawah pancuran air.

Namun naas, langkah mundur Alice membuat kakinya terpeleset di tanah yang licin. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan melayang ke belakang.

“Alice!” pekik Danzel. Ia berusaha meraih Alice, tapi justru ikut terseret jatuh. Dalam sekejap, tubuhnya menimpa Alice yang sudah tergeletak di tanah.

Brukk!

Tubuh Danzel kini berada tepat di atas Alice, wajah mereka hanya terpaut jarak beberapa senti. Pandangan Alice terkunci pada mata Danzel yang basah oleh hujan, dan ia bisa merasakan degup jantungnya sendiri yang memburu tak terkendali.

Waktu seakan melambat, dan di tengah dinginnya hujan, udara di antara mereka dipenuhi kehangatan yang membingungkan.

Danzel pun terdiam. Matanya tak lepas dari wajah Alice—mata bulatnya, hidungnya yang mancung, bibirnya yang lembut. Ada sesuatu pada Alice hari ini yang terasa berbeda, dan Danzel baru menyadarinya. Perasaan itu kembali muncul, perasaan yang belum sepenuhnya ia mengerti.

Tanpa sadar, Danzel mulai mendekat. Jarak di antara mereka semakin menipis, sampai akhirnya—

Tangan mungil Alice mendorong dada Danzel. Dorongan itu lembut tapi tegas.

Sekejap, Danzel seperti tersadar dari lamunannya. Matanya membulat, dan ia segera menjauh, tubuhnya terasa kikuk saat berdiri. Rasa canggung menyelimutinya.

“Maaf… aku—” ucapnya terbata, pipinya memerah oleh rasa malu.

Ia berdeham, lalu mencoba mengalihkan topik. “Kamu tidak apa-apa, kan?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.

Alice menerima uluran itu dan menganggukan kepalanya jika ia baik baik saja.

**

Setelah beberapa saat berlindung dari hujan, Danzel memutuskan melanjutkan perjalan untuk mengantar Alice pulang. Toh, pakaian mereka sudah basah kuyup, jadi tak ada gunanya menunggu lebih lama.

Hujan masih mengguyur deras, tapi tak ada keluhan dari mereka berdua—hanya keheningan yang diiringi suara hujan dan angin yang berhembus dingin.

Saat mereka melaju di jalanan yang basah, tiba-tiba Danzel meraih tangan Alice yang semula menggantung di sisi tubuhnya dan menariknya ke depan, mendekatinya pada tubuhnya.

"Peluk lah tubuhku Alice, kamu pasti kedinginan."kata Danzel

Alice sedikit terkejut, namun setelah itu dengan sedikit ragu tangannya mulai melingkari pinggang Danzel.

tidak lama kemudian Alice menyandarkan kepalanya pada punggung lebar milik Danzel. bolehkan sekali saja Alice ingin merasakan kenyamanan yang lebih lama bersama pria yang dicintainya meskipun pria itu bukan miliknya.

Keesokan harinya,

Di halaman sekolah, sebelum jam pelajaran.

Rachel berdiri di bawah rindangnya pohon,

“Rachel…” suara Danzel terdengar berat. “Aku ingin bicara.”

Rachel menatapnya, sedikit bingung. “Bicara apa?”

Danzel menarik napas panjang, lalu menunduk sesaat sebelum menatap matanya. “Aku… ingin minta maaf.”

Rachel terdiam.

“Kemarin… aku sama sekali tidak memperhatikanmu. Aku terlalu sibuk dengan Alice, terlalu fokus menenangkannya, sampai-sampai aku tidak mempedulikan perasaanmu. Padahal aku tahu kau ada di sampingku, tapi aku justru mengabaikanmu. Itu salahku, Rachel.”tutur Danzel baru menyadari kesalahannya

Rachel sempat terdiam selama beberapa saat

"Danzel,” jawab Rachel lembut.

“Aku tidak marah. Aku bisa mengerti. Alice memang sedang butuh seseorang saat itu… dan kau hanya mencoba membantunya.”

Wajah Danzel terlihat lega, tapi Rachel cepat menyembunyikan kegelisahannya dengan senyum tipis.

“Aku senang kau mau jujur padaku. Aku memaafkanmu,” lanjut Rachel, suaranya begitu menenangkan.

Danzel tersenyum, rasa bersalahnya sedikit mereda. “Terima kasih, Rachel. Aku janji, aku tidak akan membuatmu merasa seperti itu lagi.”

Rachel hanya mengangguk. Dari luar, ia terlihat sebagai kekasih yang penuh pengertian. Namun jauh di dalam hatinya, kalimat itu justru menusuk seperti belati.

Tangannya mengepal, dalam dadanya api kecil mulai menyala—api cemburu, sakit hati, dan kekecewaan. setiap kali mengingat bagaimana kejadian kemarin, matanya terarah hanya pada gadis itu, amarah itu kembali membakar.

Sementara itu,

Hari itu terasa berbeda bagi Rey. Setelah kejadian kemarin, suasana di sekelilingnya mendadak asing, seolah dunia yang dulu ia kuasai kini tak lagi berpihak.

Jika dulu ia berjalan dengan penuh percaya diri bersama Mike, Megan, dan Stella, kini langkahnya terasa berat. Tidak ada lagi tawa yang menyambut, tidak ada lagi geng yang menemaninya.

Bangku di sebelahnya yang biasanya terisi selalu penuh kini kosong—seakan ada jarak tak kasat mata yang memisahkan dirinya dari orang lain.

Di ujung sana, Rey hanya bisa melihat ketiga temannya—Stella, Mike, dan Megan—berkumpul bersama tanpa dirinya. Obrolan mereka terdengar samar, tapi tidak lagi sehangat saat dirinya ikut serta.

Sesekali, Stella, Megan, dan Mike menatap Rey. Sejujurnya, mereka pun tidak nyaman dengan keadaan ini. Mereka tak benar-benar ingin meninggalkan Rey, hanya saja ancaman Danzel kemarin masih terngiang jelas di kepala mereka. Ketakutan membuat mereka memilih menjauh, meski hati mereka merasa bersalah.

Suasana kelas sempat hening, hingga pintu terbuka perlahan. Danzel melangkah masuk dengan tenang. Pandangannya langsung menyapu seluruh ruangan, kemudian berhenti sejenak pada Rey yang duduk sendirian.

Tatapan Danzel dingin, dalam, menelisik Rey dengan penuh tekanan.

Rey terdiam, menahan genggaman tangannya di bawah meja.

Danzel lalu mengalihkan pandangannya pada Megan, Stella, dan Mike. Hanya sekejap, tapi cukup untuk membuat mereka terdiam dan menghindari kontak mata. Setelah itu, Danzel berjalan menuju bangkunya dengan langkah santai.

Meski ia terlihat puas karena berhasil membuat Rey terisolasi, di dalam dirinya masih tersisa bara. Amarah kejadian kemarin belum sepenuhnya padam.

Danzel meletakkan tasnya di atas meja, kemudian duduk dengan tenang. Namun, matanya secara refleks melirik ke sebelah kanan—kursi di sampingnya. Kosong.

Danzel menarik napas dalam-dalam, seolah sudah menduga hal ini. Ia tahu, Alice tidak masuk hari ini. Gadis itu masih butuh waktu untuk menenangkan diri setelah semua yang terjadi kemarin.

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!