NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Malam di taman kota itu adalah sebuah kejutan yang tenang, sebuah hadiah yang tidak terduga di tengah hiruk-pikuk Seoul yang tak pernah benar-benar tidur. Lisa berjalan pelan di sepanjang jalan setapak yang diterangi oleh lampu-lampu jalan bergaya tua, yang memancarkan cahaya kekuningan yang lembut seperti madu cair. Cahaya itu menari-nari di atas permukaan kolam kecil di tengah taman, di mana air mancur sudah dimatikan, menyisakan refleksi bulan sabit yang samar. Angin malam bertiup sepoi-sepoi, mengusap wajahnya yang lelah, membawa serta aroma tanah basah setelah hujan ringan sore tadi dan wangi melati yang menempel di semak-semak. Bunyinya hanya desiran dedaunan pohon ginkgo yang berusia puluhan tahun, gemerisiknya seperti bisikan rahasia yang terus-menerus.

Di sampingnya, Sam melayang dengan tenang, sikapnya lebih rileks daripada yang pernah Lisa lihat sejak pertemuan mereka. Cahaya lampu menerpa rambut tembaganya, memberikan kilau keemasan yang hangat. Ia memandangi pantulan cahaya di air, wajahnya yang biasanya tegang atau jenaka kini terlihat kontemplatif, hampir damai. Untuk sesaat, di taman sunyi ini, ilusi bahwa mereka hanyalah dua orang muda yang sedang berjalan-jalan malam nyaris sempurna.

“Aku lupa betapa tenangnya suara angin.” Gumam Sam tiba-tiba, suaranya lembut, menyatu dengan desau daun. “Dulu, waktu kecil… aku rasa aku sering bermain di tempat seperti ini. Atau mungkin itu hanya keinginanku saja.”

Lisa tersenyum kecil, menengok ke arahnya. “Kau mulai mengingatnya?”

Sam menggeleng, tapi senyum tipis tetap mengambang di bibirnya. “Tidak. Hanya… perasaan. Seperti gema dari sesuatu yang pernah kukenal.” Ia mengulurkan tangannya, seolah-olah ingin menyentuh daun ginkgo yang bergoyang di dekatnya. “Kadang-kadang rasanya aneh. Menjadi seperti ini. Bisa melihat segalanya, dan merasakan… sesuatu, tapi tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari apapun.”

Lisa ingin mengatakan sesuatu, menghiburnya, tapi kata-katanya tertahan. Bagaimana menghibur seseorang yang telah kehilangan segalanya, termasuk tubuhnya sendiri?

Ketenangan itu pecah bukan dengan suara, tapi dengan keheningan yang lebih dalam.

Sam mendadak berhenti.

Bukan berhenti melayang, tapi membeku di tempat, seperti video yang dijeda. Lalu, tubuhnya yang biasanya tegak dan santai melengkung ke depan seolah ditikam di perut. Dan kemudian sebuah erangan keluar dari mulutnya hingga memecah kesunyian taman.

“Sam?” Lisa berbalik, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. “Apa—?”

Sam tidak menjawab. Tangannya, yang tadi terulur ke daun, sekarang mencengkeram dadanya tepat di tempat seharusnya jantung berada. Cengkeramannya begitu kencang hingga jari-jari transparannya tampak ingin menusuk ke dalam dirinya sendiri. Wajahnya yang damai tadi berkerut oleh rasa sakit yang tak terperi. Matanya membelalak, tidak melihat Lisa, tapi melihat sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang mengerikan.

“Sakit…” Rintihnya, dan suaranya berbeda—terdistorsi, seperti suara dari radio yang disetel di antara frekuensi, penuh dengan statis dan gema yang mengerikan. “Lisa… rasanya… ada yang menarikku… pergi.”

“Menarik? Apa maksudmu?” Lisa melangkah mendekat, tangannya terulang, ingin menyentuh, tapi kebiasaan menghentikannya. Dia melihat lebih dekat, dan napasnya tersangkut di tenggorokan.

Tangan kanan Sam. Ada sesuatu yang terjadi padanya.

Bukan sekadar menjadi transparan. Itu adalah proses yang lebih keji. Dari ujung jari kelingkingnya, sebuah kabut hitam pekat mulai muncul, seperti tinta yang dituangkan ke dalam air. Kabut itu bergolak, memakan kontur jarinya, menghancurkan bentuknya menjadi partikel-partikel gelap yang berputar-putar. Lisa bisa mendengar suara desisan halus, seperti kertas yang dibakar, meskipun mungkin itu hanya dalam pikirannya.

“SAM! TANGANMU!” Teriak Lisa, suaranya meninggi, dipenuhi kepanikan yang belum pernah ia rasakan bahkan di TKP paling mengerikan sekalipun. Insting detektifnya lumpuh, digantikan oleh teror akan kehilangan yang tak bisa dijelaskan.

Sam memandang lengannya sendiri. Di matanya yang membelalak, Lisa melihat ketakutan akan ketiadaan. “Tidak… tidak…” Gumamnya, suaranya pecah. Ia mencoba menggerakkan jari-jari yang sudah separuh menjadi asap itu. Namun tidak ada respons. Hanya kabut hitam yang bergerak mengikuti alur yang seharusnya ditempuh otot dan tendon. “Aku… hilang. Bagian dari aku… hilang!”

Asap hitam itu terus merayap naik, dengan kecepatan yang stabil dan tak tergoyahkan. Pergelangan tangannya kini lenyap, dilahap oleh kegelapan yang bergolak. Rasa sakit yang terpancar dari Sam begitu kuat hingga Lisa bisa merasakan sebuah getaran putus asa yang menusuk jiwa di udara.

Tanpa pikir panjang, melupakan bahwa mereka berada di tempat terbuka yang mungkin saja ada orang yang lewat, Lisa menerjang maju. Dia mencoba merangkul Sam, mencoba menahannya, memberikan tekanan, kehangatan, apa pun itu untuk menentang penghapusan yang tak manusiawi ini. Tangannya meraih bahu Sam.

Dingin.

Bukan dingin es atau salju. Ini adalah dingin yang kosong, dingin dari kehampaan mutlak. Saat jemarinya menyentuh kabut hitam yang telah mencapai lengan bawah Sam, sebuah sensasi baru menerjangnya: rasa perih yang menusuk dan dalam, seperti jiwanya sendiri yang tersetrum oleh ketiadaan. Itu adalah rasa sakit metafisik, sebuah luka pada esensi siapa dirinya. Dia menarik tangannya kembali dengan kasar, melihat telapak tangannya yang tidak terluka secara fisik tapi terasa terbakar.

“Jangan menyerah, Sam!” Lisa berseru, air mata mulai membanjiri matanya, mengaburkan pandangannya pada sosok yang perlahan-lahan tercabik-cabik. Suaranya pecah, penuh dengan permohonan. “Tetaplah di sini! Fokus padaku! Dengarkan suaraku!” Dia berusaha mencari sesuatu, apa pun, untuk dijadikan jangkar. “Lihat aku! Kau adalah Sam! Kau Sam! Kau… kau adalah partner-ku! Kau yang membantu kakek Park! Kau yang menemukan pintu rahasia di Gangnam! Jangan pergi! Jangan biarkan asap ini mengambilmu!”

Sam, yang tampaknya tenggelam dalam pusaran rasa sakit dan ketakutan, mengangkat wajahnya. Matanya yang penuh penderitaan menemukan Lisa. Di dalamnya, di balik statis dan keputusasaan, ada secercah pengenalan. Bibirnya yang sudah mulai memudar di sudut-sudutnya bergerak.

“Li…sa…”

“Ya! Aku di sini! Berpegangan pada itu! Pada suaraku! Pada… pada ingatanmu! Aroma taman Hotel Emerald! Suara tawa anak-anak! Apa pun itu!” Lisa terus berbicara, mencoba menembus kabut yang tak hanya mengelilingi lengan Sam, tapi juga mulai menyelimuti bahunya. Dia merasa tak berdaya. Bagaimana cara melawan sesuatu yang bukan dari dunia ini?

Sam memejamkan mata dengan erat. Seluruh tubuhnya yang tersisa bergetar hebat. Ia seolah-olah berkonsentrasi dengan segenap keberadaannya. Lisa bisa melihat pergulatan itu—cahaya biru pucat yang biasanya memancar dari dalamnya berkelip-kelip liar, bertarung dengan kabut hitam yang mencaplok. Cahaya itu redup, hampir padam, lalu menyala lagi dengan sengit.

Perlahan, kabut hitam itu berhenti merayap.

Lalu, mulai surut.

Seperti pasang yang berbalik, asap gelap itu beringsut mundur, meninggalkan kekosongan di bekasnya. Tapi kekosongan itu tidak bertahan. Dari dalam Sam, dari inti cahaya biru yang berjuang itu, bentuk mulai terbangun kembali. Bukan dari materi, tapi dari niat, dari ingatan, dari keinginan untuk ada. Pergelangan tangan muncul kembali dengan samar-samar, seperti gambar yang terbentuk dari titik-titik cahaya. Lalu jari-jari, satu per satu, merapat, membentuk tangan yang Lisa kenal.

Prosesnya memakan waktu yang terasa seperti satu jam, meski mungkin hanya sepuluh detik. Ketika akhirnya tangan Sam utuh kembali, cahayanya sangat redup, hampir tak terlihat. Sam terhuyung, lalu ‘jatuh’—tubuhnya yang tak berbobot meluncur turun hingga ia terduduk di atas hamparan rumput yang basah oleh embun. Namun, tidak ada lekukan di rumput. Ia hanya duduk di atasnya, seperti hologram yang diproyeksikan.

Napasnya tersengal-sengal, tidak teratur, dan penuh kelelahan yang begitu dalam hingga membuat Lisa lelah hanya dengan menyaksikannya. Wajah Sam pucat pasi, lebih pucat dari biasanya, dan matanya kehilangan kilauannya, seperti kaca yang sudah buram.

Lisa berjongkok di depannya, menjaga jarak agar tidak menyentuh kabut hitam yang mungkin masih tersisa. Air matanya kini mengalir bebas di pipinya, tapi suaranya berusaha keras untuk tetap terkendali. “Sam… Sam, kau baik-baik saja? Apakah… apakah semuanya sudah kembali?”

Sam menatap tangannya, membuka dan menutup kepalan dengan lambat, seolah-olah memastikan setiap sendi masih terhubung. Ia mengangguk, sangat pelan. “Sepertinya… iya.” Suaranya sangat lembut, serak, dan penuh dengan trauma. “Tapi rasanya… seperti aku baru saja berperang. Dan kalah.”

“Apa itu tadi?” Tanya Lisa, suaranya bergetar. Dia menyeka air matanya dengan kasar, berusaha mengumpulkan profesionalismenya yang berantakan. “Apa yang kau rasakan?”

Sam memandangnya, dan di matanya yang buram itu, Lisa melihat ketakutan yang paling jujur yang pernah ia lihat pada siapa pun. “Seperti… tarikan. Dari suatu tempat yang sangat jauh. Sangat gelap. Dan sangat… kosong.” Ia menggigil. “Seperti dunia ini, realitas ini, menganggapku sebagai noda. Sebuah kesalahan yang perlu dihapus. Dan tadi… tadi mulai menghapusku.”

Ia menarik napas panjang yang tak berguna. “Aku takut, Lisa. Aku selalu berpikir, karena aku sudah mati, tidak ada lagi yang perlu ditakuti. Tapi ini… ini berbeda. Ini bukan kematian. Ini adalah… ketiadaan. Menjadi bukan apa-apa. Bahkan bukan arwah atau hantu. Hanya… asap yang terlupakan.” Matanya berkaca-kaca, meski tak ada air mata yang bisa jatuh. “Bagaimana jika waktuku benar-benar habis? Bagaimana jika lain kali, aku tidak bisa melawan? Aku akan lenyap, Lisa. Aku akan menghilang selamanya. Dan aku bahkan tidak tahu siapa namaku yang sebenarnya. Dan kenapa aku ada di hotel itu. Siapa yang… membunuhku.” Kata terakhir itu diucapkan dengan suara hampir tak terdengar.

Lisa merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Dia melihat Sam—partner-nya, temannya, arwah yang nakal dan penuh selera humor, yang tadi hampir terhapus dari eksistensi. Sebuah tekad yang keras dan dingin, seperti baja, mulai menggantikan kepanikan di dalam dirinya.

Dia meraih kembali kontrol atas suaranya. “Itu tidak akan terjadi. Kau dengar aku, Sam? Itu. Tidak. Akan. Terjadi.”

Sam menatapnya, terkejut oleh intensitas di suaranya.

“Kita akan mencari tahu. Kita akan kembali ke Hotel Emerald. Ke reruntuhannya. Kita akan mengobrak-abrik setiap arsip, setiap catatan lama, setiap kenangan yang tertinggal di tempat itu. Aku adalah detektif, Sam. Mencari kebenaran adalah pekerjaanku. Dan kebenaran tentangmu adalah kasus terpenting yang akan kuselesaikan.”

Dia bersandar lebih dekat, meski tidak menyentuh, memastikan matanya bertemu dengan mata Sam yang penuh ketakutan. “Aku berjanji padamu. Sebelum asap hitam itu datang lagi, sebelum ‘waktu’-mu habis, kita akan tahu namamu yang sebenarnya. Kita akan tahu ceritamu. Kau tidak akan pergi sebagai ‘Sam’. Kau akan pergi—jika kau harus pergi—sebagai dirimu sendiri. Dengan namamu sendiri.”

Sam terdiam lama, menatap Lisa, membaca keteguhan di setiap garis wajahnya, di sorot mata yang basah tapi tak goyah itu. Perlahan, sedikit cahaya harapan kembali ke matanya. Ia mengangguk, sekali, sebuah gerakan kecil yang penuh makna.

“Janji?” Bisiknya.

“Janji.” Tegas Lisa.

Mereka tetap di sana untuk beberapa saat, di bawah pohon ginkgo yang berbisik, dikelilingi oleh cahaya lampu jalan yang kekuningan. Taman yang tadi terasa damai sekarang terasa seperti tempat peristirahatan sementara sebelum sebuah pertempuran. Ketakutan belum hilang—masih menggantung di udara bersama aroma melati. Tapi sekarang ada sebuah tujuan. Sebuah garis finish yang harus mereka capai sebelum waktu, musuh yang tak terlihat dan tak kenal ampun itu, menyusul mereka dan memanggil pulang seorang arwah tanpa nama.

Sam melihat ke arah kegelapan di ujung taman, ke arah di mana Seoul terus berdenyut dengan kehidupan yang tak ia miliki. Tapi kali ini, pandangannya tidak lagi kosong. Ada sebuah tekad di sana, kecil dan rapuh, namun nyata.

Dan Lisa, dengan hati masih berdebar oleh bayangan asap hitam, sudah mulai menyusun rencana di kepalanya. Hotel Emerald menunggu. Dan kebenaran, betapapun pahitnya, adalah satu-satunya hadiah perpisahan yang layak ia berikan untuk partner-nya.

.

.

.

.

.

.

.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!